Imparsial adalah sebuah LSM yang bergerak di bidang mengawasi dan menyelidiki pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia. Lembaga ini berbadan hukum Perkumpulan dengan akta pendirian nomor 10/ 25 Juni 2002 oleh notaris Rina Diani Moliza, SH.

Didirikan oleh 18 orang pekerja hak-hak asasi manusia Indonesia, Todung Mulya Lubis, Karlina Leksono, M. Billah, Wardah Hafidz, Hendardi, Nursyahbani Katjasungkana, Ade Rostina Sitompul, Robertus Robet, Binny Buchory, Kamala Chandrakirana, HS Dillon, Munir, Rachland Nashidik, Rusdi Marpaung, Otto Syamsuddin Ishak, Nezar Patria, Amiruddin, dan Poengky Indarti.

Nama

sunting

Nama Imparsial diambil dari kata impartial: pandangan yang memuliakan kesetaraan hak setiap individu - dalam keberagaman latarnya - terhadap keadilan, dengan perhatian khusus terhadap mereka yang kurang beruntung (the less fortunate).

Imparsial menterjemahkan Impartiality sebagai mandat untuk membela setiap korban pelanggaran hak-hak asasi manusia tanpa membedakan asal-usul sosialnya, jenis kelamin, etnisitas atau ras, maupun keyakinan politik dan agamanya.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Munir Said Thalib

masyarakat Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Imparsial. Dia merupakan pemenang Right Livelihood Award pada tahun 2000 bersama

Ferdy Sambo

maksimal. Ardi Manto Saputra, wakil direktur kelompok hak asasi manusia Imparsial mengatakan Sambo telah "menodai reputasi penegak hukum dan martabat pemerintah"

Spiritualisme

penerimaan terhadap spiritualisme ini yang membuat sulitnya suatu uraian imparsial dipakai untuk membuktikannya. Berbeda dengan spiritualisme, spiritisme

Prabowo Subianto

sangat terpukul dan berharap suaminya kembali. Koalisi yang terdiri dari Imparsial, Kontras, Setara Institute, dan Kelompok Kerja Hak Asasi Manusia (HRWG)

Robertus Robet

Pendidikan Demokrasi (P2D) Diarsipkan 2020-10-01 di Wayback Machine., Imparsial, dan lainnya. Robet pernah menjadi Wakil Ketua Pengurus Yayasan Lembaga

Adam Smith

sebagaimana mereka mencari penghargaan dari apa yang ia sebut "penonton imparsial". Kepentingan pribadi yang ia sebut bukanlah keegoisan sempit tetapi sesuatu

Pangkat kehormatan

kritik dari sejumlah pihak, terutama aktivis hak asasi manusia. Direktur Imparsial Gufron Mabruri menganggap bahwa pemberian pangkat kehormatan tersebut

Televisi Republik Indonesia

juga disorot, walau ia menyatakan bahwa dirinya "akan independen dan imparsial". Tak lama berselang Iman Brotoseno dihujat oleh sebagian besar publik