📑 Table of Contents
Keboedajaän dan Masjarakat. Madjallah Boelanan berdasar Kebangsaän [= Kebudayaan dan Masyarakat. Majalah Bulanan berdasar Kebangsaan] menggunakan Sistem Ejaan Van Ophuijsen yang menampilkan tanda tréma.

Ejaan Van Ophuijsen atau Ejaan Lama adalah jenis ejaan yang pernah digunakan untuk bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia pada zaman kolonialisme Belanda. Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata bahasa Indonesia menurut model yang dipahami orang Belanda, yaitu menggunakan alfabet Latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda. Ada beberapa ciri penanda lingual dalam Ejaan van Ophuijsen, yaitu:[1]

Huruf hidup yang diberi aksen trema atau dwititik diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini. Kebanyakan catatan tertulis bahasa Melayu pada masa itu menggunakan abjad Arab yang dikenal sebagai abjad Jawi. Ejaan ini akhirnya digantikan oleh Ejaan Republik untuk bahasa Indonesia pada 19 Maret 1947.[1]

Sejarah singkat

sunting

Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan bahasa Melayu yang pertama kali oleh Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan mereka yang dikenal dengan ejaan Van Ophuijsen ditulis dalam sebuah buku berjudul Kitab Logat Melajoe.[2] Dalam kitab itu dimuat sistem alfabet Latin untuk bahasa Melayu di Indonesia.

Van Ophuijsen adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Ia pernah jadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi, Sumatera Barat, kemudian menjadi profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Setelah menerbitkan Kitab Logat Melajoe, van Ophuijsen kemudian menerbitkan Maleische Spraakkunst (1910). Buku ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul Tata Bahasa Melayu dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia.

Referensi

sunting
  1. ^ a b "Pemakaian Ejaan dalam Bahasa Indonesia/Melayu pada Iklan Tempo Doeloe dan Implikasinya bagi Perkuliahan Bahasa Indonesia". Transformatika. 2 (1): 59-60. 2018. ISSN 2549-5941.
  2. ^ Sudaryanto (2018). "Tiga Fase perkembangan Bahasa Indonesia (1928 - 2009): Kajian Linguistik Historis". Aksis. 2 (1): 3. ISSN 2580-9040.

Pranala luar

sunting


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Ejaan yang Disempurnakan

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (disingkat Ejaan yang Disempurnakan atau EYD) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972 hingga

Ejaan Republik

Ejaan Republik (ditulis juga sebagai Edjaan Republik atau Edjaan Soewandi) adalah ketentuan ejaan dalam bahasa Indonesia yang berlaku sejak 19 Maret 1947

Ejaan

dan aturan baku yang berlaku, seperti PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan). Ejaan biasanya memiliki tiga aspek yaitu: aspek fonologis yang menyangkut

Bahasa Indonesia

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini

Sumatra

Sumatra (ejaan tidak baku: Sumatera) adalah pulau keenam terbesar di dunia yang terletak di Indonesia, dengan luas 473.481 km². Penduduk yang tinggal

Ejaan Bahasa Indonesia

asli yang berkaitan dengan artikel ini: Ejaan Bahasa Indonesia Ejaan Bahasa Indonesia (disingkat EBI) adalah ejaan bahasa Indonesia yang pernah berlaku sejak

Pembaruan ejaan Indonesia-Malaysia tahun 1972

Pembaruan ejaan Indonesia-Malaysia tahun 1972 merupakan upaya bersama antara Indonesia dan Malaysia untuk menyelaraskan sistem ejaan yang digunakan dalam

Aksara Jawa

kontemporer, ejaan ini dianggap sebagai ejaan kasar atau kurang tepat, karena desa adalah kosakata serapan Sanskerta yang seharusnya dieja sesuai pengucapan