Ilustrasi seorang pria Tionghoa paruh baya yang biasa dipanggil koh atau engkoh.

Koko (哥哥) adalah istilah dari bahasa Hokkien atau bahasa Hakka yang berarti "kakak laki-laki".[1][2] Dalam bahasa Betawi, sapaan koko biasanya disingkat menjadi koh atau ditambah prefiks menjadi engkoh. Sebutan engkoh-engkoh Glodok biasanya merujuk pada tipikal pria Tionghoa yang membuka usaha di Pecinan Jakarta, kadang digunakan sebagai panggilan kelakar untuk seorang pria Tionghoa.[3]

Dalam bahasa Indonesia penggunaan kata koko mengalami perubahan konteks, yakni untuk memanggil pria beretnis Tionghoa secara umum oleh orang non-Tionghoa, kadang tidak memandang tua atau muda. Sebenarnya penggunaan aslinya adalah untuk memanggil saudara kandung laki-laki yang lebih tua (abang). Sinonim lain yang sering dipakai dalam bahasa Hokkien adalah a-hiaⁿ (阿兄). Perempuan yang sedang jatuh cinta juga kadang memanggil pasangan prianya sebagai "koko" atau "ako".

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Koko Cici Jakarta

Koko Cici Jakarta adalah wujud dari minat besar generasi muda untuk menghidupkan kembali kekayaan seni dan budaya khas dari masyarakat Tionghoa, sebagai

Koko Krunch

Koko Krunch (juga dikenal sebagai Chocapic di Eropa dan Amerika Latin) adalah sereal sarapan gandum utuh rasa cokelat yang didistribusikan oleh Nestlé

Koko (gorila)

Koko (4 Juli 1971 – 19 Juni 2018) adalah seekor gorila betina peliharaan yang telah menyesuaikan diri dengan manusia dan dilatih oleh Dr Francine "Penny"

Kaisar Kōkō

Kaisar Kōkō adalah kaisar Jepang ke-58. Tokiyatsu Shinnō adalah putra ketiga dari Kaisar Nimmyō. Ibunya adalah Fujiwara no Sawako. Kaisar Jepang Brown

Koko Liem

Haji Muhammad Ustman Ansori, SQ, MA Al Hafizh atau Koko Liem (Lahir dengan nama Liem Hai Thai lahir 17 Januari 1979) adalah seorang ustadz etnis Tionghoa-Indonesia

Mang Koko

Koko Koswara (10 April 1917 – 4 Oktober 1985), atau dikenal sebagai Mang Koko, adalah seorang seniman Sunda sekaligus pelopor pembaharu karawitan Sunda

Soimah Pancawati

bersaudara pasangan Hadinarko dan Kasmiyati. Ia menikah dengan Herwan Prandoko (koko) dan dikaruniai dua orang putra yaitu, Aksa Uyun Dananjaya, dan Diksa Naja

Ayam pelung

diseleksi untuk penampilan fisik, ayam pelung diseleksi karena suara kokokannya yang panjang dan memiliki lagu, seperti ayam ketawa dan ayam Berg. Tentu