📑 Table of Contents

Intensi atau niat adalah keadaan mental ketika seseorang berkomitmen untuk melakukan suatu tindakan tertentu.[1] Misalnya, memiliki rencana untuk pergi ke kebun binatang besok merupakan bentuk intensi karena melibatkan isi berupa rencana tindakan dan sikap komitmen untuk melaksanakannya. Tidak semua keadaan mental yang memiliki rencana disebut intensi, sebab hanya intensi yang melibatkan niat praktis untuk mewujudkannya.[2][3]

Berbagai teori berusaha menjelaskan hakikat intensi. Teori kepercayaan-keinginan menyatakan bahwa intensi adalah gabungan antara keinginan dan keyakinan untuk bertindak, tetapi dikritik karena tidak menjelaskan unsur komitmen. Teori evaluasi menilai intensi sebagai penilaian bahwa suatu tindakan baik secara keseluruhan, sedangkan teori keinginan dominan menganggap intensi muncul dari keinginan terkuat; keduanya dinilai belum sepenuhnya akurat. Pandangan Elizabeth Anscombe menolak pemisahan antara intensi dan tindakan, dengan anggapan bahwa berniat sudah merupakan bentuk tindakan, sedangkan teori referensial diri memandang intensi sebagai representasi tindakan sekaligus penyebabnya sendiri.[4]

Intensi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu intensi prospektif atau niat untuk masa depan, intensi segera yang muncul saat tindakan sedang dilakukan, dan intensi tidak langsung yang berkaitan dengan efek samping dari suatu tindakan. Intensi dapat bersifat sadar maupun tidak sadar, rasional maupun irasional. Pembentukan intensi biasanya diawali proses pertimbangan dan pengambilan keputusan, kemudian berperan dalam memulai, mempertahankan, dan mengakhiri suatu tindakan. Pemahaman terhadap intensi penting dalam menjelaskan perilaku manusia, bahkan sejak masa kanak-kanak manusia sudah dapat memahami niat orang lain melalui gestur dan perhatian. Dalam filsafat tindakan, masih diperdebatkan apakah semua tindakan yang disengaja selalu disertai intensi, sedangkan dalam etika, intensi dianggap penting karena moralitas suatu tindakan sering bergantung pada niat pelakunya.[5]

Lihat juga

sunting

Rujukan

sunting
  1. ^ Mele, Alfred R. (2009). "Intention and Intentional Action". Dalam Beckermann, Ansgar; McLaughlin, Brian P.; Walter, Sven (ed.). The Oxford Handbook of Philosophy of Mind. hlm. 691–710. doi:10.1093/oxfordhb/9780199262618.003.0041. ISBN 978-0-19-926261-8.
  2. ^ Pacherie, Elisabeth; Haggard; Patrick (2011). "What are intentions?". Dalam Sinnott-Armstrong, Walter; Nadel, Lynn (ed.). Conscious Will and Responsibility: A Tribute to Benjamin Libet. Oxford University Press. hlm. 70–84. ISBN 978-0-19-538164-1.
  3. ^ Searle, J.R. (1983). Intentionality: An essay in the philosophy of mind. Cambridge, England: Cambridge University Press.
  4. ^ Astington, J.W. (1993). The child's discovery of the mind. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
  5. ^ Malle, Bertram F.; Knobe, Joshua (March 1997). "The Folk Concept of Intentionality". Journal of Experimental Social Psychology. 33 (2): 101–121. doi:10.1006/jesp.1996.1314. S2CID 14173135.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Intensi genosida

Intensi Genosida atau niat genosidal merupakan unsur mental yang khas, atau mens reacode: la is deprecated , yang menjadi syarat untuk mengklasifikasikan

Kehendak (Buddhisme)

Dalam Buddhisme, kehendak, niat, intensi, atau volisi (Pali, Sanskerta: cetanā; Wylie Tibet: sems pa) didefinisikan sebagai faktor mental yang menggerakkan

Tata Perayaan Ekaristi

mendoakan doa kolekta, yaitu mendoakan secara ringkas apa yang menjadi intensi-intensi misa dan permohonan-permohonan umat yang dikumpulkan dalam misa tersebut

Estetika

direpresentasikan oleh sebuah karya seni, emosi apa yang diekspresikannya, dan apa intensi yang mendasari pengarangnya. Banyak bidang studi menyelidiki fenomena estetis

Penalaran deduktif

Pendekatan lain dalam mendefinisikan penalaran deduksi adalah melihat intensi/niat pembuat argumen: pembuat argumen harus bermaksud agar premis-premis

Teori pikiran

pikiran adalah kemampuan untuk menghubungkan keadaan mental - kepercayaan, intensi, hasrat, berpura-pura, pengetahuan, dan lain-lain kepada diri sendiri dan

Stipendium

pada yayasan amal, supaya Misa dipersembahkan demi ujud si pemberi atau intensi. Uang tersebut bukanlah harga untuk sebuah Misa tetapi bentuk derma untuk

Kecerdasan intelektual

interpersonal Orang tipe ini biasanya mengerti dan peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, dan temperamen orang lain. Selain itu, mereka juga mampu