Kereta api Gunungjati
Perjalanan Perdana Kereta api Gunungjati rute Jakarta-Semarang.
Informasi umum
Jenis layananKereta api antarkota
StatusBeroperasi
Daerah operasiDaerah Operasi III Cirebon
Mulai beroperasi1 Februari 1973
Operator saat iniPT Kereta Api Indonesia
Lintas pelayanan
Stasiun awal
Stasiun akhirGambir
Jarak tempuh440 km
Waktu tempuh rerata
  • 2 jam 47 menit (Gambir–Cirebon)
  • 5 jam 46 menit (Gambir–Semarang)
Frekuensi perjalananDua kali keberangkatan tiap hari
Jenis relRel berat
Pelayanan penumpang
KelasEksekutif dan ekonomi
Pengaturan tempat duduk
  • 50 tempat duduk disusun 2-2 (kelas eksekutif)
    kursi dapat direbahkan dan diputar
  • 80 tempat duduk disusun 2-2. Sebanyak 40 kursi ke arah depan dan 40 ke arah belakang (kelas ekonomi)
    kursi dapat direbahkan
Fasilitas restorasiAda
Fasilitas observasiKaca panorama dupleks, dengan tirai, lapisan laminasi isolator panas
Fasilitas bagasiAda
Fasilitas lainToilet, alat pemadam api ringan, rem darurat, penyejuk udara, peredam suara.
Teknis sarana dan prasarana
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasional80 s.d 120 km/jam
Pemilik jalurDitjen KA, Kemenhub RI
Nomor pada jadwal117-120

Kereta api Gunungjati merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk melayani relasi Semarang TawangCirebonGambir melalui lintas utara Jawa.[1]

Asal-usul penamaan

sunting

Nama kereta api ini berasal dari nama seorang tokoh Wali Sanga asal Kota Cirebon, Jawa Barat, yakni Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati berjasa dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Kabupaten dan Kota Cirebon pada masanya, beliau membangun sebuah pesantren yang terletak di Kota Cirebon. Jasanya diabadikan juga untuk nama sebuah kecamatan, yakni Gunungjati, Kabupaten Cirebon.[1]

Sejarah

sunting

Jakarta–Cirebon (1973–1992)

sunting

Kereta api Gunungjati mulai beroperasi pada 1 Februari 1973, dan ditarik lokomotif diesel hidraulik BB301. Kereta api ini tergolong sebagai kereta ekspres yang dioperasikan untuk melanjutkan tugas dari kereta api Patas Cirebon–Jatinegara serta diresmikan bersama oleh Menteri Perhubungan, Frans Seda, Wali Kota Cirebon, Tatang Suwardi, dan Kepala Bappenas, Widjojo Nitisastro dalam rangka peringatan ulang tahun ke-602 Kota Cirebon. Saat itu, kereta api ini beroperasi sebanyak dua kali pergi pulang sehari dan menempuh waktu selama 2,5 jam.[2]

Dalam pidatonya saat acara peresmian KA Gunungjati, Nitisastro sempat menyinggung masalah distribusi pupuk. Hal ini menanggapi persoalan yang berkaitan dengan ketersediaan barang: barangnya ada, tetapi alat transportasinya tidak siap, atau sebaliknya: kendaraan banyak, tetapi barangnya tak ada satu pun yang diangkut. Masalah ini, menurutnya, harus diatasi dengan sinergi antarbisnis di sektor perdagangan dan transportasi.[3]

Pada 10 Mei 1984, PJKA mengumumkan bahwa dalam Gapeka 1984 yang dirilis pada hari itu, pola pelayanan KA Gunungjati diubah, dengan meluncurkan KA Ekspres Tegal–Jakarta Kota pp, Cirebon–Jakarta Kota pp (via Pasar Senen), dan menghadirkan KRD Gunung Jati berbasis MBW 302, dengan rute Cirebon–Jakarta Kota pp (via Gambir), dengan waktu tempuh rata-rata 3,5 jam.[4]

Beberapa tahun berikutnya, PJKA pun akhirnya merombak seluruh pelayanan kereta api Gunung Jati menjadi kelas 3 (ekonomi) dan berjalan melalui Stasiun Pasar Senen, sehubungan dengan mulai beroperasinya kereta api Tegal Arum. Bahkan agar KA ini bisa bertahan, kereta api ini harus dijalankan bertukar dukungan sarana. Sebaliknya, kereta api Cirebon Ekspres justru naik kasta, karena pada 20 November 1989, Cirebon Ekspres sudah memiliki delapan rangkaian yang dua di antaranya dilengkapi penyejuk udara.[5] Pada 1 Juni 1992, sehubungan dengan switch-over jalur layang Jakarta Kota–Manggarai, kereta api Gunungjati dihapus sehubungan dengan dibukanya KA Cirebon Ekspres yang berangkat dari Cirebon pukul 12.20, sehingga menyisakan KA Tegal Arum yang beroperasi.[6]

Jakarta–Semarang (2025–sekarang)

sunting
Awal mula nama Kereta api Cirebon Ekspres (1984-2019), sebelum dilebur menjadi Argo Cheribon (2019-2025), namun per 1 Februari 2025 layanan ini dipecah menjadi dua layanan yaitu Kereta api Gunungjati dan Kereta api Cakrabuana.

Pada tahun 2025, PT KAI mengoperasikan kembali kereta api ini setelah 32 tahun mati suri (seperti pengoperasian kereta api Jayabaya) dengan memperpanjang rutenya sampai Semarang Tawang karena permintaan pasar penumpang kereta api di lintas utara Jawa. Peresmian ulang kereta api Gunungjati dilakukan pada 1 Februari 2025 (bertepatan dengan hari ulang tahun peresmian ke-52 tahun) di Stasiun Cirebon. Peresmian kereta ini dilakukan oleh Direktur Perencanaan Strategis dan Pengelolaan Sarana KAI, John Robertho, bersama penjabat Wali Kota Cirebon, Agus Mulyadi, dan jajaran direksi Daerah Operasi III Cirebon. Pada perjalanan perdana, rangkaian kereta api Gunungjati terdiri dari empat kereta eksekutif, empat kereta kelas ekonomi, satu kereta makan, dan satu kereta pembangkit. Kereta api Gunungjati diberangkatkan dari Cirebon ke Gambir pada pagi hari, arah Semarang dan sebaliknya pada pagi/petang hari dan sedangkan arah Cirebon sebaliknya berangkat pada malam hari.[1]

Stasiun pemberhentian

sunting
Peta rute geografis kereta api Gunungjati berdasarkan Gapeka 2025

Berikut merupakan stasiun-stasiun pemberhentian kereta api Gunungjati per 1 Februari 2025.[7]

Stasiun pemberhentian kereta api Gunungjati
Provinsi Kabupaten/Kota Nama Keterangan Status
DKI Jakarta Gambir

Stasiun ujung, terintegrasi dengan BRT Transjakarta.

Jatinegara

Terintegrasi dengan Commuter Line Cikarang dan BRT Transjakarta.

Jawa Barat Kota Bekasi Bekasi

Terintegrasi dengan Commuter Line Cikarang.

Karawang Cikampek LW LJ

Terintegrasi dengan Commuter Line Jatiluhur dan Walahar. Hanya KA 117 dan 120 yang berhenti di Cikampek.

Subang Pegaden Baru Hanya perjalanan kereta api menuju ke arah timur.
Indramayu Haurgeulis
Jatibarang
Cirebon Arjawinangun Hanya KA 117 dan 120 yang berhenti di Arjawinangun.
Babakan
Kota Cirebon Cirebon Terletak di Jalur Lintas Utara Jawa.

Stasiun terminus untuk KA 120 dan 117.

Jawa Tengah Brebes Brebes KG

Terletak di Jalur Lintas Utara Jawa.

Kota Tegal Tegal KG JS KD

Terletak di Lintas Utara Jawa.

Pemalang Pemalang
Kota Pekalongan Pekalongan
Kota Semarang Semarang Tawang

Stasiun ujung untuk KA 118 dan 119. Terintegrasi dengan Kedung Sepur, Blora Jaya, dan bus Trans Semarang serta Trans Jateng.

Legenda

Stasiun ujung (terminus).
Berhenti untuk semua arah.
Berhenti untuk sebagian jadwal
Berhenti hanya mengarah ke timur (Semarang/Cirebon).
Berhenti hanya mengarah ke barat (Jakarta).


Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c Darmawan, Aditya Priyatna; Pratiwi, Inten Esti (2025-01-18). "KAI Hadirkan KA Gunungjati per 1 Februari 2025, Ini Jadwal dan Harga Tiketnya". Kompas.com. Diakses tanggal 2025-06-28.
  2. ^ Effendi, H. (6 Februari 1973). "Cirebon Express 2 1/2 Jam Hadiah HUT 602 Cirebon". Berita Buana.
  3. ^ "Perlu Keserasian antara Perhubungan dan Perdagangan". Kompas. 2 Februari 1973.
  4. ^ "PJKA Merencanakan Melakukan Perubahan Perjalanan Kereta Api". Berita Yudha. 10 Mei 1984.
  5. ^ "KA Cirebon Ekspres Dilengkapi AC". Harian Neraca. 18 November 1989.
  6. ^ "KA Cirebon Ekspres Tambah Jadwal Pemberangkatan". Berita Yudha. 6 Mei 1992.
  7. ^ "Grafik Perjalanan Kereta Api pada Jaringan Jalur Kereta Api Nasional di Jawa Tahun 2023" (PDF) (Document). Bandung: PT Kereta Api Indonesia (Persero). 30 Desember 2024. hlm. 311. Diakses tanggal 1 Februari 2025 – via Direktorat Jenderal Perkeretaapian. ; ;

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kereta api Argo Wilis

tersebut pada jadwal pagi yang merupakan penerus dari kereta api Eendaagsche Express rute Bandoeng-Soerabaia yang diluncurkan pada tahun 1929 yang merupakan

Kejuaraan Catur Dunia 2026

Prize fund of USD 2.5 million, budget of USD 8.5 million as FIDE opens hosting bids". The Indian Express. 30 April 2026. Diakses tanggal 20 Mei 2026.

Kereta api Blora Jaya

Ambarawa Ekspres Kereta api Kedung Sepur Made (ed.). "Kereta Blora Jaya Express Resmi Beroperasi". Kompas.com. Diakses tanggal 2020-01-04. "Duh, Mulai

Kereta api Gaya Baru Malam Selatan

api Ekspres Gaja Baru jadwal siang mendapatkan jenama baru yaitu Limited Express Djaya atau dalam Bahasa Indonesia disebut Ekspres Terbatas Djaya, sedangkan

Material swapulih

2012-07-20. Diakses tanggal 2 Oktober 2009. Toohey KS, Sottos NR, Lewis JA, Moore JS, White SR (August 2007). "Self-healing materials with microvascular networks"

Kereta api Banyubiru

Sragen Salem JS terintegrasi dengan Kereta api Joglosemarkerto Kabupaten Grobogan Gundih Tidak ada layanan Kabupaten Boyolali Telawa JS terintegrasi dengan

Stasiun Lempuyangan

barat Stasiun Lempuyangan dikembangkan menjadi gudang RailExpress (sekarang KAI Logistik Express). Sehubungan dengan proyek modernisasi persinyalan elektrik

CRRC CRH380A

"中国南车在国际市场上拓展品牌". www.cqn.com.cn. [https://web.archive.org/web/20160604163702/http://www.js.xinhuanet.com/xin_wen_zhong_xin/2010-10/07/content_21065008.htm "�Ͼ���վ���տ�������10��