Mohammad Isa Anshary
Potret sebagai Anggota Konstituante
Ketua Umum Persatuan Islam
Masa jabatan
1948–1960
Sebelum
Pendahulu
K.H. Mohammad Natsir
Pengganti
K.H. E. Abdurahman
Sebelum
Anggota Konstituante Republik Indonesia
Masa jabatan
1950 – 1960
Informasi pribadi
Lahir(1916-07-01)1 Juli 1916
Tanjung Sani, Tanjung Raya, Afdeeling Agam, Hindia Belanda[1][2]
Meninggal11 Desember 1969(1969-12-11) (umur 53)
Bandung, Indonesia[3]
Partai politikMasyumi
Anak5, termasuk Endang Saifuddin Anshari
Profesi
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

K.H. Mohammad Isa Anshary (1 Juli 1916 – 11 Desember 1969) adalah politikus dan tokoh Islam asal Indonesia. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Islam, anggota konstituante, dan merupakan juru bicara Partai Masyumi pada era 1950-an. Kepiawaiannya dalam berpidato dan memengaruhi massa, menyebabkan ia dijuluki sebagai "singa podium".[4]

Riwayat Hidup

sunting
Mohamad Isa Anshari, 1954

Pendidikan

sunting

Isa Anshari merupakan putra Minangkabau yang sejak kecil dididik dalam lingkungan yang religius. Di samping mempelajari ilmu agama dari kedua orang tuanya, ia juga menimba ilmu di Surau. Ketika remaja ia aktif di berbagai organisasi keislaman, diantaranya PSII, Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia, dan Indonesia Berparlemen.[5] Pada usia 16 tahun, setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Islam, Isa merantau ke Bandung untuk mengikuti berbagai kursus ilmu pengetahuan umum. Di Bandung pula, ia memperluas cakrawala keislamannya dalam Jam'iyyah Persis hingga menjadi Ketua Umum Persis.

Ketua Umum Persis

sunting

Tampilnya Isa Anshari sebagai pucuk pimpinan Persis dimulai pada 1940, ketika ia menjadi anggota hoofbestuur (Pimpinan Pusat) Persis. Tahun 1948, ia melakukan reorganisasi Persis yang mengalami kevakuman sejak masa pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Tahun 1953 hingga 1960, ia terpilih menjadi Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis.

Hamka (duduk) bersama Natsir (kiri) dan Isa Anshari (kanan). Mereka sempat dijebloskan ke dalam penjara oleh rezim Soekarno akibat adanya kaitan petinggi partai Masyumi dengan pemberontakan PRRI.

Selain sebagai mubaligh, Isa Anshari juga dikenal sebagai penulis yang tajam. Ia termasuk salah seorang perancang Qanun Asasi Persis yang telah diterima secara bulat oleh Muktamar V Persis (1953) dan disempurnakan pada Muktamar VIII Persis (1967). Dalam sikap jihadnya, Isa Anshari menganggap perjuangan Persis sungguh vital dan kompleks, karena menyangkut berbagai bidang kehidupan umat. Dalam bidang pembinaan kader, Isa Anshari menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader muda Persis. Semangatnya dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam meskipun ia mendekam dalam tahanan Orde Lama di Madiun. Kepada Yahya Wardi yang menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis periode 1956-1962, Isa Anshari mengirimkan naskah "Renungan 40 Tahun Persatuan Islam" yang ia susun dalam tahanan untuk disebarkan kepada peserta muktamar dalam rangka meningkatkan kesadaran jamaah Persis. Melalui tulisannya, Isa Anshari mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam dan perjuangan organisasi Persis. Dalam memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia, Isa memilih berjuang melalui parlemen. Dan melalui Partai Masyumi, ia konsisten memperjuangkan syariat Islam menjadi dasar-dasar negara.

Karya

sunting
  • Islam dan Demokrasi (1938)
  • Tuntunan Puasa (1940)
  • Islam dan Kolektivisme (1941)
  • Pegangan Melawan Fascisme Jepang (1942)
  • Barat dan Timur (1948)
  • Falsafah Perjuangan Islam (1949)
  • Sebuah Manifesto (1952)
  • Ummat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953)
  • Revolusi Islam (1953)
  • Inilah Partai MASYUMI (1954)
  • Islam dan Nasionalisme (1955)
  • P.K.I. Pembela Negara Asing (1955)
  • Islam Menentang Komunisme (1956)
  • Bahaya Merah di Indonesia (1956)
  • Manifes Perjuangan Persatuan Islam (1958)
  • Ke Depan Dengan Wajah Baru (1960)
  • Bukan Komunisto phobi, tapi Keyakinan Islam (1960)
  • Ummat Islam Menentukan Nasibnya (1961)
  • Pesan Perjuangan (1961)
  • Mujahid Dakwah (1966)
  • Tugas dan Peranan Generasi Muda Islam dalam Pembinaan Orde Baru (1966). *)

*) Sebelum almarhum berpulang (2 Syawwal 1389/11 Desember 1969), ia sempat meyelesaikan dua naskah lagi: (1) Falsafah Moral dan Pelita Indonesia, dan (2) Kembali ke Haramain. (Pen.) [6]

Catatan kaki

sunting
  1. ^ Hamka (2020-04-24). Kenang-Kenangan Hidup (dalam bahasa Melayu). Gema Insani. ISBN 978-602-250-743-7.
  2. ^ Pandoe, Marthias Dusky (2010). Jernih melihat cermat mencatat : antologi karya jurnalistik wartawan senior Kompas. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN 978-979-709-487-4. OCLC 643574961.
  3. ^ Budaja djaja. Dewan Kesenian Jakarta. 1970.
  4. ^ Republika.co.id Semar Ikut Pemilu 1955 Diarsipkan 2013-01-20 di Wayback Machine.
  5. ^ Herry Mohammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Gema Insani Press, 2006
  6. ^ M Isa Anshary, Mujahid Da'wah (Bandung: Diponegoro, 1979), cet. 2, hlm 313).

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Mohamad Isa

Mohammad Isa (4 Juni 1909 – 7 November 1979) adalah seorang dokter gigi, politikus, dan akademisi yang menjabat sebagai gubernur pertama Sumatera Selatan

Lambang negara Indonesia

ketiga Mohammad Yamin untuk lambang RIS, ditolak, dianggap terlalu mirip dengan Bendera Matahari Terbit (1949–1950) Rancangan perisai Mohammad Yamin untuk

Sjamsidar Isa

1946. Ia merupakan anak bungsu di antara tiga bersaudara, putri dari Mohammad Isa yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan. Anak tertuanya

Ahmad Hassan

Yang pernah belajar dengan A. Hassan, antara lain: Mohammad Natsir Soekarno Hamka Mohammad Isa Anshary Rusyad Nurdin Tafsir Al-Quran, Al-Furqan, 1956

Adnan Kapau Gani

Harian Nasional. dr. A.K. Gani, Amir Syarifuddin, Urip Sumohardjo, dan Mohammad Isa pada acara rapat di Masjid Agung Palembang dr. A.K Gani dan wakil dari

Teuku Muhammad Hasan

Mr. Teuku Mohammad Hasan atau juga ditulis Teuku Muhammad Hasan (4 April 1906 – 21 September 1997) adalah Gubernur Provinsi Sumatra pertama setelah Indonesia

Aida Nurmala

Aida Nurmala Isa (lahir 13 Agustus 1973) adalah pemeran, pengusaha, dan model Indonesia. Ia merupakan putri sulung dari perancang busana dan pengusaha

4 Juni

(w. 1939) 1901 - Bissu Usman, pemeran asal Indonesia (w. 1974) 1909 - Mohammad Isa, Gubernur Sumatera Selatan pada masa pergolakan peran mempertahankan