Lukisan seorang wanita
Ra Enge, bangsawati Fiji, bertato veiqia. Theodor Kleinschmidt, 1877

Veiqia adalah praktik penatoan perempuan di Fiji. Perempuan remaja atau dewasa yang telah menempuh pubertas dapat ditato di bagian selangkangan dan pantat oleh ahli tato perempuan yang lebih tua yang disebut dauveiqia atau daubati. Veiqia lazim sebelum kedatangan misionaris Kristen pada tahun 1830-an yang menegah praktik ini. Sejak akhir abad ke-19, praktik ini mulai ditinggalkan. Antara tahun 1908 dan 1911, hanya ada satu penato yang tercatat masih giat menato; ia bernama Rabali. Praktik ini kemudian dibangkitkan pada abad ke-21, terutama oleh perkumpulan seniman Proyek Veiqia (Inggris: The Veiqia Project). Artefak veiqia disimpan di Museum Fiji dan beberapa museum Barat.

Dalam budaya Fiji, tato dianggap meningkatkan kecantikan perempuan. Veiqia dipandang menarik dan dapat menjadi faktor penting bagi perempuan untuk menikah. Jika ia meninggal tanpa tato, jasadnya akan ditato setelah kematian sehingga jiwanya dapat terus menempuh akhirat. Pemberian veiqia merupakan upacara yang pelaksanaannya berbeda di tiap-tiap wilayah. Persiapan sebelum penatoan dapat berupa pantangan makan atau berhubungan seksual atau pemaksaan muntah untuk mencahar tubuh. Proses penatoan bertalian erat dengan pemberian liku (rok serat) pertama kepada perempuan muda setelah veiqia selesai.

Proses veiqia dahulu dilangsungkan di gua atau naungan khusus. Beberapa perempuan muda diberikan obat tradisional sebagai bagian dari persiapan untuk upacara. Beberapa alat, seperti duri ekor setoka, duri lemon, atau gigi hiu, digunakan untuk memecahkan kulit. Tinta yang terbuat dari damar atau Acacia richii kemudian diterapkan pada luka untuk menciptakan tato. Pola tato, yang disebut weniqia, dapat berupa kura-kura, Tringa incana, tembikar, dan kerajinan keranjang. Dauveiqia atau daubati (ahli tato) menerima masi (kain kulit kayu), tabua (gigi paus sperma berasah), atau liku sebagai imbalan menato.

Ikhtisar

sunting
Gambar pola tato
Rancangan veiqia, 1876

Veiqia adalah bentuk penatoan perempuan di Fiji.[1] Veiqia merujuk kepada kegiatan penatoan, sedangkan qia adalah kata benda untuk tato dan weniqia mengacu kepada pola tato.[2] Kingsley Roth, administrator kolonial Britania,[3] menggambarkan dalam terbitan tahun 1933 bahwa veiqia dilukiskan di tubuh perempuan muda pada masa pubertas atau sekitar waktu permulaan menstruasi.[4] Praktik ini menunjukkan bahwa perempuan telah siap menikah dan mencapai kematangan seksual.[5] Lazimnya, perempuan muda menerima veiqia di selangkangan dan pantat,[6] yaitu bagian tubuh yang biasa ditutupi dengan liku (rok serat).[1]

Praktik veiqia berbeda di tiap-tiap wilayah.[7] Pelukisan daerah pubik tercatat dilaksanakan di desa Nabukeru, pulau Yasawa.[8] Di wilayah Ba dan Rewa, veiqia terbatas di bagian yang tertutupi liku, sedangkan, di dataran tinggi pulau utama Viti Levu, veiqia mencapai panggul sehingga tato dapat tampak di atas dan di bawah liku.[5] Seluruh upacara penatoan bertalian erat dengan perjalanan pubertas dan beranjak dewasa; perempuan baru boleh mengenakan liku setelah penatoan.[9] Qia gusu, tato di sekitar mulut, dilukiskan untuk menandakan tahap kehidupan perempuan yang berikutnya, seperti pernikahan atau kelahiran anak, meskipun keterangan mengenai waktu pelaksanaannya saling berselisih.[10]

Corak rancangan tato didasarkan pada serentang pola, mencerminkan lingkungan alam dan budaya. Catatan antropolog Austria Anatole von Hügel menggambarkan corak yang digunakan di teluk Viti Levu pada pertengahan hingga akhir abad ke-19. Tidak ada catatan mengenai rancangan yang digunakan di wilayah lain.[11] Pola tersebut meliputi bintang, perahu, kura-kura, jejak bebek, Tringa incana, tembikar, kerajinan keranjang, tanda kusta, dan sebagainya.[12] Corak demikian serupa dengan cetakan pada kain kulit kayu Fiji atau ukiran pada senjata, seperti pentung.[13]

Menurut penulis Constance Gordon Cumming, pola tato yang digunakan berbeda antara masyarakat pesisir dan pedalaman; pola di pedalaman lebih rumit. Ukuran tato yang diterima perempuan juga beragam. Gordon Cumming melaporkan bahwa perempuan di pesisir hanya mendapat "tampilan penatoan yang terlampau kecil";[a] maksudnya, perempuan mendapatkan jumlah tato sesedikit yang dibolehkan budaya mereka.[14]

Upacara

sunting
Sketsa wanita bertato
Gambar veiqia oleh Theodor Kleinschmidt, 1875

Penato veiqia disebut sebagai dauveiqia atau daubati. Mereka adalah perempuan lebih tua dan keterampilan mereka menciptakan tato dimuliakan dalam masyarakat Fiji.[15] Salah satu dauveiqia tradisional terakhir adalah seorang perempuan bernama Rabali, yang menato antara tahun 1908 dan 1911.[16] Perempuan yang diberikan tato mengganjar dauveiqia dengan masi (kain tapa), tabua (gigi paus sperma berasah), dan liku.[17] Meskipun biasanya penato hanya seorang, perempuan lain dapat hadir untuk memegang sang perempuan muda. Cara dauveiqia bekerja berbeda di tiap-tiap wilayah. Misalnya, di wilayah sungai Wailevu, seorang dauveiqia menato semua perempuan dan ia termasuk suku yang disebut mataisau. Di luar Wailveu, tidak diketahui apakah kekerabatan suku penting bagi penato karena kejadian serupa tidak tercatat di wilayah lain.[15]

Persiapan veiqia merupakan upacara yang pelaksanaannya berbeda di tiap-tiap daerah.[9] Menurut Roth, perempuan yang tinggal di pinggir sungai Wainimala tidak melaksanakan persiapan sebelum penatoan. Sebaliknya, di wilayah Noiemalu, bagian panggul yang akan ditato diisirahatkan selama tiga hari sebelumnya. Kegiatan ini meliputi perempuan muda bergerak lebih lembut mengerjakan tugas sehari-hari dan berbaring dengan tungkai terangkat ketika tidur. Sebelum penatoan, kulit pun dipijat.[4] Contoh lain, perempuan muda di Naboubuco yang akan menerima veiqia tidak boleh sedang datang bulan dan diwajibkan memancing udang air tawar semalaman dan berpuasa seharian. Mereka juga diwajibkan membawa duri lemon sendiri untuk membikin peralatan penatoan.[9] Di Tailevu, perempuan muda mesti beristirahat selama empat hari dengan tungkai terangkat, diberikan obat tumbuhan dari Cerbera manghas dan Solanaceae sebagai pencahar, lalu diberikan santan. Pada hari upacara, perempuan muda Tailevu diberikan makanan untuk membuat mereka sembelit, misalnya ubi jalar. Penato juga pantang berhubungan seksual sehari sebelum mereka memberikan veiqia.[18]

Upacara penerapan tato dahulu dilaksanakan di rumah kosong, qara ni veiqia (gua istimewa), atau vale ni veiqia (naungan khusus di pinggiran desa).[19] Setidaknya satu qara ni veiqia masih diketahui di desa Yaro, pulau Kia.[20] Proses penatoan dapat memakan beberapa pekan, bahkan berbulan-bulan, karena sangat menyakitkan dan kulit membutuhkan waktu untuk pulih antarsesi. Tato pubik dilukis terlebih dahulu, kemudian bagian panggul dan pantat. Tato tidak dibuat langsung sekalian; pengerjaan berjalan selama tiga sampai lima hari, kemudian kulit diistirahatkan, dan upacara dilanjutkan tergantung kelekasan kulit beradaptasi dan toleransi nyeri sang perempuan muda.[14]

Empat hari setelah veiqia selesai, acapkali dihelat kenduri perayaan. Pesta ini terkadang disebut sebagai "pengupasan sisik"[b] karena diadakan pada waktu keropeng kulit meluruh dan menunjukkan pola tato. Pada kenduri ini, yang dibayarkan oleh keluarga laki-laki yang kelak menikah dengannya, perempuan yang baru bertato dianugerahi liku pertamanya.[21]

Peralatan

sunting
Sketsa pola tato
Rancangan veiqia, 1876

Peralatan veiqia berbeda di tiap-tiap wilayah. Alat dapat menyerupai beliung kecil dan belatinya dibuat dari duri pohon lemon. Wau (tokok) dari lempuyang mengetuk belakang bati yang menusuk kulit. Pegangan bati terkadang terbuat dari rumput buluh. Di Lau, jitolo (istilah setempat untuk bati) terbuat dari kayu bunga sepatu; tokok ini juga dapat terbuat dari duri ekor setoka. Bahan lain untuk menusuk kulit meliputi gigi barakuda atau hiu atau sisir bergigi tajam yang terbuat dari tulang atau cangkang kura-kura.[15]

Di wilayah Nairukuruku, kulit ditusuk dan tinta yang terbuat dari Acacia richii dioleskan pada luka. Hal ini berbeda dengan metode lain yang mencelupkan belati ke dalam tinta. Di Rewasau, tinta terbuat dari jelaga damar.[14] Tinta yang terbuat dari jelaga kemiri bakar dikhususkan bagi perempuan berstatus sosial tinggi.[5] Tinta juga diberkati dengan doa kepada roh leluhur sebelum penatoan.[22] Beberapa dauveiqia, seperti Rabali, menggunakan jelaga untuk mensketsa rancangan di tubuh sebelum mulai menato.[23]

Peralatan veiqia dipakai hanya sekali untuk satu perempuan. Sesudahnya, peralatan diberikan kepada ibu sang penerima tato, yang menyimpannya bersama benda istimewa sang perempuan muda, seperti tali pusat. Bagi perempuan di Vanua Levu, masi (kain yang digunakan untuk menyeka darah dan tinta berlebih) disimpan, lantas dibawa ke laut sewaktu memancing dan dibuang ke air. Kegiatan tersebut diiringi pemberkatan yang biasanya diberikan oleh nenek sang perempuan muda.[24]

Untuk qia gusu (tato mulut), keterangan tahun 1878 dari Viti Levu menggambarkan kepala seorang perempuan dipegang selagi duri lemon yang direkatkan pada rumput buluh digunakan untuk menusuk kedua sisi mulutnya dengan tinta yang terbuat dari getah damar. Bagi beberapa perempuan di wilayah Fiji yang lain, seperti di Nagadi, perempuan ditato tidak hanya di sudut mulut, tetapi di sekelilingnya.[10]

Kemaknawian budaya

sunting
Potret seorang wanita
Perempuan dari Vanua Levu, Fiji, mengenakan qia gusu (tato mulut). Arthur Maurice Hocart, 1910–1912

Dalam budaya Fiji, veiqia tidak hanya melambangkan kedewasaan perempuan – baik pada pubertas, pernikahan, maupun peribuan – tetapi juga diyakini meningkatkan kecantikan perempuan. Jika perempuan tidak ditato, ia dipandang oleh masyarakat tidak lazim dan tidak dapat mencari suami. Pandangan ini digambarkan pada tahun 1908 oleh administrator kolonial Basil Thomson yang merekam keterangan Vatureba, kepala suku Nakasaleka di Viti Levu, bahwa "gagasan menikah dengan perempuan yang tidak bertato membuatnya jijik".[c] Vatureba juga menganggap perempuan bertato lebih bergairah seksual.[25] Jika seorang perempuan meninggal sebelum menerima veiqia, pada pemakaman, jasadnya akan ditato supaya ia tidak dihukum di akhirat.[26]

Proses pemerolehan veiqia menyakitkan dan penderitaan yang dilewati perempuan penting bagi pelaksanaannya. Penahanan rasa sakit dipandang mengubah perempuan menuju tahap kehidupan mereka yang berikutnya sehingga veiqia menjadi sumber kebanggaan bagi perempuan.[27] Beranjak ke jenjang selanjutnya, misalnya pernikahan atau kelahiran anak, perempuan akan menerima qia gusu dan jenis liku yang baru, yang biasanya lebih panjang dan lebar.[28] Perempuan muda keturunan bangsawan menerima veiqia dan liku pada umur yang lebih tua daripada perempuan muda berstatus sosial lebih rendah.[29]

Foto dua pria menato pria lain
Peʻa menggunakan peralatan yang serupa dengan veiqia, ca 1895

Veiqia juga membekaskan dampak di luar Fiji: menurut satu tradisi Samoa, dua perempuan dari Fiji berkelana ke Samoa dan memulakan praktik malu.[30] Malu adalah satu lagi praktik penatoan perempuan. Perempuan Samoa ditato dengan rancangan geometris di belakang kaki mereka dari bawah lutut sampai paha atas.[31] Menurut legenda, kedua perempuan tersebut adalah kembar siam yang bernama Taema dan Tilafaiga, putri dari dewa hiu Tokilagafanua dan saudarinya Hinatuafaga sang rembulan.[32] Dalam versi lain menurut catatan G. B. Milner tahun 1969, Taema dan Tilafaiga berkelana ke Fiji dan belajar seni tato dari dua orang pria, Tufou dan Filelei, yang memberi tahu mereka, "Tatolah perempuan, tetapi jangan tato laki-laki."[d] Namun, pada perjalanan pulang, mereka keliru dan melaksanakan sebaliknya.[33] Tradisi penatoan laki-laki di Samoa sekarang dikenal sebagai peʻa.[31]

Misionaris, penjajahan, dan kemunduran

sunting
Lukisan seorang wanita
Nundua, janda dari Matawalu, bertato veiqia dan qia gusu. Theodor Kleinschmidt, 1877

Abel Tasman adalah orang Eropa pertama yang berhubungan dengan Fiji ketika mendatangi kepulauan tersebut pada tahun 1643.[34] William Bligh mengunjungi Fiji dan membuat beberapa peta perairannya pada tahun 1789.[35] Pada tahun 1820-an, pedagang Eropa mendirikan pemukiman Levuka di pulau Ovalau yang berkembang menjadi pelabuhan yang maju.[36] Misionaris Kristen seperti David Cargill tiba pada tahun 1830-an setelah menjalankan misi di Tonga.[37] Kegiatan misionaris dan pengenalan agama Kristen, terutama Metodisme, mendampak praktik budaya tradisional Fiji. Mereka menegah veiqia dan liku dan menindas orang yang bertato. Perempuan Fiji pun dianjurkan menuruti tata berpakaian Kristen oleh misionaris yang menyamakan pakaian Eropa dengan gagasan kemartabatan Barat. Akibatnya, praktik ini mulai ditinggalkan sejak tahun 1850-an.[38] Surat kabar Australia The Evening News melaporkan pada tahun 1871 bahwa lima perempuan didenda sepuluh shilling atas menato seorang perempuan dari pegunungan. Namun demikian, sejak Fiji menjadi bagian dari Imperium Britania pada tahun 1874, beberapa administrator kolonial merasa bahwa praktik ini seharusnya dibolehkan, menyatakan bahwa para misionarislah yang sering melarang tato perempuan Fiji, bukan mereka.[39]

Administrator kolonial Britania Adolph Brewster Brewster menerbitkan The Hill Tribes of Fiji (Suku Perbukitan Fiji) pada tahun 1922. Di dalamnya, ia menceritakan kala ia tiba di Rewa dan Bua pada tahun 1870 dan melihat perempuan paruh baya dan lansia bertato, tetapi perempuan muda tidak. Brewster menyebut qia gusu yang kecil melengkung "menambah bumbu kenakalan wajah para gadis",[e] tetapi menganggap guratan lebih lebar di sekitar mulut "jelek".[f][40] Praktik penatoan sintas di beberapa tempat terpencil hingga awal abad ke-20. Satu tempat terletak di Bua; salah seorang perempuan terakhir yang ditato adalah Bu Anaseini Diroko.[41] Pada tahun 1933, Roth menulis bahwa penatoan di Fiji telah menjadi "seni masa lalu"[g] meskipun berlanjut secara sembunyi-sembunyi di provinsi Ra dan Mathuata.[13]

Koleksi museum

sunting
Sketsa punggung bertato seorang wanita dengan tulisan
Gambar dan catatan akan tato di punggung Laniana, perempuan Fiji. Anatole von Hügel, 1875–1876

Selama abad ke-19, liku dan rekaman veiqia dikoleksi untuk museum, kebanyakan oleh orang luar Fiji yang penasaran, tetapi tidak memahami praktiknya.[42] Sebagaimana antropolog Karen Jacobs mengamati dalam makalah tahun 2021, "tubuh yang bertato sukar dikoleksi"[h] sehingga veiqia direkam melalui gambar. Pada tahun 1870-an, rekaman veiqia yang paling teratur dibuat oleh von Hügel,[43] yang menjadi kurator pertama Museum Arkeologi dan Antropologi (Inggris: Museum of Archaeology and Anthropology, MAA) di Cambridge, Inggris.[44] Meskipun von Hügel membuat gambar di lapangan, beberapa perempuan Fiji juga menggambar dan merekam veiqia untuk catatannya.[45] Melalui pembandingan gambar arsip dan buku catatan von Hügel, nama-nama perempuan pemilik veiqia yang terekam dapat ditelusuri dari benda dan gambar. Salah seorang perempuan tersebut, Laniana, juga mengiringi perjalanan von Hügel dari tahun 1875 sampai dengan 1876.[46] Perempuan yang disebutkan von Hügel meliputi Yasenati, yang memiliki corak kura-kura di bagian pipi, dan Tikini, yang mempunyai pola tongkat api di daerah lengan.[47] Von Hügel sendiri juga ditato oleh beberapa perempuan Fiji dan menyimpan peralatan yang digunakan di koleksi MAA.[48]

Pada tahun 1981, pemimpin Museum Fiji Fergus Clunie dan rekannya Walesi Ligairi mewawancarai dan merekam veiqia lima orang perempuan lansia di Vanua Levu. Kelimanya ditato antara tahun 1908 dan 1911 oleh dauveiqia Rabali. Mereka memilih tidak mengungkapkan nama setelah veiqia mereka direkam untuk menghindarkan keluarga mereka dari kemaluan.[49]

Museum Australia Selatan menyimpan koleksi bati (peralatan penatoan).[50] Museum lain yang mengoleksi benda serupa meliputi Museum Memorial Perang Auckland, Selandia Baru,[51] dan Museum Pitt Rivers, Britania Raya.[6] Museum Peabody Essex di Amerika Serikat menyimpan contoh yang diyakini sebagai liku se droka (liku dengan gelung simpul bagi bangsawati) terawal dari koleksi Benjamin Vanderford, seorang kapten kapal dagang.[52] Ekspedisi Penjelajahan Amerika Serikat (Inggris: United States Exploring Expedition, USEE) pada Mei sampai Agustus 1840 merekam veiqia dan mengoleksi liku yang sekarang disimpan di Museum Nasional Sejarah Alam, Washington, D.C.[53]

Pembangkitan dan Proyek Veiqia

sunting
Pintu masuk museum
Museum Fiji menyimpan artefak veiqia dan menuanrumahi pameran Proyek Veiqia

Pada tahun 2015, kurator Tarisi Vunidilo dan Ema Tavola bersama seniman Joana Monolagi, Donita Hulme, Margaret Aull, Luisa Tora, dan Dulcie Stewart memprakarsai proyek penelitian untuk memperluas pengetahuan kontemporer tentang veiqia. Mereka menggali kemaknawian veiqia bagi diri mereka sebagai perempuan Fiji.[54] Stewart adalah piut Bu Anaseini Diroko, salah seorang perempuan terakhir yang ditato pada awal abad ke-20.[41] Berkarya sebagai perhimpunan seniman Proyek Veiqia (Inggris: The Veiqia Project), mereka adalah keturunan Fiji yang tinggal di Fiji, Selandia Baru, dan Australia. Mereka berkunjung ke Suva untuk memeriksa koleksi museum dan berbincang dengan seniman tato Fiji.[55]

Sebagai hasil penelitian, karya seni dan tafsiran yang dibuat oleh Proyek Veiqia dipamerkan di Galeri St Paul Street di Auckland pada tahun 2016.[56] Setahun kemudian, mereka menyelenggarakan pameran tentang veiqia di Museum Fiji.[57] Karya lanjutan proyek ini, dikurasi oleh Tora, dipamerkan di Christchurch pada tahun 2021 dengan judul iLakolako ni weniqia.[58]

Pada awal abad ke-21, karya Proyek Veiqia telah merangsang pembangkitan minat dalam praktik penatoan dan perempuan muda Fiji mulai menerima veiqia kembali.[58] Hingga tahun 2022, delapan perempuan diketahui memiliki tanda veiqia lengkap; semua tato mereka diciptakan oleh dauveiqia abad ke-21 Julia Mageʻau Gray. Setelah menyaksikan film yang di dalamnya Mageʻau Gray menato veiqia, Emmaline Pickering-Martin turut menerima veiqia untuk menghidupkan kembali praktik tersebut.[59] Ema Tavola merancang veiqia untuk Margaret Aull untuk menandai kewafatan neneknya.[60] Baik Aull maupun Pickering-Martin terdorong oleh hasrat untuk menanam ikatan yang lebih dalam dengan warisan Fiji mereka untuk memperoleh veiqia.[61]

Pada tahun 2025, pameran Na Cagi Ni Veisau dibuka di Museum Fiji untuk memperingati sepuluh tahun berdirinya Proyek Veiqia.[62] Acara tersebut melukiskan keterpautan sejarah budaya veiqia dan liku, bertujuan, salah satunya, untuk merangsang kembali pembuatan liku.[63] Pameran tersebut menampilkan karya Hulme, Stewart, Monolagi, Tora, dan Aull, berikut Ananaia Luvuiwasawasa, Joana Sekinairai Veitala, Amelia Kaukiono, Lusie Managreve, Mere Rasue, Sikiti Waqabaca, dan Yasbelle Kerkow.[64] Daubati Margaret Wall, anggota Proyek Veiqia, menyerukan perempuan muda Fiji untuk melestarikan tradisi ini dengan belajar mengenai veiqia. Ia menyatakan, "Saya bukan daubati yang pertama. Saya hanya yang pertama sejak waktu yang lama."[i][65]

Historiografi

sunting

Sejarah dan praktik veiqia, sebagian besar, direkam oleh orang bukan asli Fiji.[66] Penelitian veiqia pada abad ke-21 bergantung kepada sumber kolonial yang, menurut Karen Jacobs, acapkali hanya menggambarkan "ikhtisar wilayah tertentu akan kurun waktu tertentu".[j][11] Jacobs menggambarkan hal ini dalam buku tahun 2019 This Is Not a Grass Skirt (Ini Bukan Rok Rumput) sebagai "tatapan kolonial"[k] yang harus dipertanyakan beserta sumber-sumber tersebut.[67] Bias ini, ditambah dengan kekurangan data spesifik tempat banyak barang museum, menjelaskan alasan pemahaman tentang veiqia kini masih rumpang.[68]

Salah satu contoh pengarang luar Fiji yang menulis mengenai praktik ini adalah antropolog Britania Anne Buckland yang mewacanakan penyampaian penatoan dari Fiji ke Samoa dalam makalah tahun 1888.[69] Misal lain adalah pedagang Jerman Theodor Kleinschmidt yang banyak membuat gambar veiqia, menggunakannya sebagai bukti bahwa pola tato ciptaan penduduk pedalaman Viti Levu lebih rumit daripada masyarakat pesisir.[70] Ia menggambar veiqia dan qia gusu dari Ra Enge, Nundua, dan beberapa perempuan lain.[71] Kleinschmidt giat di Fiji pada tahun 1871 sampai 1878 dan kemudian menjadi pengoleksi profesional di Museum Godeffroy. Ia mengoleksi benda budaya dan spesimen ilmiah.[72] Jacobs juga mewacanakan cara beberapa perempuan memengaruhi koleksi dengan membarter liku dengan barang kebutuhan dari pendatang.[73]

Catatan

sunting
  1. ^ Teks asli: "an exceedingly small display of tattooing".
  2. ^ Teks asli: "the shedding of the scales".
  3. ^ Teks asli: "the idea of marriage with an untattooed woman filled him with disgust".
  4. ^ Teks asli: "Tattoo the men, but don't tattoo the women."
  5. ^ Teks asli: "added a spice of roguery to a girl's face".
  6. ^ Teks asli: "hideous".
  7. ^ Teks asli: "a past art".
  8. ^ Teks asli: "the tattooed body is hard to collect".
  9. ^ Teks asli: "I'm not the first daubati. I'm just the first in a very long time."
  10. ^ Teks asli: "a specific regional overview of a specific period of time".
  11. ^ Teks asli: "colonial gaze".

Rujukan

sunting
  1. ^ a b Jacobs 2019, hlm. 37.
  2. ^ Jacobs 2019, hlm. 13.
  3. ^ Jacobs 2019, hlm. 38, catatan 21.
  4. ^ a b Roth 1933, hlm. 163.
  5. ^ a b c Jacobs 2021, hlm. 307.
  6. ^ a b Pitt Rivers Museum n.d.
  7. ^ Jacobs 2019, hlm. 44–47.
  8. ^ Raven-Hart 1956, hlm. 148.
  9. ^ a b c Jacobs 2019, hlm. 44.
  10. ^ a b Jacobs 2019, hlm. 52.
  11. ^ a b Jacobs 2019, hlm. 140.
  12. ^ Jacobs 2019, hlm. 135–139.
  13. ^ a b Roth 1933, hlm. 162.
  14. ^ a b c Jacobs 2019, hlm. 46.
  15. ^ a b c Jacobs 2019, hlm. 45.
  16. ^ Jacobs 2019, hlm. 152.
  17. ^ Brewster 1922, hlm. 186.
  18. ^ Jacobs 2019, hlm. 44–45.
  19. ^ Jacobs 2019, hlm. 45; Motuga 2021.
  20. ^ Motuga 2021.
  21. ^ Jacobs 2019, hlm. 46–48.
  22. ^ Jacobs 2019, hlm. 60.
  23. ^ Jacobs 2019, hlm. 153.
  24. ^ Jacobs 2019, hlm. 48.
  25. ^ Jacobs 2019, hlm. 53.
  26. ^ Jacobs 2019, hlm. 58, 60.
  27. ^ Jacobs 2019, hlm. 54–55.
  28. ^ Jacobs 2019, hlm. 34–35, 51–53, 78–79.
  29. ^ Jacobs 2019, hlm. 55–56.
  30. ^ Jackson 2021.
  31. ^ a b Australian Museum 2018.
  32. ^ Hage, Harary & Milicic 1996, hlm. 347.
  33. ^ Milner 1969, hlm. 16–17.
  34. ^ BBC News 2018.
  35. ^ Fiji High Comission n.d., lihat Royal Museums Greenwich n.d.
  36. ^ Museum of Archaeology and Anthropology n.d.
  37. ^ Jacobs 2019, hlm. 82–83.
  38. ^ Jacobs 2019, hlm. 94–99.
  39. ^ Jacobs 2019, hlm. 107.
  40. ^ Brewster 1922, hlm. 184.
  41. ^ a b Stewart 2019.
  42. ^ Jacobs 2019, hlm. 65 ff.
  43. ^ Jacobs 2021, hlm. 314.
  44. ^ Jacobs 2019, hlm. 43.
  45. ^ Jacobs 2019, hlm. 146.
  46. ^ Jacobs 2021, hlm. 316–317.
  47. ^ Jacobs 2019, hlm. 142.
  48. ^ Jacobs 2019, hlm. 147–149.
  49. ^ Jacobs 2021, hlm. 317–318.
  50. ^ Jenkinson 2011, hlm. 36.
  51. ^ Tora n.d.
  52. ^ Jacobs 2019, hlm. 69; lihat hlm. 16, "Figure 2".
  53. ^ Jacobs 2019, hlm. 35–37.
  54. ^ Epskamp 2016.
  55. ^ Fiji Sun 2015.
  56. ^ Epskamp 2016; McAllister 2016.
  57. ^ Satakala 2017.
  58. ^ a b University of Canterbury 2021.
  59. ^ Triponel 2022.
  60. ^ Jacobs 2019, hlm. 158.
  61. ^ Jacobs 2019, hlm. 158; Triponel 2022.
  62. ^ Toganivalu 2025b.
  63. ^ Toganivalu 2025a.
  64. ^ The Veiqia Project n.d.
  65. ^ Ledua 2025.
  66. ^ Jacobs 2019, hlm. 163–164.
  67. ^ Jacobs 2019, hlm. 38.
  68. ^ Jacobs 2021, hlm. 314–318.
  69. ^ Buckland 1888, hlm. 319.
  70. ^ Jacobs 2019, hlm. 106.
  71. ^ Jacobs 2019, hlm. 40.
  72. ^ Kleinschmidt 1980.
  73. ^ Jacobs 2019, hlm. 106–107.

Daftar pustaka

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

.fj

.fj adalah top-level domain kode negara Internet untuk Fiji. Top Level Domain l b s

2006 FJ

2006 FJ adalah sebuah asteroid. Asteroid ini merupakan bagian dari asteroid Apollo, yang terletak dekat dengan bumi. Eksentrisitas orbit asteroid ini tercatat

2009 FJ

2009 FJ adalah sebuah asteroid. Asteroid ini merupakan bagian dari asteroid Apollo, yang terletak dekat dengan bumi. Eksentrisitas orbit asteroid ini tercatat

2005 FJ

2005 FJ adalah sebuah asteroid. Asteroid ini merupakan bagian dari asteroid Amor, yang terletak dekat dengan bumi. Eksentrisitas orbit asteroid ini tercatat

2008 FJ

2008 FJ adalah sebuah asteroid. Asteroid ini merupakan bagian dari asteroid Amor, yang terletak dekat dengan bumi. Eksentrisitas orbit asteroid ini tercatat

2012 FJ

2012 FJ adalah sebuah asteroid. Asteroid ini merupakan bagian dari asteroid Amor, yang terletak dekat dengan bumi. Eksentrisitas orbit asteroid ini tercatat

Fiji

Fiji, (/ˈfiːdʒi/ simak /fiːˈdʒiː/ bahasa Fiji: Viticode: fj is deprecated ; Hindi Fiji: फ़िजी, Fijī) dengan nama resmi Republik Fiji, merupakan negara

Penganiayaan David Ozora Latumahina

David Latumahina Yang Sebenarnya! - Aurora News. Diakses tanggal 2023-02-26. FJ, Fina (2023-02-24). "Siapakah Cristalino David Ozora? Inilah Sosok Anak Jonathan