Gottfried Leibniz mencetuskan istilah 'teodisi' untuk menyelaraskan keberadaan Tuhan dengan ketidaksempurnaan dunia.

Teodisi (disebut juga teodise) adalah pandangan filosofis dan konsep untuk menjelaskan Tuhan yang Mahabaik mengizinkan adanya kejahatan di dunia, sehingga mampu menyelesaikan isu dari masalah kejahatan. Istilah ini dicetuskan pada tahun 1710 oleh filsuf Jerman Gottfried Leibniz dalam karyanya yang berjudul Théodicée. Beberapa ilmu teodisi juga membahas masalah pembuktian kejahatan dengan mencoba untuk "menyelaraskan keberadaan Tuhan yang Mahapengampun, Mahakuasa, dan Mahatahu dengan keberadaan kejahatan atau penderitaan di dunia"

Etimologi

sunting

Istilah "teodisi" berasal dari bahasa Yunani yaitu theos dan dike yang masing-masing berarti Tuhan dan keadilan. Istilah ini dikaiatkan dengan sifat Tuhan yang penuh kebajikan, kemahatahuan dan kemahakuasaan terhadap segala makhluk ciptaan-Nya. Kata "teodisi" juga digunakan oleh para teolog untuk memberikan pembenaran terhadap segala perilaku Tuhan atas makhluk ciptaan-Nya.[1]

Istilah "teodisi" pertama kali diperkenalkan oleh filsuf asal Jerman yang bernama Gottfried Leibniz. Ia memperkenalkannya di dalam bukunya yang berjudul Essais sur la Théodicée Bonte de Dieu, la Liberté de l’homme et l’origine du mal atau diterjemahkan menjadi Teodisi: Esai tentang Kebaikan Tuhan, Kebebasan Manusia dan Keaslian Sifat Setan. Dalam karya ini, diberikan penjelasan bahwa kebaikan Tuhan tidak bertentangan dengan kenyataan adanya beragam jenis kejahatan di dunia. Kejahatan tetap ada, tetapi dunia masih menjadi tempat yang layak untuk ditinggali karena adanya keindahan dan kesenangan.[2]

Tokoh pemikir

sunting

Gottfried Leibniz

sunting

Leibniz memperkenalkan istilah "teodisi" pada tahun 1710 Masehi melalui bukunya dengan judul yang sama. Tujuan ia menulis buku dan memberikan konsep mengenai teodisi ialah untuk pembelaan atas kemahakuasaan dan kemahabaikan Allah melebihi penderitaan. Ia memberikan konsep yang jelas dengan membaginya menjadi dua bagian, yaitu mengenai Allah dan manusia. Leibniz membagi kodrat Allah menjadi tiga bagian, yaitu rasional, kehendak dan mahakuasa. Kodrat rasional berkaitan dengan sifat kebijaksanaan dari Allah. Kodrat kehendak dikaitkan dengan tujuan Allah terhadap setiap tindakan-Nya hanya untuk kebaikan. Sedangkan kodrat mahakuasa dikaitkan dengan kemampuan Allah untuk membuat sesuatu menjadi ada. Kodrat Allah ini kemudian oleh Leibniz dibuatkan suatu rekonsiliasi dengan kehendak bebas dari manusia yang sering mengarah kepada keburukan.[3] Dari hal ini, kodrat kehendak Allah muncul dengan dua kategori, yaitu kehendak anteseden dan kehendak konsekuen. Kehendak anteseden berkaitan dengan kehendak Allah untuk memberikan kebaikan kepada manusia. Sedangkan kehendak konsekuen berkaitan dengan konsekuensi yang dialami oleh manusia dalam bentuk penderitaan sebagai akibat dari kesalahan yang diperbuat oleh manusia.[4]

Referensi

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ Zubaidi 2011, hlm. 249-250.
  2. ^ Zubaidi 2011, hlm. 250.
  3. ^ Fangidae 2020, hlm. 154.
  4. ^ Fangidae 2020, hlm. 154-155.

Daftar pustaka

sunting
  • Fangidae, Tony Wiyaret (2020). "Dari Teodisi dan Antropodisi Menuju Teo-antropodisi: Mengasihi Allah dan Sesama di Tengah Pandemi COVID-19". Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan. 19 (2). Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Zubaidi, Sujiat (2011). "Antara Teodisi dan Monoteisme: Memaknai Esensi Keadilan Ilahi". Jurnal Tsaqafah. 7 (2). Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Teodisi Agustinian

Teodisi Agustinian (bahasa Inggris: Augustinian theodicycode: en is deprecated ), dinamai berdasarkan teolog dan filsuf abad ke-4 dan ke-5, Agustinus

Masalah kejahatan

evidensial, berbagai teodisi telah diajukan. Salah satu teodisi yang diterima adalah pendekatan yang mengacu pada narasi kuat teodisi kompensasi. Pandangan

Adam

buruk dianggap sebagai kehendak Tuhan. Namun ini menimbulkan pertanyaan teodisi di pikiran orang-orang Israel pada masa itu, bagaimana bisa Tuhan yang

Tuhan

yang menolak batas-batas persona Tuhan. Disteisme, yang terkait dengan teodisi, adalah bentuk teisme yang mengajarkan bahwa Tuhan tidak sepenuhnya baik

Kitab Ayub

atas Kitab Ayub menerangkan upaya-upaya untuk menjawab masalah-masalah teodisi, yaitu alasan dari Allah yang Mahabaik mengizinkan keberadaan kuasa jahat

Monoteisme

dan kebenaran. Hal ini membuat Taoisme terbebas dari masalah-masalah teodisi. "Monotheism". Encyclopædia Britannica. 24 May 2023. "monotheism". Oxford

Agustinus dari Hippo

makhluk-makhluk rasional yang memiliki kehendak bebas dapat ditemukan dalam teodisi Agustinus. Kehendak bebas tidak dimaksudkan untuk berbuat dosa, berarti

Isaac Newton

disangkal di depan keagungan segala ciptaan. Juru bicaranya, Clarke, menolak teodisi Leibniz yang membersihkan Tuhan dari tanggungjawab untuk masalah kejahatan