Moi
Mosana
Upacara adat suku Moi dalam rangka mengembangkan Taman Wisata Alam (TWA) Sorong, 2019.
Jumlah populasi
21.923 (2010)[1]
Daerah dengan populasi signifikan
 Indonesia
Papua Barat Daya
Bahasa
Bahasa Moi, Bahasa Indonesia
Agama
Kristen 70%
Agama rakyat 30%[2]

Suku Moi merupakan salah satu suku di Papua Barat Daya. Mereka mendiami Kota Sorong (Maladum, terj. har. dataran luas tempat tumbuhnya dum ), Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, dan bagian barat Kabupaten Tambrauw. Suku Moi terbagi menjadi beberapa sub-suku, yaitu Moi Kelin, Moi Klabra, Moi Karon, Moi Lamas, Moi Legin, Moi Maya, Moi Moraid, Moi Salkma, dan Moi Segin.[3] Mata pencarian utama suku ini adalah berkebun dan mengelola hutan.[2] Dalam berkebun dan mengelola hutan, mereka memperhatikan yegek (sejenis tradisi sasi) mengonsumsi hasil tanah berlebihan sehingga terjadi konservasi tradisional. Pendidikan adat diajarkan kepada para pemuda di rumah adat bernama Kambik.[4][5]

Sejarah

sunting
Upacara Buka Egek di Malaumkarta, Makbon, Sorong

Masa lampau

sunting

Pada mulanya dipercaya asal suku Moi dari Klawelem di Makbon. Suku asli Moi tersebut disebut neulig yang artinya "tuan tanah", kemudian datang suku-suku lain yang disebut pendatang nesaf terutama di wilayah pesisir. Kedua kelompok saling terbuka dan kawin campur melahirkan suku Moi modern, dengan perubahan gelet (marga) seperti Manggapraw menjadi Manggablaw dan Arfayan menjadi Arfan.[6]

Masa Kesultanan Tidore

sunting

Pendiri dari salah satu kerajaan di Raja Ampat, Kerajaan Sailolof, merupakan seorang bernama fun (raja) Mo. Dia tidak memiliki hubungan patrilineal dengan raja-raja di Waigeo, Salawati, dan Misool. Menurut cerita lisan, fun Mo berasal dari sekitar sungai Malyat dan lahir dari telur baykole dan dibesarkan dengan air tebu sehingga dinamai Ulbisi. Ia kemudian diangkat dengan gelar fun Mo yang artinya "raja orang Moi" di pulau Sabba. Ia kemudian menikah dengan Pinfun Libit, anak perempuan raja Waigeo yang terdampar di dekat Sabba bersama kedua pembantunya. Fun Mo kemudian pindah ke selatan Pulau Salawati di tempat yang kemudian disebut Sailolof. Keturunannya memerintah kerajaan Sailolof dan bergelar Kapita-laut atau Kapatla yang didapat dari hubungan perdagangan dengan Kesultanan Tidore.[7]

Masa Trikora

sunting

Para pemuda suku Moi ikut berperan dalam Operasi Trikora dengan membantu Simon Randa, seorang Toraja pegawai pemerintah Belanda, menyuplai kantong-kantong gerilya sekitar Sorong oleh pasukan infiltran Trikora (disebut Enso-Enso dalam bahasa Moi). Para pemuda bersama Randa yang tercatat bernama Oscar Osok, Lodewijk Osok, David Osok, Fritz Osok, Edwar Osok, Robert Malibela, Sadrak Malibela, Amanja Malibela, Edwin Malibela, Petrus Kalaibin, Steven Kalaibin, Aminyas Kalaibin, Joel Kalaibin, Karel Kalaibin, Josafat Kalaibin, Josan Kalaibin, Jonas Satisa, dan Hermanus Mili. Peninggalan perjuangan ini berupa rumah di km 12 Klasaman, Sorong.[8]

Sub suku & wilayah adat

sunting

Tanah dalam adat suku Moi merupakan hak ulayat bersifat komunal, walau pada pemanfaatannya bisa bersifat individu atau komunal, seperti untuk beternak, tanah untuk pasar, tanah dusun adat, dan tanah untuk membangun kampung (iik fagu).[9] Berikut adalah pembagian wilayah tanah suku Moi (Malamoi) berdasarkan sub suku:[6]

  1. Moi Karon: Sausapor dan daerah pedalaman.
  2. Moi Kelin: Aimas, Mariat Gunung, dan Klamono.
  3. Moi Klabra: Beraur, Misbra, Buk, Wanurian, Klarion, Wungkas, Wilti, Tarsa, dan Hobar.
  4. Moi Lamas: Seget, Duriankari, Waliam, Malabam, Seilolof, Ketlosuf.
  5. Moi Legin: Batulubang, Makbon, Malaumkarta, Asbaken, Dela, Mega, Klayili, Maladofok, dan Sayosa.
  6. Moi Maya: Salawati, Batanta, Sailolof, dan Julbatam.
  7. Moi Moraid: Sayosa dan Salmak
  8. Moi Salkma: Wemak, Klawak, Salkma, dan Fokour.
  9. Moi Segin: Gisim, Segun, Waimon, Katapop, Katimin, Yeflio, dan Kasimle.

Adat

sunting

Golongan

sunting

Secara tradisional umumnya suku Moi terbagi menjadi tiga:[6]

  • ne folus, orang yang berpengetahuan
  • golongan menengah dengan pengetahuan terbatas
  • golongan rendah, yaitu wanita dalam Moi.

Struktur masyarakat biasanya mengikuti garis patrilineal, posisi wanita lebih rendah dan pria terlahir dengan hak khusus seperti menjabat tetua adat dan hak kepemilikan tanah. Kecuali Moi-Ma'ya yang memiliki struktur adat lebih sejajar antara wanita dan pria dari pengaruh suku Ma'ya. Beberapa tokoh adat lain suku Moi adalah:[6]

  • ne fulus, orang berpengetahuan sejarah
  • ne foos, orang berkekuatan gaib (dukun)
  • ne ligin, pembicara
  • ne kook, orang kaya dan terhormat

Pendidikan Kambik

sunting

Anak kecil laki laki (nedla) untuk dianggap menjadi pria perlu menjalani pendidikan sebagai siswa (ulibi) di rumah Kambik. Seperti pendidikan formal pendidikan adat juga terbagi menjadi jenjang ulibi setingkat SD akan memberikan gelar unsulu. Tingkat berikutnya disebut unsmas setingkat SMP dan SMA yang memberikan gelar tulukma, tingkat tertinggi adalah untlan/kmabiek yang setara perguruan tinggi yang setelah lulus mendapatkan gelar wariek, sukmin, dan tukan (untuk menjadi guru kambik). Tingkat dasar dan menengah membutuhkan 6-12 bulan, sedangkan tingkat tertinggi bisa membutuhkan 18 bulan. Terdapat tiga cara seorang anak bisa menjadi siswa, dicuri (yang setelah selesai dikembalikan pada keluarga), pemilihan secara adat biasanya untuk anak sulung, dan perwakilan di mana seorang anak dititipkan kepada marga lain dengan pembayaran kain toba (kain timur). Contoh-contoh pengetahuan yang diajarkan berupa:[6]

  • berburu seperti cara mengetahui arah angin dan jenis hewan dan lokasinya
  • bercocok-tanam seperti cara menebang sagu dan mengawetkan sagu dengan tanah dan mantra
  • kesehatan seperti obat-obatan tradisional memanfaatkan dedaunan, kulit kayu, buah, dan bara api untuk menyembuhkan penyakit
  • berperang seperti membuat tameng (gili) dan tombak (sawiyek)
  • hukum adat seperti sistem perkawinan, dan pembayaran adat untuk orang yang meninggal, dll

Beberapa faktor hilangnya adat pendidikan kambik dikarenakan masuknya Belanda yang membuka lapangan pekerjaan seperri NNGPM bagi para pemuda Moi yang seharusnya menjalankan pendidikan kambik, masuknya ajaran kekristenan, dan Perang Dunia ke-2. Upaya menghidupkan kembali pendudikan Kambik difasilitasi oleh LMA Moi di Maladofok, yang merupakan tempat sakral suku Moi.[6][10]

Budaya Pangan

sunting

Masyarakat Moi memiliki hubungan yang erat dengan hutan, laut, dan tanah adat sebagai sumber kehidupan sekaligus bagian dari identitas budaya mereka. Kedekatan tersebut membentuk budaya pangan tradisional Orang Moi yang bergantung pada hasil hutan dan kebun, terutama sagu sebagai makanan pokok. Selain sagu, masyarakat Moi juga mengonsumsi hasil pangan lokal lain seperti pisang, kasbi, keladi, sayur gedi, dan pakis.[11][12]

Sejak berkembangnya industri ekstraktif di Papua Barat Daya, terutama perkebunan kelapa sawit dan pertambangan, wilayah adat Moi mengalami tekanan yang semakin besar. Pembukaan hutan dan alih fungsi tanah adat menyebabkan berkurangnya dusun sagu, kawasan berburu, dan ruang hidup masyarakat adat. Perubahan tersebut turut memengaruhi budaya pangan Orang Moi, di mana konsumsi sagu mulai tergantikan oleh nasi dan mi instan, terutama di kalangan generasi muda.[5]

Dalam diskusi hasil riset Malamoi: Budaya Pangan, Tanah, dan Identitas yang diselenggarakan di Sorong pada 17 Oktober 2025, perwakilan masyarakat adat Moi Kelim, Ayub R. Paa, menyatakan bahwa masyarakat Moi semakin terpinggirkan akibat ekspansi investasi industri ekstraktif meskipun telah ada Peraturan Daerah Kabupaten Sorong Nomor 10 Tahun 2017 tentang perlindungan dan pengakuan masyarakat hukum adat. Menurutnya, kehilangan tanah adat berarti juga kehilangan marga, budaya, dan identitas Orang Moi.[11]

Peneliti Zuhdi Siswanto menyebut perubahan hubungan masyarakat Moi dengan alam sebagai bentuk “keretakan metabolik”, yaitu terputusnya relasi antara manusia adat dengan lingkungan hidupnya akibat ekspansi industri dan pelepasan tanah adat. Dalam riset tersebut juga disebutkan bahwa perempuan Moi memiliki peran penting dalam menjaga budaya pangan tradisional melalui kegiatan meramu, berkebun, dan mengolah hasil hutan menjadi makanan maupun obat-obatan tradisional. Namun, perempuan kerap tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait pelepasan tanah adat kepada perusahaan.[5]

Referensi

sunting
  1. ^ Ananta, Aris (2015). Demography of Indonesia's Ethnicity. Evi Nurvidya Arifin, M. Sairi Hasbullah, Nur Budi Handayani, Agus Pramono. SG: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-981-4519-88-5. OCLC 1011165696. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-24. Diakses tanggal 2021-04-16.
  2. ^ a b Project, Joshua. "Moi, Mosana in Indonesia". joshuaproject.net (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-06-09.
  3. ^ Suaib 2017, hlm. 62-64.
  4. ^ lpsplsorong (11 Februari 2019). "Yegek, Sebuah Kearifan Lokal Suku Moi". kkp.go.id. Diakses tanggal 15 Januari 2021.
  5. ^ a b c ymkl.or.id (2025-10-17). "Budaya Pangan Orang Moi Mulai Retak Akibat Kehadiran Investasi Ekstrativisme". Yayasan Masyarakat Kehutanan Lestari (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2026-05-07.
  6. ^ a b c d e f Sahertian, Aldry (2018). Tradisi Lisan Pendidikan Adat Kambik Suku Moi dalam Memori Kolektif (PDF) (M.Si thesis). Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana. Diakses tanggal 20 April 2025.
  7. ^ Mansoben, Johszua Robert (1995). Sistem Politik Tradisional Di Irian Jaya. Jakarta: LIPI - RUL 1995. hlm. 232–246. ISBN 979-8258-06-1.
  8. ^ 25 tahun Trikora. Yayasan Badan Kontak Keluarga Besar Perintis Irian Barat. 1988. Diakses tanggal 2021-11-01.
  9. ^ Suryawan, I. Ngurah (2017). Papua Versus Papua. LABIRIN. ISBN 978-602-61246-4-7.
  10. ^ Yuliana, Heriyanti (2019-01-12). "MODEL PARTISIPASI MASYARAKAT MOI DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN ADAT KAMBIK (Studi Kasus Tentang Kelangsungan Pendidikan Kambik Di Suku Moi Kampung Maladofok Kabupaten Sorong)". Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial (dalam bahasa Inggris). 4 (1): 87–106. doi:10.33506/jn.v4i1.60. ISSN 2614-4336.
  11. ^ a b Savitri, Laksmi A.; Siswanto, Zuhdi (2025). Malamoi: budaya pangan, tanah, dan identitas. Insist Press. ISBN 978-623-6179-24-6.
  12. ^ Riyadi -, Ahmad (2026-02-01). "Malamoi dan Badai Industri Ekstraktif". Kompas.id. Diakses tanggal 2026-05-07.

Daftar pustaka

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

MOI

MOI (kependekan dari My Optimistic Innovation) adalah sebuah grup vokal perempuan asal Tiongkok. Grup tersebut didirikan pada 8 Desember 2017. Grup tersebut

Bahasa Moi

beberapa antarmuka Halaman bahasa acak Moi adalah bahasa Papua yang dituturkan di Semenanjung Doberai, Papua Barat Daya. Moi di Ethnologue (ed. ke-18, 2015)

Mall of Indonesia

Mall of Indonesia (dikenal juga dengan singkatan MOI) adalah pusat perbelanjaan yang terletak di kawasan serbaguna Kelapa Gading Square, Kelapa Gading

Megawati Hangestri Pertiwi

[pranala nonaktif permanen] baothanhhoa.vn (2022-07-05). "Megawati - Luồng gió mới cho bóng chuyền nữ Thanh Hóa". Chuyên trang điện tử Văn hóa và Đời sống (dalam

Peksi Moi

Peksi Moi adalah tarian yang berkembang di wilayah Sleman. Peksi Moi merupakan singkatan dari "Persatuan Kesenian Islam Main Olahraga Bela Diri". Tarian

Moi (disambiguasi)

Moi atau MOI merujuk pada: Lihat entri MOI, Moi, atau moi di kamus bebas Wikikamus. Pangkalan Udara Moi, Nairobi, Kenya Bandar Udara Internasional Moi

Daftar fam Papua

Bitibalyo - Suku Ketengban Bitip - Suku Murop Bleskadit - Suku Tehit Blon - Suku Moi Bodori - Suku Yamoiti Boma - Suku Mee Bonggoibo - Suku Biak Bonai - Suku

Daniel arap Moi

Daniel Toroitich arap Moi (/ˈmoʊiː/) (2 September 1924 – 4 Februari 2020) adalah Presiden Kenya pada periode 1978-2002. Kariernya dimulai sebagai seorang