Bagan kode pos di Bukit Peninsula, Bali, Indonesia.

Kode atau sandi dalam komunikasi, semiotika, dan pemrosesan informasi adalah sistem aturan untuk mengubah suatu informasi (seperti gagasan, huruf, kata, suara, gambar, atau gerak isyarat) menjadi bentuk atau representasi lain untuk dikirimkan melalui saluran komunikasi atau disimpan dalam media penyimpanan data.

Proses mengubah informasi dari suatu sumber menjadi data yang disandikan disebut pengodean atau penyandian (encoding). Sebaliknya, pengawakodean atau pengawasandian (decoding) adalah proses kebalikannya, yaitu ekstraksi atau konversi data yang telah disandikan kembali menjadi informasi asalnya yang dapat dimengerti oleh penerima.[1]

Dalam komunikasi antarmanusia, proses penyandian adalah tindakan kognitif dalam memilih simbol-simbol (seperti kosakata tutur atau bahasa tubuh) untuk mengekspresikan pemikiran.[1] Sementara dalam ranah teknis, alasan utama melakukan pengodean informasi bervariasi, mulai dari menyesuaikan data dengan medium transmisi, menekan ukuran data (kompresi data), menjaga kerahasiaan pesan (kriptografi), hingga mendeteksi dan memperbaiki kesalahan transmisi (koreksi galat).

Etimologi

sunting

Kata "kode" diserap ke dalam bahasa Indonesia melalui bahasa Belanda code, yang berakar dari bahasa Prancis kuno, dan pada akhirnya diturunkan dari bahasa Latin codex atau caudex. Pada masa Romawi kuno, codex merujuk pada bongkahan kayu, yang kemudian maknanya berevolusi menjadi buku kayu berlapis lilin yang digunakan untuk menulis, hingga akhirnya merujuk pada "kumpulan undang-undang" atau sistem aturan tertulis.

Sementara itu, padanan kata "sandi" berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna "rahasia" atau "tersembunyi". Meskipun sering digunakan secara bergantian, "sandi" dalam bahasa Indonesia modern cenderung memiliki konotasi kerahasiaan (seperti dalam kata sandi), sedangkan "kode" lebih merujuk pada sistem representasi secara umum.

Dalam ilmu komunikasi dan semiotika

sunting

Dalam ilmu komunikasi dan semiotika, kode adalah seperangkat konvensi atau sistem tanda yang digunakan untuk menciptakan dan menyampaikan makna. Pemikir budaya Stuart Hall memperkenalkan model komunikasi "Encoding/Decoding" yang menyoroti bagaimana pesan media diproduksi (disandikan) oleh pembuatnya dan diinterpretasikan (diawakodekan) oleh audiensnya.

Dalam konteks ini, sebuah pesan tidak memiliki makna tunggal yang mutlak. Audiens dapat mengawakodekan sebuah pesan berdasarkan latar belakang budaya, pengalaman, dan kelas sosial mereka, yang kadang-kadang menghasilkan makna yang jauh berbeda dari niat asli pihak pengirim pesan (pengode).

Dalam teori informasi

sunting

Dalam teori informasi yang dipelopori oleh Claude Shannon, konsep kode digunakan secara matematis untuk menganalisis batas transmisi data.[2] Terdapat dua cabang utama terkait penyandian dalam bidang ini:

  • Penyandian sumber (Source coding): Bertujuan untuk memampatkan data dengan menghilangkan redundansi pada informasi asal. Contoh penerapannya adalah algoritme pengodean Huffman dan format kompresi audio MP3 atau Vorbis yang difasilitasi oleh penerapan aturan kodek (codec).
  • Penyandian kanal (Channel coding): Bertujuan untuk menambahkan bit-bit redundansi secara terstruktur pada data untuk membantu mendeteksi dan mengoreksi galat (error correction) yang mungkin terjadi akibat derau selama data ditransmisikan melalui saluran komunikasi, misalnya pada komunikasi satelit atau pita magnetik.

Dalam komputasi dan pemrosesan data

sunting

Di dalam ilmu komputer, arsitektur mesin mewakili semua data menggunakan kode biner, yaitu sistem bilangan yang hanya menggunakan dua digit: 0 dan 1. Karena komputer tidak memahami teks atau huruf secara langsung, digunakan berbagai standar pengodean untuk menjembataninya.

  • Penyandian karakter (Character encoding): Mengubah karakter teks menjadi deretan angka yang dapat diproses komputer. Standar awal yang paling terkenal adalah ASCII, yang memetakan abjad bahasa Inggris dan simbol ke dalam angka 7-bit. Saat ini, standar yang paling luas digunakan secara global adalah Unicode (termasuk implementasi UTF-8), yang mampu menyandikan hampir seluruh aksara dan emoji di dunia.[3]
  • Pengodean URL (URL encoding): Mengubah karakter-karakter khusus menjadi format rentetan karakter yang diizinkan dan aman untuk ditransmisikan melalui HTTP di World Wide Web.
  • Kode sumber (Source code): Kumpulan instruksi yang ditulis oleh pemrogram menggunakan bahasa pemrograman tertentu yang nantinya akan diterjemahkan (dikompilasi) menjadi kode mesin agar dapat dieksekusi oleh perangkat keras.

Perbedaan dengan kriptografi

sunting

Dalam ilmu komputer dan keamanan informasi, encoding (pengodean) sangat berbeda dengan enkripsi (penyandian rahasia).

  • Pengodean (contoh: Base64) murni bertujuan agar data dapat ditransmisikan atau dibaca oleh sistem yang berbeda menggunakan algoritme konversi yang formatnya terbuka untuk publik. Tidak ada unsur kerahasiaan.
  • Enkripsi bertujuan menyembunyikan isi data dari pihak yang tidak berwenang dan secara mutlak memerlukan kunci kriptografik (key) rahasia untuk membukanya.[4]

Kode fisik, taktil, dan simbolis

sunting

Dalam sejarah telekomunikasi dan peradaban manusia, representasi kode telah digunakan jauh sebelum penemuan mesin komputasi elektronik.

  • Kode Morse: Mengubah huruf-huruf teks menjadi serangkaian ketukan panjang (garis) dan pendek (titik) yang ditransmisikan melalui telegrafi, gelombang radio, atau kedipan cahaya.
  • Huruf Braille: Kode taktil (dapat diraba) yang terdiri dari pola titik-titik timbul. Braille memungkinkan penyandang tunanetra untuk membaca dan menulis menggunakan indera perabaan.
  • Kode batang (Barcode) dan Kode QR: Menyandikan teks atau urutan angka ke dalam pola garis atau kotak visual geometris dua dimensi yang dapat dipindai secara optik oleh mesin (seperti pemindai ritel atau kamera telepon pintar). Kode ini memicu revolusi besar dalam industri logistik, retail, dan manajemen data.
  • Semafor: Sistem pengodean informasi menggunakan posisi lengan, bendera, atau tiang mekanis untuk komunikasi visual jarak jauh, yang secara historis menjadi andalan di bidang maritim dan militer.

Dalam biologi

sunting

Istilah kode juga diadaptasi ke dalam terminologi biologi molekuler. Kode genetik adalah kumpulan aturan tak tertulis yang digunakan oleh sel hidup untuk menerjemahkan informasi yang disandikan di dalam materi genetik (DNA atau rangkaian mRNA) menjadi urutan asam amino pembentuk protein fungsional. Dalam sistem ini, urutan kodon (kombinasi tiga basa nukleotida) beroperasi layaknya sebuah bahasa alami yang dibaca dan dirakit oleh organel ribosom.

Kode sosial dan hukum

sunting

Di luar ranah teknis, istilah "kode" sering merujuk pada himpunan tata tertib atau hukum yang disepakati oleh suatu masyarakat atau profesi:

  • Kode etik (Code of ethics): Prinsip-prinsip moral tertulis yang mengatur perilaku para profesional, seperti kode etik kedokteran atau jurnalistik.
  • Aturan berbusana (Dress code): Panduan tidak tertulis maupun tertulis mengenai pakaian apa yang dianggap pantas dikenakan pada sebuah acara, lingkungan kerja, atau institusi sekolah tertentu.
  • Kode hukum (Legal code): Kompilasi tertulis undang-undang dan peraturan hukum di suatu yurisdiksi, contoh klasiknya adalah Kode Hammurabi dari Babilonia kuno.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b Curtis, Dan B; Floyd, James J.; Winsor, Jerryl L. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Remaja Rosdakarya, Bandung. 1996. Hal 8.
  2. ^ Shannon, Claude E. (1948). "A Mathematical Theory of Communication". Bell System Technical Journal. 27 (3): 379–423.
  3. ^ "Unicode 15.0 Character Code Charts". Unicode Consortium. Diakses tanggal 2 Juni 2026.
  4. ^ Kahn, David (1967). The Codebreakers: The Story of Secret Writing. Macmillan. ISBN 978-0684831305.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kode pos

Kode Pos (bahasa Inggris: postal code atau ZIP codecode: en is deprecated ) adalah serangkaian karakter (angka atau huruf) yang ditambahkan pada alamat

Kode Morse

Kode Morse atau 'Sandi Morse' adalah sistem representasi huruf, angka, tanda baca dan sinyal dengan menggunakan kode titik dan garis yang disusun mewakili

Kode respons cepat

Kode QR, kode RC, kode respons cepat, atau kode cepat tanggap (bahasa Inggris: Quick Response codecode: en is deprecated ) adalah bentuk evolusi kode

Daftar kode telepon negara di dunia

Daftar kode telepon di dunia ini diatur oleh Uni Telekomunikasi Internasional (International Telephone Union, ITU) dan juga dikenal sebagai Kode IDD (International

Kode maskapai penerbangan

dunia, yaitu kode maskapai penerbangan IATA, ICAO, dan kode panggil. Kode maskapai IATA, kadang-kadang disebut kode reservasi IATA, adalah kode dua-karakter

Kode telepon

Kode negara atau kode telepon adalah kode yang digunakan untuk menelpon dari luar negeri menuju negara tersebut. Kadang kala beberapa negara yang berbeda

Daftar kode negara Komite Olimpiade Internasional

Kode negara IOC adalah kode negara dengan tiga huruf yang diberikan oleh Komite Olimpiade Internasional kepada setiap Komite Olahraga nasional atau kelompok

Nomor telepon di Indonesia

Kode telepon di Indonesia memiliki sistem yang berbeda untuk telepon rumah dan telepon seluler: telepon rumah menggunakan kode area, sedangkan telepon