Dahaṇapura

bahasa Jawa: ꦣꦲ, translit. Daha
Kelompok etnik
Orang Jawa
DemonimJawa
Sekarang bagian dariIndonesia Kediri
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Daha atau (bahasa Jawa: ꦣꦲꦤ, translit. Dahaṇa) (Dewanagari: दहनपुरम्; ,IASTDahaṇapura, दहनपुरम्) yang berarti "kota api" adalah salah satu kota kuno pada masa lalu yang berada di Jawa Timur dan pernah menjadi pusat pemerintahan dari Kerajaan Kadiri, Daha kemudian kembali tercatat menjadi pusat pemerintahan pada masa Girindrawarddhana yang berkuasa di sisa-sisa masa akhir Majapahit. Daha sekarang merupakan bagian dari Kota Kediri. Pada saat ini berdasarkan peta daerah kekuasaan kerajaan Majapahit dan peta Provinsi Jawa Timur, lokasi Daha diperkirakan berada di sekitar Kota Kediri saat ini yang memiliki situs-situs cagar budaya dan banyak ditemukan peninggalan arkeologis sampai sekarang.

Etimologi

sunting

Dalam bahasa Kawi, Dahanapura diterjemahkan menjadi 'kota api' dari Dahana (api) dan pura (kota).

"Pada Tahun Saka 1408...

Pada waktu itulah turun perintah Sri Maharaja Wilwatiktapura Janggala Kaḍiri Prabhu Nata Sri Baginda Girīndrawarddhana Dyah Raṇawijaya, agar supaya dilangsungkannya upacara sraddha 12 tahun memperingati wafatnya Sri Paduka Bhattara ring Dahaṇapura Sang Mokta ring Indrannibhawana"

Sejarah

sunting

Sebagai ibu kota Panjalu

sunting

Airlangga merupakan pendiri kota api Dahanapura ("dahaṇa" = api, "pura" = kota) sebagai pindahan dari kota terdahulu Kahuripan. Ketika ia turun takhta pada tahun 1042, wilayah kerajaannya dibelah menjadi dua. Daha kemudian menjadi ibu kota kerajaan bagian barat, yaitu Panjalu.

Menurut Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapañca, seorang pujangga dan bekas pembesar agama Buddha masa Majapahit. Menyebutkan Airlangga yang telah berpindah ibu kota dan memerintah dari Daha di wilayah Panjalu.[1]

Selanjutnya berita dalam Serat Calon Arang, menerangkan bahwa saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan telah berpindah ke Dahanapura dan menyebut Airlangga sebagai raja Daha.

... 15. Sigra datang pwa sirêng sagara Rupěk, mantas ta sira ngkana, Sang Yogîswara Mpu Baradah. Tan lingěn pwa sirêng (h)ěnu lampah Sang Mahamuni ambramaga. Sigra datang ta sirêng nagarêng Daha, panggih ta sirâtmajanira Sang Maharaja Erlanggya sědang tinangkil...

... 15. Segera tiba di Sagara Rupek, beliau menyeberang di sana, Sang Pendeta Baradah. Tidak diceritakan perjalanan Sang Pendeta di jalan sangat cepat jalannya. Beliau segera tiba di kerajaan Daha, bertemu dengan putranya Sang Maharaja Erlangga yang sedang dihadap...
— (Lontar Calon Arang).

Daftar dari raja-raja Panjalu setelah pembelahan :

  1. Sri Samarawijaya
  2. Śrī Mahārāja Jyitêndrakara
  3. Śrī Mahārāja Śrī Bāmeśwara
  4. Śrī Mahārāja Śrī Warmmeśwara / Jayabhaya
  5. Śrī Mahārāja Śrī Sarweśwara
  6. Śrī Mahārāja Śrī Aryyeśwara
  7. Śrī Mahārāja Kroñcāryadipa Śrī Gandra
  8. Śrī Mahārāja Śrī Kāmeśwara
  9. Śrī Mahārāja Śrī Sarwweśwara / Srengga / Kertajaya (gugur tahun 1144 Saka)

Sebagai bawahan Tumapel

sunting

Kerajaan Panjalu runtuh tahun 1222 dan menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari. Berdasarkan prasasti Mula Malurung, diketahui raja-raja Daha zaman Tumapel, yaitu :

Sebagai ibu kota Kadiri

sunting

Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya yang menjadi bupati Gelang-Gelang. Tahun 1292, Ia kemudian memberontak hingga menyebabkan runtuhnya Kerajaan Tumapel. Jayakatwang lalu membangun kembali Kerajaan Kadiri. Tetapi, pada tahun 1293 Ia dikalahkan Dyah Wijaya pendiri Majapahit.

Sebagai bawahan Majapahit

sunting

Sejak tahun 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit yang paling utama bersama dengan Kahuripan. Raja yang memimpin bergelar sebagai Bhre Daha tetapi hanya bersifat simbol, karena pemerintahan harian dilaksanakan oleh patih Daha. Bhre Daha yang pernah menjabat ialah:[3]

  1. Jayanagara 1295-1309 Nagarakretagama.47:2; Prasasti Sukamerta - didampingi Patih Lembu Sora.
  2. Rajadewi 1309-1375 Pararaton.27:15; 29:31; Nag.4:1 - didampingi Patih Arya Tilam, kemudian Gajah Mada.
  3. Indudewi 1375-1415 Pararaton.29:19; 31:10,21
  4. Suhita 1415-1429 ?
  5. Jayeswari 1429-1464 Pararaton.30:8; 31:34; 32:18; Prasasti Waringin Pitu
  6. Manggalawardhani 1464-1474 Prasasti Trailokyapuri

Pada masa kekuasaan Majapahit, penguasa Daha menggunakan lambang kenegaraan berupa "sadahakusuma", lambang yang bermakna bunga pemerintahan atau kembang api.

Sebagai ibu kota Majapahit

sunting
Setono Gedong di kota Kediri, Jawa, Hindia Belanda 1941.

Menurut Suma Oriental tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 Dayo (Daha) menjadi ibu kota Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya. Nama raja ini identik dengan Dyah Ranawijaya yang dikalahkan oleh Sultan Trenggana raja Demak tahun 1527.

Pada zaman Majapahit nama Kahuripan lebih terkenal dari pada Janggala, sebagaimana nama Daha lebih terkenal dari pada Kadiri. Walaupun demikian, pada prasasti Trailokyapuri (1486), Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya raja Majapahit ketika itu masih menyebut dirinya sebagai penguasa Wilwatikta-Janggala-Kadiri.

Sumber sejarah

sunting

Pendukung sumber primer & sekunder

sunting

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ http://www.spaetmittelalter.uni-hamburg.de/java-history/JavaNK/Java1365.Nagara-Kertagama.Canto.63-69.html
  2. ^ "PRASASTI MŪLA-MALURUNG DAN DAFTAR PARA TOKOH YANG TERTULIS PADA PRASASTI MŪLA-MALURUNG". sejarahjawaid.wordpress.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-12-17. Diakses tanggal 17 Desember 2021.
  3. ^ "Kitab Pararaton (terjemahan)". majapahitprana.blogspot.com. Diakses tanggal 19 Desember 2021.

Daftar pustaka

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kerajaan Negara Daha

Negara Daha adalah salah satu kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan. Ibukota Kerajaan Negara Daha berada di Nagara, Kecamatan Daha Selatan

Kerajaan Kadiri

Kerajaan Kahuripan. Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum peristiwa pembelahan kerajaan oleh Airlangga. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang

Kesultanan Banjar

"Kerajaan Kayu Tangi". Setelah perang saudara panjang yang meruntuhkan Negara Daha, Suriansyah dari Banjar (m. 1526–1540) keluar sebagai pemenang dan menobatkan

Majapahit

Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Kemudian, Wiraraja mengirim utusan ke Daha, yang membawa surat berisi pernyataan, Raden Wijaya menyerah dan ingin mengabdi

Distrik Negara

Kabupaten Hulu Sungai Selatan Distrik Negara atau Nagara Daha adalah bekas distrik (kedemangan) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling

Stadion Gelora Daha Jayati

Stadion Gelora Daha Jayati (GDJ) adalah sebuah Stadion Sepak Bola yang berlokasi di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Indonesia

Raden Sekar Sungsang

alias Panji Suranata anak Kertabhumi (alias Brawijaya V) adalah raja Negara Daha ke-1 (1495-1500). Menurut versi Cerita Turunan Raja-raja Banjar dan Kotawaringin

Kerajaan Bali

jauh ke pedalaman ke Daha (bekas ibu kota Kadiri), secara efektif membagi Majapahit menjadi dua pusat kekuasaan; Trowulan dan Daha. Pada tahun 1474 Singhawikramawardhana