Kecombrang
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monokotil
Klad: Commelinidae
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Etlingera
Spesies:
E. elatior
Nama binomial
Etlingera elatior

Kecombrang, kantan, atau honje (Etlingera elatior) dan dikenal dengan torch ginger dalam bahasa inggris. adalah sejenis tumbuhan rempah dan merupakan tumbuhan tahunan berbentuk terna yang bunga, buah, serta bijinya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran. Nama lainnya adalah honjé dan onjé (Sunda), sempol (Sas.), kincung (Medan), bungong kala (Aceh), bunga rias (Tapanuli),asam cekala (Karo), acem cikala (Pakpak), kumbang sekala (Lpg.), sambuang (Mng.), jaong (Kutai), takalu (Dayak Ma'anyan), lucu (Banyuwangi) serta combrang, bongkot, cirang (Jawa[2]) Orang Thai menyebutnya daalaa. Di Bali disebut kecicang sedangkan batang mudanya disebut bongkot kecicang dan keduanya bisa dipakai untuk sambal matah. Tumbuhan ini juga bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan herbal dan pakan ternak.[3]

Asal-usul

sunting

Kecombrang adalah tanaman asli Asia Tenggara. Tanaman ini berasal dari wilayah Thailand, Semenanjung Malaya, Sumetera, Jawa, dan Kalimantan. Di kemudian hari tanaman ini dibudidayakan juga di wilayah Indonesia lainnya, Filipina, Papua Nugini, Tiongkok bagian selatan-tengah, Kepulauan Pasifik, hingga Kepulauan Karibia.[3]

Deskripsi

sunting
Rumpun honje

Kecombrang berwarna kemerahan seperti jenis tanaman hias pisang-pisangan. Jika batangnya sudah tua, bentuk tanamannya mirip jahe atau lengkuas, dengan tinggi mencapai 5 m.[4]

Batang-batang semu bulat gilig, membesar di pangkalnya; tumbuh tegak dan banyak, berdekat-dekatan, membentuk rumpun jarang, keluar dari rimpang yang menjalar di bawah tanah. Rimpangnya tebal, berwarna krem, kemerah-jambuan ketika masih muda. Daun 15–30 helai tersusun dalam dua baris, berseling, di batang semu; helaian daun jorong lonjong, 20–90 cm × 10–20 cm, dengan pangkal membulat atau bentuk jantung, tepi bergelombang, dan ujung meruncing pendek, gundul tetapi dengan bintik-bintik halus dan rapat, hijau mengilap, sering dengan sisi bawah yang keunguan ketika muda.[5]

Kecombrang baru mekar

Bunga dalam karangan berbentuk gasing, bertangkai panjang 0,5–2,5 m × 1,5–2,5 cm, dengan daun pelindung bentuk jorong, 7–18 cm × 1–7 cm, merah jambu hingga merah terang, berdaging, melengkung membalik jika mekar. Kelopak bentuk tabung, panjang 3–3,5 cm, bertaju 3, terbelah. Mahkota bentuk tabung, merah jambu, hingga 4 cm. Labellum[6] serupa sudip, sekitar 4 cm panjangnya, merah terang dengan tepian putih atau kuning.[5]

Buah berjejalan dalam bongkol hampir bulat berdiameter 10–20 cm; masing-masing butir 2–2,5 cm besarnya, berambut halus pendek di luarnya, hijau dan menjadi merah ketika masak. Berbiji banyak, cokelat kehitaman, diselubungi salut biji (arilus) putih bening atau kemerahan yang berasa masam.[5]

Manfaat

sunting
Kecombrang, dari sisi atas
Kecombrang
Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz)
Energi0 kJ (0 kcal)
4.4 g
Serat pangan1.2 g
1.0 g
1.3 g
MineralKuantitas
%AKG
Kalsium
3%
32 mg
Tembaga
5%
0.1 mg
Zat besi
31%
4 mg
Magnesium
8%
27 mg
Fosfor
4%
30 mg
Potasium
12%
541 mg
Seng
1%
0.1 mg
Komponen lainnyaKuantitas
Air91 g
Persen AKG berdasarkan rekomendasi Amerika Serikat untuk orang dewasa.

Kecombrang atau bunga honje terutama dijadikan bahan campuran atau bumbu penyedap berbagai macam masakan di Nusantara. Kuntum bunga ini sering dijadikan lalap atau direbus lalu dimakan bersama sambal di Jawa Barat. Kecombrang yang dikukus juga kerap dijadikan bagian dari pecel di daerah Banyumas. Di Pekalongan, kecombrang yang diiris halus dijadikan campuran pembuatan megana, sejenis urap berbahan dasar nangka muda. Di Malaysia dan Singapura, kecombrang menjadi unsur penting dalam masakan laksa.

Di Tanah Karo, buah honje muda disebut asam cekala. Kuncup bunga serta "polong"nya menjadi bagian pokok dari sayur asam Karo; serta menjadi peredam bau amis sewaktu memasak ikan. Masakan Batak populer, arsik ikan mas, juga menggunakan asam cekala ini. Sementara kuncup bunganya biasa dimasak dengan daun singkong menjadi gule bulung gadung, masakan khas Tapanuli Selatan. Di Palabuhanratu, buah dan bagian dalam pucuk honje sering digunakan sebagai campuran sambal untuk menikmati ikan laut bakar.

Di Sulawesi Selatan, tanaman dan buah honje dikenal sebagai patikala, yang acap digunakan sebagai bumbu masakan untuk ikan kuah kuning atau pallu mara dan juga masakan kapurung di daerah Luwu, serta sebagai bumbu aneka jenis sayuran semacam urap. Tunas tanaman ini dipercaya menyembuhkan penyakit panas dalam dengan cara dipanggang atau dibakar, dan lalu dikonsumsi isinya.

Honje juga dapat dimanfaatkan sebagai sabun dengan dua cara: menggosokkan langsung batang semu honje ke tubuh dan wajah atau dengan mememarkan pelepah daun honje hingga keluar busa yang harum yang dapat langsung digunakan sebagai sabun. Tumbuhan ini juga dapat digunakan sebagai obat untuk penyakit yang berhubungan dengan kulit, termasuk campak.[4]

Dari rimpangnya, orang-orang Sunda memperoleh bahan pewarna kuning. Pelepah daun yang menyatu menjadi batang semu, pada masa lalu juga dimanfaatkan sebagai bahan anyam-anyaman; yaitu setelah diolah melalui pengeringan dan perendaman beberapa kali selama beberapa hari. Batang semu juga merupakan bahan dasar kertas yang cukup baik.[7]

Secara tradisional, masyarakat juga memanfaatkan kecombrang untuk obat herbal. Buahnya dapat digunakan untuk mengobati sakit telinga, sementara daunnya untuk menyembuhkan luka. Daun kecombrang juga dapat mengatasi bau badan bila dikombinasikan dengan rempah-rempah lain.[8]

Jenis yang serupa

sunting

Honje hutan (E. hemisphaerica (Bl.) R.M. Smith) memiliki rasa dan kegunaan yang serupa. Jenis ini sering tampak lebih kasar, dapat tumbuh hingga setinggi 7 m, dengan butir-butir buah yang lebih besar, 5 cm × 2,5 cm.[5]

Galeri

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ IUCN Detail 117234456
  2. ^ kincung [Ind] : combrang ut. têpus (ar. têtuwuhan). Sumber: Bausastra Indonesia-Jawi, Purwadarminta, c. 1939, #1979.
  3. ^ a b "Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm". Plants of the World Online (POWO) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-01-12.
  4. ^ a b Ardita, Ferdi. Sabun alami. Percik Yunior edisi 6 Oktober hal. 12. ISSN 1978-5429
  5. ^ a b c d Ibrahim, H. and F.M. Setyowati. 1999. Etlingera Giseke, dalam C.C. de Guzman and J.S. Siemonsma (eds.). Plant Resources of South-East Asia 13: Spices. PROSEA. Bogor. ISBN 979-8316-34-7. pp. 123-126.
  6. ^ bibir, yakni staminodia yang membesar, melebar, dan berwarna-warni
  7. ^ Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I: 586-7. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda -1922- I:538)
  8. ^ Supardi, Ahmad (2021-04-01). "Kecombrang, Tumbuhan Khas Indonesia yang Kaya Manfaat". Mongabay. Diakses tanggal 2025-01-12.

Pranala luar

sunting


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kesum

memanjang dengan ujungnya yang lancip. Aromanya khas dan mirip dengan kecombrang. Daun kesum tidak berkerabat dengan tanaman mint, juga tidak termasuk

Pecel

sambal pecel yang terbuat dari campuran kencur, gula merah, garam, cabai, kecombrang, daun jeruk purut, dan kacang tanah sangrai yang dicampur, ditumbuk, atau

Megono

dalam wadah yang tahan panas. Selanjutnya tambahkan irisan halus bunga kecombrang, kelapa parut, bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, terasi, kencur

Kuwah pliek u

melinjo, kacang panjang, kacang tanah, daun pepaya, daun singkong, rebung kecombrang,; kadang kala disajikan dengan chu (sejenis siput yang hidup di sungai)

Arsik

wilayah pegunungan Sumatera Utara, seperti andaliman dan asam cikala (buah kecombrang), lengkuas, dan serai. Bumbu-bumbu yang dihaluskan dilumuri pada tubuh

Hidangan Sunda

dijadikan sate, sate khas Sunda adalah sate maranggi dengan bumbu mengandung kecombrang. Gulai kambing dan empal gentong dari Cirebon juga populer sebagai sup

Sate

dibuat dari bumbu khusus, yaitu pucuk bunga kecombrang (Nicolaia speciosa) dan tepung ketan. Kecombrang memberikan aroma dan rasa yang seperti mentol

Pangkalan Bun (kota)

berwarna kecoklatan. Sambal lucung, sambal dari bahan Bunga Lucung atau Kecombrang. Harang Kadra, Yaitu Kopi tumbuk khas Kampung Raja. Kerupuk Basa yaitu