Sindrom takikardia ortostatik postural
Nama lainPOTS
Akrosianosis pada pasien POTS pria asal Norwegia. Kaki pasien tampak merah dan ungu akibat kondisi tersebut.
Takikardia setelah perubahan posisi pada pasien dengan POTS
SpesialisasiKardiologi, neurologi
GejalaLebih sering saat berdiri: kepala terasa ringan, sinkop, sulit berpikir, takikardia, lemas,[1] palpitasi, intoleransi panas, akrosianosis
Awitan umumUsia awitan paling umum (modal) adalah 14 tahun[2]
JenisPOTS neuropatik, POTS hiperadrenergik, POTS sekunder.
PenyebabAntibodi terhadap reseptor adrenergik Alfa 1 dan reseptor asetilkolin muskarinik M4[3][4][5]
Faktor risikoRiwayat keluarga,[1] Sindrom Ehlers-Danlos, Sindrom Aktivasi Sel Mast, kondisi autoimun, obat-obatan tertentu
Metode diagnostikPengukuran denyut jantung,[1] uji tilt table, QSART
Diagnosis bandingDehidrasi, masalah jantung, insufisiensi adrenal, epilepsi, penyakit Parkinson,[6] anemia
PengobatanMenghindari faktor yang memicu gejala, meningkatkan asupan garam dan air dalam diet, stoking kompresi, olahraga, terapi fisik, obat-obatan,[1]
ObatObat-obatan luar label: Penghambat beta, Ivabradin, midodrin, fludrokortison, dan Piridostigmin.[1]
PrognosisSekitar 90% membaik dengan pengobatan,[7] 25% pasien tidak mampu bekerja[8]
Frekuensi~ 1.000.000 ~ 3.000.000 (AS)[9]

Sindrom takikardia ortostatik postural (POTS) adalah kondisi ketika perubahan posisi dari berbaring ke berdiri menyebabkan peningkatan denyut jantung yang lebih besar daripada normal.[10] Kondisi ini dapat disertai gejala sepertikepala terasa ringan atau melayang, sulit berkonsentrasi, penglihatan kabur, atau lemas.[10] Beberapa kondisi lain juga sering berkaitan dengan POTS, antara lain sindrom Ehlers–Danlos, sindrom aktivasi sel mast, sindrom iritasi usus besar, insomnia, sakit kepala kronis, sindrom kelelahan kronis, dan fibromyalgia.[10]

Penyebab POTS beragam.[11] Pada banyak kasus, kondisi ini mulai muncul setelah infeksi virus, operasi, atau kehamilan.[12] Faktor risiko yang diketahui antara lain adanya riwayat kondisi serupa dalam keluarga.[10] Pada orang dewasa, diagnosis biasanya ditegakkan bila denyut jantung meningkat lebih dari 30 kali per menit dalam waktu 10 menit setelah berdiri, disertai gejala yang khas.[10] Berbeda dengan hipotensi ortostatiik, tekanan darah pada POTS umumnya tidak turun secara bermakna saat berdiri.[10] Sebelum diagnosis ditegakkan, penyebab lain dengan gejala serupa, seperti dehidrasi, gangguan jantung, insufisiensi adrenal dan penyakit Parkinson, yang perlu disingkirkan.[13]

Penanganan POTS dapat mencakup menghindari pemicu gejala, meningkatkan asupan garam dan cairan, menggunakan stoking kompresi, berolahraga, menjalani terapi perilaku kognitif (CBT) dan obat-obatan.[10][14] Obat yang dapat dipakai antara lain penyekat beta, piridostigmin, midodrin atau fludrokortison.[10] Lebih dari 50% pasien yang POTS-nya dipicu oleh infeksi virus mengalami perbaikan dalam lima tahun.[12] Secara keseluruhan, sekitar 90% pasien menunjukkan perbaikan dengan terapi.[12] Di Amerika Serikat, kondisi ini diperkirakan memengaruhi sekitar 500.000 orang.[13] Usia awitan rata-rata sekitar 20 tahun, dan kondisi ini sekitar lima kali lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.[10]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama pmid23122672
  2. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama pmid30861229
  3. ^ Miller AJ, Doherty TA (October 2019). "Hop to It: The First Animal Model of Autoimmune Postural Orthostatic Tachycardia Syndrome". Journal of the American Heart Association. 8 (19) e014084. doi:10.1161/JAHA.119.014084. PMC 6806054. PMID 31547756.
  4. ^ Gunning WT, Kvale H, Kramer PM, Karabin BL, Grubb BP (September 2019). "Postural Orthostatic Tachycardia Syndrome Is Associated With Elevated G-Protein Coupled Receptor Autoantibodies". Journal of the American Heart Association. 8 (18) e013602. doi:10.1161/JAHA.119.013602. PMC 6818019. PMID 31495251.
  5. ^ Fedorowski A, Li H, Yu X, Koelsch KA, Harris VM, Liles C, et al. (July 2017). "Antiadrenergic autoimmunity in postural tachycardia syndrome". Europace. 19 (7): 1211–1219. doi:10.1093/europace/euw154. PMC 5834103. PMID 27702852.
  6. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama pmid27578452
  7. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama pmid18506020
  8. ^ Busmer L (2011). "Postural orthostatic tachycardia syndrome: Lorna Busmer explains how nurses in primary care can recognise the symptoms of this poorly understood condition and offer effective treatment". Primary Health Care. 21 (9): 16–20. doi:10.7748/phc2011.11.21.9.16.c8794.
  9. ^ "Postural Orthostatic Tachycardia Syndrome (POTS)". www.hopkinsmedicine.org. December 21, 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 13, 2023. Diakses tanggal November 13, 2023.
  10. ^ a b c d e f g h i Benarroch EE (December 2012). "Postural tachycardia syndrome: a heterogeneous and multifactorial disorder". Mayo Clinic Proceedings. 87 (12): 1214–25. doi:10.1016/j.mayocp.2012.08.013. PMC 3547546. PMID 23122672.
  11. ^ Ferri, Fred F. (2016). Ferri's Clinical Advisor 2017 E-Book: 5 Books in 1 (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. hlm. 1019.e2. ISBN 9780323448383. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-07-06. Diakses tanggal 2020-06-08.
  12. ^ a b c Grubb BP (May 2008). "Postural tachycardia syndrome". Circulation. 117 (21): 2814–7. doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.107.761643. PMID 18506020.
  13. ^ a b Bogle, JM; Goodman, BP; Barrs, DM (May 2017). "Postural orthostatic tachycardia syndrome for the otolaryngologist". The Laryngoscope. 127 (5): 1195–1198. doi:10.1002/lary.26269. PMID 27578452.
  14. ^ Kizilbash, SJ; Ahrens, SP; Bruce, BK; Chelimsky, G; Driscoll, SW; Harbeck-Weber, C; Lloyd, RM; Mack, KJ; Nelson, DE (2014). "Adolescent fatigue, POTS, and recovery: a guide for clinicians". Current Problems in Pediatric and Adolescent Health Care. 44 (5): 108–33. doi:10.1016/j.cppeds.2013.12.014. PMC 5819886. PMID 24819031.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Oktreotida

pengobatan obstruksi usus ganas. Oktreotida dapat digunakan bersama dengan midodrin untuk membalikkan sebagian vasodilatasi perifer pada sindrom hepatorenal

Antihipotensi

Adrenalin Noradrenalin Fenilefrin Dobutamin Dopamin Efedrin hidroklorida Midodrin Amezinium Obat miotropik Angiotensinamida Turunan S-Alkilisotiouronium