Polihedron merupakan politop berdimensi-3.
Poligon merupakan poltop berdimensi-2.

Dalam geometri elementer, politop adalah suatu objek geometri yang memiliki muka, sisi yang datar. Politop secara umum merupakan perumuman dari polihedron berdimensi tiga menjadi sebarang dimensi. Politop yang mungkin ada dalam sebarang dimensi n disebut sebagai politop berdimensi-n. Sebagai contoh, poligon merupakan politop berdimensi-2, dan polihedron merupakan politop berdimensi-3. Pada konteks ini, "sisi yang datar" mengartikan bahwa sisi-sisi dari suatu politop berdimensi-(k + 1) terdiri dari politop berdimensi-k yang dapat memiliki politop berdimensi-(k – 1) yang sama.

Ada beberapa teori yang memperumum gagasan lebih lanjut untuk memasukkan objek seperti apeirotop dan pengubinan yang tidak memliki batas, dekomposisi atau pengisi kurva manifold seperti polihedron sferis, dan politop abstrak.

Politop dengan dimensi yang lebih dari tiga pertama kali ditemukan oleh Ludwig Schläfli sebelum tahun 1853, yang menyebutnya polyschem.[1] Istilah polytop yang berasal dari bahasa Jerman diciptakan oleh matematikawan Reinhold Hoppe, dan diperkenalkan kepada matematikawan asal Inggris yang bernama Alicia Boole Stott sebagai polytope.

Pendekatan definisi

sunting

Istilah politop saat ini merupakan istilah luas yang mencakup kelas-kelas objek yang sangat banyak, dan berbagai definisi ditemukan dalam kepustakaan matematika. Akan tetapi, banyak dari definisi ini tidak ekuivalen dengan satu sama lain, dan hal tersebut menghasilkan kumpulan objek bertumpang tindih yang berbeda, yang disebut politop. Objek-objek tersebut mewakili pendekatan yang berbeda untuk memperumum politop cembung untuk memasukkan objek lain dengan sifat-sifat yang serupa.

Pendekatan asli secara luas diikuti oleh Ludwig Schläfli, Thorold Gosset dan lainnya. Pendekatan tersebut berawal dari gagasan poligon (berdimensi dua) dan polihedron (berdimensi tiga) yang diperluas berdasarkan analogi menjadi dalam objek berdimensi empat atau lebih.[2]

Upaya untuk memperumum karakteristik Euler dari polihedron menjadi politop berdimensi lebih tinggi mengakibatkan pengembangan topologi dan perlakuan dekomposisi atau kompleks CW (CW complex) menjadi analogi dengan politop.[3] Berdasarkan pendekatan tersebut, politop dapat dipandang sebagai pengubinan atau dekomposisi dari beberapa manifold. Contoh pendekatan ini mendefinisikan politop sebagai sekumpulan titik yang memiliki dekomposisi sederhana. Selain itu, politop dalam pendekatan tersebut juga merupakan gabungan dari tak berhingga banyaknya simpleks dengan adanya sifat tambahan yang berbunyi bahwa untuk sebarang dua buah simpleks yang memiliki irisan tak kosong, irisannya adalah titik sudut, edge, atau muka dari dua simpleks yang berdimensi lebih tinggi.[4] Sayangnya, definisi ini tidak berlaku untuk politop bintang dengan struktur interior, sehingga definisi tersebut menjadi terbatas di cabang matematika tertentu. Politop dalam jumlah dimensi yang lebih rendah memiliki nama yang standar:

Dimensi politop Merupakan sebutan untuk[5]
−1 Nullitop
0 Monon
1 Dion
2 Poligon
3 Polihedron
4 Polikhoron[5]

Sifat-sifat

sunting

Karena politop cembung (yang terisi) dengan dimensi adalah kontraktibel menjadi satu buah titik, karakteristik Euler dari batasnya dirumuskan dengan penjumlahan berselang-seling:Notasi pada rumus di atas menyatakan jumlah dari muka berdimensi-. Karakteristik ini memperumum rumus Euler untuk polihedron.[6]

Teorema Gram–Euler juga memperumum penjumlahan selang-seling dari sudut internal untuk polihedron cembung ke politop dengan dimensi yang lebih tinggi.[6]

Perumuman

sunting

Politop tak terbatas

sunting

Tidak semua mainfold adalah terhingga. Apabila politop dianggap sebagai pengubinan atau dekomposisi manifold, maka gagasan ini dapat diperluas menjadi manifold tak terhingga. Karena itu, politop meliputi pengubinan bidang, (sarang lebah) pengisi ruang, dan pengubinan hiperbolik. Politop tersebut terkadang-kadang disebut apeirotop sebab memiliki banyak sel yang tak berhingga jumlahnya.

Dari antara politop-politop tersebut, terdapat bentuk yang beraturan seperti polihedron pencong beraturan dan deret tak terhingga dari pengubinan yang dinyatakan dengan apeirogon beraturan, pengubinan persegi, sarang lebah kubik, dan lain sebagainya.

Politop abstrak

sunting

Politop abstrak merupakan himpunan terurut parsial dari elemen atau anggota, yang mematuhi aturan-aturan tertentu. Politop ini merupakan struktur aljabar murni. Teori tentangnya dikembangkan supaya menghindari masalah-masalah yang menjadikannya sangat sulit untuk mencocokkan berbagai kelas geometris dalam sebuah struktur matematis yang konsisten. Suatu politop geometris dikatakan realisasi di beberapa ruang nyata dari politop abstrak yang terkait.[7]

Politop kompleks

sunting

Terdapat struktur yang mirip seperti dengan politop, dan struktur ada di ruang Hilbert kompleks , dengan dimensi real n yang disertai dengan n bilangan imajiner. Lebih-lebih, poltop kompleks beraturan diperlakukan sebagai konfigurasi.[8]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Coxeter 1973, hlm. 141–144, §7-x. Historical remarks.
  2. ^ Coxeter 1973.
  3. ^ Richeson, D. (2008). Euler's Gem: The Polyhedron Formula and the Birth of Topology. Princeton University Press. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ Grünbaum 2003.
  5. ^ a b Johnson, Norman W. (2018). Geometries and Transformations. Cambridge University Press. hlm. 224.
  6. ^ a b M. A., Perles; G. C., Shephard (Maret 1967). "Angle sums of convex polytopes". 21 (2). Math. Scandinavica: 199–218. ; Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
  7. ^ McMullen, Peter; Schulte, Egon (Desember 2002), Abstract Regular Polytopes (Edisi 1st), Cambridge University Press, ISBN 0-521-81496-0
  8. ^ Coxeter, H.S.M. (1974). Regular Complex Polytopes.

Sumber

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Geometri kompleks

Abelian. Bivector (complex) Calabi–Yau manifold Cartan's theorems A and B Complex analytic space Complex Lie group Complex polytope Complex projective space

Bentuk

geometris Kendall, D.G. (1984). "Shape Manifolds, Procrustean Metrics, and Complex Projective Spaces". Bulletin of the London Mathematical Society. 16 (2):

Eugenio Calabi

dan ilmu-ilmu terapan lainnya. Calabi, Eugenio. Isometric imbedding of complex manifolds. Ann. of Math. (2) 58 (1953), 1–23. DOI:10.2307/1969817 Calabi

Kesenjangan digital

html. Hilbert, Martin (2011). "The end justifies the definition: The manifold outlooks on the digital divide and their practical usefulness for policy-making"

Teorema tiga geodesik

geodetik atau teorema Lyusternik–Schnirelmann menyatakan bahwa setiap manifold Riemann dengan topologi bola setidaknya memiliki tiga geodesik tertutup

Aerojet M-1

turbine for the M-1 hydrogen-oxygen rocket engine. I - Inlet feedpipe-manifold assembly Cold-air performance evaluation of scale model oxidizer pump-drive

Penambahan

"penjumlahan" pada kontinum, atau lebih tepatnya dan secara umum, pada manifold terdiferensiasi. Integrasi pada lipatan nol-dimensi direduksi menjadi penjumlahan

Konjektur Poincaré

Bernhard (2004). "Foundations for a general theory of functions of a complex variable". Collected Papers: Bernhard Riemann. Diterjemahkan oleh Baker