📑 Table of Contents
Peluruhan inti kaya proton A menghasilkan inti anak B dalam keadaan tereksitasi B melalui emisi β+ atau penangkapan elektron (electron capture, EC). Kondisi tereksitasi yang terletak di bawah pemisahan energi untuk peluruhan proton (Sp) melalui emisi γ terhadap keadaan dasar anak B. Untuk keadaan tereksitasi yang lebih tinggi, terdapat jalur peluruhan kompetitif emisi proton menjadi cucu C, yang disebut emisi proton β-tertunda.


Emisi proton (dikenal juga sebagai radioaktivitas proton) adalah jenis peluruhan radioaktif yang langka di mana proton terlontar dari inti atom. Emisi proton dapat terjadi dari kondisi tereksitasi tinggi dalam inti atom setelah peluruhan beta, yang dalam hal ini prosesnya dikenal sebagai emisi proton beta tertunda, atau dapat terjadi dari keadaan dasar inti atom kaya proton, yang dalam hal ini prosesnya sangat mirip dengan peluruhan alfa. Agar dapat terlepas dari inti atom, energi pemisahan proton harus negatif - sehingga proton menjadi tak terikat, dan meluncur keluar dari inti atom dalam waktu yang sangat singkat. Emisi proton tidak terlihat dalam isotop alami; pemancar proton dapat dihasilkan melalui reaksi nuklir, biasanya menggunakan akselerator partikel linier.

Meskipun emisi proton yang cepat (yaitu bukan beta tertunda) teramati dari sebuah isomer kobalt-53 pada awal 1969, belum ada keadaan emisi proton yang ditemukan hingga tahun 1981, ketika keadaan dasar proton radioaktif lutesium-151 dan tulium-147 teramati pada percobaan di GSI, Jerman Barat.[1] Penelitian di lapangan berkembang setelah terobosan ini, dan sampai saat ini telah ditemukan lebih dari 25 isotop yang menunjukkan emisi proton. Studi emisi proton telah membantu pemahaman tentang deformasi, massa dan struktur nuklir, dan ini adalah contoh murni dari penerowongan kuantum.

Pada tahun 2002, emisi simultan dua proton teramati dari inti atom besi-45 dalam percobaah di GSI dan GANIL (Grand Accélérateur National d'Ions Lourds di Caen). Pada tahun 2005, suatu percobaan (pada fasilitas yang sama) berhasil menentukan bahwa seng-54 dapat juga mengalami peluruhan proton ganda.

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ S. Hofmann (1996). "Chapter 3: Proton radioactivity". Dalam Dorin N. Poseru (ed.). Nuclear Decay Modes. Bristol: Institute of Physics Publishing. hlm. 143–203. ISBN 0-7503-0338-7.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Tangkapan proton

sebuah proton dan inti memancarkan sebuah elektron dan sebuah antineutrino. Emisi positron berbeda dengan peluruhan proton, peluruhan proton hipotetis

Atom

dan proton. Jumlah proton dalam atom menentukan jenis dari tiap atom, contohnya atom karbon terdiri dari 6 proton, atom nitrogen terdiri dari 7 proton dan

Peluruhan radioaktif

satu gram radium. Satu curie (Ci) setara dengan 3.7 × 1010 Bq. Neutron dan proton yang menyusun inti atom, terlihat seperti halnya partikel-partikel lain

Isotop litium

dan kemungkinan akan jauh lebih pendek, seperti helium-2 (diproton) yang mengalami emisi proton dalam 10−9 detik. Litium-7 dan litium-6 adalah dua nuklida

Tangkapan elektron

antineutrino elektron dengan proton. Jika perbedaan energi antara atom induk dan atom turunan kurang dari 1,022 MeV, emisi positron adalah terlarang karena

Bismut-209

radioisotop yang mengalami peluruhan α (peluruhan alfa). Ia memiliki 83 proton dan bilangan ajaib 126 neutron, serta massa atom 208,9803987 sma (satuan

Fisi nuklir

ketidakberaturan) membedakan fisi dari proses penerowongan kuantum murni seperti emisi proton, peluruhan alfa, dan peluruhan kluster, yang menghasilkan produk yang

Emisi positron

Emisi positron atau peluruhan beta plus (peluruhan β+) adalah subtipe peluruhan radioaktif yang disebut peluruhan beta, di mana sebuah proton di dalam