Netti
JenisKitab kanonis
Kitab kuasikanonis
Kitab parakanonis
IndukKhuddakanikāya
AtribusiMahākaccāna; Bhāṇaka
KomentarNettipakaraṇa-aṭṭhakathā
PengomentarDhammapāla
SubkomentarNettipakaraṇaṭīkā; Nettivibhāvinī
SingkatanNe; Nett; Netti

Kitab Netti (Pali untuk "Panduan"; disingkat Ne), juga dikenal sebagai Nettipakaraṇa, adalah sebuah kitab suci Buddhisme sebagai bagian Khuddakanikāya dalam Suttapiṭaka, yang merupakan bagian dari Tripitaka Pali sebagaimana dilestarikan oleh Buddhisme Theravāda. Tema utama kitab ini adalah hermeneutika Buddhis melalui sistematisasi ajaran Buddha. Kitab ini dianggap kanonis dalam tradisi Theravāda Burma dan Theravāda Sri Lanka sebagai bagian dari Khuddakanikāya, tetapi secara tradisional tidak dianggap kanonis dalam tradisi Theravāda Thailand.[1]

Kanonisitas

sunting

Penanggalan

sunting

Asal-usul Nettipakaraṇa menimbulkan masalah perselisihan di kalangan para cendekiawan. Awalnya, para cendekiawan Barat mengklasifikasikannya sebagai sebuah kitab komentar, bukan sebagai sebuah kitab kanonis.[2] Setelah dilakukan kajian lebih lanjut dan dibandingkan dengan kitab-kitab yang berkaitan erat, ditemukan bahwa kitab Peṭakopadesa mengungkapkan bahwa kitab Netti merupakan panduan untuk penafsiran dan penyusunan kitab-kitab komentar yang definitif (sudah pasti).[2]

Penerjemahnya ke dalam bahasa Inggris, yang didukung oleh Profesor George Bond dari Universitas Northwestern, menggambarkannya sebagai sebuah panduan untuk membantu mereka yang sudah memahami ajaran tersebut untuk menyajikannya kepada orang lain.[3] Namun, A. K. Warder tidak setuju, dan menegaskan bahwa hal ini mencakup semua aspek penafsiran, bukan hanya sebatas panduan untuk mengajar saja.[4] Kesepakatan di antara para cendekiawan kontemporer adalah bahwa kitab ini terutama dimaksudkan sebagai panduan untuk menafsirkan dan memberikan penjelasan teks-teks kanonis, mirip dengan Peṭakopadesa, yang gaya penulisan isinya juga mirip.[2]

Syair-syair dalam Nettipakaraṇa yang disusun dalam gaya puisi yang tidak dikenal di Sri Lanka menunjukkan bahwa kitab ini berasal dari suatu era di India Utara yang mendahului era Kristen.[2] Kitab ini adalah salah satu dari sedikit kitab pasca-kanonis yang disusun dalam bahasa Pāli yang mendahului karya Buddhaghosa. Kitab-kitab komentar karya Buddhaghosa mengutip serta menggunakan metode penulisan dan istilah teknis kitab Netti.[5][2] Struktur kitab Netti dengan syair-syair yang disusun sebagai kitab komentar atas syair-syair ringkasan menjadi populer pada abad-abad pertama Masehi, sedangkan pola kebahasaan metrum āryā yang digunakan untuk syair-syairnya sudah digunakan untuk syair-syair serupa sejak sekitar tahun 150 SM.[6]

Atribusi

sunting

Kitab Nettipakaraṇa dikaitkan dengan seorang murid Buddha, Mahākaccāna, sebagai penulisnya. Hal ini didasarkan pada syair-syair bagian kolofon, pembukaan, dan kitab komentar karya Dhammapāla.[2][6] Kolofon teks tersebut menyatakan bahwa ia menulis kitab ini, bahwa kitab ini disetujui oleh Sang Buddha dan dibacakan pada Sidang Pertama.[6] Para cendekiawan modern tidak menafsirkannya secara harfiah, tetapi seorang penerjemah kitab Peṭakopadesa dan Nettipakaraṇa ke dalam bahasa Inggris mengakui bahwa metode penulisan yang digunakan oleh kitab-kitab tersebut merupakan suatu metode yang bermula dari kitab-kitab tersebut. Penerjemah tersebut berpendapat bahwa kitab ini adalah edisi revisi dari kitab Peṭakopadesa, meskipun hal ini telah dipertanyakan oleh Profesor von Hinüber.[7] K. R. Norman menyimpulkan bahwa Nettipakaraṇa bukan merupakan kelanjutan dari Peṭakopadesa, tetapi merupakan versi yang ditulis ulang dengan menghilangkan isi yang tidak penting dan menyediakan versi yang lebih baik dan lebih jelas dari materi yang dibagikan oleh kedua sumber.[2] Dhammapāla, biku penafsir asal Sri Lanka, menulis sebuah kitab komentar atas Nettipakaraṇa, Nettipakaraṇa-aṭṭhakathā, tetapi tidak untuk Peṭakopadesa, sebuah fakta yang menurut K. R. Norman disebabkan oleh kemungkinan bahwa Nettipakaraṇa telah menggantikan kitab yang lama.[2] Dhammapāla menulis sebuah kitab komentar tersebut pada abad kelima.[8]

Gaya penulisan

sunting

Baik penggunaan pola kebahasaan metrum āryā maupun syair ringkasan menunjukkan bahwa kitab ini berasal dari India Utara, kemungkinan Ujjain, tempat tradisi Buddhis menghubungkan nama Mahākaccāna dengan Kerajaan Awanti, wilayah yang dianggap sebagai asal dari teks-teks Pāli yang dibawa ke Sri Lanka.[6] Kitab ini mengandung kutipan dari sumber di luar kanon Theravāda, beberapa di antaranya telah ditelusuri hingga ke teks dari kanon Mūlasarvāstivāda.[6] Kutipan-kutipan lainnya belum diketahui, tetapi menunjukkan bahwa Nettipakaraṇa adalah kitab yang tidak biasa karena terdapat bagian yang diambil dari luar aliran Theravāda, yang kemudian memengaruhi penyusunan kitab-kitab komentar definitif yang disusun oleh Buddhaghosa.[6]

Status kanonis

sunting

Nettipakaraṇa dianggap kanonis oleh kepala sangha Burma sekitar dua abad yang lalu, dan termasuk dalam Khuddakanikāya.[9][1] Kitab ini termasuk dalam manuskrip Phayre Burma dari Kanon Pali, tertanggal 1841/2;[10] Kanon yang disetujui oleh Sidang Kelima Burma;[11] edisi cetak Sidang Keenam tahun 1956;[12] transkrip baru dari kitab-kitab hasil Sidang yang dihasilkan di bawah naungan Patriark Tertinggi Thailand (kepala sangha Thai);[13] dan edisi Buddha Jayanti (Sri Lanka) dari Kanon Pali dalam bahasa Sinhala. Seorang guru Myanmar modern belakangan tidak menganggapnya sebagai kitab yang kanonis.[14]

Susunan

sunting

Kitab Nettipakaraṇa dibagi menjadi dua divisi (vāra):

  • Saṅgahavāra: 'Ringkasan', bagian pendek yang hanya terdiri dari lima syair yang nama penulisnya diidentifikasi sebagai 'Mahākaccāna'.[6]
  • Vibhāgavāra: 'Penjelasan', yang dibagi menjadi tiga sub-bagian:[6]
    • Uddesavāra ('Bagian Spesifikasi')
    • Niddesavāra ('Bagian Demonstratif')
    • Patiniddesavāra ('Bagian Kontra-demonstratif')

Berikut adalah rincian susunan bagian di dalamnya:

SC PTS Judul Pali Judul Inggris
Saṅgahavāra (A. Comprehensive Section)
Ne 1 PTS 1 Saṅgahavāra A. Comprehensive Section
Uddesavāra (Indicative Subsection)
Ne 2 PTS 2–3 Uddesavāra Indicative Subsection
Niddesavāra (Demonstrative Subsection)
Ne 3 PTS 4–5 Niddesavāra Demonstrative Subsection
Paṭiniddesavāra (Counter-demonstrative Subsection)
Vibhaṅga (Analyses)
Ne 4 PTS 6–10 Desanāhāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection
Ne 5 PTS 11–21 Vicayahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 6 PTS 22–27 Yuttihāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 7 PTS 28–29 Padaṭṭhānahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 8 PTS 30–32 Lakkhaṇahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 9 PTS 33–40 Catubyūhahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 10 PTS 41–48 Āvaṭṭahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 11 PTS 49–51 Vibhattihāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 12 PTS 52 Parivattanahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 13 PTS 53–56 Vevacanahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 14 PTS 57–63 Paññattihāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 15 PTS 64–70 Otaraṇahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 16 PTS 71–72 Sodhanahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 17 PTS 73–78 Adhiṭṭhānahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 18 PTS 79–80 Parikkhārahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Ne 19 PTS 81–84 Samāropanahāravibhaṅga Counter-Demonstrative Subsection (Continued)
Sampāta (Combined Treatment)
Ne 20 PTS 85–86 Desanāhārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment
Ne 21 PTS 87–103 Vicayahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 22 - Yuttihārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 23 PTS 104 Padaṭṭhānahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 24 - Lakkhaṇahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 25 PTS 105 Catubyūhahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 26 - Āvaṭṭahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 27 - Vibhattihārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 28 PTS 106 Parivattanahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 29 - Vevacanahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 30 - Paññattihārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 31 PTS 107 Otaraṇahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 32 - Sodhanahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 33 PTS 108 Adhiṭṭhānahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 34 - Parikkhārahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Ne 35 PTS 109 Samāropanahārasampāta Chapter ii 16 Modes of Conveying: Combined Treatment (Continued)
Nayasamuṭṭhāna (Molding of the Five Guidelines)
Ne 36 PTS 110–127 Nayasamuṭṭhāna Chapter iii The Moulding of the Guide-Lines
Sāsanapaṭṭhāna (The Pattern of the Dispensation)
Ne 37 PTS 128–193 Sāsanapaṭṭhāna Chapter iv The Pattern Of The Dispensation

Uddesavāra

sunting

Bagian Uddesavāra menguraikan tiga kategori terpisah:[15]

  • Enam belas hāra (pengangkutan, atau cara pengangkutan) meliputi:
    • desanā (pengajaran),
    • vicaya (penyelidikan),
    • yutti (penafsiran),
    • padatthāna (pijakan),
    • lakkhaṇa (karakteristik),
    • catuvyūha (susunan empat serangkai),
    • āvatta (konversi),
    • vibhatti (analisis),
    • parivattana (pembalikan),
    • vevacana (sinonim),
    • paññatti (konsep),
    • otaraṇa (cara masuk),
    • sodhana (pembersihan),
    • adhiṭṭhāna (istilah ekspresi),
    • parikkhāra (persyaratan), dan
    • samāropana (koordinasi).
  • Lima naya (pedoman):
    • nandiyāvatta (konversi kenikmatan);
    • tipukkhala (trefoil);
    • sīhavikkīlita (permainan singa);
    • disālocana (penentuan arah);
    • ankusa (kail).
  • Delapan belas mūlapada terdiri dari sembilan kusala ("baik") dan sembilan akusala ("tidak baik"):

Niddesavāra

sunting

Bagian Niddesavāra mengulang hāra dan naya dari bagian sebelumnya bersama dengan 12 pada ('bait'), yang enam di antaranya mengacu pada bentuk linguistik dan enam lainnya mengacu pada makna dan penggambaran hubungan mereka.[6]

Patiniddesavāra

sunting

Bagian Patiniddesavāra menyusun struktur utama kitab dan dibagi menjadi tiga bagian.[6] Setiap bagian menggambarkan istilah-istilah teknis dari bagian-bagian sebelumnya dengan mengutip ayat-ayat yang memuatnya dan mengilustrasikannya dengan kutipan dari Suttapiṭaka.[6] Dalam beberapa kasus, istilah-istilah dibahas dalam urutan yang berbeda atau menggunakan terminologi yang berbeda dari yang disajikan dalam bab-bab sebelumnya.[6] Sebuah kolofon di bagian akhir kitab merujuk pada seseorang bernama Mahākaccāna sebagai penulisnya.[6]

Terjemahan

sunting

Bahasa Inggris

sunting

Terjemahan bahasa Inggris berjudul The Guide oleh Bhikkhu Ñāṇamoli diterbitkan pada tahun 1962 oleh Pali Text Society. Edisi Pali Text Society, bersama dengan ekstrak dari kitab komentar karya Dhammapāla, diterbitkan pada tahun 1902 oleh Edmund Hardy.[6]

Referensi

sunting
  1. ^ a b Norman 1983, hlm. 31.
  2. ^ a b c d e f g h Norman, Kenneth Roy (1983). Pali Literature (dalam bahasa English). Wiesbaden: Otto Harrassowitz. hlm. 109–10. ISBN 3-447-02285-X. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  3. ^ See his paper in Buddhist Studies in Honour of Walpola Rahula, Gordon Fraser, London, 1980
  4. ^ Indian Buddhism, 3rd edition, Motilal Banarsidass, Delhi, 2000
  5. ^ Von Hinüber (2004). MacMillan Encyclopedia of Buddhism. Vol. 1. MacMillan Reference USA. ISBN 0-02-865719-5.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n Von Hinüber, Oskar (1997). A Handbook of Pali Literature (dalam bahasa English) (Edisi 1st Indian). New Delhi: Munishiram Manoharlal Publishers Pvt. Ltd. hlm. 77–80. ISBN 81-215-0778-2. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  7. ^ Handbook of Pali Literature, Walter de Gruyter, Berlin, 1996
  8. ^ Sailendra Nath Sen; Ancient Indian History and Civilization, 91.
  9. ^ Journal of the Pali Text Society, volume XXVIII.
  10. ^ JPTS, 1882, hlm. 61
  11. ^ Bollée in Pratidanam (Kuiper Festscrift), Mouton, Paris/the Hague, 1968
  12. ^ The Guide
  13. ^ Mahāsaṅgīti Tipiṭaka Buddhavasse 2500, lihat http://www.dhammasociety.org/mds/content/blogcategory/18/37/ (diakses 2007-05-22).
  14. ^ Rewata Dhamma, The Buddha and His Disciples, Dhamma Talaka Pubns, Birmingham, 2001, bagian "Kaccana".
  15. ^ "Vipallasa Sutta: Perversions" (AN 4.49), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.049.than.html

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Aku (puisi)

G. Hadzarmawit Netti, puisi "Aku" menekankan sifat individualistis Anwar, sedangkan puisi "Semangat" mencerminkan vitalitas. Netti menganalisis puisi

Hidayattullah Sjahid

gagal meraih jabatannya sebagai Bupati Kepahiang. Kemudian, ia bersama Netti Herawati yang dipercayanya sebagai wakil bupati untuk mendampinginya berhasil

Paus Leo XII

Somaglia yang sudah berusia delapan puluh tahun dan lalu kepada Tommaso Bernetti yang lebih cakap, merundingkan beberapa konkordat yang sangat menguntungkan

Asubha

14; Jātaka Aṭṭha. 1.198; Jātaka Aṭṭha. 3.506-8-9; Cūḷanipāta Aṭṭha. 22; Netti. Aṭṭha. 18, 92; Paṭisambhida Aṭṭha. 2.179, 188; Visuddhi. 1.110; Visuddhi

Dhammapāla

kanonis pendek (hampir seluruh bagiannya) dan juga kitab komentar atas kitab Netti. Kitab komentar tersebut mungkin merupakan suatu sastra Pali tertua di luar

Komentar (Theravāda)

terdapat dalam beberapa edisi Khuddakanikāya: Netti, Peṭakopadesa, dan Milindapañha. Dari semua itu, hanya kitab Netti yang memiliki komentar dalam edisi standar

Kāyagatāsati

AN 3.181. Abhi-k 122. Paṭisaṃ 27, 92. Thera 221. Apa 1.369. Mahāni 5. Netti 27. Peṭako 294. Milinda 316, 319.) Kesādibhedaṃ rūpakāyaṃ gatā, kāyevā gatāti

Tripitaka Pali

komentar-komentar Pali dikaitkan dengan murid Buddha, yaitu Sāriputta. Netti ("Panduan"), berisi penjelasan mendalam sistematis yang dimaksudkan sebagai