Jasinga
Bangunan bekas pendopo Kewedanaan Jasinga.
Bangunan bekas pendopo Kewedanaan Jasinga.
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenBogor
Pemerintahan
 • CamatSantoso
Populasi
 • Total107.493[1] jiwa
Kode Kemendagri32.01.19 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS3201280 Suntingan nilai di Wikidata
Luas536.016 km²
Desa/kelurahan16
Situs webkecamatanjasinga.bogorkab.go.id
Peta
PetaKoordinat: 6°29′39″S 106°27′3″E / 6.49417°S 106.45083°E / -6.49417; 106.45083

Jasinga (aksara Sunda: ᮏᮞᮤᮍ) adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Jasinga terletak di ujung barat Kabupaten Bogor, dan berjarak sekitar 50 km dari pusat Kota Bogor, 52nbsp;km dari pusat Kota Tangerang (via Curug), 78 km dari pusat Jakarta (via Curug.[2] Kecamatan Jasinga berbatasan langsung dengan Kabupaten Lebak di Provinsi Banten.[3]

Di kecamatan ini, terdapat pusat produksi golok yang dikenal sebagai golok tarisi, tepatnya di Kampung Cublek dan Kampung Tarisi, Desa Bagoang. Golok ini merupakan kombinasi dari gaya khas Tionghoa Benteng dan Sunda.[4]

Etimologi

sunting

Jasinga berasal dari kata Jayasingawarman yang merupakan nama raja pertama dari Kerajaan Tarumanagara.[5] Dengan demikian diperkirakan pusat Kerajaan Tarumanagara pertama kali kemungkinan berada di kawasan Jasinga sekarang. Di desa Pangradin, salah satu desa di kecamatan Jasinga, masyarakat setempat percaya bahwa dahulu kala raja dan para bangsawan sering beristirahat di sebuah bukit yang sekarang bernama Bukit Kaso, yang terletak di kampung Pangradin I, desa Pangradin.[6]

Pembagian administratif

sunting
  1. Bagoang
  2. Barengkok
  3. Cikopomayak
  4. Curug
  5. Jasinga
  6. Jugala Jaya
  7. Kalongsawah
  8. Koleang
  9. Neglasari
  10. Pamagersari
  11. Pangaur
  12. Pangradin
  13. Sipak
  14. Setu
  15. Tegal Wangi
  16. Wirajaya

Transportasi

sunting

Angkutan Kota

sunting
  • F05C: Cipanas-Jasinga-Leuwiliang-Bubulak PP
  • F51: Tenjo-Jasinga PP

Jalur alternatif

sunting

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "Jumlah Penduduk Di Kabupaten Bogor". bogorkab.bps.go.id. Diakses tanggal 19 Juli 2022.
  2. ^ Liana Sukma (6 Maret 2019). "Kecamatan Jasinga Membutuhkan Dana Dan Investor Untuk Membangun Perekonomian". www.kompasiana.com. Diakses tanggal 19 Juli 2022.
  3. ^ "Bupati Janji Tingkatkan Infrastruktur Perbatasan Bogor-Lebak". kecamatanjasinga.bogorkab.go.id. Diakses tanggal 18 Juli 2022.
  4. ^ "Sejarah Golok Tarisi Jasinga Yang Diproduksi Secara Turun Temurun". bogor-today.com. Bogor Today. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-17. Diakses tanggal 2022-01-21.
  5. ^ "Asal Usul Nama Jasinga". bogorkab.go.id. Diakses tanggal 19 Juli 2022 2022.
  6. ^ Muhammad Sadun (20 April 2021). "Berawal Patilasan Raja hingga Menjadi Peradaban". nyoret.com. Diakses tanggal 19 Juli 2022.

6°27′58″S 106°27′13″E / 6.466074°S 106.453697°E / -6.466074; 106.453697


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kabupaten Bogor

selatan Karawang. Kawedanan Leuwiliang (mencakup Leuwiliang, Cibungbulang, Ciampea, Pamijahan, dan Dramaga) Kawedanan Jasinga (mencakup Jasinga, Sukajaya, Tenjo

Kewedanaan Jasinga

Kewedanaan Jasinga adalah salah satu kewedanaan yang pernah berdiri di Kabupaten Bogor. Kewedanaan Jasinga terletak di bagian barat Kabupaten Bogor dan

Jonggol, Bogor

Kabupaten Bogor. Jonggol dahulunya merupakan sebuah distrik atau kawedanan. Wilayah Kawedanan Jonggol saat ini telah terpecah menjadi bagian dari beberapa

Kewedanaan

bagian utara digabung dengan Kawedanan Cikarang sedangkan bagian selatan berubah menjadi Kawedanan Jonggol. Peta Kawedanan Tjibaroesa / Jonggol tahun 1933

Kewedanaan Jonggol

(termasuk Lemah Abang) digabungkan kedalam wilayah Kawedanan Cikarang, Kabupaten Bekasi. Pada tahun 1963 Kawedanan Jonggol dibubarkan menyusul dikeluarkannya

Cibarusah, Bekasi

digabungkan kedalam Kawedanan Cikarang. Pada tahun 1963 terjadi penghapusan struktur Kawedanan di seluruh Indonesia sehingga Kawedanan Jonggol dihapuskan

Ciomas, Bogor

dalam wilayah Negara Pasundan yang mana Ciomas merupakan bagian dari Kawedanan Buitenzorg. Dalam kurun waktu tahun 1950 hingga 1970-an seiring dengan

Bahasa Sunda pada masa Kolonial Belanda

Sebagai tokoh terkemuka di Jasinga, Rigg juga mempunyai relasi yang baik dengan Raden Nata Wireja, seorang Demang Jasinga. Relasi ini ia manfaatkan untuk