Bagian Tembok Besar yang membentang di Simatai.

Simatai (Hanzi: 司马台; Pinyin: Sīmǎtái) merupakan bagian dari Tembok Besar yang terletak di utara Distrik Miyun, 120 km timur laut Beijing, yang memiliki akses ke Gubeikou, sebuah lintasan strategis di bagian timur Tembok Besar. Simatai sempat ditutup pada Juni 2010 tetapi dibuka kembali untuk wisatawan pada tahun 2014.

Umum

sunting

Bagian Tembok Besar ini awalnya dibangun pada masa dinasti Qi Utara (550–577) dan dibangun kembali pada masa Kaisar Hongwu dari Dinasti Ming.

Tembok Besar Simatai memiliki panjang 5,4 km dengan 35 menara pengawas. Bagian Tembok Besar ini menggabungkan karakteristik yang berbeda dari setiap bagian Tembok Besar. Seorang spesialis Tembok Besar, Profesor Luo Zhewen mengatakan bahwa "Tembok Besar merupakan yang terbaik dari bangunan Tiongkok dan Simatai adalah yang terbaik dari Tembok Besar."[butuh rujukan] UNESCO telah menetapkan Tembok Besar Simatai menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia Tembok Besar.

Tembok Besar Simatai dipisahkan oleh sebuah lembah menjadi bagian timur dan barat. Bagian barat melandai lembut dengan 20 menara pengawas yang masih terpelihara dengan baik di sepanjang temboknya. Bagian timur jauh lebih curam, dengan permukaan tanah yang lebih kasar termasuk tepi tebing dan puncak yang tinggi.

Posisinya yang berbahaya karena berada di pungung Pegunungan Yan, Tembok Besar Simatai dikenal karena kecuramannya. Disediakan gondola terbuka untuk naik ke bagian atas tembok. Jarak antara 17 menara pengawas relatif dekat dan dapat melihat pemandangan daerah sekitarnya dari atas menara-menara tersebut.

Panorama Tembok Besar Simatai dan pegunungan yang ada disekitarnya.

Lihat pula

sunting


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Tamba

marga Tamba dan memiliki seorang putra yang bernama Datu Gurasim; Adapun Simata Raja menurut beberapa pendapat merupakan leluhur dari marga Simarmata, tetapi

Simarmata

membuka perkampungan baru di tempat yang kemudian dikenal sebagai Simarmata. Simata Raja memiliki tiga orang putra, yaitu Halihi Raja yang kemudian menikahi

Tembok Besar Tiongkok

Bagian tembok antara Simatai dan Jinshanling

Siallagan

membawa marga Tamba; (2) Simanggohi Raja, yang tetap membawa marga Tamba; (3) Simata Raja; dan (4) Maria Raja. Kemudian Maria Raja memiliki empat orang putra

Luoisme

sebutan Patriark Luo mendirikan sebuah aula untuk berkhotbah di daerah Simatai dan orang-orang yang menghadiri khotbahnya sebagian besar adalah para prajurit

Nadeak

yang membawa marga Simalango; (2) Saing Raja yang membawa marga Saing; (3) Simata Raja yang membawa marga Simarmata; dan (4) Deak Raja yang menjadi leluhur

Simalango

baru, yaitu (1) Lango Raja; (2) Saing Raja yang membawa marga Saing; (3) Simata Raja yang membawa marga Simarmata; dan (4) Deak Raja yang membawa marga

Saragi

yang membawa marga Simalango; (2) Saing Raja yang membawa marga Saing; (3) Simata Raja yang membawa marga Simarmata; dan (4) Deak Raja yang membawa marga