International Alphabet of Sanskrit Transliteration (bahasa Indonesia: "Alfabet Internasional untuk Transliterasi Sanskerta") dipersingkat menjadi IAST, merupakan alih aksara yang dimanfaatkan untuk romanisasi aksara India. Transliterasi Aksara Sanskerta Internasional merupakan aksara yang paling banyak digunakan untuk peromawian Sanskerta dan Pali.

Sejarah

sunting

Kongres Orientalis Internasional Kesepuluh, yang diselenggarakan di Jenewa pada tanggal 10 September 1894, memutuskan untuk mengadopsi notasi-notasi berikut:[1][2]

Tabel dari Laporan Komite Transliterasi, hlm. 887
a ā i ī u ū e ai o au
k kh g gh
c ch j jh ñ
ṭh ḍh
t th d dh n
p ph b bh m
y r l v ś s h
visarga
jihvāmūlīya
upadhmānīya

Untuk e dan o pendek, Komite juga merekomendasikan penggunaan ĕ dan ŏ.

Tanda IAST

sunting

Berikut ini tanda IAST dengan patokannya berupa aksara Dewanagari. Alfabet Fonetis Internasional ditunjukkan pada warna hijau, sedangkan tanda IAST ditunjukkan warna kuning.

Vokal

sunting
vokal
[ɐ] a A [ɑː] ā Ā [i] i I [iː] ī Ī [u] u U [uː] ū Ū [ɹ̩] ṛ Ṛ [ɹ̩ː] ṝ Ṝ [l̩] ḷ Ḷ [l̩ː] ḹ Ḹ


diftong
[eː] e E [aːi] ai Ai [oː] o O [aːu]} au Au


अं अः
[ⁿ] ṃ Ṃ {[h] ḥ Ḥ
anusvara visarga

Konsonan

sunting
letup nirsuara
letup bersuara
sengau
tak berembus berembus tak berembus berembus
velar
[k] k K [kʰ] kh Kh [ɡ] g G [ɡʱ] gh Gh [ŋ] ṅ Ṅ
palatal
[c] c C [cʰ] ch Ch [ɟ] j J [ɟʱ] jh Jh [ɲ] ñ Ñ
retrofleks
[ʈ] ṭ Ṭ [ʈʰ] ṭh Ṭh [ɖ] ḍ Ḍ [ɖʱ] ḍh Ḍh [ɳ] ṇ Ṇ
dental
[t] t T [tʰ] th Th [d̪] d D [dʱ] dh Dh [n] n N
labial
[p] p P [pʰ] ph Ph [b] b B [bʱ] bh Bh [m] m M


velar palatal retrofleks dental labial
semivokal
[j] y Y [r] r R [l] l L [ʋ] v V
konsonan desis alur
[ɕ] ś Ś [ʂ] ṣ Ṣ [s] s S
konsonan desis hulu celah-suara nirsuara
[ɦ] h H

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "Tenth International Congress of Orientalists, Held at Geneva". The Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland: 879–892. 1895. JSTOR 25207765.
  2. ^ "Transliteration Report". 1896.

Pranala luar

sunting


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Wisnu

Wisnu (Dewanagari: विष्णु ; ,IAST: Viṣṇu, विष्णु ) atau Narayana (Dewanagari: नारायण; ,IAST: Nārāyaṇa, नारायण), menurut ajaran agama Hindu, adalah dewa

Siwa

Siwa (Dewanagari: शिव; ,IAST: Śiva, शिव), juga dikenal sebagai Mahadewa (Dewanagari: महादेव; ,IAST: Mahādeva, महादेव), adalah salah satu dari tiga dewa

Bima (Mahabharata)

Bima (Dewanagari: भीम; ,IAST: Bhīma, भीम) atau Werkodara (Dewanagari: वृकोदर; ,IAST: Vṛkodhara, वृकोदर) adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita

Hanoman

Hanoman (Dewanagari: हनुमान्; ,IAST: Hanumān, हनुमान्) atau Hanumat (Dewanagari: हनुमत्; ,IAST: Hanumat, हनुमत्), juga dieja sebagai Anoman (Jawa: ꦄꦤꦺꦴꦩꦤ꧀)

Makara

Makara (Dewanagari: मकर; ,IAST: Makara, मकर) adalah makhluk legendaris dalam mitologi Hindu yang kerap digambarkan dalam dalam seni rupa Hindu-Buddha Asia

Yudistira

Yudistira (Dewanagari: युधिष्ठिर; ,IAST: Yudhiṣṭhira, युधिष्ठिर) alias Dharmawangsa, adalah salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia

Parasurama

Parasurama (Dewanagari: परशुराम; ,IAST: Paraśurāma, परशुराम), atau kadang disebut Ramaparasu di Indonesia, adalah nama seorang tokoh Ciranjiwi (makhluk

Karna

Karna (Dewanagari: कर्ण; ,IAST: Karṇa, कर्ण), alias Radeya (Dewanagari: राधेय; ,IAST: Rādheya, राधेय) adalah nama Raja Angga dalam wiracarita Mahabharata