Isi bebas atau konten bebas (bahasa Inggris: free content) adalah suatu istilah yang mengacu kepada karya apa saja termasuk artikel, gambar, suara, dan video yang dipublikasikan dan diizinkan untuk disalin oleh siapa saja. Isi dapat berada di domain umum atau di bawah lisensi seperti lisensi dokumentasi bebas GNU. Isi bebas sering kali juga diartikan sebagai suatu informasi yang dapat diubah/ditambahkan oleh siapa saja.
"Masa Lampau Ayah Selale, Detauwo Bagau, dan Juliana Holombau"
Oleh : Maleaki Tipagau
Kisah ini terjadi di masa lampau Kalogo, sekitar tahun 1950-an sampai awal 1970-an. Zaman itu belum ada uang tunai luas, jadi status dan kekayaan diukur dari babi, kebun, dan kulit binatang adat.
1. Ayah Selale Tipagau di masa lampau" - Lahir di Isandoga dari marga Tipagau, lalu pindah ke Kalogo bersama orang tuanya sekitar tahun 1950-an karena tanah di Isandoga sering longsor. - Masa mudanya dihabiskan berburu di hutan Kalogo dan lereng Isandoga dengan anjing Demuu. Dari situ dia dapat kulit bia yang dipakai sebagai alat tukar menukar antar marga. - Dia dikenal kaya dalam adat karena punya kandang babi besar. Karena itu dia disegani dan sering diminta jadi penengah konflik.
2. Masa lampau bersama Detauwo Bagau istri pertama, - Detauwo berasal dari marga Bagau di hulu sungai Kalogo. Pernikahan mereka sekitar akhir 1950-an, untuk menyatukan jalur Tipagau dan Bagau. - Detauwo membawa pengetahuan tanaman obat hutan ke keluarga Tipagau. Mereka hidup di rumah kayu dekat sungai Kalogo dan punya dua anak: Dobiomala dan Ratri. - Detauwo meninggal lebih dulu, sebelum kejadian besar di hutan Bagabaguamina. Kematian dan hilangnya dia jadi awal cerita misteri keluarga.
3. Masa lampau bersama Juliana Holombau istri kedua" - Juliana berasal dari marga Holombau di timur Kalogo, dikenal sebagai perajin tenun dan penjaga cerita lisan. - Dia menikah dengan Ayah Selale setelah Detauwo meninggal, sekitar awal 1960-an. Tujuannya menjaga keberlangsungan keluarga dan merawat anak-anak. - Dari pernikahan ini lahir Adilla, Maleaki, dan Henina. Juliana yang menjaga rumah kayu tua dan mengajarkan tenun ke Adilla.
"Gambaran masa lampau mereka: Hidup masih sederhana, bergantung pada kebun, ternak babi, dan hutan. Hubungan antar marga dijaga lewat pernikahan dan tukar menukar kulit bia. Di masa inilah keluarga Tipagau punya pengaruh besar, sebelum muncul konflik dengan adik Ayah Selale dan peristiwa hilangnya Detauwo dan Ratri.
"Misteri Kehidupan Keluarga Kepala Selale di Kampung Kalogo"
Di Kampung Kalogo, orang tua-tua masih ingat nama Kepala Selale. Bukan kepala kampung yang sekarang, tapi kepala kampung tahun 1960-an. Katanya dia orangnya bijak, tegas, dan punya kebun kopi terluas di lembah itu. Asal Usul Ayah Selale Tipagau"
1. Asal marga dan kampung" Ayah Selale Tipagau berasal dari marga Tipagau yang awalnya tinggal di kampung Isandoga, lembah barat Kalogo. Marga Tipagau dikenal sebagai penjaga kebun kopi, peternak babi, dan penjaga jalur adat antara Isandoga dan Kalogo.
2. Pindah ke Kalogo" Sekitar tahun 1950-an, ayah dari Selale memindahkan keluarga ke Kalogo karena tanah di Isandoga sering longsor dan sungai mulai menggerus kebun. Mereka membawa bibit kopi, alat tenun, dan cerita adat dari Isandoga. Sejak itu, keluarga Tipagau menetap di Kalogo dan dianggap “orang Isandoga yang tinggal di Kalogo”.
"3. Status dalam adat" Ayah Selale tumbuh menjadi kepala keluarga yang disegani karena: - Punya banyak babi, ukuran kekayaan adat di Kalogo. - Jago berburu dengan anjing Demuu, sehingga bisa mengumpulkan kulit bia yang dipakai sebagai alat tukar menukar antar marga. - Sering jadi penengah konflik dan membantu warga saat paceklik.
4. Keluarga Ayah Selale menikah dua kali: - Istri pertama "Detauwo Bagau dari marga Bagau di hulu Kalogo. Anaknya: Dobiomala dan Ratri. - Istri kedua juliana Holombau, dari marga Holombau di timur Kalogo. Anaknya: Adilla, Maleaki, dan Henina.
Singkatnya: Ayah Selale Tipagau lahir dari keluarga Tipagau di Isandoga, pindah ke Kalogo waktu muda, dan menjadi kepala keluarga yang kaya dalam ukuran adat karena babi dan kulit bia.
Tapi yang orang jarang cerita adalah tentang keluarganya yang hilang dalam satu malam.
Kepala Selale punya dua istri: Detauwo Bagau, istri pertama yang pandai mengobati orang sakit pakai daun hutan, dan Juliana Holombau, istri kedua yang baru dinikahi 3 tahun sebelum kejadian itu. Mereka tinggal di rumah kayu besar di pinggir sungai Kalogo.
Malam itu, hujan deras turun 3 hari 3 malam. Kampung bilang, sungai naik sampai ke halaman rumah kepala. Pagi harinya, rumah itu kosong. Nggak ada jejak Detauwo, Juliana, dan dua anak mereka. Cuma ada jejak kaki kecil yang berhenti di bibir sungai, kayak orangnya tiba-tiba menghilang.
Yang aneh, di dalam rumah semua barang masih utuh. Api di tungku masih ada sisa bara. Mangkuk nasi di meja belum disentuh. Kayak mereka pergi terburu-buru tapi nggak sempat keluar pintu.
Kepala Selale sendiri ditemukan duduk di bawah pohon beringin tua, basah kuyup, memeluk gelang kayu milik Detauwo. Dia nggak bicara selama 40 hari. Waktu ditanya, dia cuma bilang: "Mereka dipanggil pulang. Bukan oleh air.”
Sejak itu, tiap malam Jumat Kliwon, warga yang lewat sungai sering denger suara perempuan bernyanyi pelan dari arah rumah tua itu. Suaranya mirip nyanyian nenek-nenek waktu menidurkan anak. Kalau didekati, suara itu hilang.
Anak cucu Kepala Selale yang sekarang tinggal di kota bilang, mereka sering mimpi hal yang sama. Mimpi ada di rumah kayu, makan ubi bakar, dan ada dua perempuan yang memanggil nama mereka, padahal mereka belum pernah lihat foto Detauwo dan Juliana.
Orang kampung Kalogo percaya, keluarga Kepala Selale nggak benar-benar hilang. Mereka cuma “pulang” ke tempat lain, dan masih menjaga kampung dari kejauhan.
Makanya sampai sekarang, tidak ada yang berani bongkar rumah kayu itu. Rumah itu dibiarkan tua, dimakan lumut, jadi pengingat bahwa ada hal dari masa lalu yang belum selesai diceritakan.
Judul "Misteri Kehidupan Keluarga Kepala Selale" jelas masuk ke cerita sejarah lisan tampah misteri keluarga. Kalau lihat alur cerita yang kita bahas sejauh ini, tujuan penulisnya kemungkinan besar begini:
"1. Mendokumentasikan sejarah lisan keluarga Tipagau" Banyak cerita tentang Kepala Selale Tipagau, Detauwo Bagau, dan Juliana Holombau hanya disampaikan turun-temurun lewat lisan di Kampung Kalogo. Buku ini bertujuan biar cerita itu nggak hilang dimakan waktu.
2. Mengangkat nilai adat dan kekeluargaan" Lewat kisah keluarga Selale, penulis mau menunjukkan nilai-nilai seperti kesetiaan, tanggung jawab pemimpin, peran perempuan dalam menjaga kampung, dan cara menyelesaikan konflik secara adat. Jadi bukan cuma cerita misteri, tapi juga pelajaran hidup.
3. Menjawab rasa penasaran masyarakat Kalogo" Hilangnya Detauwo dan dua anaknya, munculnya Juliana, dan kejadian aneh di rumah tua itu sudah jadi bahan cerita warga selama puluhan tahun.
Buku ini dibuat untuk merangkum versi cerita yang paling utuh dan memberi ruang bagi pembaca untuk menafsirkan sendiri.
4. Melestarikan identitas budaya Papua Pegunungan" Dengan menuliskan latar, nama marga, kebiasaan, dan bahasa daerah, penulis menjaga agar identitas budaya Kalogo tetap dikenal generasi muda yang sudah banyak merantau ke kota.
5. Memberi ruang untuk refleksi" Judulnya pakai kata "Misteri" bukan berarti tujuannya menakut-nakuti. Lebih ke mengajak pembaca merenung: apa arti keluarga, kehilangan, dan menjaga ingatan orang yang sudah tiada.
"Misteri Kehidupan Ayah Selale dan Dua Istrinya"
Di kampung kecil di pegunungan, Ayah Selale dikenal sebagai orang yang pendiam dan jarang cerita soal masa lalunya. Yang orang tahu, dia punya dua istri: Detauwo Bagau, istri pertama, dan Juliana Holombau, istri kedua.
Yang aneh, nggak ada yang pernah lihat Detauwo dan Juliana bertemu, padahal mereka tinggal di rumah yang sama. Beda waktu.
Detauwo Bagau, menikah dengan Selale waktu dia masih muda. Katanya dia pandai meramu obat dari daun hutan dan sering membantu orang sakit. Tapi 15 tahun lalu, Detauwo hilang waktu pergi mencari kayu di hutan saat hujan besar. Jasanya nggak pernah ketemu.
Yang tersisa cuma gelang kayu yang selalu dipakai Selale sampai sekarang. Tiap malam Jumat, Selale suka duduk di berandara dibawah pohon beringin sambil memegang gelang itu, diam sampai subuh.
Tiga tahun setelah Detauwo hilang, Selale menikah lagi dengan, Juliana Holombau. Juliana orangnya ramah, suka menenun, dan yang paling aneh: dia bisa menirukan suara Detauwo persis. Anak-anak kampung sering bilang, “Itu suara mama Detauwo yang dulu.”
Juliana nggak pernah marah kalau dibanding-bandingin. Dia cuma bilang, “Mungkin suaraku mirip karena kami berdua jaga orang yang sama.”
Misterinya mulai muncul 2 tahun lalu.
Seorang pemburu nemu gubuk tua di dalam hutan, 3 jam jalan dari kampung. Di dalamnya ada baju tenunan, sisir kayu, dan sebuah buku catatan dengan tulisan tangan Detauwo. Isinya cuma satu kalimat yang diulang-ulang: Kalau aku nggak pulang, jaga Selale untukku.
Yang bikin merinding, tulisan terakhir di buku itu bertanggal 2 minggu yang lalu. Padahal Detauwo hilang 15 tahun lalu.
Sejak itu, Juliana sering mimpi jalan di hutan yang sama. Di mimpi itu, ada perempuan dengan gelang kayu yang melambai dari kejauhan, tapi nggak pernah mau mendekat.
Ayah Selale nggak pernah komentar. Dia cuma makin sering pergi ke hutan sendirian, bawa gelang kayu itu.
Orang kampung bilang, mungkin Detauwo nggak pernah benar-benar pergi. Dia cuma nunggu waktu yang tepat buat ketemu lagi dengan keluarga yang dia titipkan.
"ALMARHUM AYAH KEPALA SELALE TIPAGAU, DIKENAL DI-KAMPUNG ITU KARENA KAYA DALAM BUDAYA"
Ayah Selale dikenal di Kampung Kalogo sebagai salah satu adat yang dihormati yaitu (Kulit Biah) sebelum tahun 1960-an. Nama “Tipagau” sendiri adalah marga besar dari lembah utara, artinya “penjaga lembah".
1. Asal dan masa muda" Dia lahir sekitar tahun 1910 di kampung sebelah sungai Kalogo. Sejak muda, Selale Tipagau sudah dikenal kuat secara fisik dan tenang dalam mengambil keputusan. Dia nggak sekolah formal, tapi belajar langsung dari kepala adat sebelumnya tentang hukum adat, cara menyelesaikan sengketa, dan cara membaca tanda alam untuk musim tanam.
2. Peran di kampung" Waktu Jepang masuk dan setelah kemerdekaan, dia jadi penghubung antara warga kampung dan pihak luar. Karena bisa berbahasa Melayu pasar dan paham adat, dia sering diminta jadi juru bicara waktu ada urusan tanah, jembatan, atau pembagian hasil kebun kopi. Orang kampung bilang, “Kalau Selale Tipagau sudah bicara, biasanya sengketa selesai.”
3. Keluarga Dia menikah dua kali. Istri pertamanya, Ibu Detauwo Bagau, adalah peramu obat dari marga Bagau. Istri keduanya, Ibu Juliana Holombau, menikah setelah Detauwo hilang. Dari pernikahan itu lahir beberapa anak yang sekarang menyebar ke kota dan kampung sekitar.
"4. Watak dan warisan" Selale Tipagau dikenal tegas tapi adil. Dia jarang marah, tapi kalau sudah bicara, suaranya didengar semua orang. Yang paling diingat warga adalah kebiasaannya menyimpan gelang kayu pemberian Detauwo sampai akhir hayatnya. Katanya, itu pengingat bahwa pemimpin harus menjaga keluarga dulu sebelum menjaga kampung.
Dia meninggal sekitar awal tahun 1970-an, dimakamkan di bawah tanah merah di didebasiga mailano. Sampai sekarang, kalau ada masalah adat yang rumit, tetua kampung masih nyebut namanya:
"AYAH SELALE SEBAGAI TUKAN BERBURU KARENA ADA ANJING BERBUEU(DEMUU)
1. 'Anjing Demuu" Demuu adalah anjing buru kesayangan Ayah Selale. Anjing ini bukan anjing biasa. Katanya Demuu punya penciuman tajam dan berani masuk ke semak tebal. Warga Kalogo bilang, kalau Demuu sudah menggonggong dua kali pendek, berarti dia sudah menemukan jejak khus-khus atau babi hutan.
2. "Keahlian berburu" Ayah Selale dikenal sebagai pemburu ulung di hutan sekitar Kalogo. Dia biasanya berburu di pagi buta sebelum kabut turun, dan selalu membawa Demuu. Hasil buruannya dibagi ke keluarga dan tetangga, terutama saat musim paceklik. Karena itu dia dihormati bukan cuma sebagai kepala keluarga, tapi juga sebagai pencari nafkah untuk kampung.
3. 'Tempat berburu" Hutan di sisi timur sungai Kalogo dan lereng menuju Isandoga adalah tempat favoritnya. Di sana banyak pohon kayu merah dan lubang-lubang batu tempat khus-khus bersembunyi. Orang tua bilang, Demuu pernah mengejar babi hutan sampai ke jurang, tapi selalu kembali dengan selamat karena patuh sama panggilan Ayah Selale.
4. "Makna Demuu bagi keluarga' Setelah Ayah Selale meninggal, Demuu tidak mau makan selama beberapa hari. Akhirnya anjing itu juga mati di depan rumah kayu tua. Warga bilang itu tanda kesetiaan Demuu. Sampai sekarang, kalau ada anak muda Kalogo yang piara anjing buru, mereka sering kasih nama “Demuu” sebagai penghormatan.
Cerita Demuu dan Ayah Selale ini cocok jadi satu sub-bab di buku. Misteri Kehidupan Keluarga Kepala Selale, biar pembaca tahu sisi kehidupan sehari-hari Selale sebelum munculnya kejadian-kejadian aneh di keluarga.
"LATAR BELAKANG IBU DETAWO BAGAU'
Detauwo Bagau adalah istri pertama Ayah Selale dari Kampung Kalogo. Namanya “Detauwo” dalam bahasa daerah setempat berarti “penjaga hutan”, dan “Bagau” adalah nama marga keluarganya dari sisi pegunungan sebelah barat.
1. Asal-usul keluarga" Detauwo berasal dari keluarga peramu obat tradisional. Sejak kecil dia diajarkan ibunya, Mama Nelia, cara mengenali daun-daun hutan yang bisa untuk demam, luka, dan sakit perut. Karena itu, orang kampung sering memanggilnya kalau ada yang sakit, terutama waktu puskesmas masih jauh.
2. Watak dan peran di kampung' Dia dikenal pendiam tapi tegas. Nggak banyak bicara, tapi kalau bicara selalu langsung ke inti. Detauwo juga yang ngajarin anak-anak perempuan di kampung cara menenun dan merawat kebun sayur. Rumahnya sering ramai karena jadi tempat orang tua-tua berkumpul sore hari sambil cerita.
3. "Pernikahan dengan Ayah Selale" Detauwo menikah dengan Selale waktu dia umur 19 tahun. Mereka dikenal pasangan yang saling melengkapi: Selale tegas dan mengatur kampung, Detauwo yang merawat orang sakit dan menjaga keseimbangan adat. Dari pernikahan itu lahir dua anak, tapi cerita tentang mereka berhenti di malam banjir besar tahun 1960-an.
4. Hilangnya Detauwo" Detauwo hilang waktu pergi ke hutan mencari kayu obat saat hujan besar. Jasanya nggak pernah ditemukan. Yang tersisa cuma gelang kayu yang selalu dia pakai, dan buku catatan kecil berisi resep obat dan tulisan tangan: “Kalau aku nggak pulang, jaga Selale untukku.”
Sampai sekarang, orang tua di Kalogo masih bilang Detauwo bukan orang biasa. Katanya dia bisa “merasa” kalau ada bahaya datang ke kampung, makanya dia sering pergi ke hutan sendirian sebelum kejadian buruk terjadi.
"LATAR BELAKANG IBU JULIANA HOLOMBAU"
Juliana Holombau adalah istri kedua Almarhum Ayah Kepala Selale Tipagau dari Kampung Kalogo. Dia dikenal sebagai perempuan yang lembut, rajin menenun, dan punya suara yang mirip dengan almarhumah Detauwo Bagau.
"1. Asal-usul keluarga" Juliana lahir sekitar tahun 1938 di kampung Holombau, lembah timur Kalogo. Marga Holombau dikenal sebagai keluarga penenun dan penjaga cerita lisan. Sejak kecil Juliana sudah diajarkan ibunya, Mama Marta, cara menenun noken dan menganyam tikar. Katanya, tiap motif tenun punya cerita tentang leluhur.
"2. Watak dan peran di kampung" Juliana orangnya ramah dan sabar. Dia jarang ikut rapat adat, tapi kalau ada anak sakit atau ada perempuan melahirkan, dia yang pertama datang membantu. Suaranya halus, dan dia hafal banyak nyanyian pengantar tidur yang dulu dinyanyikan nenek-nenek di kampung. Makanya anak-anak kecil di Kalogo suka mampir ke rumahnya.
"3. Pernikahan dengan Ayah Selale Tipagau" Juliana menikah dengan Ayah Selale sekitar tahun 1963, tiga tahun setelah Detauwo Bagau hilang. Awalnya banyak warga yang bertanya-tanya, karena suaranya dan caranya berjalan mirip sekali dengan Detauwo. Tapi Juliana nggak pernah mencoba menggantikan posisi itu. Dia bilang, aku datang untuk menjaga rumah yang ditinggalkan, bukan untuk menghapus nama yang sudah ada.”
Dari pernikahan itu, Juliana dikenal sebagai ibu yang menjaga keutuhan rumah dan memastikan anak-anak Selale tetap sekolah dan nggak melupakan adat.
"4. Kehidupan setelahnya' Setelah Ayah Selale meninggal awal tahun 1970-an, Juliana tetap tinggal di rumah kayu tua di pinggir sungai. Dia terus menenun dan merawat kebun kecil sampai usia tua. Warga bilang, tiap malam Jumat Kliwon dia suka duduk di beranda sambil menyanyi pelan, lagu yang sama yang dulu sering dinyanyikan Detauwo.
Sampai sekarang, orang tua di Kalogo mengingat Juliana Holombau sebagai “perempuan yang datang untuk menambal rumah yang retak, tanpa menghapus bekas jahitan sebelumnya.” Baik, terima kasih koreksinya.
Anak-anak Ayah Selale Tipagau, Ibu Detauwo Bagau, dan Ibu Juliana Holombau:
1. Dobiomala Tipagau – Almarhum. Anak sulung, dikenal tenang dan paling dekat dengan Ayah Selale waktu kecil. 2. Aminus Tipagau – Anak kedua. Sifatnya pendiam, teliti, dulu sering bantu urus kebun dan catatan hasil panen keluarga saat kecil. Sekarang ia menempuh pendidikan tinggi Sarjana Pertanian dikota studi Jayapura dan sudah jadi bendahara kampung isandoga. daerah kalogo tempat dulu orang tua kita kalo sebelah. 3. Adilla Tipagau– Anak ketiga. Ia selalu rajin membantu Ibu Juliana mengajarkan anak perempuan itu. Di kampung cara membuat noken. Sekarang ia dikenal sebagai ketua pemuda dan pemudi bagian Kelasis wandae serta bendahara perkwan disekitar Kelasis wandae. 4. Maleaki Tipagau– Anak keempat. Dia Aktif di kegiatan kampung, seperti masakan budaya bakar batu sering ikut gotong royong dan anak ini paling sayang mama. sekarang anak ini Kuliah dikampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan dari semester VII tujuh pulang ke tempat kelahirannya dan ia menjadi PNS sebagai STAF POL-PP Kabupaten intan jaya provinsi Papua Tengah. 5. Henina Tipagau– Anak bungsu. Dekat dengan kedua ibu, sekarang yang menjaga cerita dan ingatan keluarga besar Tipagau di Kalogo. ia juga jadi guru pemuda pemudi, dikampung debasiga mailano.
Dari kelima bersaudara ini, garis keturunan Tipagau terus berlanjut di Kampung Kalogo, wandae dan sekitarnya.
Almarhum Dobiomala Tipagau Meninggal; Anak pertama Ayah Selale Tipagau dan Ibu Detauwo Bagau. Dobiomala m AQeninggal di Kalogo pada usia 12 tahun. Menurut cerita orang tua-tua kampung, Dobiomala diambil oleh setan Bagabaguamina.
Siapa Bagabaguamina?
Dalam cerita lisan Kalogo, Bagabaguamina digambarkan sebagai roh penunggu lembah yang muncul waktu malam dan saat kabut turun tebal. Namanya berarti, yang memanggil dari jurang. Katanya dia suka memanggil nama anak-anak yang sendirian di luar rumah saat senja. Kalau dijawab, orang itu akan hilang atau sakit sampai meninggal.
Cerita Dobiomala: Malam itu Dobiomala keluar sebentar untuk mengambil kayu bakar di belakang rumah. Hujan gerimis, kabut turun. Keesokan paginya dia ditemukan tidak jauh dari sungai, tubuhnya dingin, wajahnya tenang, tapi tidak ada luka. Orang tua kampung bilang. Dia dipanggil Bagabaguamina. Sejak itu, adat di kalogo melarang anak-anak keluar rumah kalau kabut sudah turun.
Peristiwa ini jadi salah satu duka besar keluarga Selale, dan juga awal dari cerita-cerita aneh yang terus mengikuti rumah itu sampai hilangnya Detauwo dan Ratri beberapa tahun kemudian.
"ASAL USUL KELUARGA TIPAGAU.
1. Isandoga sebagai kampung asal" Isandoga adalah kampung lama di lembah barat Kalogo. Menurut cerita orang tua, marga Tipagau awalnya tinggal di sana sejak zaman nenek moyang. Mereka dikenal sebagai keluarga penjaga kebun kopi dan penjaga jalur adat yang menghubungkan Isandoga dengan Kalogo.
2. Pindah ke Kalogo" Sekitar tahun 1950-an, Ayah dari Selale Tipagau pindah ke Kalogo karena tanah di Isandoga sudah sering longsor dan air sungai mulai menggerus kebun. Saat pindah, mereka membawa bibit kopi, alat tenun, dan cerita adat dari Isandoga. Itu sebabnya sampai sekarang warga Kalogo masih menyebut Tipagau sebagai “orang Isandoga yang menetap di Kalogo.
3. Makna Isandoga bagi keluarga" Bagi keluarga Tipagau, Isandoga bukan cuma kampung asal, tapi juga tempat menyimpan nama-nama leluhur dan tempat ritual adat dilakukan sebelum pindah. Bahkan waktu Dobiomala meninggal, keluarga sempat mengirim pesan ke kerabat di Isandoga untuk meminta doa adat.
4. Hubungan sekarang" Sampai sekarang, keluarga Tipagau di Kalogo masih punya hubungan kekerabatan dengan keluarga di Isandoga. Kalau ada pesta adat besar, mereka saling undang. Banyak juga anak muda Tipagau yang balik ke Isandoga untuk melihat kampung asal dan belajar cerita dari tetua di sana. Jadi, silsilah keluarga Tipagau lengkapnya: Asal Isandoga, pindah ke kalogo zaman Ayah Selale, berkembang jadi keluarga besar di Kalogo sekarang.
Di budaya Kalogo dan Isandoga, "Ayah Selale Tipagau dianggap kaya" karena dua hal ini:
"1. Kulit bia sebagai alat tukar menukar" Kulit biawak/kasuari bukan cuma hiasan, tapi berfungsi seperti “uang adat”. - Dipakai untuk tukar barang dengan marga lain: parang, garam, noken, sampai hak atas tanah adat. - Dipakai untuk bayar denda adat dan mas kawin kalau babi tidak cukup. - Hanya bisa didapat kalau orangnya jago berburu dan berani masuk hutan dalam.
Karena Ayah Selale punya anjing Demuu dan dikenal sebagai pemburu ulung, dia bisa mengumpulkan kulit bia lebih banyak dari warga lain. Makanya marga tetangga sering datang ke dia kalau butuh barang adat.
"2. Babi sebagai ukuran kekayaan dan kehormatan" Babi adalah tabungan hidup orang Papua Pegunungan. - Makin banyak babi, makin tinggi kedudukan seseorang dalam adat. - Babi dipakai untuk pesta bakar batu, denda adat, dan mas kawin. - Kandang babi Ayah Selale di Kalogo cukup besar, jadi dia sering jadi orang yang diminta bantu kalau ada upacara besar.
"Kombinasi keduanya" yang bikin Ayah Selale dihormati: dia punya babi untuk kebutuhan kampung, dan punya kulit bia untuk urusan tukar-menukar antar marga. Di mata adat, itu tanda orang yang mampu menjaga keluarga dan menjaga hubungan antar marga.
"ASAL USUL ISTRI PERTAMA DETAWO BAGAU INI"
Detauwo Bagau"adalah istri pertama Ayah Selale Tipagau, dan ibu lahir anak pertama Dobiomala dan Aminus Tipagau.
1. Asal marga" Detauwo berasal dari marga"Bagau' yang tinggal di daerah hulu sungai Kalogo, dekat hutan adat Bagabaguamina. Marga Bagau dikenal sebagai keluarga penjaga hutan dan ahli berburu di wilayah barat Kalogo.
2. Pernikahan dengan Ayah Selale" Pernikahan Detauwo dan Ayah Selale memperkuat hubungan antara marga Tipagau dari Isandoga dengan marga Bagau di hulu Kalogo. Pernikahan ini dianggap penting secara adat karena menyatukan dua jalur keluarga yang punya wilayah dan pengetahuan berbeda: Tipagau ahli kebun dan babi, Bagau ahli hutan dan perburuan.
"3. Peran dalam keluarga" Detauwo dikenal tenang, kuat, dan punya pengetahuan tentang tanaman obat hutan. Dia yang sering mengobati warga Kalogo waktu sakit ringan. Anaknya, Dobiomala, banyak belajar pengetahuan hutan dari ibunya.
4. Akhir hidup" Detauwo meninggal lebih dulu dari Ayah Selale. Setelah kematiannya, Ayah Selale menikah lagi dengan Juliana Holombau. Kematian Detauwo dan peristiwa setelahnya di hutan Bagabaguamina jadi bagian awal dari cerita misteri keluarga Tipagau.
Singkatnya: Detauwo Bagau berasal dari marga Bagau di hulu, membawa pengetahuan hutan ke keluarga Tipagau, dan menjadi ibu dari dua anak pertama Ayah Selale.
"Asal Usul Juliana Holombau – Istri Kedua Ayah Selale Tipagau"
Juliana Holombau adalah istri kedua Ayah Selale Tipagau, dan ibu dari Adilla, Maleaki, dan Henina Tipagau.
1. Asal marga Juliana berasal dari marga 'Holombau'yang kampung asalnya ada di lembah sebelah timur Kalogo, dekat jalur lama menuju Isandoga. Marga Holombau dikenal sebagai perajin tenun dan penjaga cerita lisan adat.
2. Pernikahan adat dengan Ayah Selale" Pernikahan ini terjadi setelah istri pertama Ayah Selale, Detauwo Bagau, meninggal. Menurut adat, Ayah Selale mengambil Juliana untuk menjaga keberlangsungan keluarga dan merawat anak-anak yang masih kecil. Pernikahan ini juga memperkuat hubungan antara marga Tipagau dan Holombau.
"3. Peran dalam keluarga Tipagau" Juliana membawa keahlian tenun dan pengetahuan adat dari marga Holombau ke keluarga Tipagau. Dialah yang mengajari Adilla menenun, dan menjaga rumah kayu tua dekat sungai Kalogo setelah Ayah Selale meninggal. Warga Kalogo masih ingat Juliana sebagai perempuan yang tenang, teliti, dan kuat dalam menjaga ingatan keluarga.
"4. Makna nama “Holombau” Dalam bahasa setempat, “Holombau” artinya kurang lebih “penyimpan benang dan cerita”. Itu cocok dengan peran Juliana sebagai penjaga tenun dan cerita lisan keluarga.
Singkatnya: Juliana Holombau berasal dari marga Holombau di timur Kalogo, menikah dengan Ayah Selale untuk melanjutkan keluarga Tipagau, dan menjadi penjaga budaya lewat tenun dan cerita.
Pranala luar
sunting- (Inggris) alqua.com, Free documents
- (Inggris) Creative Commons - The open content idea and creative works
- (Inggris) Design Science License Diarsipkan 2003-06-02 di Wayback Machine.
- (Inggris) Guide to Open Content Licenses, Lawrence Liang, a systematic survey of open content licenses Diarsipkan 2010-07-29 di Wayback Machine.
- (Inggris) Open Access Bibliography: Liberating Scholarly Literature with E-Prints and Open Access Journals
- (Inggris) ibiblio - The open content idea as a library
- (Inggris) Licenses for Documentation at gnu.org
- (Inggris) locarecords.com, Open Source Record Label
- (Inggris) OpenContent.org
- (Inggris) "Open Content Licenses," Jan Newmarch, http://jan.netcomp.monash.edu.au Diarsipkan 2003-06-03 di Wayback Machine.
- (Inggris) Open Content resources and mailing list at OpenContentList.com Diarsipkan 2003-06-30 di Wayback Machine.
- (Inggris) Open directory category: Open Content
- (Inggris) Public Library of Science
- (Inggris) Directory of open access journals
- (Inggris) Read Print Diarsipkan 2008-05-09 di Wayback Machine. - memiliki banyak buku domain umum
- (Inggris) http://www.opencontentalliance.org/ Diarsipkan 2016-11-13 di Wayback Machine.
- (Inggris) LibriVox - public domain audio books
- (Inggris) Open Content - Das Urheberrecht als Grenze und Ausblick (educa) Diarsipkan 2006-02-10 di Wayback Machine.