📑 Table of Contents
Infotaula de menjarSawut
Asal
WilayahDaerah Istimewa Yogyakarta
Negara asalIndonesia
Rincian
Bahan utamasingkong, kelapa parut (ampas kelapa), garam, gula Jawa.

Sawut atau pasrah adalah penganan yang dibuat dari singkong yang diparut kasar, kemudian dikukus sampai masak, dimakan dengan kelapa parut.[1][2]

Sawut merupakan salah satu penganan jajanan pasar yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Penganan ini terdokumentasi dalam Serat Centhini yang diterbitkan pada abad ke-18M.[3][4][5][6][7]

Pembuatan

sunting

Sawut terbuat dari parutan singkong yang dicampur dengan gula jawa, kemudian dikukus. Setelah matang, bisa ditambahkan dengan taburan parutan kelapa ketika disajikan. Biasanya disajikan dipagi hari dengan teh hangat. Rasa makanan ini perpaduan antara manis dan gurih karena diberi parutan kelapa diatasnya.

Tata cara pembuatan:

  1. Parut singkong secara kasar/potongan kecil memanjang.
  2. Campur singkong dengan gula jawa, sedikit garam dan daun pandan secara merata.
  3. Siapkan kukusan, lalu alasi dengan daun pisang.
  4. Masukan adonan sawut yang telah tercampuh ke dalam kukusan.
  5. Kukus kurang lebih 25 menit -- 30 menit, hingga matang ditandai dengan singkong yang melunak dan berbau sedap.
  6. Sajikan sawut di atas piring dengan taburan parutan kelapa.[8]

Penamaan

sunting

Nama sawut sendiri berasal dari bahasa Jawa, sêmrawut yang bermakna "berantakan".[9] Sawut[10] dikenal pula dengan nama "pasrah" karena pembuatannya diparut kasar (dalam bahasa Jawa berarti "pasrah").[11]

Referensi

sunting
  1. ^ "Sawut singkong - 41 resep". Cookpad. Diakses tanggal 2016-12-20.
  2. ^ Rama, Ageng Pangestu. 2007. Kebudayaan Jawa: Ragam Kehidupan Keraton dan Masyarakat di Jawa 1222-1998. Yogyakarta: Cahaya Ningrat
  3. ^ S. T. Wahjudi Pantja Sunjata, Kuliner Jawa dalam Serat Centhini. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2004.
  4. ^ D. Dwiyanto, Ensiklopedi Serat Centhini. Yogyakarta: Panji Pustaka, 2008.
  5. ^ S. Marsono, Timbul Haryono, Daru Winarti, Makanan Tradisional dalam Serat Centhini. Yogyakarta: Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM, 1998.
  6. ^ Ricklefs, M. C.,. " "Centhini, Serat", in: Encyclopaedia of Islam". referenceworks.brillonline.com. Encyclopedia of Islam. Diakses tanggal 29 Januari 2024. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  7. ^ "Revitalisasi dan Reaktualisasi Makanan Tradisional Jawa Dalam Serat Centhini" (PDF). staffnew.uny.ac.id. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses tanggal 29 Januari 2024.
  8. ^ Mujihartin (2025-10-30). "Manis dan Hangatnya Sawut Khas Tanah Jawa". RRI. Diakses tanggal 2025-12-13.
  9. ^ Sutrisno, Slamet. 2004. Sorotan Budaya Jawa dan yang lainnya. Yogyakarta: Andi Offset.
  10. ^ "Membuat Sawut, Mengenang Makanan Masa Kecil - KOMPASIANA.com". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2016-12-20.
  11. ^ Kuncaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Sepak Sawut

Sepak Sawut merupakan permainan tradisional suku Dayak yang sepintas mirip dengan permainan sepak bola. Namun yang membedakannya yaitu bola yang digunakan

Getuk

Machine. di Imeem. Buku resep Wikibooks memiliki artikel mengenai Getuk Sawut Grubi Getuk goreng Getuk lindri Growol Adrem Thiwul Oyek Gatot Cenil Ciwel

Batik Kawung

buah garis (sawut) serta diikuti tiga buah titik (cecek). Bentuk tersebut dalam istilah batik sering disebut dengan istilah cecek sawut. Unsur motif

Kaharingan

Dayak Ngaju) Kangkahem (suku Dayak Ngaju) Tawekas (suku Dayak Ngaju) Sepak Sawut (suku Dayak Ngaju) Gomek (suku Dayak Tewoyan) Mambatur (suku Dayak Warukin

Kabupaten Bantul

biji dan bunga, dengan motif tambahan putik, terdapat isen-isen cecek dan sawut. Warna yang diterapkan pada motif ini merah, hijau, dan biru. Makna simbolik

Festival Budaya Isen Mulang

Lomba Manewang, Manetek, Manyila Kayu, Lomba Lagu Budaya Karungut, Sepak Sawut, Besei Kambe dan lainnya. Selain diadakan lomba-lomba, diadakan juga pameran

Ceplok Kembang Kates

biji dan bunga pepaya, motif tambahan yaitu putik, isen-isen, cecek, dan sawut. Susunan pola Batik Ceplok Kembang Kates terinspirasi oleh pola motif Probonegoro

Sumowono, Semarang

tanaman singkong, dan merupakan bahan baku pembuatan gethuk, entho, cethot, sawut, tiwul, gathot, opak, lemet, sentiling, dan aneka macam penganan khas lokal