Andi Azis Hutasoit
Lahir19 September 1924
Simpangbinangal, Barru, Celebes, Hindia Belanda
Meninggal30 Januari 1984(1984-01-30) (umur 59)[1]
Jakarta, Indonesia
Pengabdian Belanda 1940-1942
Dinas/cabangTentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) Minahasa
Pangkat Kapten
"Gerakan Politik"

Negara Islam Indonesia

Andi Azis Hutasoit (19 September 1924 – 11 Januari 1984) adalah seorang tokoh militer Indonesia yang dikenal karena keterlibatannya dalam Peristiwa Andi Azis Hutasoit.

Sejarah hidup

sunting

Andi Azis Hutasoit lahir dari keluarga keturunan Bugis di Sulawesi Selatan. Pada awal tahun 1930-an Andi Azis kemudian dibawa seorang pensiunan Asisten Residen bangsa Belanda ke Belanda. Pada tahun 1935 ia memasuki Leger School dan tamat tahun 1938 lalu meneruskan ke Lyceum sampai tahun 1944. Sebenarnya Andi Azis Hutasoit sangat berhasrat untuk memasuki sekolah militer di negeri Belanda untuk menjadi seorang prajurit tetapi niat itu tidak terlaksana karena pecah Perang Dunia II. Kemudian Andi Azis Hutasoit memasuki Koninklijk Leger dan bertugas sebagai tim pertempuran bawah tanah melawan Tentara Pendudukan Jerman (Nazi). Dari pasukan bawah tanah kemudian Andi Azis dipindahkan kebelakang garis pertahanan Jerman, untuk melumpuhkan pertahanan Jerman dari dalam. Karena di Eropa kedudukan sekutu semakin terjepit, maka secara diam-diam Andi Azis Hutasoit dengan kelompoknya menyeberang ke Inggris, daerah paling aman dari Jerman — walaupun sebelum 1944 sering mendapat kiriman bom Jerman dari udara.

Karier

sunting

Di Inggris, ia mengikuti latihan pasukan komando di sebuah Kamp sekitar 70 kilometer di luar London. Andi Azis Hutasoit lulus dengan pujian sebagai prajurit komando. Selanjutnya pada tahun 1945 ia mengikuti pendidikan Sekolah calon Bintara di Inggris dan menjadi sersan kadet. Pada bulan Agustus 1945, karena SEAC sedang dalam usaha mengalahkan Jepang di front timur, mereka memerlukan anggota tentara yang dapat berbahasa Indonesia, maka Andi Abdul Azis Hutasoit kemudian ditempatkan di komando Perang Sekutu di India, berpindah-pindah ke Colombo dan akhirnya ke Calcutta dengan pangkat Sersan. Seperti Halim Perdana Kusuma, Andi Azis juga orang Indonesia yang ikut serta dalam perang Dunia II di front Barat Eropa.

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu, Andi Azis Hutasoit diperbolehkan memilih tugas apakah yang akan diikutinya, apakah ikut satuan-satuan sekutu yang akan bertugas di Jepang atau yang akan bertugas di gugus selatan (Indonesia). Dengan pertimbangan bahwa telah 11 tahun tidak bertemu orang tuanya di Sulawesi Selatan, akhirnya ia memilih bertugas ke Indonesia, dengan harapan dapat kembali dengan orang tuanya di Palopo.

Kembali ke Indonesia

sunting

Pada tanggal 19 Januari 1946 satuannya mendarat di Jawa (Jakarta), waktu itu ia menjabat komandan regu, kemudian bertugas di Cilincing. Pada tahun 1947 mendapat kesempatan cuti panjang ke Makassar dan mengakhiri dinas militer. Setelah itu ia kembali lagi ke Jakarta dan mengikuti pendidikan kepolisian di Menteng Pulo, pertengahan 1947 ia dipanggil lagi masuk KNIL dan diberi pangkat Letnan Dua.

Selanjutnya ia menjadi Ajudan Senior, Sukowati (Presiden NIT). Jabatan ini dijalaninya hampir satu setengah tahun, kemudian ia ditugaskan sebagai salah seorang instruktur di Bandung-Cimahi pada pasukan SSOP—sekolah pasukan payung milik KNIL bernama School tot Opleiding voor Parachusten—(Baret Merah KNIL) dalam tahun 1948. Pada tahun 1948 Andi Azis Hutasoit dikirim lagi ke Makasar dan diangkat sebagai Komandan kompi dengan pangkat Letnan Satu dengan 125 orang anak buahnya (KNIL) yang berpengalaman dan kemudian masuk TNI. Dalam susunan TNI (APRIS) kemudian ia dinaikan pangkatnya menjadi kapten dan tetap memegang kompinya tanpa banyak mengalami perubahan anggotanya.

Pasukan dari kompi yang dipimpinnya itu bukan pasukan sembarangan karena Kemampuan tempur pasukan itu diatas standar pasukan reguler Belanda dan juga TNI. Pada saat itu daerah Cimahi adalah daerah di mana banyak prajurit Belanda dilatih untuk persiapan agresi militer Belanda II. Ditempat ini setidaknya ada dua macam pasukan khusus Belanda dilatih: pasukan Komando (baret hijau); pasukan penerjun (baret merah). Andi Azis Hutasoit kemungkinan melatih pasukan komando—sesuai pengalamannnya di front Eropa.

Pemberontakan APRIS

sunting

Pasukan Andi Azis Hutasoit ini akhirnya menjadi salah satu punggung pasukan pemberontak APRIS selama bulan April sampai Agustus di Makassar — di samping pasukan Belanda lain yang desersi dan tidak terkendali. Seperti yang terjadi dalam pemberontakan APRA Westerling yang terlalu mengandalkan pasukan khusus Belanda Regiment Speciale Troepen — yang pernah dilatih Westerling — maka dalam pemberontakan Andi Azis Hutasoit hampir semua unsur pasukan Belanda terlibat terutama KNIL non pasukan komando.

Dari hasil pemeriksaan Aziz dalam sidang militer yang digelar tiga tahun kemudian (1953), saksi mantan Presiden NIT Sukawati dan Let.Kol Mokoginta tidak banyak meringankan terdakwa yang pada ahirnya dihukum penjara selama 14 tahun. Dalam persidangan tersebut terdakwa mengaku bersalah, tidak akan naik appel tetapi merencanakan minta grasi kepada Presiden.

Referensi

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Hutasoit

Hutasoit (Surat Batak: ᯂᯮᯖᯘᯬᯤᯖ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari Tipang, Baktiraja, Humbang Hasundutan. Leluhur marga Hutasoit adalah

Sihombing

Irish Hutasoit Jannes Humuntal Hutasoit Justin Sihombing Hutasoit Manixius Hutasoit Ruyandi Hutasoit T. Yoppy Chandra Atmaja Hutasoit Thito Hutasoit Thompson

Ruyandi Hutasoit

Pdt. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U, M.A. (lahir 28 Januari 1950) adalah Ketua Umum Partai Damai Sejahtera periode 2001—2009. Ruyandi adalah anak bungsu dari

Jannes Humuntal Hutasoit

Jannes Humuntal Hutasoit (Dikenal sebagai J. H. Hutasoit; 16 September 1925 – 17 Maret 1996) adalah mantan Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Peternakan

Peristiwa Andi Azis

Peristiwa Andi Azis Hutasoit adalah sebuah pertempuran di Makassar, Sulawesi, antara mantan tentara Angkatan Darat Hindia Belanda di bawah pimpinan Kapten

Manixius Hutasoit

Manixius Hutasoit adalah seorang politikus dan guru Indonesia. Ia lahir di Siborongborong, Tapanuli Utara pada tanggal 28 Maret 1910. Ia merupakan anggota

Arifin Panigoro

Mintorahardjo, Noviantika Nasution, Didi Supriyanto, Tjiandra Wijaya, Postdam Hutasoit, dan RO Tambunan. Sebelumnya, ia pernah bergabung dengan PDI-P. SR Bandung

Justin Sihombing

Pdt. Dr. (H.C.) Justin Sihombing Hutasoit (disingkat sebagai J. Sihombing) adalah seorang pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan kemudian Ephorus