Orang Eseni, kaum Essenian אִסִּיִים | |
|---|---|
| Pemimpin sejarah |
|
| Dibentuk | abad ke-2 SM |
| Dibubarkan | abad ke-1 Masehi |
| Kantor pusat | Qumran (diajukan)[1] |
| Ideologi |
|
| Agama | Yudaisme |
Kaum Eseni (/ˈɛsiːnz, ɛˈsiːnz/; Hebrew: אִסִּיִים, Īssīyīm; Yunani: Ἐσσηνοί, Ἐσσαῖοι, or Ὀσσαῖοι, Essenoi, Essaioi, Ossaioi) atau Essenian adalah komunitas Yahudi mistik selama periode Bait Suci Kedua yang berkembang dari abad ke-2 SM hingga abad ke-1 M.[2][3] Informasi tentang kelompok ini terdapat di dalam naskah-naskah Laut Mati, meskipun di dalam naskah-naskah tersebut tidak pernah disebut mengenai nama Eseni.[4]
Gerakan Eseni kemungkinan besar bermula sebagai kelompok yang berbeda di antara orang Yahudi pada masa Yonatan Apfus, didorong oleh perselisihan mengenai hukum Yahudi dan keyakinan bahwa imamat tinggi Yonatan tidak sah.[5] Sebagian besar sarjana berpendapat bahwa kaum Eseni memisahkan diri dari para imam Zadok.[6] Mereka mengaitkan penafsiran mereka terhadap Taurat kepada pemimpin awal mereka, Guru Kebenaran, yang mungkin merupakan imam besar yang sah. Dengan menganut pendekatan konservatif terhadap hukum Yahudi, mereka mematuhi hierarki yang ketat yang mengutamakan para imam (Putra-putra Zadok) daripada orang awam, menekankan kesucian ritual, dan memiliki pandangan dunia dualistik.[5]
Menurut penulis Yahudi Yosefus dan Philo, kaum Eseni berjumlah sekitar empat ribu orang, dan tinggal di berbagai pemukiman di seluruh Yudea. Nama Eseni digunakan (sejarawan-sejarawan Yahudi dan Romawi) untuk menyebut kelompok yang memiliki banyak persamaan dengan kelompok yang disebut di dalam naskah-naskah Laut Mati.[4] Sebaliknya, penulis Romawi Plinius Tua menempatkan mereka di suatu tempat di atas Ein Gedi, di sisi barat Laut Mati.[7][8] Plinius menceritakan dalam beberapa baris bahwa kaum Eseni tidak memiliki uang, telah ada selama ribuan generasi, dan bahwa kelas pendeta mereka ("kontemplatif") tidak menikah. Yosefus memberikan catatan rinci tentang kaum Eseni dalam Perang Yahudi (sekitar 75 M), dengan deskripsi yang lebih singkat dalam Antikitas Yahudi (sekitar 94 M) dan Kehidupan Flavius Yosefus (sekitar 97 M). Dengan mengklaim pengetahuan langsung, ia mencantumkan kaum Essenoi sebagai salah satu dari tiga sekte filsafat Yahudi[9] bersama dengan kaum Farisi dan Saduki. Ia menyampaikan informasi yang sama mengenai kesalehan, selibat; tidak adanya harta pribadi dan uang; kepercayaan pada komunalitas; dan komitmen untuk mematuhi hari Sabat dengan ketat. Ia menambahkan lebih lanjut bahwa kaum Eseni secara ritual berendam dalam air setiap pagi (suatu praktik yang mirip dengan penggunaan mikveh untuk berendam setiap hari yang ditemukan di antara beberapa Hasidim kontemporer), makan bersama setelah berdoa, mengabdikan diri pada amal dan kebajikan, melarang ekspresi kemarahan, mempelajari kitab-kitab para tetua, menjaga rahasia, dan sangat memperhatikan nama-nama malaikat yang tercantum dalam tulisan-tulisan suci mereka.
Kaum Eseni memperoleh ketenaran di zaman modern sebagai hasil penemuan sekelompok besar dokumen keagamaan yang dikenal sebagai Gulungan Laut Mati, yang umumnya diyakini sebagai perpustakaan kaum Eseni. Gulungan tersebut ditemukan di Qumran, sebuah situs arkeologi yang terletak di sepanjang pantai barat laut Laut Mati, yang diyakini sebagai tempat tinggal komunitas Eseni.[10] Dokumen-dokumen ini menyimpan banyak salinan bagian-bagian Alkitab Ibrani serta manuskrip deuterokanonika dan sektarian, termasuk tulisan-tulisan seperti Peraturan Komunitas, Dokumen Damaskus, dan Gulungan Perang. Para ahli Perjanjian Baru cenderung menyamakan komunitas Qumran dengan kaum Eseni, atau menganggap Qumran sebagai pusat dari kelompok-kelompok Eseni lainnya yang terpencar-pencar di Palestina atau di luarnya.[10]
Menurut pandangan konvensional, kaum Eseni menghilang setelah Perang Yahudi-Romawi Pertama, yang juga menyaksikan kehancuran pemukiman di Qumran.[5] Para sarjana telah mencatat tidak adanya sumber langsung yang mendukung klaim ini, sehingga memunculkan kemungkinan keberlangsungan mereka atau kelangsungan hidup kelompok-kelompok terkait di abad-abad berikutnya.[11] Beberapa peneliti berpendapat bahwa ajaran Eseni mungkin telah memengaruhi tradisi agama lain, seperti Mandaeisme dan Kekristenan.[12][13]
Kaum Eseni menganggap bahwa dunia telah menjadi sangat jahat dan kotor, sehingga mereka berupaya membentuk komunitas sendiri, di mana mereka dapat menjaga kesucian hidup mereka serta terlindungi dari dunia yang jahat.[14] Mereka percaya bahwa Allah akan segera mengintervensi jalannya dunia ini dan menetapkan pemerintahan Allah yang benar di dunia.[14] Karena itulah, mereka membentuk komunitas yang mandiri di Qumran dan mempraktikkan hidup yang terpisah dari dunia luar.[14]

Hubungan Kaum Eseni dengan Kelompok Yahudi Lainnya
suntingKaum Eseni, sebagaimana kelompok-kelompok Yahudi lainnya, muncul sebagai respons terhadap konflik-konflik politik yang muncul, di mana identitas Yahudi sedang terancam oleh Helenisasi yang dilancarkan oleh penjajah Romawi.[15] Akan tetapi, masing-masing kelompok Yahudi tersebut memilih cara dan norma yang dianggap penting sehingga tidak jarang bertentangan satu dengan yang lain.[14] Kaum Eseni memiliki pertentangan yang kuat terhadap kelompok Farisi dan Saduki, di mana kelompok Farisi dianggap oleh mereka kurang mengikuti hukum Taurat secara literer, sedangkan kaum Saduki dianggap sebagai pemimpin-pemimpin agama yang korup dan salah mengerti hukum Tuhan dalam menjalankan kultus Bait Suci.[14]
Kaum Eseni di Qumran
suntingQumran terletak di daerah dataran tinggi yang luas di dekat Laut Mati dengan dikelilingi gunung-gunung dan mata air di bagian bawahnya.[4] Di situ komunitas Eseni mendirikan bangunan-bangunan yang sebenarnya telah mulai dibangun tahun 150 SM, ketika Yohanes Hirkanus sedang memerintah di Yerusalem dan kaum Saduki memegang kekuasaan.[4] Bangunan-bangunan tersebut dihancurkan tahun 68 M pada waktu pemberontakan Yahudi pertama oleh tentara Romawi, di mana bangunan-bangunan dibumi-hanguskan dan penghuninya diusir.[3] Orang-orang Romawi kemudian membangun kembali bangunan-bangunannya dan digunakan sebagai kompleks prajurit-prajurit.[3] Setelah sempat direbut oleh Bar Khokba pada pemberontakan kedua, akhirnya bangunan-bangunan tersebut menjadi puing-puing saja setelah pemberontakan tersebut ditumpas.[3]

Bangunan utama berbentuk empat persegi panjang, berlantai dua, ukuran kasarnya 35 X 70 meter.[3] Salah satu sudutnya diperkuat menjadi bentuk sebuah menara pengawal dengan ruangan-ruangan gudang di bawahnya dan tiga ruangan sempit di atasnya.[3] Di samping itu terdapat sejumlah ruangan sempit dengan bangku-bangku sekeliling tembok.[3] Sebagian besar ruangan berfungsi sebagai ruang pertemuan, dan salah satu ruangan dilengkapi dengan meja-meja tulis, wadah-wadah tinta, dan baskom tempat cuci tangan bagi para ahli tulis.[3] Kemudian bangunan ini dilengkapi juga dengan ruang makan dan ruang menyimpan alat-alat makan.[3] Tata letak bangunan ini menunjukkan bangunan ini dipakai sebagai tempat tinggal suatu komunitas yang cukup besar.[3]

Pengajaran Kaum Eseni
suntingKeterangan mengenai pengajaran Kaum Eseni didapat dari dua dokumen penting, yakni buku Peraturan Persekutuan atau Petunjuk Disiplin, dan buku Peraturan Damaskus.[4] Para ahli berpendapat bahwa Peraturan Damaskus adalah pengembangan lebih lanjut dari Petunjuk Disiplin.[4]
Guru Kebenaran
suntingAkar dari kaum Eseni diduga berasal dari masa setelah pemberontakan Makabe, ketika pengharapan orang-orang beragama digoyahkan oleh sifat-sifat keduniawian raja-raja Hashmonayim.[3] Menurut Peraturan Damaskus, beberapa orang pencari kebenaran kemudian memperoleh pencerahan dari seorang "Guru Kebenaran". Karena itulah, sosok "Guru Kebenaran" ini terdapat di dalam tulisan-tulisan kaum Eseni dan di dalam kidung-kidung pujian yang menggambarkan kehidupan dan karya dia.[3]
Guru Kebenaran digambarkan sebagai seorang yang berasal dari keluarga imam tingkat tinggi Yahudi yang kemudian melihat dunia sekitarnya, yaitu adat istiadat Yahudi, telah dirusakkan dan umat Israel dianggap menyeleweng dari Allah.[3] Kemudian ia menjadi pengkhotbah pembela Taurat dan berhasil mengumpulkan sejumlah pengikut.[3] Ia mengecam orang-orang sezamannya beserta seluruh pemimpin-pemimpin agama.[3] Ia juga menelaah Kitab Suci dan dari situ membangun peraturan-peraturan dan tafsiran-tafsiran baru yang kemudian diajarkan kepada murid-muridnya.[3] Persekutuan itu dianggap sebagai Israel yang benar, dan anggotanya dianggap sebagai "anak-anak terang".[3] Diduga bahwa setelah sang guru meninggal akibat penganiayaan, kemudian murid-muridnya mengundurkan diri dari kehidupan masyarakat umum dan mendirikan komunitas Qumran, di mana mereka terus menelaah Kitab Suci, mentaati peraturan-peraturan yang ketat, dan menantikan hari Tuhan, di mana Allah akan datang sebagai tanda kemenangan mereka.[3]
Taurat Bagi Israel Yang Baru
suntingKomunitas ini sangat memandang negatif kepada dunia yang dianggap telah dikuasai oleh kuasa jahat, sedangkan komunitas mereka adalah anak-anak terang yang menantikan Tuhan turun ke dunia untuk menghancurkan kuasa kegelapan.[3] Untuk menjaga kemurnian diri selaku anak-anak terang, kaum Eseni melakukan berbagai disiplin dan mengikuti peraturan yang ketat.[3] Beberapa peraturan tersebut adalah tidak diizinkan memiliki barang milik pribadi, berjaga-jaga sepanjang malam, belajar bersama anggota lain, menyanyikan kidung-kidung, dan memanjatkan doa.[3] Sebagai penegak dari sistem ini, terdapat jabatan penilik, inspektur, dan hakim, serta imam-imam.[3]
Perang Terakhir
suntingKelompok ini menafsirkan Kitab Habakuk dalam melihat sejarah dunia.[3] Ketika hari akhir akan datang, seorang nabi akan muncul untuk memproklamasikan kedatangan hari tersebut.[3] Kemudian Allah akan mengutus dua orang mesias, yang satu seorang imam dan yang satu seorang prajurit.[3] Mesias imam dipandang sebagai Guru Kebenaran yang dihidupkan kembali dan diberikan kuasa, sedangkan mesias prajurit akan berasal dari garis keturunan Daud dan bertugas memimpin pasukan Allah dalam perang terakhir melawan kuasa kegelapan.[3] Keduanya akan memerintah umat Yahudi selaku umat Allah dan memperbarui peraturan Israel.[3]
Referensi
sunting- ^ אשל, חנן, "תולדות התגליות הארכאולוגיות בקומראן", בתוך: מנחם קיסטר (עורך), מגילות קומראן: מבואות ומחקרים, כרך א', ירושלים: יד יצחק בן-צבי. 2009, עמ' 9. (Hebrew)
- ^ Cyprus), Saint Epiphanius (Bishop of Constantia in (2009). The Panarion of Epiphanius of Salamis: Book I (sects 1-46) (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 32. ISBN 978-90-04-17017-9.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa (Indonesia)Lawrence E. Toombs. 1978. Di Ambang Fajar Kekristenan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 68.
- ^ a b c d e f Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama "Wahono" - ^ a b c Gurtner, Daniel M.; Stuckenbruck, Loren T., ed. (2020). T&T Clark Encyclopedia of Second Temple Judaism. Vol. 2. T&T Clark. hlm. 250–252. ISBN 978-0-567-66144-9.
- ^ F. F. Bruce, Second Thoughts on the Dead Sea Scrolls. Paternoster Press, 1956.
- ^ Pliny the Elder. Historia Naturalis. Vol. V, 17 or 29, in other editions V, (15).73.
Ab occidente litora Esseni fugiunt usque qua nocent, gens sola et in toto orbe praeter ceteras mira, sine ulla femina, omni venere abdicata, sine pecunia, socia palmarum. in diem ex aequo convenarum turba renascitur, large frequentantibus quos vita fessos ad mores eorum fortuna fluctibus agit. ita per saeculorum milia—incredibile dictu—gens aeterna est, in qua nemo nascitur. tam fecunda illis aliorum vitae paenitentia est! infra hos Engada oppidum fuit, secundum ab Hierosolymis fertilitate palmetorumque nemoribus, nunc alterum bustum. inde Masada castellum in rupe, et ipsum haut procul Asphaltite. et hactenus Iudaea est.
cf. English translation. - ^ Barthélemy, D.; Milik, J.T.; de Vaux, Roland; Crowfoot, G.M.; Plenderleith, Harold; Harding, G.L. (1997) [1955]. "Introductory: The Discovery". Qumran Cave 1. Oxford: Oxford University Press. hlm. 5. ISBN 0-19-826301-5. Diakses tanggal 31 Maret 2009.
- ^ Josephus (ca 75). The Wars of the Jews. 2.119.
- ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama "Groenen" - ^ Goodman, M. (1994), "Sadducees and Essenes after 70 CE", Judaism in the Roman World (dalam bahasa Inggris), Brill, hlm. 153–162, doi:10.1163/ej.9789004153097.i-275.38, ISBN 978-90-474-1061-4, diakses tanggal 2 Agustus 2023
- ^ Hamidović, David (2010). "About the Links between the Dead Sea Scrolls and Mandaean Liturgy". ARAM Periodical. 22: 441–451. doi:10.2143/ARAM.22.0.2131048.
- ^ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama ":3" - ^ a b c d e Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama "Ehrman" - ^ John Stambaugh, David Balch. 1997. Dunia Sosial Kekristenan Mula-Mula. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 122.