Dalam kimia, epimer adalah sebuah senyawa stereoisomer yang mempunyai konfigurasi yang berbeda hanya pada satu dari banyak pusat stereogenik. Stereoisomer ini meliputi enantiomer dan diastereomer, yang kedua-duanya mempunyai pusat stereogenik (kecuali pada isomer geometrik yang merupakan bagian dari diastereomer).

Sebagai contoh, gula α-glukosa dan β-glukosa merupakan epimer. Pada α-glukosa, gugus -OH yang berada pada karbon pertama (anomerik) mempunyai arah yang berlawanan dengan gugus metilena (pada posisi aksial). Pada β-glukosa, gugus -OH memiliki arah yang searah dengan gugus metilena (paa posisi ekuatorial).[1] Kedua molekul ini merupakan epimer dan anomer.

Pada kasus di atas, β-D-glukopiranosa dan β-D-manopiranosa adalah epimer karena mereka hanya berbeda secara stereokimia pada posisi 2. Gugus hidroksi pada β-D-glukopiranosa adalah aksial. Kedua molekul ini adalah epimer, tetapi bukan anomer.

Dalam tatanama kimia, satu dari pasangan epimerik diberikan prefiks epi-, sebagai contoh pada kuinina dan epi-kuinina. Ketika pasangan tersebut enantiomer, prefiksnya menjadi ent-

Referensi

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Karbohidrat

aldotriosa), ada sepasang stereoisomer yang mungkin, yaitu enansiomer dan epimer. Molekul 1, 3-dihidroksiaseton, yaitu ketosa yang sesuai dengan gliseraldehida

Diastereomer

diastereoisomer berbeda hanya pada satu pusat kiral, keduanya disebut sebagai epimer. Setiap pusat kiral dapat membentuk dua konfigurasi berbeda, sehingga umumnya

Neomisin

1949 (NBRC 12773). Neomisin adalah campuran neomisin B (framisetin); dan epimer neomisin C-nya, komponen terakhir menyumbang sekitar 5–15% dari campuran

Tiol

Glutationa Sisteina 2-Merkaptoetanol Ditiotreitol/ditioeritritol (pasangan epimer) 2-Merkaptoindola transglutaminase Tial pertukaran Tiol-disulfida Rengga

Asam tioasetat

Synthesis of methyl 6-deoxy-4-O-(sodium sulfonato)-α-Ltalopyranoside, its C-4 epimer and both isosteric [4-C-(potassium sulfonatomethyl)] derivativesLászló Lázár