Empat Kiblat Surakarta atau yang sering disebut juga sebagai Titik Kiblat Surakarta adalah sebuah titik kiblat (khayal) di Kesunanan Surakarta Hadiningrat. Titik ini mirip seperti Titik Imajiner Yogyakarta, Empat Titik Kiblat ini memanjang dari timur, barat, utara ke selatan yang menghubungkan Gunung Merapi di barat, Gunung Lawu di timur, Alas Krendhawana di utara dan Pantai Paranggupito di selatan melewati Keratom Surakarta.[1]

The Four Qiblas of Surakarta and Their Historical Buildings
Situs Warisan Dunia UNESCO
KriteriaCultural: ii, iii

Titik ini memiliki makna filosofis yang sangat tinggi di kesunanan tersebut dan menjadi salah satu acuan tata kota dari wilayah yang dilewatinya. Selain itu, keberadaan titik kiblat ini menjadi keunikan tersendiri bagi Kota Surakarta dari kota-kota lainnya, termasuk kota-kota peninggalan Kesultanan Mataram yang lain.

Sejarah

sunting

Kesultanan Mataram yang kacau akibat pemberontakan Trunajaya pada tahun 1677 ibu kotanya oleh Sri Susuhunan Amangkurat II dipindahkan di Keraton Kartasura. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan, pada tahun 1742, terjadi perang besar hingga menyebabkan Mataram mendapat serbuan dari orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC, dan Mataram yang berpusat di Kartasura saat itu mengalami keruntuhannya. Kota Kartasura berhasil direbut kembali berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV, penguasa Bangkalan yang merupakan sekutu VOC, tetapi keadaannya sudah rusak parah. Sri Susuhunan Pakubuwana II yang menyingkir ke Ponorogo, kemudian memutuskan untuk membangun istana baru di Desa Sala sebagai ibu kota Mataram yang baru.

Bangunan Keraton Kartasura yang sudah hancur pun kemudian dianggap sudah "tercemar". Sri Susuhunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Hanggawangsa bersama Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota dan tempat pembangunan keraton yang baru. Setelah menemukan lokasi yang tepat, dibangunlah keraton baru berjarak sekitar 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, tepatnya di Desa Sala, tidak jauh dari Bengawan Solo. Untuk pembangunan keraton ini, Sri Susuhunan Pakubuwana II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gedhe Sala. Saat keraton dibangun, Ki Gedhe Sala meninggal dan dimakamkan pada salah satu tempat di area Baluwarti, kawasan di dalam tembok kompleks keraton.

Setelah istana kerajaan selesai dibangun dan ditempati, nama Desa Sala kemudian diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Kata sura dalam Bahasa Jawa berarti "keberanian" dan karta berarti "makmur"; dengan harapan bahwa Surakarta menjadi tempat dimana penghuninya adalah orang-orang yang selalu berani berjuang untuk kebaikan serta kemakmuran negara dan bangsa. Dapat pula dikatakan bahwa nama Surakarta merupakan kebalikan kata dari Kartasura.

Sri Susuhunan Pakubuwana II mulai membangun keraton dengan konsep dan perencanaan yang memiliki nilai historis maupun nilai filosofis. Dalam desain pembangunan tersebut, Pakubuwana II mengatur tata kota yang jika ditarik titik tengah tepat menjadi sebuah sumbu dengan menjadikan 4 tempat sebagai kiblat.[2] Selain itu, ia juga membangun kota dengan berkonsep Catur Gatra Tunggal yang menyatukan elemen pemerintahan, ekonomi, sosial, dan agama. Di antaranya dengan membangun Keraton Surakarta Pasar Gede , Alun-alun Utara, Alun-alun Selatan, dan Masjid Agung .[3][4][5]

Rute garis

sunting

Pantai Paranggupito

sunting

Pantai Paranggupito menjadi titik selatan kiblat ini. Pantai ini menjadi tempat prosesi upacara labuhan Paranggupito dilaksanakan. Sebagai salah satu pantai di laut selatan, bermakna mitologis dengan keberadaan penguasa pantai selatan yakni Nyi Roro Kidul.[6]

Kori Srimanganti

sunting

Kori Srimanganti merupakan bangunan yang dipercayai menjadi tempat bertemunya Sri Susuhunan dengan Penguasa pantai selatan.[7] Selain sebagai penanda garis imajiner, Panggung Krapyak juga digunakan untuk sarana istirahat dan rekreasi keluarga sultan.[8]

Keraton

sunting

Keraton merupakan istana resmi Kesunanan Surakarta Hadiningrat. Keraton ini memiliki nilai filosofi dan mitologi yang sangat tinggi. Sebagai sebuah istana, maka bangunan ini digunakan sebagai tempat tinggal Susuhunan Surakarta. Bangunan istana umumnya dikenal terdiri atas tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu, keraton ini menjadi bagian tengah (pusat) dari garis imajiner ini.

Tugu Pemandengan

sunting

Tugu Surakarta merupakan sebuah monumen yang terletak di utara kraton. Konon jika ditarik garis lurus dari keraton ke arah timur melalui monumen ini akan sampai di Gunung Merapi, barat sampai di Gunung Lawu , utara sampai di Hutan Krendowahono, dan selatan Pantai Paranggupito Jawa. Tugu ini menjadi titik fokus raja pada masa lampau dalam mengambil sebuah keputusan masalah.[9]

Gunung Merapi

sunting

Gunung Merapi merupakan titik barat dari kiblat ini. Gunung Merapi terkenal dengan aktifnya aktivitas vulkanik yang meletus hampir dua hingga lima tahun sekali. Letusan terakhir yang terkenal memakan banyak korban adalah letusan 2010. Selain itu, Merapi menjadi tempat diadakannya labuhan Merapi setiap diadakannya labuhan di Keraton Surakarta.

Gunung Lawu

sunting

Gunung Lawu merupakan titik timur dari kiblat ini. Gunung Lawu merupakan tempat dimana para Raja Raja Surakarta bersemedi dan bertapa menyatukan dirinya dengan Alam, berbeda dengan Raja Raja Yogyakarta yang sering mendekatkan dirinya dengan Gunung Merapi.

Hutan Krendhawahana

sunting

Hutan Krendhawahana atau Alas Krendhowahono merupakan titik utara dari kiblat Keraton Surakarta yang dipercaya melindungi Keraton Surakarta dari utara, tempat bersemayam Kalayuwati yang menjadi sosok penunggu Hutan ini. Sering diadakan ritual adat Surakarta di Hutan ini untuk memperoleh keselamatan.

Makna filosofis

sunting

Secara filosofis, tata ruang Kota Surakarta memiliki makna filosofis yang sangat tinggi. Bentuk tata kota yang vertikal dari selatan ke utara melambangkan hubungan manusia kepada Sang Pencipta. Laut Selatan, Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Hutan Krendhawahana melambangkan sikap manusia yang berdampingan dengan Alam serta menyembah Sang Penciptanya.

Secara simbolis, titik kiblat ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta (Ḥablun min Allāh), hubungan manusia dengan sesamanya, dan juga titik Keraton sebagai manusia yang sebagai pusat semesta dan berselaraskan dengan sang Pencipta.

Referensi

sunting
  1. ^ RIATMOKO, FERGANATA INDRA (2024-07-27). "Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Gelar Tradisi Wilujengan Kiblat Sekawan". kompas.id. Diakses tanggal 2025-02-14.
  2. ^ Kumara 2016, hlm. 6–9.
  3. ^ Kumara 2016, hlm. 24–26.
  4. ^ "Cikal Bakal Keraton Surakarta". Surakarta.
  5. ^ "Empat Kiblat Keraton Solo". Surakarta.
  6. ^ "Sejarah Alas Krendowahono yang Menyimpan Cerita Penuh Legenda". kumparan. Diakses tanggal 2025-02-14.
  7. ^ "Kori Srimanganti". Surakarta. ;
  8. ^ Kumara 2016, hlm. 18–21.
  9. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-17. Diakses tanggal 2021-05-17.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Boris Milošević

otići u Knin: "Nakon 25 godina potrebno je prestati s mržnjom, prestati s ratom"". Dnevnik.hr (dalam bahasa Kroasia). "Croatia votes in a new government