Radjamin Nasution
Sutan Kumala Pontas
Potret sebagai anggota pemerintahan Kota Surabaya (1941)
Wali Kota Surabaya
Masa jabatan
17 Agustus 1945 – 31 Maret 1950
(dualisme kepemimpinan sejak 28 Agustus 1945)
PresidenSukarno
GubernurArio Soerjo
Sebelum
Pendahulu
Takashi Ichiro
Pengganti
Indrakoesoema
Doel Arnowo
Sebelum
Wakil Wali Kota Surabaya
Masa jabatan
Februari 1942 – 17 Agustus 1945
Wali KotaTakashi Ichiro
Anggota Dewan Kota Surabaya
Masa jabatan
1931–1938
Gubernur JenderalAlidius Tjarda van Starkenborgh Stachouwer
Wali KotaH.I. Bussemaker
W.H. van Helsdingen
Pengganti
Pamoedji
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir(1892-08-15)15 Agustus 1892
Barbaran Julu, Mandailing, Keresidenan Tapanuli
Meninggal10 Februari 1957(1957-02-10) (umur 64)
Kota Surabaya, Jawa Timur
Kebangsaan Indonesia
AlmamaterSTOVIA Batavia
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

dr. Radjamin Nasution gelar Sutan Kumala Pontas (15 Agustus 1892 – 10 Februari 1957)[1] adalah Wali Kota Surabaya yang pertama. Ia juga merupakan salah satu anggota Komite Nasional Indonesia Pusat.[2][3]

Kehidupan awal

sunting

Radjamin lahir pada tanggal 15 Agustus 1892 di Barbaran Julu, Panyabungan Barat, Mandailing Natal. Karena ayahnya adalah seorang pegawai negeri sipil berpangkat tinggi, ia dapat mendaftar di sekolah Eropa (Europeesche Lagere School) di Padang Sidempuan. Pada tahun 1912, ia mendaftar di sekolah kedokteran STOVIA di Batavia.

Karier

sunting

Meskipun ia lulus dengan gelar kedokteran dari STOVIA, Radjamin tidak ditugaskan ke dinas kesehatan dalam pemerintah kolonial Hindia Belanda namun justru diberi pekerjaan di departemen bea cukai. Ia awalnya ditempatkan di Batavia, dan ia dipindahtugaskan keliling Hindia Belanda antara tahun 1912 dan 1917, dan kemudian ia kembali ke Batavia. Ia kemudian diberikan kenaikan pangkat, dan ditempatkan di Medan sebelum pindah ke Surabaya pada tahun 1929.

Pada tahun 1931, Radjamin terpilih sebagai anggota Dewan Kota (Gemeenteraad) Surabaya pada tahun 1931 untuk menggantikan kekosongan kursi. Di dalam Dewan Kota Surabaya, ia duduk dalam fraksi nasionalis (nationale fractie). Ia juga terus bekerja sebagai birokrat, dan kemudian menjadi kepala kantor bea cukai Surabaya pada tahun 1938. Pada tahun 1938, Ia kemudian diangkat sebagai anggota pemerintah kota (wethouder) pada bulan Oktober 1938 untuk menggantikan anggota yang meninggal dunia.

Wali Kota Surabaya

sunting

Ketika pihak Belanda meninggalkan Surabaya pada bulan Februari 1942, Radjamin menggantikan tugas wali kota W.A.H. Fuchter dalam menjalankan pemerintahan kota. Setelah Jepang mengambil alih kekuasaan di Hindia Belanda pada tahun 1942, ia tetap bekerja di pemerintah kota dan diangkat sebagai wakil dari wali kota yang ditunjuk Jepang, Takahashi Ichiro. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Ichiro menyerahkan jabatan wali kota kepada Radjamin pada 17 Agustus 1945. Namun, mulai tanggal 28 Agustus 1945, fungsi pemerintahan kota diambil alih oleh Komite Nasional Indonesia Daerah, yang dipimpin oleh Doel Arnowo. Radjamin di atas kertas tetap menjabat sebagai wali kota "dalam pengasingan". Selama Pertempuran Surabaya, Radjamin merangkap jabatan sebagai kepala dinas kesehatan karena pengalaman medisnya. Ia juga mengendalikan operasi pencarian dan penyelamatan. Ia juga membantu mengurus pengungsi yang mengungsi dari Surabaya ke Mojokerto dan Tulungagung.

Setelah Konferensi Meja Bundar, Surabaya mengalami pertikaian dualisme kepemimpinan. Radjamin tetap menjabat sebagai wali kota yang ditunjuk oleh Republik Indonesia, sebagaimana diakui oleh pemerintah Republik yang berkedudukan di Yogyakarta, sementara wali kota lainnya Indrakusuma telah ditunjuk oleh pemerintah Republik Indonesia Serikat yang berkedudukan di Jakarta. Akhirnya, Radjamin diberhentikan dengan hormat dari jabatan wali kotanya oleh pemerintah Yogyakarta pada tanggal 31 Maret 1950 dan ditugaskan kembali sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Dalam Negeri, sementara ia juga diberi gaji untuk tugas wali kotanya berlaku surut sejak tahun 1948. Radjamin kemudian mencalonkan diri sebagai calon legislatif di bawah Parindra dalam pemilihan legislatif tahun 1955, tetapi tidak terpilih.

Sepak bola

sunting

Selama tinggal di Medan, Nasution pernah menjabat sebagai presiden klub sepak bola Deli Voetbal Bond (sekarang PSDS Deli Serdang. Ia juga mendirikan klub SKVB (Soerabajasche Kantoor Voetbalbond), yang anggotanya adalah pekerja kantoran Surabaya. Kemudian, klub tersebut bergabung dengan Persebaya Surabaya pada tahun 1950. Ia menjabat sebagai presiden Persebaya antara tahun 1953 dan 1955.

Kematian

sunting

Nasution meninggal pada 10 Februari 1957, dan dimakamkan di Pemakaman Rangkah, Surabaya.

Referensi

sunting
  1. ^ http://akhirmh.blogspot.com/2014/07/radjamin-nasoetion-walikota-surabaya_8073.html
  2. ^ Dukut Imam Widodo, Soerabaia Tempo Doeloe Volume 2, halaman 488, 2002
  3. ^ Tm Telaga Bakti Nusantara, Sejarah Perkeretaapian Indonesia-volume 1-halaman 25, 1997
Jabatan politik
Didahului oleh:
Takashi Ichiro
Wali Kota Surabaya
1945
Diteruskan oleh:
Indrakoesoema


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Nasution

Prisia Nasution - Aktris, Model Raditya Dika - Komedian Radja Mursinal Nasution - Pelatih renang Radja Nasution - Aktor, Model Radjamin Nasution (Sutan

Sutan Mohammad Amin Nasution

Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution (22 Februari 1904 – 16 April 1993) adalah seorang pengacara dan politikus keturunan Suku Mandailing. Lahir di Aceh dari

Daftar Wali Kota Surabaya

menguasai Kota Surabaya, Takashi Ichiro menjabat sebagai Wali Kota dan Radjamin Nasution sebagai Asisten (kini disebut Wakil Wali Kota). Kemudian saat Jepang

Gelar (Batak)

Rajiun Harahap gelar Soetan Kasajangan Soripada Radjamin Nasution gelar Sutan Kumala Pontas Sati Nasution gelar Sutan Iskander Si Baroar gelar Sutan Diaru

Wali Kota Nasution

(lahir 1966), Wali Kota Medan (sejak 2021) Radjamin Nasution (1892–1957), Wali Kota Surabaya (1945–1945) Nasution (disambiguasi) Bupati (disambiguasi) Halaman

Balai Kota Surabaya

dengan genting. Setelah Republik Indonesia diproklamirkan, dilantiklah Radjamin Nasution sebagai Wali Kota Kota Besar Surabaya. Berdasarkan Penpres 1959 No

Pemerintah Kota Surabaya

di Hindia Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Mr. Radjamin Nasution diangkat sebagai wali kota Surabaya dalam negara kesatuan Republik

Daftar tokoh Batak

Utara Kaharuddin Nasution, Gubernur Riau dan Gubernur Sumatera Utara Marah Halim Harahap, Gubernur Sumatera Utara Radjamin Nasution, Gubernur Sumatera