Cagar Budaya Makam R.A.Tan Peng Nio Istri Bupati Kebumen Tumenggung Kolopaking III
Cagar Budaya Makam R.A.Tan Peng Nio Istri Bupati Kebumen Tumenggung Kolopaking III Di Desa Jatimulyo Kec.Alian Kab.Kebumen Jateng Indonesia
Cagar Budaya Makam R.A.Tan Peng Nio Istri Dari Bupati Kebumen Tumenggung Kolopaking III
cagar Budaya Makam R.A.Tan Peng Nio Istri Dari Bupati Kebumen Tumenggung Kolopaking III DiDesa Jatimulyo Kec.Alian Kab.Kebumen Jateng Indonesia
Silsilah Alur Sejarah Bupati Kebumen Tumenggung Kolopaking III Dengan Istrinya R.A.Tan Peng Nio Di Kab.Kebumen Jateng Indonesia
Silsilah Atau Alur Sejarah Pada Bupati Kebumen Tumenggung Kolopaking III Dengan Istrinya R.A.Tan Peng Nio Di Kab.Kebumen Jateng Indoneia
Nama Yg Tertulis Sebagai Alur Sejarah Istri Bupati Kebumen Tumenggung Kolopaking III Dengan R.A.Tan Peng Nio Di Kebumen Jateng Indonesia
Nama Yg Tertulis Sebagai Alur Sejarah Pada Nisan Makam R.A.Tan Peng Nio Istri Dari Bupati Kebumen Tumenggung Kolopaking III Di Kab.Kebumen Jateng Indonesia

Raden Ayu Tan Peng Nio adalah seorang pejuang Tionghoa-Indonesia. Ia berperan dalam perang Geger Pacinan melawan tentara Belanda.

Biografi

sunting

Ia adalah anak dari Jenderal Tan Wan Swee, yang berselisih pendapat dan melakukan pemberontakan yang gagal terhadap Kaisar Qian Long (25 September 1711-1799) dari Dinasti Qing.

Jenderal Tan Wan Swee lalu menitipkan putrinya yang bernama Tan Peng Nio kepada sahabatnya, Lia Beeng Goe, seorang ahli pembuat peti mati dan ahli bela diri. Saat kudeta gagal, Tan Peng Nio menjalani pelarian bersama Lia Beeng Goe ke Singapura, kemudian berpindah ke Batavia (Jakarta).

Pada tahun 1740, terjadi huru-hara yang terkenal dengan nama Geger Pecinan, dimana terjadi pembantaian terhadap etnis Tionghoa oleh tentara VOC Belanda. diceritakan bahwa Lia Beeng Goe dan Tang Peng Nio mengungsi ke arah Timur, hingga tiba di Kutowinangun (Kebumen, Jawa Tengah) dan bertemu dengan Kiai Honggoyudho yang mahir membuat senjata.

Ketika terjadi peperangan dan penyerbuan selama 16 tahun (1741-1757) oleh Pangeran Garendi, Tan Peng Nio dikabarkan ikut bergabung ke dalam 200 pasukan bentukan KRAT³ Kolopaking II, yang dikirimkan untuk membantu pasukan Pangeran Garendi. Tan Peng Nio juga dikabarkan sempat menyamar menjadi seorang prajurit laki-laki. Peperangan kemudian berakhir dalam perundingan Giyanti, pada tanggal 13 Februari 1755.[1]

Ia menikah dengan KRT Kolopaking III.[2] Saat perang berakhir, ia dan suaminya menetap di Kutowinangun, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng). Dari pernikahannya, mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu KRT Endang Kertawangsa dan RA Mulat Ningrum. RA Tan Peng Nio dikebumikan di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen, Jateng. Makamnya dibangun dengan gaya makam, berbentuk bangunan Tionghoa.[3]

Referensi

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Keluarga Kwee dari Ciledug

Kwee telah menjadi bagian dari Cabang Atas melalui istrinya, Oei Tjoen Nio, yang kemungkinan merupakan saudara ipar dari Tan Kim Lim, Kapitan Cina (kakek

Tan Ndjiang Nio

Tan Ndjiang Nio (1825–1870), atau lebih dikenal sebagai Nyonya Mayor Be Biauw Tjoan, dulu adalah seorang aristokrat Peranakan 'Cabang Atas' di Hindia

Gambang keromong

Pau Hoa Pek Hou Tian Kim Sun Siang Tje Hu Liu Bangliau Li Ten Hwe Bin Gouw Nio Pebotan, dan lain sebagainya. Dan dalam musik latar wayang Sin Pe di antaranya

Krakatau

Riwayat (diiringi Gambang Kromong Irama Jaya dan dinyanyikan oleh Pang Tjin Nio/Masnah ), menceritakan tentang suasana disekitar ketika krakatau meletus

Oei Tiong Ham

adalah elite tradisional Tionghoa di Hindia Belanda.. Ibunya, Tjan Bien Nio, adalah seorang Peranakan kelahiran Jawa dari keluarga menengah. Oei Tiong

Oei Tjie Sien

juga memiliki empat anak perempuan, yakni Oei Siok Nio, Oei Bok Nio, Oei Thiem Nio, dan Oei Koen Nio. Melalui selirnya, Oei Tjie Sien juga memiliki anak

Rokok klembak menyan

dirintis oleh pasangan suami istri The Gie Tjoan (Agus Subianto) dan Tjo Goe Nio (Setiawati). Pada waktu itu, pemasarannya bukan hanya sebatas di sepanjang

Keluarga Lie dari Pasilian

kepemilikan atas bisnis. Lie Tiang Ko menikahi seorang wanita Peranakan, Souw Sek Nio (1791–1845). Keduanya dianugerahi lima orang putra, yakni Lie Pek Thay (1809–1849)