| Unjuk rasa Timor Leste 2025 | |
|---|---|
| Bagian dari Kebangkitan Asia | |
| Tanggal | 15–17 September 2025 (3 hari) |
| Lokasi | Dili, Timor-Leste |
| Sebab | Rencana anggaran US$4 juta untuk membeli 65 mobil baru bagi para anggota parlemen |
| Tujuan | Penundaan pembelian mobil baru anggota parlemen |
| Metode | Demonstrasi Aktivisme pelajar Vandalisme |
| Hasil |
|
| Jumlah korban | |
| Cedera | 4 |
Pada September 2025, unjuk rasa yang dipimpin pelajar terjadi di Dili, ibukota Timor Leste, melawan keputusan Parlemen Nasional untuk membeli mobil bagi para legislator dengan harga senilai US$4 juta. Tuntutan pengunjuk rasa kemudian meluas ke seruan untuk penundaan dana pensiun seumur hidup bagi para mantan anggota parlemen. Setelah tiga hari demonstrasi, para pemimpin pelajar dan parlemen mencapai kesepakatan, yang mengakhiri protes.
Pada 15 September 2025, lebih dari 1.000 orang, kebanyakan mahasiswa universitas dari Dili, berkumpul di depan parlemen untuk berunjuk rasa. Polisi menanggapinya dengan gas air mata dan peluru karet, melukai empat orang, setelah beberapa pengunjuk rasa melempar batu ke gedung parlemen. pada hari berikutnya, tiga partai dalam koaisi pemerintahan—Kongres Rekonstruksi Timor Nasional (CNRT), Partai Demokrat (PD), dan Kmanek Haburas Unidade Nasional Timor Oan (KHUNTO)—mengumumkan bahwa mereka akan membujuk parlemen untuk menunda pembelian mobil untuk anggota parlemen.
Lebih dari 2.000 pengunjuk rasa kembali ke jalan pada keesokan harinya, dengan tuntutan mereka meluas ke seruan untuk penundaan dana pensiun seumur hidup untuk para mantan pembuat hukum. Kemudian, parlemen memutuskan untuk menunda pembelian mobil baru. Pada 17 September, hari ketiga demonstrasi bertepatan dengan perjanjian antara para pemimpin unjuk rasa dan parlemen agar dana pensiun bagi mantan anggota parlemen dan, sebagai balasannya, unjuk rasa akan diakhiri.
Latar belakang
suntingTimor Leste, sebuah negara yang merdeka sejak 2002, adalah salah satu negara termiskin di Asia Tenggara, dengan ekonomi bergantung pada minyak dan ketidaksetaraan, malnutrisi, dan pengangguran yang tinggi.[1][2][3][4] Lebih dari 40% populasi hidup dalam kemiskinan.[1][3][5] Sembilan puluh persen pendapatan nasional Timor Leste berasal dari Petroleum Fund, yang bernilai US$18.27 miliar pada 2024 tetapi menurun dengan cepat.[3]
Menurut sensus 2022, 64,6% dari 1,3 juta penduduk negara ini berusia di bawah 30 tahun.[6] Sekolah-sekolah negeri kekurangan dana dan penuh sesak, dan setiap tahun, lebih dari 15.000 lulusan sekolah menengah serta 4.000 lulusan universitas memasuki pasar kerja dengan peluang kerja yang terbatas.[7] Survei menemukan bahwa hampir separuh pemuda Timor berencana mencari pekerjaan di luar negeri, dengan tujuan paling populer adalah Australia, Korea Selatan, dan Britania Raya.[7]
Anggota Parlemen Nasional Timor-Leste memiliki gaji tahunan sebesar US$36.000 per 2023, lebih dari 10 kali pendapatan rata-rata negara yang pada 2021 diperkirakan sebesar $3.000.[8] Berdasarkan undang-undang yang disahkan pada 2006, mantan anggota parlemen berhak atas pensiun seumur hidup setara dengan gaji mereka.[9] Anggota parlemen juga menerima mobil dinas gratis untuk keperluan pekerjaan resmi.[8]
Sejak tahun 2000-an, telah terjadi demonstrasi berulang menentang fasilitas mobil gratis bagi anggota parlemen, dan pada 2008 polisi menangkap beberapa mahasiswa yang memprotes rencana pembelian mobil baru senilai $1 juta bagi anggota parlemen pada tahun tersebut.[8] Pada November 2018, Movimento Universitario de Timor Leste (MUTL) mengorganisir demonstrasi menentang pembelian Toyota Prado baru bagi anggota parlemen.[10] Polisi Nasional Timor-Leste (PNTL) menggunakan gas air mata terhadap para demonstran, dan 22 orang ditangkap.[10] Kendaraan baru terakhir kali dibeli untuk anggota parlemen pada 2020.[10]
Pada akhir Agustus 2025, Parlemen Nasional menyetujui pembelian 65 unit Toyota Prado senilai $4,225 juta, dengan biaya $61.500 per kendaraan, untuk setiap anggota parlemen.[11][12][13][9][14] Presiden Parlemen Maria Fernanda Lay menyatakan bahwa keputusan pembelian mobil dibuat karena "semua kendaraan [anggota parlemen] sudah rusak."[13] Namun, sebuah laporan Diligente menunjukkan bahwa kendaraan lama sebagian besar masih layak jalan ketika parlemen mengumumkan pembelian Toyota Prado baru untuk semua anggota parlemen senilai $4,225 juta pada Juni/Juli 2025.[14] Kontrak diharapkan ditandatangani pada September, dengan kendaraan dikirim sebelum akhir tahun.[9][15]
Rencana tersebut dikritik oleh partai oposisi dan kelompok masyarakat sipil sebagai pemborosan di tengah ketidakpastian ekonomi di Timor-Leste.[13] Pemimpin oposisi Partai Pembebasan Rakyat (PLP), Maria Angelina Lopes Sarmento, membantah klaim Lay bahwa mobil para legislator semuanya rusak, dengan mengatakan kepada wartawan bahwa "sebagian masih dalam kondisi baik, dan lainnya hanya perlu diperbaiki."[13] Kelompok mahasiswa juga mengecam keputusan tersebut, termasuk National Resistance of East Timorese Students, yang menyatakan bahwa anggota parlemen seharusnya "malu atas langkah ini."[13]
Protes di Timor-Leste muncul di tengah demonstrasi serupa di negara-negara Asia lainnya, yang dijuluki Kebangkitan Asia. Pada Agustus–September 2025, mahasiswa di Indonesia berunjuk rasa menuntut penghapusan hak istimewa bagi anggota parlemen.[16] Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pada awal September bahwa hak-hak istimewa tersebut akan dihapus.[17] Pada saat yang sama, protes kekerasan di Nepal pecah dan menghasilkan pergantian pemerintahan.[18] Kedua gerakan protes tersebut sebagian besar digerakkan oleh Generasi Z.
Pra-protes
suntingSetelah pengumuman rencana pembelian mobil, organisasi Estudante Universitário de Timor-Leste (EUTL) mengumumkan protes di Dili pada 4 September. Demonstrasi akan berlangsung di kampus pusat Universitas Nasional Timor Lorosae (UNTL), di seberang jalan dari Parlemen Nasional. Polisi awalnya melarang demonstrasi tersebut, dengan alasan undang-undang (Art. 5 & 13, 1/2006) yang melarang aksi protes dalam radius 100 meter dari institusi publik. Demonstrasi akan dipindahkan ke Tasitolu atau Hera di pinggiran kota. Natalício Nunes, juru bicara EUTL, bereaksi keras dan menyatakan bahwa para mahasiswa tetap akan berdemonstrasi di UNTL. Polisi seharusnya mengeluarkan pernyataan tertulis dalam dua hari, tetapi instruksi baru diterima melalui telepon pada 9 September. Selain itu, demonstrasi sebelumnya pernah berlangsung di UNTL. Ia menuduh komandan polisi Dili, Orlando Gomes, mencoba mengintimidasi mahasiswa dan mengancam akan menangkap mereka.[19]
Komandan polisi nasional, Justino Menezes, menjelaskan bahwa inilah alasan Tasitolu diusulkan sebagai lokasi demonstrasi. Selain itu, para mahasiswa telah ditawari kesempatan untuk mendampingi mereka ke Parlemen Nasional sehingga dapat berbicara langsung dengan anggota parlemen. Para mahasiswa menolak tawaran ini. “Para mahasiswa bisa mengadakan konferensi pers di kampus, tetapi bukan demonstrasi,” simpul Justino Menezes pada 11 September. Jika tidak, polisi akan mengambil tindakan terhadap mereka.[19]
Protes
suntingPada Senin, 15 September 2025, lebih dari 1.000 orang, kebanyakan mahasiswa universitas dari Dili, ibukota Timor Leste, berkumpul di depan Parlemen Nasional Timor Leste untuk berpawai melawan rencana legislator untuk membeli 65 Toyota Prado bagi setiap anggota parlemen.[1][2] Unjuk rasa tersebut bertepatan dengan upacara pembukaan sesi legislator ketiga legislator Keenam Parlemen Nasional.[2] Unjuk rasa tersebut awalnya berlangsung damai, tetapi kemudian pengunjuk rasa mulai melempari batu dan barang lainnya ke gedung parlemen, merusak beberapa mobil.[1][2][5] Polisi menanggapinya dengan mengeluarkan gas air mata dan peluru karet, melukai empat pengunjuk rasa, yang dibawa ke klinik pengobatan terdekat.[1][2] Seorang perwira Kepolisian Nasional Timor Leste berkata bahwa otoritas akan menuntut tanggung jawab atas kerusakan dari koordinator unjuk rasa.[1]
Referensi
sunting- ^ a b c d e f "Police clash with protesters in Timor-Leste as new car plan sparks anger". ABC News (dalam bahasa Australian English). 2025-09-15. Diakses tanggal 2025-09-16.
- ^ a b c d e "E. Timor police clash with protesters over plan to buy vehicles for MPs". France 24 (dalam bahasa Inggris). 2025-09-16. Diakses tanggal 2025-09-16.
- ^ a b c "Critics slam $4m budget for MP vehicles in hungry Timor-Leste". UCA News (dalam bahasa Inggris). 2025-08-27. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ^ Ewe, Koh; Ng, Kelly (2025-09-17). "Timor-Leste scraps plan to buy MPs free cars after protests". BBC (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-09-17.
- ^ a b "Timor-Leste to scrap MP pensions and SUVs after protests". CNA (dalam bahasa Inggris). 2025-09-17. Diakses tanggal 2025-09-19.
- ^ RTP: Nova geração que já nasceu em democracia está a surgir em Timor-Leste, 19 September 2025, abgerufen am 23 September 2025.
- ^ a b Ato "Lekinawa" da Costa: The Digital Generation Rising: Gen Z and Activism in Timor-Leste, Neon Metin Online, 17 September 2025, abgerufen am 21 September 2025.
- ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama:03 - ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama:23 - ^ a b c Michael Leach: In Timor-Leste, an eventful year ends in tension, 14 Dezember 2018, abgerufen am 22 Dezember 2018.
- ^ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama:022 - ^ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama:122 - ^ a b c d e Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama:222 - ^ a b Viana, Rilijanto (2025-09-15). "Manifestação trava compra de viaturas, mas protesto acaba em confrontos". Diligente (dalam bahasa Portugis). Diakses tanggal 2025-09-24.
- ^ de Sousa, Camilio (2025-09-16). "Timor-Leste Parliament Cancels Vehicle Purchase After Student Protests". TATOLI Agência Noticiosa de Timor-Leste (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-19.
- ^ "Brandanschläge auf das Parlament in Indonesien – Präsident sagt Chinareise ab". spiegel.de. 30 August 2025. Diakses tanggal 31 August 2025.
- ^ "Indonesien streicht Privilegien für Abgeordnete nach Protesten". spiegel.de. 1 September 2025. Diakses tanggal 3 September 2025.
- ^ Peter Hornung. "Nepals neue Premierministerin: Juristin soll Nepal in ruhigere Zeiten führen" (dalam bahasa Jerman). Diakses tanggal 2025-09-15.
- ^ a b Viana, Rilijanto (2025-09-11). "Estudantes contra carros de luxo: PNTL proíbe manifestação e gera polémica nacional". Diligente (dalam bahasa Portugis). Diakses tanggal 2025-09-24.