Difteri
Difteri dapat menyebabkan pembengkakan, sering kali disebut leher banteng.[1]
SpesialisasiPenyakit menular
GejalaSakit tenggorokan, demam, batuk menggonggong[2]
Awitan umum2–5 hari setelah terpapar[1]
PenyebabCorynebacterium diphtheriae (menyebar melalui kontak langsung dan udara)[1]
Metode diagnostikPenampilan tenggorokan, kultur[2]
PencegahanVaksin difteri[1]
PengobatanAntibiotik, trakeotomi[1]
Frekuensi4.500 (dilaporkan tahun 2015)[3]
Kematian2.100 (2015)[4]

Difteri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.[1] Difteri ialah penyakit yang pada masa lalu telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang. Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal. Anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit ini.

Penularan

sunting

Kuman difteri disebarkan oleh menghirup cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi, dari jari-jari atau handuk yang terkontaminasi, dan dari susu yang terkontaminasi penderita.

Gejala

sunting

Gejala yang muncul ialah sakit tenggorokan, demam, sulit bernapas dan menelan, mengeluarkan lendir dari mulut dan hidung, dan sangat lemah. Kelenjar getah bening di leher membesar dan terasa sakit. Lapisan(membran) tebal terbentuk menutupi belakang kerongkongan atau jika dibuangkan menutup saluran pernapasan dan menyebabkan kekurangan oksigen dalam darah.

Perawatan dan pencegahan

sunting
Antitoxin difteri.

Perawatan bagi penyakit ini termasuk antitoksin difteri, yang melemahkan toksin dan antibiotik. Eritromisin dan penisilin membantu menghilangkan kuman dan menghentikan pengeluaran toksin. Membuat lubang pada pipa saluran pernapasan atas(tracheotomy) mungkin perlu untuk menyelamatkan nyawa. Umumnya difteri dapat dicegah melalui vaksinasi. Bayi, kanak-kanak, remaja, dan orang dewasa yang tidak mempunyai cukup pelalian memerlukan suntikan booster setiap 10 tahun.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f Atkinson, William (Mei 2012). Diphtheria Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Edisi 12). Public Health Foundation. hlm. 215–230. ISBN 9780983263135. Diarsipkan dari asli tanggal 15 September 2016.
  2. ^ a b "Diphtheria vaccine" (PDF). Wkly Epidemiol Rec. 81 (3): 24–32. 20 Januari 2006. PMID 16671240. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 6 Juni 2015.
  3. ^ "Diphtheria". who.int. 3 September 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 27 Maret 2015.
  4. ^ GBD 2015 Mortality and Causes of Death, Collaborators. (8 Oktober 2016). "Global, regional, and national life expectancy, all-cause mortality, and cause-specific mortality for 249 causes of death, 1980-2015: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2015". Lancet. 388 (10053): 1459–1544. doi:10.1016/s0140-6736(16)31012-1. PMC 5388903. PMID 27733281. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Vaksin difteri

Vaksin difteri merupakan vaksin yang diberikan untuk melawan Corynebacterium diphtheriae, yaitu bakteri yang menyebabkan penyakit difteri. Penggunaannya

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan

DPT-HB-Hib Vaksin hepatitis B rekombinan Vaksin jerap difteri tetanus (DT) Vaksin jerap tetanus difteri (Td) Vaksin measles rubella (MR) Vaksin polio (IPV

Daftar kata serapan dari bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia

(diagram) dialek (dialect) dialog (dialoog) diare (diarree) diet (dieet) difteri (difterie) diktat (dictaat) dikte (dictee) dinamit (dynamiet) dinas (dienst)

Usap nasofaring

biasanya digunakan dalam kasus dicurigai untuk kasus penyakit batuk rejan, difteri, influenza dan beragam jenis penyakit yang disebabkan oleh famili virus

Poppy Mercury

komplikasi Maag, bronchitis/radang tenggorokan atau yang lebih dikenal dengan difteri serta Reumatik yang dideritanya. Poppy show terakhir kalinya di acara Pekan

Vaksin tetanus

DTaP dan Tdap yang mengandung vaksin difteri, tetanus, dan pertusis, dan DT dan Td yang mengandung vaksin difteri dan tetanus. DTaP dan DT diberikan kepada

Kitasato Shibasaburō

bersama di Berlin pada tahun 1890 mengumumkan penemuan serum antitoksin difteri, Von Behring dianugerahi Penghargaan Nobel tahun 1901 karena karyanya tersebut

Leontopodium Alpinum

mengatasi berbagai penyakit seperti diare, disentri, tuberculosis, dan difteri. Bunga ini memiliki kandungan anti-oksidan yang cukup banyak, yaitu anti-mikroba