Siswa STOVIA (1920-1933)
Potret grup di STOVIA (1920-1933)

School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (bahasa Indonesia: Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputra), atau yang juga dikenal dengan singkatannya STOVIA, adalah sekolah kedokteran di Batavia, yang kini menjadi ibu kota Indonesia, Jakarta. Sekolah ini secara resmi dibuka pada Maret 1902 di sebuah gedung yang kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional di Weltevreden, sebuah kawasan elit di Batavia.[1][2]

Sejarah pendirian

sunting

Kekhawatiran akan kurangnya tenaga kesehatan untuk menghadapi berbagai macam penyakit berbahaya di wilayah-wilayah jajahannya, membuat pemerintah kolonial menetapkan perlunya diselenggarakan suatu kursus juru kesehatan di Hindia Belanda. Pada 2 Januari 1849, dikeluarkanlah Surat Keputusan Gubernemen no. 22 mengenai hal tersebut, dengan menetapkan tempat pendidikannya di Rumah Sakit Militer (sekarang RSPAD Gatot Subroto) di kawasan Weltevreden, Batavia (sekarang Gambir dan sekitarnya).

Pada tanggal 5 Juni 1853, kegiatan kursus juru kesehatan ditingkatkan kualitasnya melalui Surat Keputusan Gubernemen no. 10 menjadi Sekolah Dokter Djawa, dengan masa pendidikan tiga tahun. Lulusannya berhak bergelar "Dokter Djawa", akan tetapi sebagian besar pekerjaannya adalah sebagai mantri cacar.

Pada akhir abad ke-19, Belanda mengalami perubahan kebijakan dengan penerapan politik etis yang bertujuan untuk menciptakan kesetaraan kepada warga pribumi atau rakyat Indonesia saat itu. Kebijakan ini mencakup tiga bidang, yaitu irigasi, edukasi, dan emigrasi.[3] Salah satu bidangnya, yaitu edukasi inilah yang membuka kesempatan untuk warga pribumi mengenyam pendidikan. Ditambah lagi, wabah penyakit telah tersebar di Pulau Jawa, tetapi biaya untuk mendatangkan dokter dari Eropa membutuhkan biaya yang sangat mahal.[4] Kondisi inilah yang menimbulkan pemikiran untuk memberikan pendidikan pada kaum pribumi untuk menjadi mantri. Sebagai solusi dari masalah ini, Hermanus Frederik Roll, yang saat itu menjabar sebagai direktur Sekolah Dokter Jawa pun mengusulkan ke pemerintah Belanda untuk membangun tempat pendidikan kedokteran yang dapat disetarakan dengan pendidikan kedokteran yang ada di Belanda. STOVIA pun didirikan pada tahun 1851, yang berlokasi di sebelah rumah sakit militer (kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional).

STOVIA tidak membutuhkan biaya serta memberikan peralatan kuliah, seragam gratis sekaligus beasiswa 15 gulden tiap bulannya untuk menarik perhatian kaum pribumi bersekolah disini. Situasi inilah yang menyebabkan STOVIA mendapat julukan sebagai 'sekolah orang miskin'.[5] Mahasiswa STOVIA wajib menjalani ikatan dinas selama sepuluh tahun. Apabila ikatan dinas tidak ditepati, mereka akan didenda sebesar 5.800 gulden.[6]

Selanjutnya Sekolah Dokter Djawa terus-menerus mengalami perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Pada tahun 1889 namanya diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen (atau Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi), lalu pada tahun 1898 diubah lagi menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (atau Sekolah Dokter Pribumi). Akhirnya pada tahun 1913, diubahlah kata Inlandsche (pribumi) menjadi Indische (Hindia) karena sekolah ini kemudian dibuka untuk siapa saja, termasuk penduduk keturunan "Timur Asing"[7] dan Eropa, sedangkan sebelumnya hanya untuk penduduk pribumi.

Cikal bakal dari pergerakan nasional di Hindia Belanda berawal dari sekolah ini ketika dr. Wahidin Soedirohoesodo dan dr. Soetomo yang keduanya merupakan alumni STOVIA mendirikan organisasi pergerakan nasional pertama bernama Budi Utomo pada 20 Mei 1908.

Perubahan selanjutnya

sunting

Nama STOVIA tetap digunakan hingga tanggal 9 Agustus 1927, yaitu saat pendidikan dokter resmi ditetapkan menjadi pendidikan tinggi, dengan nama Geneeskundige Hoogeschool (atau Sekolah Tinggi Kedokteran). Sempat terjadi beberapa kali lagi perubahan nama, yaitu 醫科大學 (Ika Daigaku, Sekolah Kedokteran) pada masa pendudukan Jepang dan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Sejak 2 Februari 1950, Pemerintah Republik Indonesia mengubahnya menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang masih tetap berlaku hingga sekarang.

Pranala luar

sunting

Galeri

sunting
Komplek kampus sekolah kedokteran STOVIA. Tampak dalam gambar adalah gedung-gedung yang saat ini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ujung atas) dan R.S. Cipto Mangunkusumo (tengah), dibatasi di sebelah bawahnya oleh Sungai Ciliwung. Jalan Diponegoro sekarang, terletak di sebelah kanan komplek ini.

Referensi

sunting
  1. ^ "Sejarah FKUI". University of Indonesia. Diakses tanggal 2022-06-03.
  2. ^ Messakh, Matheos Viktor (2008-05-30). "History of Stovia: Home to national change". The Jakarta Post. Diakses tanggal 2022-06-03.
  3. ^ Parinduri, Alhidayath (23 Februari 2021). "Kapan Boedi Oetomo Didirikan, Latar Belakang Sejarah, & Tujuannya?". tirto.id. Diakses tanggal 24 November 2021.
  4. ^ "STOVIA, Boedi Oetomo, dan Kebangkitan Pergerakan Nasional". Direktorat SMP. 20 Mei 2021. Diakses tanggal 24 November 2021.
  5. ^ "Budi Utomo 20 Mei 1908, Awal Pergerakan Nasional Indonesia menuju Indonesia Merdeka". kebudayaan.kemdikbud.go.id. 20 Mei 2019. Diakses tanggal 25 November 2021.
  6. ^ Matanasi, Petrik (20 Agustus 2020). "Tjipto hingga Leimena: Penerima Beasiswa yang Membangkang Belanda". tirto.id. Diakses tanggal 25 November 2021.
  7. ^ Antara lain penduduk keturunan Tionghoa, Arab, dan India

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Bumiputera

Bumiputera atau Bumiputra merupakan kata bahasa Melayu, berasal dari kata bahasa Sanskerta Bhumiputra yang dapat diterjemahkan sebagai "putra Indonesia

Kartini

tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak

Malaysia

10% dari bangku yang tersedia bagi siswa-siswi non-Bumiputra dan sisanya untuk siswa-siswi Bumiputra. Terdapat universitas publik seperti Universitas Malaya

Kota Bogor

Buitenzoorg selalu orang-orang Belanda dan baru tahun 1940 diduduki oleh orang Bumiputra yaitu Mr. Soebroto). Pada tahun 1922 sebagai akibat dari ketidakpuasan

Bumiputra di Sabah

Penduduk Sabah adalah terdiri dari berbagai ras dengan latar belakang dan kebudayaan masing-masing. Penduduk aslinya atau lebih dikenal sebagai bumiputera

Partai Bumiputra Perkasa Malaysia

ini, Presiden Partai Bumiputra Perkasa Malaysia adalah Ibrahim Ali sejak 8 Mei 2019. Berikut adalah daftar Presiden Partai Bumiputra Perkasa Malaysia. Struktur

Tjipto Mangoenkoesoemo

Perayaan tersebut menurut Cipto sebagai suatu penghinaan terhadap rakyat bumiputra yang sedang dijajah. Cipto dan Suwardi Suryaningrat kemudian mendirikan

CIMB

kedua di Indonesia yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia melalui Bumiputra-Commerce Holdings Berhad (BCHB). Pada tahun 2004, CIMB memulai proses