📑 Table of Contents

Problema Gettier, dalam ranah epistemologi, merupakan salah satu persoalan filsafat yang menandai babak penting dalam pemahaman tentang pengetahuan deklaratif. Persoalan ini dinisbahkan kepada filsuf Amerika, Edmund Gettier. Contoh tandingan yang diperkenalkan Gettier—sering disebut sebagai kasus Gettier—menggugat pandangan klasik tentang keyakinan benar yang dibenarkan (justified true belief disingkat: JTB). Menurut teori JTB, pengetahuan identik dengan keyakinan yang benar sekaligus dibenarkan: bila ketiga syarat (pembenaran, kebenaran, dan keyakinan) terpenuhi atas suatu klaim, maka klaim itu merupakan pengetahuan.

Dalam makalah ringkas setebal tiga halaman berjudul "Is Justified True Belief Knowledge?" yang terbit pada tahun 1963,[1][2] Gettier berupaya menunjukkan melalui dua contoh tandingan bahwa terdapat keadaan di mana seseorang memiliki keyakinan yang benar dan dibenarkan terhadap suatu klaim, tetapi tetap gagal disebut mengetahui, sebab dasar pembenaran keyakinan tersebut, meskipun tampak sah, ternyata keliru. Dengan demikian, Gettier berargumen bahwa teori JTB tidak memadai, karena gagal mencakup seluruh syarat perlu dan cukup bagi adanya pengetahuan.

Istilah masalah Gettier, kasus Gettier, bahkan kata sifat Gettiered, kadang digunakan untuk menyebut setiap persoalan dalam epistemologi yang berusaha menolak keabsahan teori JTB tentang pengetahuan.

Tanggapan terhadap makalah Gettier amat beragam. Sebagian menolak contoh-contohnya dengan menyatakan bahwa kasus tersebut tidak memberikan pembenaran yang memadai; sementara yang lain berusaha memperbaiki teori JTB agar mampu menanggulangi daya gugat contoh-contoh itu. Masalah Gettier bahkan merambah ke ranah eksperimen sosiologis, di mana peneliti menelaah respons-respons intuitif masyarakat dari berbagai latar budaya terhadap kasus Gettier.[3]

Referensi

sunting
  1. ^ Gettier, Edmund L. (1 June 1963). "Is Justified True Belief Knowledge?". Analysis. 23 (6): 121–123. doi:10.1093/analys/23.6.121. hdl:10366/127431. Diakses tanggal 5 April 2018.
  2. ^ "Is Justified True Belief Knowledge?"
  3. ^ Popiel, Maximilian (2016). A Systematic Review of Studies Using Gettier-Type Thought Experiments (Thesis). University of Denver. Diakses tanggal 2020-12-25. One use of the Gettier cases has been to test cross-cultural differences on epistemic intuitions.

Bacaan lanjutan

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Olimpiade Matematika Internasional

diberi waktu empat setengah jam untuk memecahkan tiga problema setiap harinya. Problema-problema ini dipilih dari berbagai bidang matematika sekolah menengah

Emil Salim

Perwakilan Rakyat, 1978-1993 (1993) Masalah Pembangunan Di Indonesia: Problema Pengembangan Etika Bisnis Dan Koperasi : Kumpulan Tulisan Dari Seminar-Seminar

Turah

mengalami isolasi selama bertahun-tahun yang kemudian memunculkan berbagai problema. Tahun 2016, film ini memenangi 3 kategori sekaligus; Geber Award dan Netpac

Boyke Dian Nugraha

Rahasia Pasien Misteri Dokter (1994) Problema Seks dan Cinta Remaja (1995) Misteri Seputar Organ Intim Problema Seks dan Organ Intim (2002) Di Balik Ruang

Kendedes

adalah wanita pimpinan Titiek Nur yang terkenal lewat lagu "Resesi" dan "Problema Malam Minggu". Kendedes pelopor grup dangdut wanita yang dipimpin oleh

Akademi Kepausan untuk Ilmu Pengetahuan

ilmu-ilmu matematika, fisika dan ilmu bumi serta pembelajaran atas problema-problema Epistemologi. Akademi ini awalnya adalah Accademia Pontificia dei

Ulin

Kasus di Indonesia)". Pengembangan Kebijakan dan Regulasi Penerbangan dan Antariksa: Problema dan Tantangan. Bogor: In Media. doi:10.30536/p.sinaskpa.i.3.

Menuju Pelaminan

Mulia) untuk menikahi Rahma Mineli (Maizura) justru menciptakan banyak problema dari kedua keluarga mempelai, karena perbedaan budaya yang terlalu mencolok