Jong Java merupakan surat kabar yang terbit pertama kali pada 10 November 1915. Awalnya, nama koran ini yaitu Tri Koro Dharmo. Perubahan nama itu terjadi menyusul perubahan nama organisasi induknya dari Tri Koro Dharmo menjadi Jong Java.[1]

Surat kabar ini merupakan organ dari Jong Java, sebuah organisasi kepemudaan di zaman Hindia Belanda. Koran ini awalnya menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa tulis penerbitannya, tetapi belakangan diputuskan ditukar menjadi bahasa Jawa dan Belanda.[1]

Dari sisi isi, Jong Java berkisar pada liputan hasil kongres Jong Java, kegiatan-kegiatan organisasi seperti pendidikan, kepanduan, dan pemikiran-pemikiran anggota Jong Java. Para penulisnya lahir dari kaum terdidik Bumiputra, seperti Soewandhi, Koentjoro Poerbopranoto, Sootjo Marjoto, dan lainnya.[1]

Dengan semakin bertambahnya jumlah anggota Jong Java, para pembaca majalah ini pun semakin menanjak. Di tahun 1920-an, oplahnya mencapai 3.000 lembar.[1]

Koran ini tutup usia pada 27 Desember 1929 seiring meleburnya organisasi Jong Java ke dalam organisasi Indonesia Moeda.[1]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e Seabad Pers kebangsaan, 1907–2007 (Edisi Cet. 1). Jakarta: I:Boekoe. 2007. hlm. 168–171. ISBN 978-979-1436-02-1. OCLC 289071007. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Jong Islamieten Bond

pelajar Islam Hindia Belanda. Anggota JIB merupakan anggota dari Jong Sumatranen Bond, Jong Java, dan organisasi pemuda lainnya. Dalam kongres pertama JIB,

Kongres Pemuda

wakil organisasi pemuda Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Studerenden Minahassers, Jong Bataks Bond, dan Pemuda

Mohammad Yamin

1930-an, Yamin aktif di kalangan jurnalis, bergabung dengan dewan redaksi surat kabar Panorama, bersama Liem Koen Hian, Sanusi Pane dan Amir Sjarifuddin. Pada

Mohammad Tabrani Soerjowitjirto

nama M. Tabrani selalu tercatat. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Jong Java dan pemimpin redaksi Harian Pemandangan pada periode Juli 1936 hingga

Majapahit

Majapahit mendengar bunyi surat bendahari raja Singapura itu, maka baginda pun segera menyuruh berlengkap tiga ratus buah jong, lain daripada itu kelulus

RM Djoko Marsaid

Marsaid juga aktif dalam organisasi kepemudaan. Dia merupakan anggota dari Jong Java yaitu sebuah organisasi kepemudaan yang pertama kali didirikan dengan

Kongres Perempuan Indonesia

Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah dan Jong Islamieten Bond. Para peninjau mencatat sejumlah tokoh

Kota Sukabumi

Sukabumi sebagai daerah otonom. Soekaboemi merupakan tempat percetakan surat kabar Tionghoa pertama di Indonesia yaitu Li Po pada tahun 1901 yang berbahasa