Pasukan Force Publique di Kongo Belgia pada akhir tahun 1940-an

Tentara kolonial atau pasukan kolonial adalah istilah yang mengacu kepada satuan-satuan militer yang direkrut dari wilayah koloni atau jajahan. Pada permulaan periode penjajahan modern, pasukan negara-negara penjajah kebanyakan berasal dari negara asalnya, tetapi kemudian pasukan dari wilayah jajahan juga mulai direkrut. Pasukan yang direkrut dari wilayah jajahan biasanya mengabdi dalam satuan-satuan yang terpisah di bawah pemimpin mereka sendiri atau di bawah seorang perwira Eropa.

Salah satu contoh tentara kolonial adalah sepoy di wilayah East India Company.[1] Banyak negara penjajah yang berupaya merekrut kelompok minoritas untuk menyeimbangi populasi mayoritas yang mungkin akan memberontak, seperti misalnya Belanda merekrut orang Ambon untuk memadamkan pemberontakan orang Jawa.

Keunggulan tentara kolonial adalah pengetahuan mereka akan medan, bahasa, dan budaya setempat. Mereka juga kemungkinan besar tahan penyakit di wilayah mereka, seperti misalnya di Afrika Barat yang memiliki penyakit-penyakit yang membayakan pasukan Eropa hingga permulaan abad ke-20. Namun, persenjataan pasukan kolonial biasanya tidak selengkap pasukan utama.

Catatan kaki

sunting
  1. ^ J.M. Roberts, page 399 "The Triumph of the West", ISBN 0-563-20070-7

Daftar pustaka

sunting
  • Killingray, David; Omissi, David E., ed. (1999). Guardians of Empire: The Armed Forces of the Colonial Powers C. 1700-1964 (Edisi illustrated). Manchester University Press. ISBN 9780719057342.
  • Karl Hack and Tobias Rettig, eds. (2006), Colonial Armies in Southeast Asia.
  • Herron, J. S., ed. (November 1901). "Colonial Army Systems of the Netherlands, Great Britain, France, Germany, Portugal, Italy, and Belgium" (34). Washington D.C.: U.S. Government Printing Office. OCLC 6209451.
  • R. Hure (1977), L' Armee d' Afrique 1830-1962.
  • Philip Mason (1974), A Matter of Honour - an account of the Indian Army. ISBN 0-333-41837-9 .

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Soedirman

tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah

Martha Christina Tiahahu

Maluku Tengah. Pada usia 17 tahun, ia terjun ke medan perang melawan tentara kolonial Belanda mendampingi ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu. Sang ayah merupakan

Republik Maluku Selatan

cengkeh, mereka sepenuhnya bergantung pada struktur kolonial dan mendapatkan pendudukan di tentara kolonial. Orang Ambon dianggap pejuang yang ganas, prajurit

Tombak

tanpa perkuatan apa pun di ujungnya. Untuk menghadapi tentara tradisonal nusantara dan tentara kolonial ini adalah senjata penusuk yang mematikan sebab mereka

Belanda Hitam

sebagai tentara kolonial di Hindia Belanda. Perekrutan ini sebenarnya sebuah langkah darurat karena Belanda sendiri telah kehilangan ribuan orang tentara yang

Rondahaim Saragih Garingging

menyamar menjadi Tuan Rondahaim itu ditembak mati oleh tentara Belanda. Pada tahun 1887, pasukan kolonial Belanda berhasil memukul mundur pasukan Partuanan

Invasi Ambon

internasional yang berat untuk membubarkan tentara kolonial dan untuk sementara menjadikan orang-orang ini bagian dari tentara reguler Belanda, ketika mencoba untuk

Tentara Kerajaan Hindia Belanda

Tentara Kerajaan Hindia Belanda (bahasa Belanda: Koninklijk Nederlands Indisch Legercode: nl is deprecated , KNIL, pelafalan [knɪl]) adalah angkatan bersenjata