Sejarah
China Dinasti Qing
Nama Tek Sing
Rute ChinaIndonesia
Pelabuhan daftar Amoy
Nasib Tenggelam 6 Februari 1822
Ciri-ciri umum
Kelas dan jenis Kapal jung
Tonase muatan 1000 (bm)
Panjang 50 meter (164,04 ft)
Lebar 10 meter (32,81 ft)
Tinggi 90 kaki (27,43 m)
Pendorong Angin
Tata layar Layar jung
Awak 200

Kapal Tek Sing atau "Bintang Sejati" adalah [1] sebuah kapal layar besar yang berbentuk junk yang tenggelam pada tanggal 6 Februari 1822 [2] di perairan Selat Gaspar, Kepulauan Bangka Belitung. Kapal Tek Sing sering disebut sebagai "Titanik dari Timur" dikarenakan besarnya. Ia memiliki panjang 50 meter, lebar 10 meter dan berat sekitar 1000 ton dengan layar tertinggi mencapai 90 kaki (27.43 m). Pada bulan pertengahan tahun 2000, seisi kapal ini dijarah oleh seorang pemburu harta karun asal Inggris, Michael Hatcher.

Peristiwa tenggelam

sunting

Tek Sing berlayar dari Amoy (Xiamen) di Hokkian menuju Batavia (Jakarta) dengan mengangkut lebih dari 2000 orang imigran Tionghoa dan membawa sejumlah besar barang seperti kargo keramik. Setelah sebulan berlayar, Tek Sing melewati Selat Gaspar, di antara pulau Bangka dan Belitung, tetapi menabrak batu karang dan tenggelam pada kedalaman 100 kaki (30,48 m). Hanya 180 orang yang berhasil selamat dalam peristiwa itu dan keesokan harinya mereka ditolong oleh kapal Inggris yang melintas.

Penemuan

sunting

Pada tanggal 12 Mei, 1999, seorang pemburu harta dari Inggris, Michael Hatcher berhasil menemukan bangkai kapal Tek Sing. Ia mengangkat sekitar 350 ribu keping keramik Tiongkok yang merupakan penemuan harta karun kapal Tiongkok yang paling besar yang pernah ditemukan [3] Dari sisa-sisa barang temuan ditemukan juga tengkorak manusia yang ikut tenggelam.

Hasil dari harta karun Tek Sing dilelang di Jerman pada bulan November 2000 dan Indonesia mendapat separuh dari hasil pengangkatan itu dengan nilai sekitar Rp 90 Miliar.

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "The Legacy of the Tek Sing". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-01-31. Diakses tanggal 2008-05-31.
  2. ^ "Treasures of the Tek Sing". Diarsipkan dari asli tanggal 2008-06-11. Diakses tanggal 2008-05-31.
  3. ^ "Tek Sing Treasure". Diarsipkan dari asli tanggal 2008-06-11. Diakses tanggal 2008-05-31.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Michael Hatcher

Geldermasen dan penemuan terhadap barang antik porselen asal China. Kapal Tek Sing Kalsum, Umi. "Butuh 22.000 Penyelaman Angkat Harta Karun". VIVA.co.id.

Supardi (militer)

tahun 1970 sebagai Direktur Jenderal Olahraga "Dulu Nanking, Sekarang Tek Sing". Tempo. 20 Agustus 2000. Diakses tanggal 9 Februari 2022. Bachtiar, Harsya

Tempat ibadah agama Khonghucu

melainkan disebut Kongco. Sebagai contoh adalah Bio Hok Tek Tjeng Sin, Pak Kik Bio, Kwan Sing Bio, yang banyak terdapat di Indonesia. Litang (禮堂); arti

Lie A. Dharmawan

Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV, yang bernama Tionghoa Lie Tek Bie (lahir 16 April 1946) adalah seorang ahli kesehatan atau dokter ahli

Kelenteng Hok Tek Bio

Kelenteng Hok Tek Bio atau Klenteng Amurvabhumi (Hanzi: 福德廟) yang berada di Jalan Letjen Sukowati merupakan saksi sejarah masuknya ajaran agama Buddha

Kelenteng Tik Liong Tian

kanan 14 Guan Khong (Hiap Thian Tay Tee) Area kolam tengah Sisi kiri kolam 15 Fuk Tek Chen Shen (Hok Tik Cing Sien) Area kolam tengah Sisi kanan kolam

Tridharma

antara lain Vihara Sui Kheu Thai Pak Kung (Kota Singkawang), Kelenteng Kwan Sing Bio (Tuban), Kelenteng Tay Kak Sie (Kota Semarang), dan Vihara Bodhisatva

Lumpia

lama semakin besar, hingga diwariskan ke anak-anak mereka yakni, Siem Gwan Sing, Siem Hwa Noi yang membuka cabang di Mataram dan Siem Swie Kiem yang meneruskan