Solastalgia merupakan sebuah neologisme yang diciptakan oleh filsuf Glenn Albrecht pada tahun 2003 yang menggabungkan kosa kata bahasa Latin, yaitu sōlācium (yang berarti penghiburan atau kenyamanan) dari kata solus (kesunyian, dengan makna terkait kehilangan, keterasingan, dan kehancuran), serta akar kata bahasa Yunani -algia (rasa sakit atau penderitaan). Kata ini pertama kali muncul dalam karya Albrecht yang berjudul Solastalgia: a new concept in human health and identity dan diterbitkan di jurnal Philosophy Activism Nature.[1]

Definisi dan penelitian terbaru

sunting

Istilah ini menggambarkan bentuk tekanan emosional atau eksistensial yang muncul akibat perubahan lingkungan yang dirasakan secara negatif. Solastalgia dijelaskan sebagai perasaan rindu terhadap tempat tinggal sendiri ketika lingkungan sekitar mengalami perubahan yang menimbulkan kesedihan. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan dampak perubahan iklim global, tetapi juga dapat muncul akibat peristiwa lokal seperti letusan gunung berapi, kekeringan, atau kegiatan penambangan yang merusak lingkungan.[2] Solastalgia menggambarkan bentuk penderitaan yang muncul ketika seseorang tetap berada di rumahnya tetapi lingkungan sekitarnya berubah secara signifikan, menimbulkan rasa kehilangan dan kesedihan. Hal ini berbeda dengan nostalgia, yang muncul akibat kerinduan terhadap rumah atau tempat asal yang telah ditinggalkan.[3]

Pendekatan yang lebih baru telah menghubungkan solastalgia dengan pengalaman warisan bersejarah yang terancam oleh krisis iklim, seperti kota-kota kuno Venesia, Amsterdam, dan Hoi An.[4]

Dampak

sunting

Makalah yang diterbitkan oleh Albrecht dan rekan-rekannya pada tahun 2007 meneliti dua konteks utama, yaitu dampak kekeringan berkepanjangan di wilayah pedesaan New South Wales (NSW) serta pengaruh penambangan batu bara terbuka berskala besar terhadap masyarakat di Upper Hunter Valley, NSW. Dalam kedua kasus tersebut, individu yang mengalami perubahan lingkungan menunjukkan reaksi negatif akibat perasaan tidak berdaya terhadap kondisi yang terus memburuk. Kehilangan rasa stabilitas dan kepastian dalam lingkungan yang sebelumnya dapat diprediksi menjadi ciri umum di antara kelompok masyarakat yang mengalami solastalgia.[3]

Pada tahun 2015, jurnal medis The Lancet mencantumkan solastalgia sebagai salah satu konsep yang menjelaskan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia.[5] Tinjauan terhadap berbagai penelitian mengenai solastalgia selama 15 tahun menunjukkan bagaimana fenomena ini dikaji dalam kaitannya dengan perubahan iklim serta pengaruhnya terhadap kondisi psikologis masyarakat.[6] Para ilmuwan juga menyoroti aspek temporal dari solastalgia, yaitu keterkaitan antara pengalaman individu menghadapi perubahan lingkungan yang tidak diinginkan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap perubahan yang akan datang. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan munculnya gejala kecemasan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), serta meningkatnya rasa marah.[7]

Referensi

sunting
  1. ^ Albrecht, Glenn (2016-12-13). "'Solastalgia' : a new concept in health and identity". PAN : philosophy activism nature (dalam bahasa Inggris). 3: 44–59. doi:10.4225/03/584f410704696.
  2. ^ Warsini, Sri; Mills, Jane; Usher, Kim (2014-02). "Solastalgia: Living With the Environmental Damage Caused By Natural Disasters". Prehospital and Disaster Medicine (dalam bahasa Inggris). 29 (1): 87–90. doi:10.1017/S1049023X13009266. ISSN 1049-023X.
  3. ^ a b Albrecht, Glenn; Sartore, Gina-Maree; Connor, Linda; Higginbotham, Nick; Freeman, Sonia; Kelly, Brian; Stain, Helen; Tonna, Anne; Pollard, Georgia (2007-02-01). "Solastalgia: The Distress Caused by Environmental Change". Australasian Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 15 (1_suppl): S95 – S98. doi:10.1080/10398560701701288. ISSN 1039-8562.
  4. ^ Weststeijn, Thijs (28 Oktober 2021). "Must we accept the loss of beloved heritage to the climate crisis?". Aeon Essays (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-01.
  5. ^ Watts, Nick; Adger, W. Neil; Agnolucci, Paolo; Blackstock, Jason; Byass, Peter; Cai, Wenjia; Chaytor, Sarah; Colbourn, Tim; Collins, Mat (2015-11-07). "Health and climate change: policy responses to protect public health". The Lancet (dalam bahasa English). 386 (10006): 1861–1914. doi:10.1016/S0140-6736(15)60854-6. ISSN 0140-6736. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  6. ^ Galway, Lindsay P.; Beery, Thomas; Jones-Casey, Kelsey; Tasala, Kirsti (2019-07-25). "Mapping the Solastalgia Literature: A Scoping Review Study". International Journal of Environmental Research and Public Health. 16 (15): 2662. doi:10.3390/ijerph16152662. ISSN 1660-4601. PMC 6696016. PMID 31349659. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  7. ^ Stanley, Samantha K.; Heffernan, Timothy; Macleod, Emily; Lane, Jo; Walker, Iain; Evans, Olivia; Greenwood, Lisa-Marie; Kurz, Tim; Calear, Alison L. (2024-05-01). "Solastalgia following the Australian summer of bushfires: Qualitative and quantitative insights about environmental distress and recovery". Journal of Environmental Psychology. 95: 102273. doi:10.1016/j.jenvp.2024.102273. ISSN 0272-4944.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kesedihan ekologis

dapat memicu reaksi psikologis negatif, termasuk kesedihan ekologis atau solastalgia. Kelompok yang paling terdampak mencakup kaum muda yang merasa dikecewakan

Festival Film Indonesia 2017

Rob – Fuad Hilmi Hirnanda Sepanjang Jalan Satu Arah – Bani Nasution Solastalgia – Kurnia Yudha F Songbird: Burung Berkicau – Wisnu Surya Pratama Film

Empati ekologis

kaitan, tapi tidak sama, dengan biofilia, kesedihan ekologis, serta solastalgia. Menurut hipotesis biofilia, manusia secara alami menyukai alam dan merasa

Film Dokumenter Terbaik Festival Film Indonesia

Living in Rob Fuad Hilmi Hirnanda Sepanjang Jalan Satu Arah Bani Nasution Solastalgia Kurnia Yudha F Songbird: Burung Berkicau Wisnu Surya Pratama 2018 (Ke-38)