Oto Iskandar di Nata
Menteri Negara Indonesia
Masa jabatan
19 Agustus 1945 – 14 November 1945
PresidenSoekarno
Informasi pribadi
Lahir31 Maret 1897
Bodjongsoang, Bandoeng, Hindia Belanda
Partai politikPartai Nasional Indonesia (1927–1931)
Suami/istri
Raden Ajeng Sukirah
(m. 1923)
AnakRatnati Iskandar Dinata
Dicky Iskandar Dinata
Rachmadi Iskandar Dinata
Orang tua
  • Raden haji Adam Rahmat (ayah)
  • Siti Hidayah (ibu)
KerabatNia Dinata (cucu)
Menghilang19 Desember 1945 (pada umur 48 tahun)
Mauk, Tangerang, Indonesia
StatusDinyatakan meninggal secara retrospektif in absentia pada 20 Desember 1945(1945-12-20) (umur 48) pada 6 November 1973
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Otto Iskandar Di Nata (Sunda: ᮛ᮪ᮓ᮪. ᮇᮒ᮪ᮒᮧ ᮄᮞ᮪ᮊᮔ᮪ᮓᮁᮓᮤᮔᮒ), juga dieja Otto Iskandardinata, dipanggil Otista dan dijuluki Si Jalak Harupat; lahir 31 Maret 1897 – menghilang 19 Desember 1945, dinyatakan meninggal dunia 20 Desember 1945 adalah seorang politikus dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Kehidupan awal

sunting

Otto Iskandardinata lahir 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Otto merupakan anak bungsu dari pasangan Raden haji Adam Rahmat dan Siti Hidayah.[1]

Ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Guru Atas. Setelah itu, ia mengajar di HIS bersubsidi serta perkumpulan Perguruan Rakyat. Raden Otto Iskandar di Nata mendapat julukan si Jalak Harupat.

Pendidikan

sunting

Otto menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Bandung, kemudian melanjutkan pendidikan di Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) Bandung, serta di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Setelah selesai, Otto menjadi guru HIS di Banjarnegara, Jawa Tengah.[1]

Pra Kemerdekaan

sunting

Dalam kegiatan pergerakannya pada masa sebelum kemerdekaan, Otto pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung pada periode 1921-1924 dan Wakil Ketua Budi Utomo cabang Pekalongan tahun 1924. Ketika itu, ia menjadi anggota Gemeenteraad ("Dewan Kota") Pekalongan mewakili Budi Utomo.

Otto juga aktif pada organisasi Budaya Sunda bernama Paguyuban Pasundan. Ia menjadi Sekretaris Pengurus Besar tahun 1928, dan menjadi ketuanya pada periode 1929-1942. Organisasi tersebut bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan.[2]

Otto juga menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) yang dibentuk pada masa Hindia Belanda untuk periode 1930-1941.

Pada masa penjajahan Jepang, Otto menjadi Pemimpin surat kabar Tjahaja (1942-1945). Ia kemudian menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai lembaga-lembaga yang membantu persiapan kemerdekaan Indonesia.

Pasca Kemerdekaan

sunting

Setelah proklamasi kemerdekaan, Otto menjabat sebagai Menteri Negara di kabinet pertama Republik Indonesia tahun 1945. Ia bertugas mempersiapkan terbentuknya BKR dari laskar-laskar rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam periode tugasnya, terdapat ketidakpuasan pada salah satu laskar. Otto menjadi korban penculikan sekelompok orang yang bernama Laskar Hitam, Otto kemudian hilang dan diperkirakan terbunuh di daerah Mauk, Tangerang, Banten.[3]

Pahlawan Nasional

sunting

Otto Iskandardinata diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Monumen Pasir Pahlawan yang berada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat didirikan untuk mengabadikan perjuangan Otto Iskandardinata.

Nama Otto Iskandardinata diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia. Potret dirinya juga diabadikan pada uang kertas pecahan Rp 20.000 yang dikeluarkan Bank Indonesia pada tahun 2004.

Di tanah kelahirannya Kabupaten Bandung Otto Iskandardinata merupakan sosok pahlawan yang sangat dihormati. Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Soreang dan julukannya "Si Jalak Harupat" digunakan sebagai nama stadion.

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b Sunarti, Linda, Oto Iskandardinata (Tokoh Pergerakan Nasional dan Paguyuban Pasundan), Dosen Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, dalam situs dan juga dosen universitas hartanto departemen Logistik kelautan luckymulyadisejarah.wordpress.com, 15 Juni 2008. Diakses 10 Februari 2011.
  2. ^ Ahsan, Ivan Aulia. "Otto Iskandar Dinata: Misteri Kematian Jagoan dari Bojongsoang". tirto.id. Diakses tanggal 2022-08-25.
  3. ^ "Misteri Si Jalak Harupat" Diarsipkan 2009-10-12 di Wayback Machine., Tempo, diakses 23 Desember 2008

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Nia Dinata

Nur Kurniati Aisyah Dewi yang dikenal sebagai Nia Dinata (lahir 4 Maret 1969) adalah seorang sutradara Indonesia. Perempuan berdarah Sunda dan Minang ini

Nata de coco

Nata de coco adalah hidangan penutup yang terlihat seperti jeli, berwarna putih hingga bening dan bertekstur kenyal. Makanan ini dihasilkan dari fermentasi

D'Masiv

Ramadan (gitar), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass) dan Wahyu Piadji (drum). D'Masiv pertama kali dibentuk pada 3 Maret

Calon Arang

disebut pula Rangda ing Dirah ("Janda Dirah") atau Walu Naténg Girah (Walu Nata ing Girah, "Janda pemimpin Girah"), adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat

Hamami Nata

Hamami Nata adalah seorang Purnawirawan Polri yang berpangkat Inspektur Jenderal terakhir menjabat sebagai Staf Ahli Kapolri. Ia lulusan Akpol 1970 ini

Happy Salma

majalah Tatler pada tahun 2020. Happy menerima penghargaan Bali-Dwipantara Nata Kerthi Nugraha 2023 dari Institut Seni Indonesia Denpasar untuk kategori

Zurdi Nata

Zurdi Nata (lahir 21 Mei 1972) adalah Bupati Kepahiang periode 2025-2030, bersama Wakil Bupati Abdul Hafizh. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD

Syah Muhammad Nata Negara

Syah Muhammad Nata Negara (lahir 18 Maret 1989) adalah seorang politikus Indonesia kelahiran Tulungagung. Ia berkuliah di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta