Bahasa Makassar
  • Basa Mangkasaraʼ
𑻤𑻰 𑻥𑻠𑻰𑻭
ᨅᨔ ᨆᨀᨔᨑ
بَاسَ مَڠْكَاسَرَءْ
Mangkasara' dalam aksara Lontara Jangang-Jangang dan Lontara Baru
Dituturkan diIndonesia
WilayahSulawesi Selatan
EtnisMakassar
Penutur
1.870.000 (2010)[1]
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
DialekGowa/Lakiung
Jeneponto/Turatea
Bantaeng
Moderen:
   Alfabet Latin
   Aksara Lontara
   Abjad Serang[2]
Historis:
   Aksara Makassar (Jangang-Jangang)
Kode bahasa
ISO 639-2mak
ISO 639-3mak
Glottologmaka1311
IETFmak
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
C10
Kategori 10
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa telah punah (Extinct)
C9
Kategori 9
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa sudah ditinggalkan dan hanya segelintir yang menuturkannya (Dormant)
C8b
Kategori 8b
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa hampir punah (Nearly extinct)
C8a
Kategori 8a
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa sangat sedikit dituturkan dan terancam berat untuk punah (Moribund)
C7
Kategori 7
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mulai mengalami penurunan ataupun penutur mulai berpindah menggunakan bahasa lain (Shifting)
C6b
Kategori 6b
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mulai terancam (Threatened)
C6a
Kategori 6a
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa masih cukup banyak dituturkan (Vigorous)
C5
Kategori 5
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mengalami pertumbuhan populasi penutur (Developing)
C4
Kategori 4
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa digunakan dalam institusi pendidikan (Educational)
C3
Kategori 3
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa digunakan cukup luas (Wider Communication)
C2
Kategori 2
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan di berbagai wilayah (Provincial)
C1
Kategori 1
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa nasional maupun bahasa resmi dari suatu negara (National)
C0
Kategori 0
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan bahasa pengantar internasional ataupun bahasa yang digunakan pada kancah antar bangsa (International)
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
EGIDS SIL EthnologueC6b Threatened
Bahasa Makassar dikategorikan sebagai C6b Threatened menurut SIL Ethnologue, artinya bahasa ini mulai terancam dan mengalami penurunan jumlah penutur dari waktu ke waktu
Referensi: [3]
Lokasi penuturan
Peta semenanjung Sulawesi Selatan yang diberi arsiran di bagian ujung bawahnya untuk menandai persebaran bahasa Makassar serta bahasa-bahasa rumpun Makassar lainnya
  Bahasa Makassar
  Ragam bahasa rumpun Makassar lainnya
Peta
Peta
Perkiraan persebaran penuturan bahasa ini.
Koordinat: 5°39′S 119°50′E / 5.650°S 119.833°E / -5.650; 119.833 Sunting di Wikidata
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
 Portal Bahasa
L • B • PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat

Bahasa Makassar (basa Mangkasaraʼ; Jangang-jangang: 𑻤𑻰 𑻥𑻠𑻰𑻭; Lontara: ᨅᨔ ᨆᨀᨔᨑ; Serang: بَاسَ مٓڠْكَاسَرَءْ) adalah sebuah bahasa Austronesia yang lazimnya dituturkan oleh penduduk bersuku Makassar di sebagian wilayah Sulawesi Selatan, Indonesia. Secara khusus, bahasa ini termasuk ke dalam subrumpun Melayu-Polinesia cabang Sulawesi Selatan, walaupun kosakata bahasa ini tergolong divergen jika dibandingkan dengan kerabat-kerabat terdekatnya di cabang yang sama. Bahasa Makassar memiliki sekitar 1,87 juta penutur jati pada tahun 2010.

Terdapat 23 fonem dalam sistem fonologi bahasa Makassar. Bahasa Makassar juga memiliki beberapa deret konsonan ganda atau geminat. Sebagai bahasa aglutinatif, bahasa Makassar memiliki beragam afiks yang masih produktif serta serangkaian klitik yang (antara lain) memarkahi fungsi pronomina dan aspek. Argumen dalam bahasa Makassar dimarkahi pada predikat dengan klitik pronomina yang lazimnya mengikuti pola persekutuan ergatif-absolutif.

Klasifikasi

sunting

Kekerabatan

sunting

Bahasa Makassar merupakan bahasa Austronesia dari subrumpun Melayu-Polinesia cabang Sulawesi Selatan,[4] khususnya kelompok Makassar atau Makassarik terdiri dari dialek Lakiung, dialek Bantaeng, dialek Turatea, dialek Konjo (baik ragam Pegunungan maupun Pesisir) serta dialek Selayar.[5]

Dalam hal kosakata, rumpun bahasa Makassar merupakan yang paling berbeda di antara bahasa-bahasa Sulawesi Selatan. Rerata persentase kemiripan kosakata antara rumpun Makassar dengan bahasa-bahasa Sulawesi Selatan lainnya adalah sebesar 43%.[6] Secara spesifik, dialek Gowa atau Lakiung adalah yang paling divergen; tingkat kemiripan kosakata dialek ini dengan bahasa-bahasa Sulawesi Selatan lainnya sekitar 5–10 poin persentase lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kemiripan kosakata bahasa Konjo serta Selayar dengan bahasa-bahasa Sulawesi Selatan lainnya.[7][6] Meski begitu, analisis etimostatistik[a] dan functor statistics[b] yang dilakukan oleh linguis Ülo Sirk menghasilkan persentase kemiripan kosakata yang lebih tinggi (≥ 60%) antara bahasa Makassar dan bahasa-bahasa Sulawesi Selatan lainnya. Bukti-bukti kuantitatif ini mendukung analisis kualitatif yang menempatkan bahasa Makassar sebagai bagian dari rumpun Sulawesi Selatan.[9][10]

Dialek

sunting
Diagram hubungan antara ragam-ragam bahasa/dialek dalam rumpun Makassar berdasarkan persentase kemiripan leksikal

Ragam bahasa dalam rumpun Makassar membentuk sebuah kesinambungan dialek, sehingga batas antara bahasa dan dialek sulit ditentukan.[11] Survei bahasa di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasangan linguis dan antropolog Charles dan Barbara Grimes memisahkan bahasa Konjo dan Selayar dari bahasa Makassar,[12] sementara survei lanjutan yang dilakukan oleh linguis Timothy Friberg dan Thomas Laskowske memecah bahasa Konjo menjadi tiga (Konjo Pesisir, Konjo Pegunungan, dan Bentong/Dentong).[13] Walaupun begitu, dalam buku mengenai tata bahasa Makassar terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, linguis lokal Abdul Kadir Manyambeang dan tim memasukkan ragam bahasa Konjo dan Selayar sebagai dialek bahasa Makassar.[14]

Tidak termasuk ragam-ragam bahasa Konjo dan Selayar, bahasa Makassar dapat dibagi ke dalam setidaknya tiga dialek, yaitu 1) dialek Gowa atau Lakiung, 2) dialek Jeneponto atau Turatea, dan 3) dialek Bantaeng.[12][14][15][c] Perbedaan utama antara ragam-ragam dialek dan bahasa dalam rumpun Makassar adalah pada tataran kosakata; tata bahasa ragam-ragam ini secara umum tidak jauh berbeda.[14][15] Penutur dialek Gowa cenderung bertukar menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan penutur dialek Bantaeng atau penutur bahasa Konjo dan Selayar, begitu pula sebaliknya. Dialek Gowa umumnya dianggap sebagai "ragam tinggi" (prestige variety) bahasa Makassar. Sebagai ragam yang dituturkan di wilayah pusat daerah, dialek Gowa juga lazim digunakan oleh penutur dialek atau ragam bahasa lainnya dalam rumpun Makassar.[11]

Demografi dan persebaran

sunting
Peta persebaran bahasa-bahasa Sulawesi Selatan; bahasa Makassar ditandai dengan arsiran hijau dan angka 8

Menurut sebuah studi demografi yang didasarkan pada data sensus tahun 2010, sekitar 1,87 juta penduduk Indonesia yang berusia di atas lima tahun menggunakan bahasa Makassar sebagai bahasa ibu. Secara nasional, bahasa Makassar termasuk ke dalam 20 bahasa dengan jumlah penutur terbanyak, tepatnya di posisi ke-16.[18] Bahasa Makassar juga merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di Sulawesi setelah bahasa Bugis yang memiliki lebih dari 3,5 juta penutur.[1][19]

Bahasa Makassar utamanya dituturkan oleh etnis Makassar,[20] walaupun sebagian kecil (1,89%) etnis Bugis juga menggunakan bahasa ini sebagai bahasa ibu.[21] Penutur bahasa Makassar terpusat di wilayah barat daya semenanjung Sulawesi Selatan, terutama di wilayah pesisir yang subur di sekitar Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Takalar.[22] Bahasa Makassar juga dituturkan oleh sebagian penduduk kabupaten Maros serta Pangkajene dan Kepulauan di utara, berdampingan dengan bahasa Bugis.[13][23][24] Penduduk kabupaten Jeneponto serta Bantaeng umumnya juga mengidentifikasi diri sebagai bagian dari komunitas penutur bahasa Makassar, walaupun ragam yang mereka tuturkan (dialek Jeneponto atau Turatea serta dialek Bantaeng) lumayan berbeda dari dialek yang digunakan di Gowa dan Takalar.[22][23] Bahasa Konjo yang berkerabat dekat dengan bahasa Makassar dituturkan di wilayah pegunungan Gowa serta di pesisir Kabupaten Bulukumba,[25] sementara bahasa Selayar dituturkan di Pulau Selayar di selatan semenanjung.[22][26]

Sejarah

sunting

Berdasarkan model migrasi dari Taiwan yang diajukan oleh arkeolog Peter Bellwood, penutur bahasa-bahasa Austronesia mencapai Sulawesi pada sekitar 4000 tahun yang lalu.[27] Menurut linguis Roger F. Mills, penutur bahasa-bahasa Makassar atau Makassarik kemungkinan merupakan kelompok pertama yang memisahkan diri dari penutur bahasa-bahasa Sulawesi Selatan lainnya.[28]-->

Status saat ini

sunting

Bahasa Makassar termasuk salah satu bahasa daerah Indonesia yang cukup berkembang.[19] Memasuki milenium ketiga, bahasa ini masih digunakan secara luas di daerah pedesaan serta di sebagian wilayah Kota Makassar. Bahasa Makassar juga masih dianggap penting sebagai penanda identitas kesukuan.[29] Akan tetapi, pada masyarakat urban, pembauran antara bahasa Makassar dan bahasa Indonesia melalui alih kode atau campur kode lazim ditemui.[30] Sebagian dari masyarakat urban Makassar, terutama yang berasal dari kelas menengah ataupun berlatar belakang multietnis, juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam rumah tangga.[29] Ethnologue menggolongkan bahasa Makassar sebagai bahasa dengan tingkat 6b (Terancam) dalam skala EGIDS,[d] yang menunjukkan bahwa walaupun bahasa ini masih lazim digunakan dalam percakapan tatap muka, proses transmisi atau pengajaran bahasa secara alami antargenerasi sudah mulai terganggu.[32]


Sistem penulisan

sunting
Naskah dalam aksara Makassar Kuno

Bersama bahasa kerabatnya, bahasa Bugis, aksara yang digunakan untuk menulis bahasa Makassar adalah aksara Lontara. Aksara ini diyakini sejumlah sejarawan sebagai kelanjutan dari aksara Kawi, karena tiap-tiap hurufnya merupakan satu suku kata, dan perubahan bunyi hanya dapat ditunjukkan dengan tanda diakritik. Dengan demikian aksara ini termasuk dalam rumpun Brahmi.[33]

Asal-usul aksara Lontara sangat tidak jelas. Sejumlah sejarawan menganggap bahwa pencipta aksara Lontara adalah I Daeng Pamatte pada abad ke-16, seorang syahbandar Kesultanan Gowa. Akan tetapi, penelitian lain justru menghasilkan pendapat berbeda: klausa ampareki lontara mangkasaraka diterjemahkan sebagai "menyusun pustaka dalam bahasa Makassar". Bahkan, pendapat ini juga didukung pernyataan bahwa aksara ini merupakan kelanjutan dari varian tipografis lontara yang sudah ada, sesuai dengan pendapat Mattulada.[34][35] Salah satu karya tulis terkenal yang ditulis dengan aksara ini adalah epos Bugis Sureq Galigo.[36][37]

Aksara Lontara juga memiliki varian tipografis, seperti Jangang-jangang, Bilang-bilang, dan aksara Lontara modern seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah Sulawesi Selatan. Sayangnya, alfabet Latin justru menggeser keberadaan aksara ini untuk menulis bahasa Makassar maupun Bugis. Jika di Jawa ada abjad Pegon (Arab-Jawa) dan di dunia Melayu ada abjad Jawi (Arab-Melayu), orang Makassar juga mengenal sistem penulisan Arab-Makassar, yang dikenal dengan nama abjad Serang.[38]

Fonologi

sunting

Vokal

sunting

Bahasa Makassar memiliki lima fonem vokal, yaitu /a e i o u/.[39] Tidak ada diftong dalam bahasa Makassar, walaupun deret vokal monoftong dapat ditemukan, seperti dalam kata tau 'orang', jai 'banyak', rua 'dua', dan sebagainya.[40][41]

1. Vokal[39]
Depan Tengah Belakang
Tertutup i u
Sedang e o
Terbuka a

Fonem vokal /e/ cenderung direalisasikan sebagai vokal semiterbuka [ɛ] jika berada di posisi akhir kata atau sebelum suku kata dengan bunyi [ɛ] lainnya. Bandingkan, misalnya, antara pengucapan /e/ dalam kata leʼbaʼ [ˈleʔ.baʔ] 'sudah' dan mange [ˈma.ŋɛ] 'pergi ke'.[39] Fonem /o/ juga memiliki alofon semiterbuka [ɔ] jika berada di posisi akhir kata atau jika mendahului suku kata dengan bunyi [ɔ], seperti yang bisa ditemukan pada kata lompo [ˈlɔ̃m.pɔ] 'besar' (bandingkan dengan órasaʼ [ˈo.ra.saʔ] 'lebat').[42] Terlepas dari letaknya dalam sebuah kata, sebagian penutur cenderung mengucapkan kedua vokal ini dengan posisi lidah yang lebih tinggi (tertutup) sehingga mendekati pengucapan fonem /i/ dan /u/.[43]

Vokal dapat diucapkan secara sengau jika berada di sekitar konsonan sengau dalam suku kata yang sama. Terdapat dua tingkat intensitas penyengauan vokal, yaitu penyengauan kuat dan penyengauan lemah. Penyengauan lemah dapat ditemukan pada vokal sebelum konsonan sengau yang tidak berada pada akhir ucapan. Penyengauan kuat dapat ditemukan pada vokal sebelum konsonan sengau akhir ucapan atau setelah konsonan sengau secara umum. Penyengauan dapat menyebar ke vokal dalam suku kata setelah vokal sengau jika tidak ada konsonan yang menghalangi. Walaupun begitu, intensitas sengau dalam vokal seperti ini tidak sebesar vokal yang mendahuluinya, semisal dalam pengucapan kata niaʼ [ni͌.ãʔ][e] 'ada'.[44]

Konsonan

sunting

Terdapat 17 konsonan dalam bahasa Makassar, seperti yang dijabarkan dalam tabel berikut.[45][46]

2. Konsonan[45][46]
Bibir Bibir/
Rongga gigi
Palatal Lelangit lembut Celah suara
Sengauan m n ɲ ⟨ny⟩ ŋ ⟨ng⟩
Letupan nirsuara p t c k ʔ ⟨ʼ⟩
bersuara b d ɟ ⟨j⟩ ɡ
Geseran s h
Hampiran sisi l
Getar r
Semivokal[f] (w) j ⟨y⟩ w

Fonem /t/ merupakan satu-satunya konsonan dengan pengucapan gigi, tidak seperti fonem /n d s l r/ yang merupakan konsonan rongga-gigi.[47] Fonem letupan nirsuara /p t k/ umumnya diucapkan dengan sedikit penghembusan, seperti dalam kata katte [ˈkat̪.t̪ʰɛ] 'kitaʼ, lampa [ˈlam.pʰa] 'pergi', dan kana [ˈkʰa.nã] 'kata'. Fonem /b/ dan /d/ memiliki alofon letup balik [ɓ] dan [ɗ], terutama pada posisi awal kata semisal balu [ˈɓa.lu] 'janda' dan setelah bunyi [ʔ] seperti dalam kata aʼdoleng [aʔ.ˈɗo.lẽŋ] 'menggelepai'.[48] Kedua konsonan ini, terutama /b/ pada posisi awal, terkadang juga direalisasikan sebagai konsonan nirsuara tanpa hembusan.[49] Fonem lelangit /c/ dapat direalisasikan sebagai gesekan (fonem letupan dengan pelepasan geseran) [cç] atau bahkan [tʃ]. Fonem /ɟ/ juga dapat diucapkan sebagai tesekan [ɟʝ]. Jukes menganalisis kedua konsonan ini sebagai konsonan letupan karena keduanya memiliki padanan sengau lelangit /ɲ/, sebagaimana konsonan hambat oral lainnya juga memiliki padanan sengau masing-masing.[50]

Fonotaktik

sunting

Struktur dasar suku kata dalam bahasa Makassar adalah (K1)V(K2). Posisi K1 dapat diisi oleh hampir seluruh konsonan, sementara posisi K2 memiliki beberapa batasan.[51] Pada suku kata yang terletak dii akhir morfem, K2 dapat diisi oleh letupan (K) atau sengauan (N) yang pengucapannya ditentukan oleh beberapa aturan asimilasi. Bunyi K berasimilasi (diucapkan sebagai konsonan yang sama) dengan konsonan nirsuara kecuali [h] dan direalisasikan sebagai [ʔ] dalam konteks lainnya. Bunyi N direalisasikan sebagai bunyi sengau yang homorgan (diucapkan pada tempat artikulasi yang sama) sebelum konsonan hambat atau sengau, berasimilasi dengan konsonan /l/ dan /s/, serta direalisasikan sebagai [ŋ] dalam konteks lainnya.[46][52] Sedangkan pada suku kata di dalam bentuk akar, bahasa Makassar mengontraskan satu bunyi tambahan pada posisi K2 selain K dan N, yaitu /r/. Analisis ini didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa Makassar membedakan antara deret bunyi lintas suku kata [nr], [ʔr], dan [rr]. Walaupun begitu, [rr] dapat pula dianggap sebagai realisasi dari satu segmen geminat murni alih-alih deret bunyi lintas suku kata.[53]

3. Contoh kata menurut pola suku kata[54][g]
V o 'oh' (kata seru)
KV ri Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). (partikel)
VK 'rambut'
KVK piʼ 'getah pulut'
VV io 'ya'
VVK aeng 'ayah'
KVV tau 'orang'
KVVK taung 'tahun'
VKVK uluʼ 'kepala'
KVKV sala 'salah'
KVKVK sabaʼ 'sebab'
KVKKVK leʼbaʼ 'sudah'
KVKVKV binánga 'sungai'
KVKVKVK pásaraʼ 'pasar'
KVKVKKV kalúppa 'lupa'
KVKKVKVK kaʼlúrung 'kayu pohon palem'
KVKVKVKVK balakeboʼ 'ikan tamban'
  KVKVKVKKVK   kalumanynyang   'kaya'  

Bunyi /s l r/ dapat dikategorikan sebagai kelompok kontinuan (bunyi yang diucapkan tanpa menghalangi secara penuh aliran udara yang keluar melalui mulut) non-sengau, dan ketiga-tiganya tidak dapat mengisi posisi akhir suku kata kecuali sebagai bagian dari deret konsonan geminasi.[55] Kata dasar yang sejatinya berakhir dengan konsonan-konsonan ini akan diimbuhi vokal epentetis yang sama dengan vokal di suku kata sebelumnya, serta ditutup dengan konsonan hambat glotal [ʔ],[56] seperti pada kata ótereʼ /oter/ 'tali', bótoloʼ /botol/ 'botol', dan rántasaʼ /rantas/ 'kotor'.[57] Elemen tambahan ini juga disebut sebagai deret "vokal-konsonan pantulan" (echo-VC), dan dapat memengaruhi posisi tekanan pada sebuah kata (lihat bagian #Tekanan).[41][58]

Umumnya, kata dasar dalam bahasa Makassar memiliki panjang dua atau tiga suku kata. Meski begitu, kata-kata yang lebih panjang dapat dibentuk karena sifat bahasa Makassar yang aglutinatif serta adanya proses reduplikasi (perulangan) yang masih sangat produktif.[59] Menurut Jukes, kata dengan panjang enam atau tujuh suku kata lazim ditemukan dalam bahasa Makassar, sementara kata dasar dengan satu suku kata (yang bukan merupakan pinjaman dari bahasa lain) sangatlah jarang, walaupun ada beberapa kata seru dan partikel yang terdiri dari satu suku kata saja.[60]

Tekanan

sunting

Tekanan umumnya diberikan pada suku kata penultima (kedua dari akhir) dari sebuah kata dasar. Dalam kata ulang, tekanan sekunder akan diberikan pada unsur pertama, contohnya pada kata ammèkang-mékang /amˌmekaŋˈmekaŋ/ 'memancing-mancing (secara tidak serius)'.[59][61] Sufiks umumnya dihitung sebagai bagian dari unsur fonologis yang diberikan tekanan, sementara enklitik tidak dihitung (ekstrametrikal).[59][62] Kata gássing 'kuat', misalnya, jika ditambah sufiks benefaktif -ang akan menjadi gassíngang 'lebih kuat dari' dengan tekanan pada suku kata penultima, tetapi jika diberi enklitik pemarkah persona pertama =aʼ akan menjadi gássingaʼ 'saya kuat', dengan tekanan pada suku kata antepenultima (ketiga dari akhir).[63]

Morfem lainnya yang dihitung sebagai bagian dari unsur yang diberi tekanan adalah klitik afiksal[h] pemarkah kepunyaan, seperti pada kata tedóng≡ku (kerbau≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).) 'kerbau saya'.[62] Khusus untuk pemarkah takrif (definite marker) ≡a, morfem ini dihitung sebagai bagian dari unsur yang diberi tekanan hanya jika kata dasar yang diimbuhinya berakhiran vokal seperti pada kata batúa 'batu (itu)'—bandingkan dengan pola tekanan pada kóngkonga 'anjing (itu)' yang kata dasarnya berakhiran konsonan.[65][66] Sebuah kata dapat memiliki tekanan pada suku kata keempat terakhir jika kata tersebut diimbuhi kombinasi enklitik dwisilabis seperti =mako (=ma Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =ko Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).), contoh: náiʼmako 'naiklah!'.[62] Posisi tekanan juga dapat dipengaruhi proses degeminasi vokal, yaitu peleburan vokal identik lintas morfem menjadi satu. Misalnya, kata jappa 'jalan' jika ditambah imbuhan -ang akan menjadi jappáng 'berjalan dengan', dengan tekanan pada suku kata ultima (akhir).[67]

Suku kata vokal-konsonan pantulan dianggap bukan bagian dari unsur yang diberi tekanan, sehingga kata-kata yang memilikinya akan selalu diberi tekanan pada suku kata antepenultima, seperti pada kata lápisiʼ 'lapis', bótoloʼ 'botol', pásaraʼ, dan Mangkásaraʼ 'Makassar'.[41][58][57] Pengimbuhan sufiks -ang dan -i menghapus vokal-konsonan pantulan dan memindahkan tekanannya ke suku kata penultima, seperti pada kata lapísi 'lapisi'.[68] Penambahan klitik afiksal pemarkah kepunyaan juga memindahkan tekanan ke posisi penultima, tetapi tidak menghapus deret vokal-konsonan ini, seperti pada kata botolóʼna 'botolnya'. Sementara, penambahan pemarkah takrif dan enklitik tidak menghapus deret ini maupun mengubah posisi tekanannya, seperti pada kata pásaraka 'pasar (itu)' dan appásarakaʼ 'saya pergi ke pasar'.[55][69]

Tata bahasa

sunting

1PRO:persona pertama, pronomina bebas 2FAMPRO:persona kedua akrab, pronomina bebas 2FAM:persona kedua, bentuk akrab 2POL:persona kedua, bentuk hormat AF:fokus aktor/pelaku BCS:sebab, karena OR:'atau' NR:pembentuk nomina

Pronomina persona

sunting

Pronomina atau kata ganti persona dalam bahasa Makassar memiliki tiga bentuk, yaitu 1) bentuk bebas, 2) proklitik yang merujuk-silang (cross-reference) argumen S dan P ('absolutif'), serta 3) enklitik yang merujuk-silang argumen A ('ergatif').[70][i] Tabel berikut menunjukkan ketiga bentuk pronomina ini beserta pemarkah kepunyaan bagi masing-masing serinya.[71]

4. Pronomina persona[71]
Glos Pronomina bebas
(Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).)
Proklitik
(Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).)
Enklitik
(Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).)
Pemarkah kepunyaan
(Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).)
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). (i)nakke ku= =aʼ ≡ku
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)./Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). (i)katte ki= =kiʼ ≡ta
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). (i)kambe *=kang ≡mang
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). (i)kau nu= =ko ≡nu
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). ia na= =i ≡na

Pronomina persona pertama jamak inklusif juga digunakan untuk merujuk kepada persona kedua jamak sekaligus berfungsi sebagai bentuk hormat bagi persona kedua tunggal. Seri pronomina persona pertama ku= lazimnya juga digunakan untuk merujuk pada persona pertama jamak dalam bahasa Makassar modern; pronomina kambe dan pemarkah kepunyaan ≡mang bersifat arkais, sementara enklitik =kang hanya dapat muncul dalam bentuk kombinasi dengan klitik pemarkah modalitas dan aspek, seperti =pakang (=pa Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =kang Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).).[72] Makna jamak dapat dinyatakan lebih jelas dengan menambahkan kata ngaseng 'semua' setelah bentuk bebas, semisal ia–ngaseng 'mereka semua' dan ikau–ngaseng 'kalian semua',[73] atau sebelum enklitik, misalnya ngaseng=i 'mereka semua'. Walaupun begitu, ngaseng tidak dapat dipasangkan dengan proklitik.[72]

Bentuk proklitik dan enklitik merupakan bentuk pronomina yang paling umum digunakan untuk merujuk pada persona atau benda yang dituju (lihat bagian #Klausa dasar untuk contoh penggunaannya). Bentuk bebas lebih jarang digunakan; pemakaiannya biasanya terbatas pada klausa presentatif (klausa yang menyatakan atau mengenalkan sesuatu, lihat contoh 1), sebagai penekanan (2), dalam frasa preposisional yang berfungsi sebagai argumen maupun adjung (3), dan sebagai predikat (4).[74][j]

(1)
Iaminjo allo makaruayya

ia

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

=mo

=PFV

=i

=3

(a)njo

itu

allo

hari

maka-

ORD-

rua

dua

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

ia =mo =i (a)njo allo maka- rua ≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =PFV =3 itu hari ORD- dua ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

'Itulah hari kedua(nya).'[72]

(2)
… lompo-lompoi anaʼna, na inakke, tenapa kutianang

lompo-

RDP-

lompo

besar

=i

=3

anaʼ

anak

≡na

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

na

dan

i-

PERS-

nakke

1PRO

tena

NEG

=pa

=IPF

ku=

1=

tianang

hamil

lompo- lompo =i anaʼ ≡na na i- nakke tena =pa ku= tianang

RDP- besar =3 anak ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS dan PERS- 1PRO NEG =IPF 1= hamil

'… anaknya besar-besar, sedangkan saya, belum lagi hamil.'[76]

(3)
Amminawangaʼ ri katte

aN(N)-

BV-

pinawang

ikut

=a'

=1

ri

PREP

katte

2FAMPRO

aN(N)- pinawang =a' ri katte

BV- ikut =1 PREP 2FAMPRO

'Aku mengikutimu.'[76] Singkatan glosarium tidak diketahui (bantuan);

(4)
Inakkeji

i-

PERS-

nakke

1PRO

=ja

=LIM

=i

=3

i- nakke =ja =i

PERS- 1PRO =LIM =3

'Ini hanya aku.'[76]

Nomina dan frasa nomina

sunting

Ciri dan jenis nomina

sunting

Nomina atau kata benda dalam bahasa Makassar merupakan kelas kata yang dapat menjadi argumen bagi sebuah predikat, sehingga bisa dirujuk-silang oleh klitik pronomina.[77] Nomina juga dapat menjadi inti dari sebuah frasa nomina (termasuk klausa relatif). Nomina dapat berperan sebagai pemilik maupun yang dimiliki dalam konstruksi kepemilikan; klitik afiksal akan diimbuhkan pada frasa nomina yang dimiliki. Ketakrifan nomina dapat dinyatakan dengan klitik afiksal ≡a. Nomina tanpa imbuhan juga dapat menjadi predikat dalam sebuah kalimat. Keseluruhan poin-poin utama ini digambarkan dalam contoh berikut:[78]

(5)
Anaʼnai karaenga

anaʼ

anak

≡na

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

=i

=3

karaeng

raja

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

anaʼ ≡na =i karaeng ≡a

anak ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS =3 raja ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

'Ia (merupakan) anak sang karaeng.'[79]

Selain itu, nomina juga dapat dikhususkan oleh demonstrativa, diterangkan oleh adjektiva, dikirakan dengan numeralia, menjadi pelengkap dalam frasa preposisional, serta menjadi verba yang bermakna 'pakai/gunakan [nomina yang dimaksud]' jika diimbuhi dengan prefiks aK-.[78]

Nomina yang biasanya diimbuhi klitika afiksal takrif ≡a dan pemarkah kepunyaan adalah nomina umum (common noun).[80] Sementara itu, nomina diri atau nama diri (proper noun) seperti nama tempat, nama orang, dan gelar (tidak termasuk panggilan kekerabatan) biasanya tidak diimbuhi pemarkah takrif dan kepunyaan, tetapi dapat dipasangkan dengan prefiks personal i- seperti kelas kata pronomina.[81]

Beberapa nomina umum merupakan nomina generik yang sering kali menjadi inti dari sebuah kata majemuk, seperti kata jeʼneʼ 'air', tai 'tahi', dan anaʼ 'anak'.[82] Contoh kata-kata majemuk yang diturunkan dari nomina generik ini adalah jeʼneʼ inung 'air minum', tai bani 'lilin lebah' (arti harfiah: 'tahi lebah'), dan anaʼ baine 'anak perempuan'.[83] Istilah kekerabatan yang biasa dijadikan sapaan juga tergolong nomina umum, seperti misalnya kata mangge 'ayah', anrong 'ibu', dan sariʼbattang 'saudara'.[84] Contoh lainnya adalah kata daeng yang digunakan sebagai sapaan sopan secara umum, atau oleh seorang istri kepada suaminya.[83]

Kelompok nomina utama lainnya adalah nomina temporal, yang biasanya muncul setelah preposisi dalam konstruksi adjung untuk menyatakan waktu.[82] Contoh nomina temporal adalah waktu jam (seperti tetteʼ lima '5.00 [pukul lima]'), waktu perkiraan berdasarkan pembagian hari (seperti bariʼbasa 'pagi'), hari-hari dalam seminggu, serta tanggal, bulan dan musim.[85]

Nomina turunan

sunting

Nomina turunan dapat dibentuk dengan beberapa proses morfologis produktif, seperti reduplikasi dan pengimbuhan afiks pa-, ka-, dan -ang, baik sendiri-sendiri maupun secara kombinasi.[86] Tabel berikut memaparkan beberapa proses pembentukan nomina yang umum dalam bahasa Makassar:[87][88]

5. Pembentukan nomina turunan
Proses Makna yang dihasilkan Contoh Sumber
reduplikasi bentuk mungil atau tiruan tau 'orang' → tau-tau 'patung, boneka' [89][90]
pengimbuhan pa- pa-Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). pelaku, pembuat atau pengguna jarang 'kuda' → pajarang 'penunggang kuda'; botoroʼ 'judi' → pabotoroʼ 'penjudi' [91][92]
pa-Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).[k] instrumental atau alat akkutaʼnang 'bertanya' → pakkutaʼnang 'pertanyaan'; anjoʼjoʼ 'menunjuk' → panjoʼjoʼ 'telunjuk, penunjuk' [95][96]
pa-Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).[l] instrumental atau alat appakagassing 'menguatkan' → pappakagassing 'obat, minuman penguat' [95]
pa>Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).<ang tempat atau waktu aʼjeʼneʼ 'mandi' → paʼjeʼnekang 'pemandian, waktu mandi'; angnganre 'makan' → pangnganreang 'piring' [97]
paK>Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).<ang[m] orang yang cenderung bersifat serupa adjektiva yang dimaksud garring 'sakit' → paʼgarringang 'orang yang mudah sakit' [98]
pengimbuhan ka>...<ang ka>Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).<ang sifat kodi 'buruk' → kakodiang 'keburukan' [99][100]
ka>Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).<ang puncak sifat sesuatu atau seseorang gassing 'kuat' → kagassing-gassingang 'puncak kekuatan'[n] [102]
ka>Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).<ang status atau proses battu 'datang' → kabattuang 'kedatangan' [100][103]
pengimbuhan -ang instrumental atau alat buleʼ 'usung' → bulekang 'usungan' [104][105]

Terdapat beberapa pengecualian dari pola umum yang dijabarkan di atas. Misalnya, reduplikasi kata oloʼ 'ulat' menjadi oloʼ-oloʼ menghasilkan perluasan makna menjadi 'binatang'.[106] Pengimbuhan pa- pada dasar verba juga tidak selalu mengindikasikan instrumen atau alat, contohnya paʼmaiʼ 'napas, tabiat, hati' (seperti dalam frasa lompo paʼmaiʼ 'besar hati') yang diturunkan dari kata aʼmaiʼ 'bernapas'.[107][108] Pengimbuhan pa>...<ang pada dasar verba ammanaʼ 'beranak' menghasilkan kata pammanakang yang bemakna 'keluarga', walaupun mungkin saja kata ini awalnya merupakan kiasan ('tempat untuk memiliki anak').[109]

Frasa nomina

sunting

Komponen frasa nomina dalam bahasa Makassar dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu 1) inti (head), 2) pengkhusus (specifier), dan 3) pewatas (modifier).[110] Yang dimaksud dengan pengkhusus adalah demonstrativa dan numeralia serta penggolong (classifer), sementara pewatas dapat berupa nomina, adjektiva, verba atau klausa relatif yang memodifikasi nomina inti. Pengkhusus juga berbeda dari pewatas karena dapat diletakkan sebelum nomina inti, seperti dalam frasa anjo kongkong≡a (itu anjing≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).) 'anjing itu'. Numeralia diletakkan sebelum nomina inti jika nomina tersebut bersifat takrif (6), tetapi diletakkan setelahnya jika nomina tersebut bersifat taktakrif (7).[111]

(6)
Assibuntuluʼmaʼ rua tau Parancisiʼ

aK-

MV-

si-

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).-

buntuluʼ

bertemu

=ma

=PFV

=aʼ

=1

rua

dua

tau

orang

Parancisiʼ

Perancis

aK- si- buntuluʼ =ma =aʼ rua tau Parancisiʼ

MV- Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).- bertemu =PFV =1 dua orang Perancis

'Saya bertemu dengan dua orang Perancis.'[112]

(7)
Assibuntuluʼmaʼ tau ruayya Parancisiʼ

aK-

MV-

si-

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).-

buntuluʼ

bertemu

=ma

=PFV

=aʼ

=1

tau

orang

rua

dua

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

Parancisiʼ

Perancis

aK- si- buntuluʼ =ma =aʼ tau rua ≡a Parancisiʼ

MV- Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).- bertemu =PFV =1 orang dua ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). Perancis

'Saya bertemu dengan dua orang Perancis itu.'[112]

Pewatas selalu diletakkan setelah nomina inti yang dimodifikasinya, dan dapat berupa:[113]

  • nomina, seperti dalam frasa bawi romang 'babi hutan'[114]
  • adjektiva, seperti dalam frasa jukuʼ lompo 'ikan besar'[115]
  • verba, seperti dalam frasa kappalaʼ anriʼbaʼ 'kapal terbang'[115]
  • kata pemilik, seperti dalam frasa tedonna i Ali 'kerbaunya si Ali'[116]
  • klausa relatif[117]

Klausa relatif dalam bahasa Makassar langsung diletakkan setelah nomina inti tanpa penanda khusus (tidak seperti bahasa Indonesia yang memerlukan kata seperti 'yang' sebelum klausa relatif). Verba dalam klausa relatif akan diberi pemarkah takrif ≡a.[117]

(8)
Tau battua ri Japáng

tau

orang

battu

datang

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

ri

PREP

Japáng

Jepang

tau battu ≡a ri Japáng

orang datang ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). PREP Jepang

'Orang yang datang dari Jepang.'[117]

Verba

sunting


Klausa dasar

sunting

Klausa intransitif

sunting

Dalam klausa intransitif bahasa Makassar, enklitik 'absolutif' (=Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).) digunakan untuk merujuk-silang satu-satunya argumen dalam klausa tersebut (S) jika argumen tersebut bersifat takrif (definite) atau kentara (salient) menurut konteks percakapannya. Enklitik ini cenderung dipasangkan pada konstituen pertama dari sebuah klausa. Prefiks (imbuhan awalan) aK- umumnya digunakan untuk membentuk verba intransitif, walaupun beberapa verba seperti tinro 'tidur' tidak memerlukan prefiks ini.[118]

(11)
Aʼjappai Balandayya

aK-

MV-

jappa

jalan

=i

=3

Balanda

Belanda

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

aK- jappa =i Balanda ≡a

MV- jalan =3 Belanda ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

'Si orang Belanda berjalan.'[118]

(12)
Tinroi i Ali

tinro

tidur

=i

=3

i

PERS

Ali

Ali

tinro =i i Ali

tidur =3 PERS Ali

'Si Ali tidur.'[119]

Klausa intransitif juga dapat dibentuk dengan inti (head) predikat nomina (13) dan pronomina (contoh (4) di atas), adjektiva (14) atau frasa preposisional (15).[119]

(13)
Jarangaʼ

jarang

kuda

=aʼ

=1

jarang =aʼ

kuda =1

'Saya (adalah seekor) kuda.'[119]

(14)
Bambangi alloa

bambang

panas

=i

=3

allo

hari

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

bambang =i allo ≡a

panas =3 hari ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

'Siang hari (ini) panas.'[119]

(15)
Ri ballaʼnai

ri

PREP

ballaʼ

rumah

≡na

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

=i

=3

ri ballaʼ ≡na =i

PREP rumah ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS =3

'Dia (berada) di rumahnya.'[119]

Klausa transitif

sunting

Verba dalam klausa transitif tidak diimbuhi afiks, tetapi diberi proklitik pronomina yang menandakan A atau pelaku (actor) serta enklitik pronomina yang menandakan P atau penderita (undergoer).[119]

(16)
Nakokkokaʼ miongku

na=

3=

kokkoʼ

gigit

=aʼ

=1

miong

kucing

≡ku

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

na= kokkoʼ =aʼ miong ≡ku

3= gigit =1 kucing ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

'Kucingku menggigitku.'[119]

Jika kedua argumen yang melengkapi predikat verba sama-sama merupakan persona ketiga, dapat terjadi ketaksaan mengenai argumen mana yang dirujuk-silang oleh masing-masing klitik. Dalam kasus ini, konteks pragmatis diperlukan untuk menentukan makna yang tepat bagi klausa tersebut.[119]

(17)
Naciniki tedongku i Ali

na=

3=

ciniʼ

lihat

=i

=3

tedong

kerbau

≡ku

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

i

PERS

Ali

Ali

na= ciniʼ =i tedong ≡ku i Ali

3= lihat =3 kerbau ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS PERS Ali

'Si Ali melihat kerbauku.'/'Kerbauku melihat si Ali.'[119]

Agar dapat dirujuk-silang dengan klitik, penderita dalam klausa transitif harus bersifat takrif. Contoh penderita yang bersifat takrif adalah nama dan gelar, kata yang rujukannya kentara secara pragmatis seperti pronomina persona pertama dan kedua, serta kata yang dipasangkan dengan pemarkah kepunyaan (seperti miongku dan tedongku dalam contoh 16–17) atau pemarkah takrif (seperti untia dalam contoh 18).[120]

(18)
Kukanrei untia

ku=

1=

kanre

makan

=i

=3

unti

pisang

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

ku= kanre =i unti ≡a

1= makan =3 pisang ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

'Saya memakan pisang(nya).'[120]

Pengecualian terhadap pola umum pembentukan klausa transitif terjadi jika 1) argumen A atau P menjadi fokus dalam sebuah klausa; 2) klitik dipasangkan pada kata lainnya karena ada unsur sebelum verba; atau 3) jika klausa tersebut memiliki penderita yang taktakrif (indefinite). Pola ketiga dianalisis oleh Jukes sebagai bentuk klausa semitransitif.[121]

Klausa semitransitif

sunting

Klausa semitransitif merupakan klausa yang memiliki dua partisipan, tetapi hanya satu partisipan saja yaitu pelaku yang dirujuk-silang oleh klitik pronomina. Klitik yang dipakai adalah seri enklitik pronomina 'absolutif' (yang umumnya digunakan untuk merujuk-silang S dan P). Dengan kata lain, verba dalam klausa semitransitif umumnya bersifat bivalen atau dwivalen (memerlukan dua argumen atau pelengkap verba) seperti dalam klausa transitif, tetapi penderita dalam klausa sejenis ini berbeda dari P dalam klausa transitif pada umumnya karena tidak dirujuk-silang oleh klitik pronomina. Prefiks aN(N)- umumnya diimbuhkan pada verba semi-transitif. Penderita dalam klausa sejenis ini bersifat taktakrif, seperti yang bisa dilihat dari contoh (19); bandingkan dengan contoh (18) yang memiliki penderita takrif.[122]

(19)
Angnganreaʼ unti

aN(N)-

BV-

kanre

makan

=aʼ

=1

unti

pisang

aN(N)- kanre =aʼ unti

BV- makan =1 pisang

'Saya memakan pisang.'[120] Singkatan glosarium tidak diketahui (bantuan);

Frasa nomina penderita (seperti unti 'pisang' dalam contoh 18) umumnya diperlukan untuk melengkapi klausa semi-transitif. Walaupun begitu, frasa nomina ini dapat dibuang dalam klausa dengan verba ambitransitif (verba yang dapat dimaknai sebagai verba transitif maupun intransitif) seperti kanre 'makan' dan inung 'minum'. Klausa seperti ini dapat dianggap memiliki makna intransitif.[120]

(20)
Angnganreaʼ

aN(N)-

BV-

kanre

makan

=aʼ

=1

aN(N)- kanre =aʼ

BV- makan =1

'Saya makan.'[120] Singkatan glosarium tidak diketahui (bantuan);

Fokus dan topik

sunting

Fokus

sunting

Argumen dalam sebuah kalimat dapat muncul sebelum verba dan tidak dirujung-silang dengan klitik. Argumen yang berada pada posisi ini dianggap sebagai argumen yang difokuskan, dengan fungsi pragmatis seperti disambiguasi, penekanan, atau pemastian.[123]

(21)
I Ali tinro

I

PERS

Ali

Ali

tinro

tidur

I Ali tinro

PERS Ali tidur

'Si Ali tidur.'[123]

Jika dibandingkan dengan contoh (12) yang sekadar merupakan pernyataan fakta ('si Ali tidur'), contoh (21) dapat menyatakan makna 'kuberitahu padamu, si Ali sedang tidur', 'kudengar si Ali sedang tidur', atau makna interogatif 'benarkah si Ali yang tidur?'. Contoh ini juga merupakan jawaban bagi pertanyaan inai tinro? 'siapa yang tidur?'.[123]

Dalam kalimat transitif, salah satu argumen dapat difokuskan.[124] Imbuhan aN- (bedakan dari imbuhan semi-transitif aN(N)- yang menukar konsonan awal kata dasar dengan bunyi sengau) biasanya akan ditambahkan pada kalimat dengan fokus pada argumen pelaku, sementara kalimat dengan fokus pada argumen penderita tidak memilki imbuhan apapun dan hanya ditandai dengan ketiadaan klitik yang merujuk-silang argumen tersebut.[125] Contoh kalimat (22) memfokuskan argumen A atau pelaku, sementara contoh (23) memfokuskan argumen P atau penderita.[124]

(22)
Kongkonga ambunoi mionga

kongkong

anjing

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

aN-

AF-

buno

bunuh

=i

=3

miong

kucing

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

kongkong ≡a aN- buno =i miong ≡a

anjing ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). AF- bunuh =3 kucing ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

'Si anjing membunuh si kucing.'[124]

(23)
Mionga nabuno kongkonga

miong

kucing

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

na=

3=

buno

bunuh

kongkong

anjing

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

miong ≡a na= buno kongkong ≡a

kucing ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). 3= bunuh anjing ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

'Si anjing membunuh si kucing.'[124]

Topikalisasi

sunting

Topikalisasi merupakan proses pelepasan ke kiri (left dislocation), atau pengedepanan unsur kalimat yang disertai jeda prosodik antara unsur tersebut dan unsur kalimat lainnya. Topikalisasi berbeda dari fokus karena argumen inti yang dijadikan topik tetap harus dirujuk-silang. Secara fungsi, topikalisasi biasanya digunakan untuk menetapkan topik baru dalam sebuah naskah atau percakapan.[126] Perbedaan antara topik dan fokus dapat dilihat dalam contoh (24–25). Dalam kedua contoh tersebut, argumen A (kongkonga) berada pada posisi topik dan dirujuk-silang oleh klitik na=, tetapi dalam contoh (25), argumen P (mionga) yang berada pada posisi fokus tidak dirujuk-silang oleh klitik apapun.[127]

(24)
Kongkonga, nabunoi mionga

kongkong

anjing

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

na=

3=

buno

bunuh

=i

=3

miong

kucing

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

kongkong ≡a na= buno =i miong ≡a

anjing ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). 3= bunuh =3 kucing ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

'Mengenai si anjing, ia membunuh si kucing.'[127]

(25)
Kongkonga, mionga nabuno

kongkong

anjing

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

miong

kucing

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

na=

3=

buno

bunuh

kongkong ≡a miong ≡a na= buno

anjing ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). kucing ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). 3= bunuh

'Mengenai si anjing, si kucinglah yang ia bunuh.'[127]

Kala, aspek, dan modalitas

sunting
Klitik kala dan aspek (merah) diletakkan sebelum klitik pronomina (hijau) baik sebelum maupun setelah kata dasar (biru)

Selain klitik pronomina persona yang dipakai untuk merujuk-silang argumen dalam sebuah kalimat, bahasa Makassar juga memiliki serangkaian klitik yang digunakan untuk memarkahi makna gramatikal seperti kala (tense), aspek, modalitas, serta polaritas (pembenaran dan penyangkalan). Klitik yang termasuk golongan ini adalah proklitik la= Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). dan ta= Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)., serta enklitik =mo Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)., =pa Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)., =ja Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)., dan =ka Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..[128] Klitik jenis ini secara umum diletakkan sebelum klitik pronomina (jika ada), baik dalam posisi awal atau akhir kata dasar yang diimbuhinya.[129] Bunyi vokal dalam enklitik aspek/modalitas akan dibuang jika diikuti oleh enklitik pronomina =aʼ dan =i, dengan pengecualian enklitik =ka yang menjadi =kai jika dipasangkan dengan =i.[130] Tabel berikut menunjukkan kombinasi antara enklitik aspek/modalitas dan pronomina:[131]

6. Enklitik aspek/modalitas dan pronomina[131]
=aʼ Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =kiʼ Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)./Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =kang Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =ko Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =i Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).
=mo Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =maʼ =makiʼ =makang =mako =mi
=pa Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =paʼ =pakiʼ =pakang =pako =pi
=ja Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =jaʼ =jakiʼ =jakang =jako =ji
=ka Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). =kaʼ =kakiʼ =kakang =kako =kai

Proklitik ta=, walaupun merupakan morfem penyangkal yang paling dasar dalam bahasa Makassar, bukan merupakan penyangkal yang paling umum digunakan. Konstruksi sangkalan pada umumnya menggunakan gabungan kata yang sudah mengalami gramatikalisasi seperti taena 'tidak'.[131]

Sementara, proklitik la= dapat digunakan untuk menyatakan kala mendatang (future tense) atau makna 'akan', seperti dalam contoh berikut:[132]

Lamangeaʼ ri pasaraka ammuko

la=

FUT=

mange

pergi

=aʼ

=1

ri

PREP

pasaraʼ

pasar

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

ammuko

besok

la= mange =aʼ ri pasaraʼ ≡a ammuko

FUT= pergi =1 PREP pasar ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). besok

'Saya akan pergi ke pasar besok.'[132]

Proklitik la= juga dapat ditemui dalam pertanyaan, seperti dalam ungkapan lakereko mae? atau lakeko mae? 'kamu mau ke mana?' (arti harfiah: 'di mana kamu akan berada?') yang merupakan sapaan umum di Makassar.[132]

Penggunaan klitik perfektif =mo bersamaan dengan la= menandakan bahwa hal yang dirujuk oleh kedua klitik tersebut akan segera terjadi.[132]

Lakusaremako paʼarengang

la=

FUT=

ku=

1=

sare

beri

=mo

=PFV

=ko

=2FAM

pa>

NR>

aK-

MV-

areng

nama

<ang

<NR

la= ku= sare =mo =ko pa> aK- areng <ang

FUT= 1= beri =PFV =2FAM NR> MV- nama <NR

'Akan kuberikan engkau penamaan (sekarang juga).'[132]

Enklitik =mo sendiri pada dasarnya merupakan pemarkah aspek perfektif atau makna 'sudah/telah'.[133]

Pirambulammi battanta? Sibulammaʼ tacciniʼ ceraʼ

piraN-

berapa

bulang

bulan

=mo

=PFV

=i

=3

battang

perut

≡ta

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

si-

se-

bulang

bulan

=mo

=PFV

=aʼ

=1

ta=

NEG=

aK-

MV-

ciniʼ

lihat

ceraʼ

darah

piraN- bulang =mo =i battang ≡ta si- bulang =mo =aʼ ta= aK- ciniʼ ceraʼ

berapa bulan =PFV =3 perut ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS se- bulan =PFV =1 NEG= MV- lihat darah

'Sudah berapa bulan Anda hamil? Sudah sebulan saya lihat tidak ada darah.'[133]

Enklitik ini juga memiliki makna deontik (menandakan keharusan atau kepastian) dan dapat digunakan dalam konstruksi imperatif seperti dalam contoh (9). Dalam konstruksi interogatif, penambahan enklitik =mo menandakan bahwa penanya menginginkan jawaban yang pasti.[134]

Ammempomakiʼ

amm-

MV-

empo

duduk

=mo

=PFV

=kiʼ

=2POL

amm- empo =mo =kiʼ

MV- duduk =PFV =2POL

'Duduklah.'[133]

Keremi mae pammantangannu?

kere

di mana

=mo

=PFV

=i

=3

mae

ada

pa>

NR>

amm-

MV-

antang

tinggal

<ang

<NR

≡nu

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

kere =mo =i mae pa> amm- antang <ang ≡nu

{di mana} =PFV =3 ada NR> MV- tinggal <NR ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

'Di mana sebetulnya tempat tinggalmu?'[135]

Lawan dari =mo adalah enklitik imperfektif =pa, yang menyampaikan makna 'belum usai' atau 'masih'.[135]

Ingka seʼrepi kuboya

ingka

tetapi

seʼre

satu

=pa

=IPF

=i

=3

ku=

1=

boya

cari

ingka seʼre =pa =i ku= boya

tetapi satu =IPF =3 1= cari

'Tetapi masih ada satu hal lagi yang hendak kucari.'[135]

Makna 'saja, hanya' (dalam artian 'tidak lebih dari' atau 'tiada lain selain') disampaikan oleh enklitik limitatif =ja. Contoh penggunaan:[136]

Mannantu lompo, lompo bannanji

manna

walaupun

antu

itu

lompo

besar

lompo

besar

bannang

benang

=ja

=LIM

=i

=3

manna antu lompo lompo bannang =ja =i

walaupun itu besar besar benang =LIM =3

'Walaupun tebal, tebal benang sajalah itu.'[136]

Enklitik =ka memiliki dua fungsi. Dalam kalimat tanya, enklitik ini digunakan untuk meminta kepastian atau mengklarifikasi pernyataan lawan bicara, serupa partikel question tag dalam bahasa Inggris.[137]

Lanaungkako?

la=

FUT=

naung

turun

=ka

=OR

=ko

=2FAM

la= naung =ka =ko

FUT= turun =OR =2FAM

'Kau jadi turun atau tidak?'[138]

Fungsi lain enklitik =ka adalah untuk memarkahi pilihan atau kemungkinan, misalnya tedong=ka jarang=ka (kerbau=Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). kuda=Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).) '[pilihannya] antara kerbau atau kuda'. Contoh penggunaan yang lebih panjang dapat dilihat dari kutipan mukadimah Sejarah Gowa berikut:[138]

Ka punna taniassenga ruai kodina kisaʼringkai kalenta karaeng–dudu na kanaka tau ipantaraka tau bawang–dudu

ka

BCS

punna

jika

ta=

NEG=

ni-

PASS-

asseng

tahu

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

rua

dua

=i

=3

kodi

buruk

≡na

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

ki=

2POL=

saʼring

rasa

=ka

=OR

=i

=3

kale

diri

≡nta

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

karaeng

raja

dudu

sangat

na

dan

kana

kata

=ka

=OR

tau

orang

i

PREP

pantaraʼ

luar

≡a

Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).

tau

orang

bawang

biasa

dudu

sangat

ka punna ta= ni- asseng ≡a rua =i kodi ≡na ki= saʼring =ka =i kale ≡nta karaeng dudu na kana =ka tau i pantaraʼ ≡a tau bawang dudu

BCS jika NEG= PASS- tahu ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). dua =3 buruk ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS 2POL= rasa =OR =3 diri ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS raja sangat dan kata =OR orang PREP luar ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). orang biasa sangat

'Sebab jikalau [kisah para karaeng terdahulu] tidak diketahui, ada dua bahayanya: entah kita merasa bahwa kita ini setara dengan para karaeng, atau orang luar akan mengira bahwa kita ini orang yang biasa-biasa saja.'[138]

Simbol dan singkatan istilah

sunting
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). persona pertama
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). persona kedua
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). persona ketiga
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). absolutif
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). fokus aktor/pelaku
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). sebab, karena
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). bivalen/dwivalen
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). definit/takrif
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). ergatif
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). eksklusif
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). bentuk akrab
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). kala mendatang
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). inklusif
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). monovalen/ekavalen
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). negasi/sangkalan
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). pembentuk nomina
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). atau, partikel tanya
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). ordinal/urutan
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). personal
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). aspek perfektif
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). bentuk sopan
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). pemarkah posesi/kepunyaan
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). preposisi
Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). reduplikasi/perulangan

Keterangan

sunting
  1. ^ Etimostatistik adalah sebuah metode analisis kosakata kembangan linguis Rusia Sergei Starostin. Metode ini menghitung seberapa banyak kosakata dari secuplik teks dalam satu bahasa yang dapat ditemukan kognatnya dalam bahasa lain.[8]
  2. ^ Functor statistics adalah sebuah metode analisis kosakata yang membandingkan antara morfem inti seperti pronomina, kata tunjuk, kata tanya, konjungsi, imbuhan dan sebagainya.[9]
  3. ^ Grimes & Grimes (1987) mendaftar dialek keempat, yaitu dialek Maros-Pangkep, terpisah dari dialek Gowa.[16] Glottolog versi 4.1 mengutip kajian ini dan memasukkan Maros-Pangkep sebagai salah satu dari tiga dialek bahasa Makassar, minus dialek Bantaeng.[17]
  4. ^ EGIDS merupakan singkatan dari Expanded Graded Intergenerational Disruption Scale, sebuah skala yang menilai seberapa parah pemutusan rantai transmisi antargenerasi bagi sebuah bahasa. Tingkat 1 menandakan bahwa bahasa tersebut lazim digunakan dalam komunikasi antarbangsa, sementara tingkat 10 menandakan bahwa bahasa tersebut telah punah.[31]
  5. ^ Khusus dalam contoh ini, tilde (tanda gelombang) ganda menandakan penyengauan yang lebih kuat daripada tilde tunggal.[44]
  6. ^ Pengucapan fonem /w/ melibatkan dua tempat artikulasi, yaitu bibir (labial) dan lelangit lembut (velar).
  7. ^ Contoh kata dalam dua baris pertama yang diarsir kelabu bukan merupakan kata dasar.[54]
  8. ^ "Klitik afiksal" atau "afiks frasa" merupakan sekumpulan morfem dalam bahasa Makassar yang memiliki sifat serupa afiks (karena dihitung untuk menentukan tekanan) maupun klitik (karena terikat dengan frasa alih-alih kata). Batas antara klitik afiksal dan morfem yang diimbuhinya ditandai dengan simbol ≡.[64]
  9. ^ S merupakan subjek dari kalimat intransitif, A merupakan subjek kalimat transitif, dan P merupakan objek kalimat transitif. Jika sebuah bahasa memperlakukan S dan P dengan cara yang sama, maka kedua argumen ini digolongkan sebagai bentuk absolutif, sementara A yang diperlakukan berbeda digolongkan sebagai bentuk ergatif. Jika sebuah bahasa memperlakukan S dan A dengan cara yang sama, keduanya disebut sebagai bentuk nominatif, sedangkan P yang diperlakukan berbeda disebut sebagai bentuk akusatif.
  10. ^ Singkatan glos dan pemarkah antarmorfem pada contoh-contoh di artikel ini telah diselaraskan mengikuti Jukes (2020). Simbol - digunakan untuk imbuhan, = untuk klitik, dan ≡ untuk klitik afiksal. Klitik pronomina hanya dilabeli secara minimal dengan makna persona, semisal Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value).= untuk proklitik persona pertama ('ergatif'), dan =Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value). untuk enklitik persona ketiga ('absolutif').[75]
  11. ^ "Dasar verba" yang dimaksud adalah verba dengan awalan aK- atau aN(N)-.[93] Manyambeang, Mulya & Nasruddin (1996) menganalisis bentuk ini sebagai paK-/paN(N)- + akar verba,[94] tetapi Jukes berpendapat bahwa analisis ini kurang elegan karena mengasumsikan jumlah morfem imbuhan yang lebih banyak. Selain itu, analisis ini juga tidak dapat menjelaskan mengapa paK- dan paN(N)- lazimnya ditemui pada verba yang dapat diimbuhi aK- dan aN(N)-.[93]
  12. ^ Contohnya seperti verba kausatif yang diturunkan dari akar verba dengan imbuhan pa- (homonim dengan imbuhan pembentuk nomina) atau diturunkan dari akar adjektiva dengan paka-.[95]
  13. ^ Khusus untuk bentuk ini, Jukes menganalisis awalannya sebagai paK- alih-alih pa- + aK-, karena adjektiva dapat berdiri sendiri sebagai predikat tanpa diimbuhi aK-.[98]
  14. ^ Contoh penggunaan:[101]
    Kagassing-gassingannami

    ka>

    NR>

    gassing-

    RDP-

    gassing

    kuat

    <ang

    <NR

    ≡na

    Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS

    =mo

    =PFV

    =i

    =3

    ka> gassing- gassing <ang ≡na =mo =i

    NR> RDP- kuat <NR ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a nil value)..POSS =PFV =3

    'Dia sudah mencapai puncak kekuatannya' atau 'dia sedang kuat-kuatnya'

Rujukan

sunting

Sitiran

sunting
  1. ^ a b Ananta et al. (2015), hlm. 278.
  2. ^ Jukes (2005), hlm. 122.
  3. ^ "Bahasa Makassar". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
  4. ^ Smith (2017), hlm. 443–444.
  5. ^ Grimes & Grimes (1987), hlm. 25–29.
  6. ^ a b Grimes & Grimes (1987), hlm. 25.
  7. ^ Jukes (2005), hlm. 649.
  8. ^ Sirk (1989), hlm. 72.
  9. ^ a b Sirk (1989), hlm. 72–73.
  10. ^ Jukes (2020), hlm. 24–25.
  11. ^ a b Jukes (2020), hlm. 20.
  12. ^ a b Grimes & Grimes (1987), hlm. 25–26.
  13. ^ a b Friberg & Laskowske (1989), hlm. 3.
  14. ^ a b c Manyambeang, Mulya & Nasruddin (1996), hlm. 2–4.
  15. ^ a b Jukes (2020), hlm. 20–21.
  16. ^ Grimes & Grimes, hlm. 25–26.
  17. ^ Hammarström, Forkel & Haspelmath (2019).
  18. ^ Ananta et al. (2015), hlm. 278, 280.
  19. ^ a b Tabain & Jukes (2016), hlm. 99.
  20. ^ Ananta et al. (2015), hlm. 280.
  21. ^ Ananta et al. (2015), hlm. 292.
  22. ^ a b c Jukes (2020), hlm. 4.
  23. ^ a b Grimes & Grimes (1987), hlm. 27.
  24. ^ Manyambeang, Mulya & Nasruddin (1996), hlm. 2.
  25. ^ Grimes & Grimes (1987), hlm. 28.
  26. ^ Manyambeang, Mulya & Nasruddin (1996), hlm. 3.
  27. ^ Bellwood (2007), hlm. 119.
  28. ^ Mills (1975), hlm. 217.
  29. ^ a b Jukes (2020), hlm. 30.
  30. ^ Tabain & Jukes (2016), hlm. 100.
  31. ^ Lewis & Simons (2010), hlm. 109–113.
  32. ^ Eberhard, Simons & Fennig (2020).
  33. ^ Hadrawi (2015), hlm. 224.
  34. ^ Mattulada (1976), hlm. 10.
  35. ^ Rahman & Salim (1996), hlm. 61.
  36. ^ Tempomedia (2002-04-08). "Mencari Jejak La Galigo". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-03-14.
  37. ^ "Bahasa Daerah yang Terancam Punah". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-03-14.
  38. ^ Nuah, Oliviane (2018-10-18). "Redupnya Aksara Dalam Budaya Bugis - Makassar". Makassar Terkini. Diakses tanggal 2020-03-14.
  39. ^ a b c Jukes (2020), hlm. 85.
  40. ^ Manyambeang, Mulya & Nasruddin (1996), hlm. 23.
  41. ^ a b c Tabain & Jukes (2016), hlm. 107.
  42. ^ Jukes (2020), hlm. 86.
  43. ^ Tabain & Jukes (2016), hlm. 105.
  44. ^ a b Jukes (2020), hlm. 90.
  45. ^ a b Jukes (2005), hlm. 651.
  46. ^ a b c Tabain & Jukes (2016), hlm. 101.
  47. ^ Jukes (2020), hlm. 70.
  48. ^ Jukes (2020), hlm. 69–71, 73.
  49. ^ Tabain & Jukes (2016), hlm. 101–102.
  50. ^ Jukes (2020), hlm. 71.
  51. ^ Jukes (2020), hlm. 93.
  52. ^ Jukes (2020), hlm. 93–94.
  53. ^ Jukes (2020), hlm. 94–95.
  54. ^ a b Jukes (2020), hlm. 98.
  55. ^ a b Jukes (2020), hlm. 108.
  56. ^ Macknight (2012), hlm. 10.
  57. ^ a b Basri, Broselow & Finer (1999), hlm. 26.
  58. ^ a b Jukes (2020), hlm. 107, 109.
  59. ^ a b c Tabain & Jukes (2016), hlm. 108.
  60. ^ Jukes (2020), hlm. 97, 99–100.
  61. ^ Jukes (2005), hlm. 651–652.
  62. ^ a b c Jukes (2020), hlm. 101.
  63. ^ Basri, Broselow & Finer (1999), hlm. 25–26.
  64. ^ Jukes (2020), hlm. 133–134.
  65. ^ Jukes (2005), hlm. 652, 656, 659.
  66. ^ Basri, Broselow & Finer (1999), hlm. 27.
  67. ^ Jukes (2005), hlm. 652–653.
  68. ^ Jukes (2005), hlm. 653.
  69. ^ Basri, Broselow & Finer (1999), hlm. 26–27.
  70. ^ Jukes (2005), hlm. 655, 658.
  71. ^ a b Jukes (2020), hlm. 171.
  72. ^ a b c Jukes (2020), hlm. 169.
  73. ^ Macknight (2012), hlm. 13.
  74. ^ Jukes (2020), hlm. 169–170.
  75. ^ Jukes (2020), hlm. xvii–xviii.
  76. ^ a b c Jukes (2020), hlm. 170.
  77. ^ Jukes (2005), hlm. 657.
  78. ^ a b Jukes (2020), hlm. 147, 196.
  79. ^ Jukes (2020), hlm. 147.
  80. ^ Jukes (2020), hlm. 196.
  81. ^ Jukes (2020), hlm. 196–197.
  82. ^ a b Jukes (2020), hlm. 197.
  83. ^ a b Jukes (2020), hlm. 199.
  84. ^ Jukes (2020), hlm. 197, 199–200.
  85. ^ Jukes (2020), hlm. 203–207.
  86. ^ Jukes (2020), hlm. 208.
  87. ^ Jukes (2020), hlm. 208–222.
  88. ^ Manyambeang et al. (1979), hlm. 38–39, 43–44, 46.
  89. ^ Jukes (2020), hlm. 208–209.
  90. ^ Mursalin et al. (1981), hlm. 45.
  91. ^ Jukes (2020), hlm. 209–210.
  92. ^ Manyambeang et al. (1979), hlm. 38.
  93. ^ a b Jukes (2020), hlm. 211.
  94. ^ Manyambeang, Mulya & Nasruddin (1996), hlm. 82–83.
  95. ^ a b c Jukes (2020), hlm. 211–212.
  96. ^ Manyambeang et al. (1979), hlm. 38–39.
  97. ^ Jukes (2020), hlm. 214–215.
  98. ^ a b Jukes (2020), hlm. 216–217.
  99. ^ Jukes (2020), hlm. 216–218.
  100. ^ a b Manyambeang et al. (1979), hlm. 46.
  101. ^ Jukes (2020), hlm. 218.
  102. ^ Jukes (2020), hlm. 218–219.
  103. ^ Jukes (2020), hlm. 219–220.
  104. ^ Jukes (2020), hlm. 221–222.
  105. ^ Manyambeang et al. (1979), hlm. 43–44.
  106. ^ Jukes (2020), hlm. 209.
  107. ^ Jukes (2020), hlm. 212–213.
  108. ^ Manyambeang et al. (1979), hlm. 38, 57.
  109. ^ Jukes (2020), hlm. 215–216.
  110. ^ Jukes (2020), hlm. 222.
  111. ^ Jukes (2020), hlm. 222–224.
  112. ^ a b Jukes (2020), hlm. 223.
  113. ^ Jukes (2020), hlm. 224–226.
  114. ^ Jukes (2020), hlm. 224.
  115. ^ a b Jukes (2020), hlm. 225.
  116. ^ Jukes (2020), hlm. 137, 224.
  117. ^ a b c Jukes (2020), hlm. 226.
  118. ^ a b Jukes (2013a), hlm. 68.
  119. ^ a b c d e f g h i Jukes (2013a), hlm. 69.
  120. ^ a b c d e Jukes (2013a), hlm. 70.
  121. ^ Jukes (2013a), hlm. 69–70.
  122. ^ Jukes (2013a), hlm. 70–71.
  123. ^ a b c Jukes (2013a), hlm. 79.
  124. ^ a b c d Jukes (2005), hlm. 667.
  125. ^ Jukes (2013a), hlm. 80.
  126. ^ Jukes (2020), hlm. 338–339.
  127. ^ a b c Jukes (2005), hlm. 668.
  128. ^ Jukes (2013b), hlm. 123–124.
  129. ^ Jukes (2013b), hlm. 124.
  130. ^ Jukes (2020), hlm. 126, 132.
  131. ^ a b c Jukes (2013b), hlm. 125.
  132. ^ a b c d e Jukes (2013b), hlm. 127.
  133. ^ a b c Jukes (2013b), hlm. 128.
  134. ^ Jukes (2013b), hlm. 128–129.
  135. ^ a b c Jukes (2013b), hlm. 129.
  136. ^ a b Jukes (2013b), hlm. 130.
  137. ^ Jukes (2020), hlm. 132–133.
  138. ^ a b c Jukes (2020), hlm. 133.

Daftar pustaka

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Behind Every Star

Joo Hyun-young. Didasarkan pada Call My Agent!, dijadwalkan tayang perdana di tvN pada paruh kedua tahun 2022. "Method Ent. [Title in the URL]". TVING

Bahasa Tae’

to call method 'print' (a nil value)..POSS sule =i ambe' ≡ku pulang =3 bapak ≡Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print'

The Breaks (film)

ini dibintangi Wood Harris, Mack Wilds, Afton Williamson, David Call dan rapper Method Man. Terinspirasi oleh buku seorang wartawan Dan Charnas The Big

Bahasa Melayu Serui

attempt to call method 'print' (a nil value). spatu sepatu sa pu spatu Saya Lua error in Modul:Interlinear at line 494: attempt to call method 'print' (a

S. C. Johnson & Son

perusahaan ini menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi merek kebersihan Method dan Ecover. Pada tahun 2009, perusahaan ini meluncurkan sebuah situs web

Grand Theft Auto V

Jim (16 September 2013). "Review: Grand Theft Auto V". Destructoid. ModernMethod/Destructoid LLC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Oktober 2013.

Bagman (Better Call Saul)

episode kedelapan dari musim kelima seri televisi drama Amerika Serikat Better Call Saul, seri sempalan dari Breaking Bad. Ditulis oleh Gordon Smith dan disutradarai

Python (bahasa pemrograman)

kelas objek; sintaks instance.method(argument) adalah, untuk metode dan fungsi normal, gula sintaksis untuk Class.method(instance, argument). Metode Python