Perangkat pemeras (bahasa Inggris: Ransomware) adalah jenis perangkat perusak yang dirancang untuk menghalangi akses kepada sistem komputer atau data hingga tebusan dibayar dengan cara melakukan enkripsi data pengguna komputer dan data tersebut bisa dikembalikan ketika telah membayar. Jenis yang sederhana bekerja dengan mengunci sistem dengan cara yang tidak sulit untuk ditangani oleh orang yang ahli, sedangkan jenis yang lebih canggih akan mengenkripsi berkas sehingga tidak dapat diakses.[1] Serangan perangkat pemeras umumnya dilakukan melalui Trojan yang disamarkan sebagai berkas yang sahih.

Perangkat pemeras bisa diatasi dengan aplikasi dekripsi (decryptor) yang mana akan mendekripsi berkas yang sudah terinfeksi perangkat pemeras kembali ke bentuk asalnya. Hanya saja tidak semua jenis perangkat pemeras dapat diatasi dengan decryptor terlebih lagi jika di dalamnya terdapat ID Keys Online yang selalu diperbarui dari pihak pembuat perangkat pemeras.

Catatan kaki

sunting
  1. ^ Mehmood, Shafqat (3 May 2016). "Enterprise Survival Guide for Ransomware Attacks". SANS Information Security Training | Cyber Certifications | Research. sans.org. Diakses tanggal 3 May 2016.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

LockBit

yang mengusulkan ransomware sebagai layanan (RaaS). Perangkat lunak yang dikembangkan oleh kelompok tersebut (juga disebut ransomware) memungkinkan aktor

Petya (perangkat pemeras)

Petya merupakan perangkat pemeras (ransomware) pengenkripsi yang pertama kali ditemukan pada tahun 2016. Petya menyerang komputer dengan sistem operasi

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia

layanan PDNS Kementerian Kominfo yang berlokasi di Surabaya diserang oleh ransomware bernama Brain Cipher. Serangan ini terjadi pada 20 Juni pukul 00.54 WIB

Pusat Data Nasional

pemerintah. Pada 17 Juni 2024, PDNS 2 yang bertempat di Surabaya diserang oleh ransomware Brain Cipher. Aktivitas berbahaya tersebut terjadi pada tanggal 20 Juni

Bank Syariah Indonesia

kelemahan pada keamanan siber-nya. Pada 8 Mei 2023 sistem BSI lumpuh akibat ransomware yang menjangkau seluruh layanan digitalnya (BSI Mobile dan ATM), sistem

Monero

mentargetkan mata uang kripto. Salah satu kelompok di balik serangan ransomware WannaCry 2017, The Shadow Brokers, berusaha menukar uang tebusan yang

CovidLock

menggunakan bahasa pemrograman Java. Malwer ini digunakan dalam kampanye ransomware yang berlangsung selama puncak pandemi Covid-19. CovidLock menyamar sebagai

7-Eleven

kereta lainnya. Di tahun 2022 7-Eleven di Denmark mengalami serangan ransomware yang meluas yang menyebabkan semua toko tutup sementara. 7-Eleven tidak