📑 Table of Contents
Rumah adat Nias di Taman Mini Indonesia Indah.

Omo Niha (atau Omo hada Niha) adalah suatu bentuk rumah panggung tradisional orang Nias, yaitu untuk masyarakat pada umumnya. Selain itu terdapat pula rumah adat Nias jenis lain, yaitu Omo Sebua, yang merupakan rumah tempat kediaman para kepala negeri (tuhenöri), kepala desa (salawa), atau kaum bangsawan.[1]

Rumah panggung ini dibangun di atas tiang-tiang kayu nibung (Oncosperma tigillarium) yang tinggi dan besar, yang beralaskan rumbia (Metroxylon sagu).[2] Bentuk denahnya ada yang bulat telur (di Nias utara, timur, dan barat), ada pula yang persegi panjang (di Nias tengah dan selatan).[1][2] Bangunan rumah panggung ini tidak berpondasi yang tertanam ke dalam tanah, serta sambungan antara kerangkanya tidak memakai paku, hingga membuatnya tahan goyangan gempa.[3] Ruangan dalam rumah adat ini terbagi dua, pada bagian depan untuk menerima tamu menginap, serta bagian belakang untuk keluarga pemilik rumah.[1][2][3]

Di halaman muka rumah dahulu biasanya terdapat patung batu, tempat duduk batu untuk berpesta adat,[2] serta di lapangan desa ada batu-batu besar yang sering dipakai dalam upacara lompat batu.[1] Saat ini peninggalan batu dari masa Megalitik seperti itu yang keadaanya masih baik dapat dilihat di desa-desa Bawomataluwo dan Hilisimaetano.[4]

Ada sejenis rumah adat tertentu yang dahulu dipakai khusus untuk rumah berhala-berhala orang Nias, yang dinamakan Osali.[1] Karena pada saat ini sebagian besar masyarakat Nias telah memeluk agama Kristen, maka nama "Osali" itu dipakai pula untuk menyebut gereja.[1]

Galeri

sunting

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f Melalatoa, M. Junus (1995). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia Jilid L-Z. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 363.
  2. ^ a b c d Adisukarjo, Sudjatmoko, dkk. Horizon IPS: Ilmu Pengetahuan Sosial. Yudhistira Ghalia Indonesia. hlm. 82. ISBN 978-979-6766-31-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b Antar, Yori (2010). Pesan dari Wae Rebo: Kelahiran kembali arsitektur Nusantara, sebuah pelajaran dari masa lalu untuk masa depan. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 285. ISBN 979-22-5914-7, 9789792259148.
  4. ^ Dananjaya, J., Koentjaraningrat (2004). "Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra". Dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Edisi ke-20). Jakarta: Djambatan: 42-43. ISBN 979-428-510-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Omo 1 dan Omo 2

Omo 1 dan Omo 2 adalah kumpulan tulang hominin yang ditemukan antara tahun 1967 dan 1974 di situs Omo Kibish dekat Sungai Omo, di Taman Nasional Omo di

Omo Sebua

Omo Sebua adalah jenis rumah adat atau rumah tradisional dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Omo sebua adalah rumah yang khusus dibangun untuk kepala adat

Sungai Omo

Sungai Omo di selatan Ethiopia adalah sungai Ethiopia terbesar di luar Cekungan Nil. Jalurnya sepenuhnya terkandung dalam batas-batas Ethiopia, dan bermuara

Rumpun bahasa Omo

bahasa acak Rumpun Bahasa Omo adalah cabang dari bahasa Afro-Asia yang dituturkan di Afrika timur laut. Kebanyakan penutur bahasa Omo tinggal di Ethiopia barat

Tim nasional sepak bola U-17 Indonesia

Piala Dunia FIFA 1938 dan Kejuaraan Dunia Remaja FIFA 1979. Per 11 Juni 2026 Omo Suratmo (1983–1987) Bukhard Pape (1986–1987) Maryoto & Muhardi (1988) Parmin

Omo Hada Laraga

Omo Hada Laraga adalah salah satu jenis rumah adat Nias. Rumah ini berasal dari daerah Nias Utara dan memiliki ciri berbentuk oval. Rumah ini didirikan

Sumatera Utara

resmi "Dago Inang Sarge" "Butet" "Sigulempong" Rumah adat Ruma Bolon Omo Niha dan Omo Sebua Siwaluh Jabu Bagas Godang Pamatang Purba Jerro Rumah adat Melayu

Purba

Sihoda memiliki seorang putra yang bernama Ompu Omo dan keturunan dari Raja Sihodo dan putranya Ompu Omo ini yang kemudian membawa marga Purba Tanjung di