Ular-sendok jawa
Naja sputatrix Suntingan nilai di Wikidata

Suntingan nilai di Wikidata
Status konservasi
Risiko rendah
IUCN192197 Suntingan nilai di Wikidata
Taksonomi
SuperkerajaanHolozoa
KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasReptilia
OrdoSquamata
FamiliElapidae
GenusNaja
SpesiesNaja sputatrix Suntingan nilai di Wikidata
F. Boie, 1827
Tata nama
Sinonim takson
  • Naja sputatrix — BOIE 1827: 557
  • Naja leptocoryphaea — BERTHOLD 1842: 71
  • Naia tripudians var. sputatrix — BOULENGER 1896
  • Naja naja sputatrix — STEJNEGER 1907
  • Naja tripudians sputatrix — DE ROOIJ 1917
  • Naja naja sputatrix — KOPSTEIN 1938
  • Naja kaouthia sputatrix — DERANIYAGALA 1960 (part)
  • Naja naja sputatrix — HARDING & WELCH 1980
  • Naja sputatrix — WÜSTER & THORPE 1989
  • Naja sputatrix — WELCH 1994: 93
  • Naja (Naja) sputatrix — WALLACH et al. 2009
  • Naja sputatrix — WALLACH et al. 2014: 463[1]
Distribusi

Peta penyebaran Naja sputatrix
EndemikIndonesia Suntingan nilai di Wikidata

Ular sendok jawa atau kobra jawa (Naja sputatrix) adalah spesies ular sendok yang endemik di pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Sebutan ular ini dalam bahasa Inggris adalah Javan spitting cobra. Ular ini adalah salah satu jenis kobra yang mampu menyemprotkan racun bisa ke arah pengganggunya.

Etimologi

sunting

Naja sputatrix dideskripsikan pada tahun 1827 oleh ilmuwan Friedrich Boie dari Jerman. Nama genusnya, Naja, berasal dari kata Sanskerta: nāgá (नाग), yang berarti "naga" atau "ular". Sedangkan nama spesifiknya, sputatrix, dari bahasa Latin: sputator, yang artinya "peludah" atau "penyembur".

Deskripsi fisik

sunting

Panjang tubuh ular-sendok jawa mencapai 1.85 meter, tetapi panjang rata-rata yang sering ditemukan hanya sekitar 1.3 meter. Kepalanya berbentuk agak jorong dan sedikit lebih besar dari lehernya, dengan mata berukuran sedang dan pupil bundar. Sisik-sisik pada dorsal (tubuh atas) tersusun sebanyak 25-19-15 deret.[2]

Pewarnaan pada tubuh ular-sendok jawa bervariasi berdasarkan wilayah sebarannya. Spesimen-spesimen di Jawa berwarna cenderung kehitaman, kecokelatan, atau kekuningan. Tidak seperti ular sendok lain pada umumnya, ular ini tidak memiliki corak atau tanda di lehernya.[3][4] Spesimen-spesimen di pulau Jawa bagian barat berwarna kehitaman atau kelabu, sedangkan spesimen-spesimen di bagian timur dan di Nusa Tenggara cenderung berwarna kecokelatan. Bagian bawah tubuh ular ini berwarna krim atau kekuningan.[5]

Penyebaran

sunting

Ular-sendok jawa endemik dan hanya terdapat di pulau Jawa dan Nusa Tenggara (Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo, Flores, Lomblen, dan Alor). Kopstein (1936) menyatakan bahwa ular-sendok jawa juga terdapat di Sulawesi. Akan tetapi, anggapan ini kemudian disangsikan oleh De Lang & Vogel (2005).[1][6][7]

Ekologi dan perilaku

sunting

Ular-sendok jawa terdapat di daerah dataran rendah hingga ketinggian 600 meter dpl.[5] Habitat utamanya adalah hutan hujan, tetapi juga dapat ditemukan di daerah-daerah kering.[2] Makanan utamanya adalah tikus, ular lain, kadal, dan beberapa jenis kodok.[5]

Seperti jenis kobra lainnya, ular-sendok jawa memiliki cara pertahanan diri dengan mengangkat kepala dan mengembangkan lehernya membentuk tudung atau sendok apabila merasa terganggu. Ular ini juga mampu menyemburkan racun bisanya tepat ke arah mata pengganggunya. Jika bisanya mengenai mata dapat menyebabkan kebutaan.[5]

Ular-sendok jawa berkembangbiak dengan bertelur (ovipar). Jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 13 sampai 19 butir.[6] Telur-telur tersebut akan menetas setelah diinkubasi selama 88 hari.[7] Anak ular yang baru menetas berukuran panjang antara 24 sampai 28 cm.[5]

Galeri

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b Naja sputatrix di Reptarium.cz Reptile Database. Diakses 20 Januari 2020.
  2. ^ a b "Naja sputatrix: General Details, Taxonomy and Biology, Venom, Clinical Effects, Treatment, First Aid, Antivenoms". WCH Clinical Toxinology Resource. University of Adelaide. Diakses tanggal 22 December 2011.
  3. ^ Wüster, Wolfgang (1992). "A century of confusion: Asiatic cobras revisited" (PDF). The Vivarium. 4 (1): 14–18.
  4. ^ Wüster, Wolfgang. "The Asiatic Cobra Systematics Page". Asiatic Cobras. Bangor University. Diakses tanggal 22 December 2011.
  5. ^ a b c d e Ular Asli Indonesia: Ular Sendok Jawa (Naja sputatrix)
  6. ^ a b O'Shea, Mark (2005). Venomous Snakes of the World. United Kingdom: New Holland Publishers. hlm. 94. ISBN 0-691-12436-1.
  7. ^ a b "Naja species" (PDF). Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora. http://www.cites.org. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2010-12-24. Diakses tanggal 28 December 2011. ;

Publikasi dan pranala lain

sunting
  • Boie, 1827 : Bemerkungen über Merrem's Versuch eines Systems der Amphibien, 1. Lieferung: Ophidier. Isis von Oken, Jena, vol. 20, p. 508-566 (lihat teks)

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Menyendok

Posisi sendok atau spooning adalah sebuah posisi seks sekaligus teknik berpelukan. Namanya berasal dari cara sendok diletakkan berdampingan dengan bagian

Ular sendok

Ular sendok, ular dumung, atau kobra adalah nama umum beberapa jenis ular berbisa, sebagian besar termasuk dalam genus Naja. Banyak kobra mampu berdiri

Sendok

Sendok, atau cikok adalah alat makan yang memiliki cekungan berbentuk lonjong atau bulat lonjong di satu ujung dan gagang di ujung lainnya. Sendok umumnya

Daun sendok

|klad:||asterid]] Daun sendok adalah tanaman kebun dari famili Plantaginaceae yang berbentuk kumpulan daun berbentuk menyerupai sendok. Terdapat banyak nama

Ular-sendok tanjung

Ular-sendok tanjung (Naja nivea) atau ular-sendok Cape, atau dalam bahasa Inggris disebut Cape cobra atau yellow cobra (kobra kuning), adalah spesies ular

Ular-sendok India

Ular-sendok India (Naja naja) atau dalam bahasa Inggris disebut Indian cobra, spectacled cobra, Asian cobra, atau binocellate cobra, adalah spesies ular

Sendok madu

Sendok madu adalah sebuah alat dapur yang dipakai untuk mengumpulkan cairan kental (biasanya madu) dari sebuah wadah, yang kemudian dipindahkan ke tempat

Sendok bebek

Sendok bebek atau sendok Tiongkok adalah sebutan untuk sendok dari keramik berbentuk seperti paruh bebek dan biasanya digunakan untuk memakan sup atau