Right

Diskotek (ejaan tidak baku: diskotek, dari bahasa Belanda discotheek atau bahasa Prancis discothèque) adalah tempat hiburan atau kelab malam dengan alunan musik yang dibawakan oleh seorang disjoki melalui sistem PA.[1]

Diskotek merupakan salah satu tempat koleksi piringan hitam dan berbagai varian musik lokal, musik disko, funk, dan elektro sekitar tahun 1980–1990.[2]

Diskotek terdiri dari lantai dansa berukuran besar di tengah-tengah, ruangan yang bersuasana gelap dengan lampu sorot yang berputar-putar, dan lampu atmosfer yang menempel di dinding.

Diskotek juga menyediakan aneka minuman dan camilan. Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung perlu membeli tiket di dekat pintu masuk.[3][4][5]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "http://id.termwiki.com/ID/discoth%C3%A8que". ;
  2. ^ Achmad Maulana,dkk. Kamus Ilmiah Populer,Lengkap.
  3. ^ "http://ravelex.net/forum/clubs-venues/beda-lounge-bar-club-diskotek-pub/". ;
  4. ^ "https://indopendenthacking.wordpress.com/2010/01/21/perbedaan-bardiskotikclub-dan-pub/". ;
  5. ^ "http://www.vemale.com/ragam/21155-masuk-diskotek-gratis-jika-berani-pamer-payudara.html". ;

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Disko

discothèque, bahasa Prancis untuk klub dansa, bahasa Indonesia: diskotek). Di diskotek, diputar musik yang dipakai sebagai musik pengiring dansa. Istilah

Comic 8

adalah penari sriptis Pria yang cukup populer di suatu diskotek lokal. Karena itu, owner diskotek tersebut menolak seorang ibu yang ingin membawa Babe pulang

Dugem

dengan rave) adalah kegiatan mengunjungi dan berkumpul di kelab malam, diskotek atau festival musik. Kegiatan ini mencakup bersosialisasi, mendengarkan

172 Days

masjid M.N. Qomarruddin sebagai ustaz galak Jerry Likumahwa sebagai DJ di diskotek "Film 172 Days Kapan Tayang di Bioskop? Ini Jadwal Tayang Film Kisah Cinta

Derry Sulaiman

dakwahnya yaitu wisatawan mancanegara dan anak-anak muda di kafe, bar, diskotek, dan pinggir pantai. Selain berdakwah, ia juga mulai mengembangkan bakat

DJ Mixer

salah satu jenis Audio Mixer yang dirancang khusus untuk penampilan DJ di diskotek, klub, atau pertunjukan langsung. Meskipun secara garis besar mirip dengan

Adam Jagwani

Karno sudah mengenal Adam sejak Adam masih bekerja sebagai disjoki di Diskotek Stardust, Jakarta. Karena itu, pada awalnya Adam menggunakan nama panggung

Nike Ardilla

Nike yang saat itu bersama manajernya, Sofiatun, baru saja kembali dari diskotek Polo. Isu-isu negatif seputar kematiannya berkembang di antaranya menyebutkan