Enheduanna
Enheduanna pada cakram pualam yang ditemukan oleh Leonard Woolley di Giparu di Ur
Enheduanna, pendeta wanita agung Nanna (ca 2300 SM)
PekerjaanPendeta wanita EN
BahasaSumeria Kuno
KebangsaanKekaisaran Akkadia
GenreHimne
SubjekNanna, Inanna
Tahun aktifsek. 2300 SM
Karya terkenal
  • Himne Inanna
  • Himne-himne Kuil
KerabatSargon dari Akkadia (ayah)

Enheduanna (Sumeria: 𒂗𒃶𒌌𒀭𒈾[1] Enḫéduanna, juga ditransliterasikan sebagai Enheduana, En-he2-du7-an-na, atau ragam lainnya; fl.ca 2300 SM) adalah pendeta wanita agung (entu) dari dewa bulan Nanna (Sīn) di negara-kota Sumeria di Ur pada masa pemerintahan ayahnya, Sargon dari Akkadia (mca 2334 – ca 2279 SM). Ia kemungkinan besar ditunjuk oleh ayahnya sebagai pemimpin kelompok keagamaan di Ur untuk mempererat ikatan antara agama Akkadia yang dianut sang ayah dengan agama asli bangsa Sumeria. Enheduanna telah diakui secara luas sebagai penulis bernama paling awal yang diketahui dalam sejarah dunia.

Sejumlah karya dalam Sastra Sumeria, seperti Peninggian Inanna, menampilkannya sebagai narator sudut pandang orang pertama, dan karya-karya lain, seperti Himne-himne Kuil Sumeria, diyakini dapat dikenali sebagai hasil gubahannya. Namun demikian, terdapat perdebatan yang cukup sengit di kalangan pakar Asiriologi modern, berdasarkan landasan linguistik maupun arkeologis, perihal apakah ia benar-benar menulis atau menggubah karya-karya yang ditemukan kembali tersebut yang dikaitkan dengan namanya. Selain itu, satu-satunya naskah dari karya-karya yang dinisbahkan kepadanya ditulis oleh para juru tulis pada masa Kekaisaran Babilonia Pertama enam abad setelah ia hidup, dan ditulis dalam dialek bahasa Sumeria yang lebih baru daripada yang mungkin ia tuturkan. Para juru tulis ini mungkin menyematkan karya-karya tersebut kepadanya sebagai bagian dari narasi legendaris wangsa Sargon dari Akkadia dalam tradisi Babilonia di kemudian hari.

Ingatan budaya mengenai Enheduanna beserta karya-karya yang dihubungkan dengannya lenyap beberapa waktu setelah runtuhnya Kekaisaran Babilonia Pertama. Eksistensinya baru ditemukan kembali oleh para pakar arkeologi modern pada tahun 1927, tatkala Sir Leonard Woolley menggali Giparu di kota kuno Ur dan menemukan sebuah cakram pualam dengan ukiran namanya, hubungannya dengan Sargon dari Akkadia, serta jabatannya di sisi baliknya. Berbagai rujukan mengenai namanya kemudian ditemukan pada karya-karya sastra Sumeria yang berhasil digali, yang memicu penyelidikan mengenai kemungkinan posisinya sebagai penulis karya-karya tersebut. Penemuan kembali Enheduanna secara arkeologis telah menarik perhatian besar dan memantik perdebatan ilmiah di era modern terkait posisinya sebagai penulis bernama pertama yang pernah diketahui. Sosoknya juga mendapat perhatian yang cukup besar dalam kajian feminisme, dan karya-karya yang dinisbahkan kepadanya juga telah ditelaah sebagai bentuk cikal bakal dari retorika klasik. Terjemahan bahasa Inggris dari karya-karyanya telah mengilhami sejumlah adaptasi dan representasi sastra.

Latar belakang

sunting

Ayah Enheduanna adalah Sargon dari Akkadia,[2] pendiri Kekaisaran Akkadia. Dalam sebuah prasasti yang masih bertahan, Sargon menggelari dirinya "Sargon, raja Akkadia, pengawas (mashkim) Inanna, raja Kish, yang diurapi (guda) oleh Anu, raja negeri [Mesopotamia], gubernur (ensi) Enlil".[3] Prasasti tersebut merayakan penaklukan Uruk dan kekalahan Lugal-zage-si, yang dibawa oleh Sargon "dengan leher terbelenggu ke gerbang Enlil":[3][4] Sargon kemudian menaklukkan Ur dan "membumihanguskan" wilayah dari Lagash hingga ke laut, [5] yang pada akhirnya menaklukkan setidaknya 34 kota secara keseluruhan.

Ayah Enheduanna, Sargon dari Akkadia, mendirikan Kekaisaran Akkadia pada abad ke-24 SM

Irene J. Winter menyatakan bahwa setelah menaklukkan Ur, Sargon kemungkinan besar berusaha untuk "mengkonsolidasikan hubungan wangsa Akkadia dengan masa lalu tradisional Sumeria di pusat pemujaan dan politik penting Ur"[6] dengan menunjuk Enheduanna pada posisi penting dalam kultus dewa bulan asli Sumeria. Winter menyatakan bahwa kemungkinan besar jabatan yang diembannya sudah ada sebelumnya, dan bahwa penunjukannya untuk peran ini, serta nisbahnya kepada Nanna akan membantunya menjalin sinkretisme antara agama Sumeria dan agama Semit. Setelah Enheduanna, peran pendeta wanita agung terus dipegang oleh anggota keluarga kerajaan. Joan Goodnick Westenholz mengemukakan bahwa peran pendeta wanita agung tampaknya memiliki tingkat kehormatan yang setara dengan seorang raja; sebagai pendeta wanita agung Nanna, Enheduanna akan bertugas sebagai perwujudan Ningal, pasangan Nanna, yang akan memberikan otoritas ilahi pada setiap tindakannya.[7] Akan tetapi, meskipun Giparu di Ur tempat pendeta wanita en dari Nanna beribadah telah dipelajari secara ekstensif oleh para arkeolog, tidak ada informasi definitif mengenai apa saja tugas mereka sebenarnya. [8]

Pemberontakan Lugal-Ane

sunting

Menjelang akhir masa pemerintahan cucu Sargon, yakni Narām-Sîn, sejumlah besar bekas negara-kota melancarkan pemberontakan terhadap kekuasaan pusat Akkadia. Berdasarkan sejumlah petunjuk dalam kidung Nin me šara ("Peninggian Inana"), serangkaian peristiwa tersebut dapat direkonstruksi dari sudut pandang Enheduanna: seorang tokoh bernama Lugal-Ane berhasil merebut kekuasaan di kota Ur, dan sebagai penguasa baru, ia berlindung di balik legitimasi dewa kota Nanna. Sosok Lugal-Ane ini kemungkinan besar adalah orang yang sama dengan Lugal-An-na atau Lugal-An-né, yang disebutkan dalam naskah-naskah sastra Babilonia kuno mengenai peperangan tersebut sebagai raja Ur. Lugal-Ane rupanya menuntut agar pendeta wanita agung yang juga merupakan permaisuri dewa bulan, Enheduanna, mengesahkan pengambilalihan kekuasaannya. En-ḫedu-anna, sebagai perwakilan wangsa Sargon, menolak tuntutan tersebut, yang kemudian berujung pada pencopotan dirinya dari jabatan dan pengusirannya dari kota tersebut. Penyebutan nama kuil E-ešdam-ku mengindikasikan bahwa ia kemudian menemukan tempat bernaung di kota Ĝirsu. Di dalam pengasingan inilah, ia menggubah kidung Nin me šara, yang pementasannya dimaksudkan untuk membujuk dewi Inanna (dalam wujud Ishtar, dewi pelindung wangsanya) agar bersedia turun tangan demi membela Kekaisaran Akkadia.[9]

Raja Narām-Sîn pada akhirnya berhasil menumpas pemberontakan Lugal-Ane beserta raja-raja lainnya, serta memulihkan otoritas pusat Akkadia pada sisa tahun-tahun masa pemerintahannya. Kemungkinan besar Enheduanna kemudian kembali menduduki jabatannya di kota Ur.[butuh rujukan]

Artefak arkeologis

sunting
Cakram Enheduanna, yang ditemukan oleh Leonard Woolley, memperlihatkan sang pendeta wanita agung tengah berdiri memanjatkan puja saat sosok yang ditafsirkan sebagai pria telanjang menuangkan persembahan curahan[10]

Pada tahun 1927, sebagai bagian dari upaya penggalian di Ur, arkeolog Inggris Sir Leonard Woolley menemukan sebuah cakram pualam yang hancur berkeping-keping, yang sejak saat itu telah direkonstruksi kembali. Sisi balik cakram tersebut menyebutkan Enheduanna sebagai istri Nanna dan putri Sargon dari Akkadia. Sisi depannya memperlihatkan sang pendeta wanita agung berdiri memanjatkan puja ketika sesosok yang ditafsirkan sebagai pria telanjang menuangkan persembahan curahan (libasi).[10] Irene Winter menyatakan bahwa "mengingat penempatan dan perhatian terhadap detail" pada sosok sentral tersebut, "ia telah dikenali sebagai Enheduanna".[11] Cakram tersebut kini menjadi artefak utama di Galeri Timur Tengah di Museum Penn. Staf museum telah memamerkan cakram tersebut kepada tamu-tamu istimewa museum, seperti Neil Gaiman.[12] Bersama benda-benda lain yang berkaitan dengan pendeta wanita tersebut, artefak ini dipajang dalam pameran tahun 2022–2023 yang berpusat pada dirinya, bertajuk She Who Wrote: Enheduanna and Women of Mesopotamia.[13]

Dua buah stempel yang memuat namanya, milik para pelayannya dan diperkirakan berasal dari periode Sargonik, telah digali di Giparu di Ur. [14]

Dua dari karya-karya yang dinisbahkan kepada Enheduanna, yakni "Himne Inanna" dan "Inanna dan Ebih", telah bertahan di dalam berbagai naskah berkat keberadaannya di dalam Dekade, sebuah kurikulum juru tulis tingkat lanjut pada masa Kekaisaran Babilonia Pertama di abad ke-18 dan ke-17 SM. [15] Black et al. mengemukakan bahwa "mungkin Enheduanna tetap lestari dalam sastra juru tulis" berkat "pesona yang tak kunjung pudar terhadap wangsa ayahnya, Sargon dari Akkadia".[16] Akan tetapi, mengaitkan popularitasnya dengan sosok sang ayah tampaknya merupakan salah satu contoh bias androsentrisme dalam ilmu arkeologi,[17] mengingat kedudukan abadi Enheduanna sebagai penulis pertama yang diakui eksistensinya dalam sejarah umat manusia.[18]

Catatan

sunting
  1. ^ Ebeling 1938, hlm. 373.
  2. ^ Black et al. 2006, hlm. 315–316.
  3. ^ a b Kramer 2010, hlm. 324.
  4. ^ Kuhrt 1995, hlm. 49.
  5. ^ Frayne 1993, hlm. 10-12.
  6. ^ Winter, Irene (2010). On Art in the Ancient Near East: From the Third Millennium B.c.e. (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBN 978-90-04-17499-3.
  7. ^ Westenholz 1989, hlm. 549.
  8. ^ Godotti 2016, hlm. 137.
  9. ^ Zgoll 1997, hlm. 38-42.
  10. ^ a b Winter 2009, hlm. 69.
  11. ^ Winter 2009, hlm. 68.
  12. ^ Hafford, Brad (25 Juni 2012). "Ur Digitization Project: Item of the month, June 2012". Penn Museum Blog.
  13. ^ "She Who Wrote: Enheduanna and Women of Mesopotamia, ca. 3400–2000 B.C. | The Morgan Library & Museum". www.themorgan.org. Diakses tanggal 2026-01-16.
  14. ^ Weadock 1975.
  15. ^ Black et al. 2006, hlm. 299.
  16. ^ Black et al. 2006, hlm. 334–335.
  17. ^ Johnson 2010.
  18. ^ Helle 2023.

Referensi

sunting

Bacaan lanjutan

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Burung jenjang eurasia

1758) Peta sebaran spesies Kuning : wilayah kawin Biru: wilayah musim dingin garis hijau : rute Sinonim Ardea grus Linnaeus, 1758 Grus turfa Portis, 1884

Hemostat

Instrumentation. Clifton Park, New York: Cengage. Becker, Marshall Joseph; Turfa, Jean MacIntosh (2017). The Etruscans and the History of Dentistry: The

Volterra

major role amongst the centres of n. Etruria up to the ... Jean MacIntosh Turfa (13 November 2014). The Etruscan World. Routledge. hlm. 134–. ISBN 978-1-134-05523-4

Faliski

Faliscans and the Etruscans.” In The Etruscan World, edited by Jean MacIntosh Turfa, 259–280. London: Routledge, 2013. Holland, Louise Adams. The Faliscans

Pejuang wanita dalam budaya dan sastra

"Warrior women: The archaeology of Amazons". Dalam Budin, Stephanie Lynn; Turfa, Jean Macintosh (ed.). Women in Antiquity: Real Women across the Ancient

Tirenia

Press, doi:10.1093/acrefore/9780199381135.013.8222, ISBN 978-0-19-938113-5 Turfa, Jean MacIntosh. "The Etruscans". Dalam Farney, Gary D.; Bradley, Gary (ed

Angka Etruria

"The Etruscan language." In The Etruscan World, edited by Jean MacIntosh Turfa, 457–77. Abingdon: Routledge, 2013. Gluhak, Alemko. "Etruscan Numerals."