Situs Cepet Pakem
ꦱꦶꦠꦸꦱ꧀ꦕꦼꦥꦼꦠ꧀ꦥꦏꦼꦩ꧀
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Cagar budaya Indonesia
KategoriSitus
No. RegnasBelum ada
Lokasi
keberadaan
Padukuhan Cepet, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
PemilikBalai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
PengelolaBalai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Situs Cepet Pakem (bahasa Jawa: ꦱꦶꦠꦸꦱ꧀ꦕꦼꦥꦼꦠ꧀ꦥꦏꦼꦩ꧀, translit. Situs Cepet Pakem) adalah situs arkeologi yang terletak di Padukuhan Cepet, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan temuan dua buah yoni dan sejumlah komponen arsitektur candi di sekitarnya, situs ini diduga merupakan reruntuhan sebuah candi Hindu dari masa klasik. Lokasinya kini berada di area permakaman umum Padukuhan Cepet, berdekatan dengan sebuah masjid. Situs tersebut telah diinventarisasikan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dengan nomor inventaris B.959.

Keadaan

sunting

Benda cagar budaya (BCB) utama yang ditemukan di situs ini adalah dua buah yoni yang terbuat dari batu andesit. Kondisi keduanya telah rusak, sedangkan lingganya tidak ditemukan. Yoni pertama awalnya berada di pekarangan penduduk bernama Pujodiyono, tetapi sekarang dipindahkan di halaman makam. Yoni ini memiliki ukuran relatif besar dengan bentuk yang sederhana, yaitu lebar 134 sentimeter, tebal 115 sentimeter, dan tinggi 88 sentimeter.[1] Bagian bawah cerat yoni tersebut tidak bermotif dan memberikan kesan bahwa pengerjaannya belum selesai. Sementara itu, terdapat berbagai komponen arsitektur candi sekelilingnya, yaitu antefik polos, kemuncak, pelipit, dan batu-batu berukir maupun polos.[2] Namun demikian, beberapa batu digunakan sebagai batu nisan dan sebagian lainnya diduga digunakan sebagai fondasi bangunan oleh warga setempat.[3]

Yoni kedua berjarak sekitar 10 meter dari yoni pertama dan terletak di area yang tersembunyi di belakang rumah warga. Bagian cerat dan penyangganya sebagian telah hilang. Namun demikian, ornamen berbentuk ular kobra dan kura-kura di bawah cerat masih dapat dikenali, meskipun dalam kondisi aus. Motif tersebut memiliki kemiripan dengan yoni yang ditemukan di Candi Ijo.[3]

Keberadaan yoni sebagai simbol aspek feminim – yang biasanya berpasangan dengan lingga sebagai lambang Dewa Siwa – mengindikasikan jika situs ini bercorak agama Hindu. Selain yoni, fragmen bangunan candi lain yang ditemukan di situs ini meliputi takik, batu isi, dan pelipit. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, situs ini diperkirakan berasal dari masa klasik, yaitu sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.[3] Namun demikian, unsur-unsur batuan yang memungkinkan untuk direkonstruksi menjadi bentuk candi utuh tidak pernah ditemukan secara lengkap.[1] Selain komponen arkeologi Hindu, ditemukan pula nisan-nisan Islam dari periode akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 di situs ini, termasuk beberapa nisan bergaya Dipanegaran. Hal ini menunjukkan kesinambungan penggunaan situs tersebut dari masa klasik hingga masa Islam.[3]

Upaya pelestarian

sunting

Situs ini telah diinventarisasikan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta (sekarang Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X) dengan nomor inventaris B.959.[1][4] Inventarisasi tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian dan pendokumentasian peninggalan arkeologi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pencatatan ini juga bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap keberadaan situs agar tidak mengalami kerusakan atau alih fungsi yang tidak sesuai.[3]

Rujukan

sunting
  1. ^ a b c "Situs Cepet". Tembi Rumah Budaya. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
  2. ^ "Situs Cepet". Ancient Mataram. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
  3. ^ a b c d e "Situs Cepet Pakem". Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
  4. ^ Laporan Inventarisasi Benda Cagar Budaya Kecamatan Kalasan dan Kecamatan Pakem, Proyek Pengembangan Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Anggaran 2000. Yogyakarta: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Cepetan Alas

Tengah. Kesenian ini juga dikenal dengan sebutan Cepetan atau Cepet. Secara etimologis, istilah "cepet" dalam bahasa Jawa merujuk pada makhluk halus atau

Bali

Rp1.102.440.440.000,- Lagu daerah "Jangi Janger" "Dadong Dauh" "Macepet-cepetan" "Meyong-Meyong" "Putri Cening Ayu" "Ratu Anom" Rumah adat Rumah Gapura

D'Academy (musim 6)

Teman-Teman Di Asrama, Siapa Kah Dia?? "Bestie D'Academy 6 | Tips Anti Galau Dan Cepet Move On Ala Rara & Kier King "Bestie D'Academy 6 | Kesibukan Peserta DA

Erdin Werdrayana

Emang Boleh Punya Senyum Selucu Itu (2023) Senyum Neng yang Bikin Gula Cepet Abis (2023) Neng Rujak Emang Boleh Ya Segalak Itu (2023) Cinta Dodol Inilah

Jihan Audy

Haning Haruskah Aku Mati Jatuh Cinta Jangan Nget Ngetan Jomblo Happy Kalah Cepet Konco Rindu Konco Turu Kowe Milih Liyane Lelah Lepaskanlah Lintang Ati Madiun

Orang Banyumasan

Biasanya dalam pertunjukkan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan, penthul & cépét. Dalam pertunjukkannya ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe

The Comment

Judul Lagu dengan 1 Kata Tebak Judul Sinetron Jadul Top List Games Ayo Cepetan Games Teh Topi Games Menara Gelas Belagu Dance Ini Talkshow Sarah Sechan

Ebeg

masyarakat kedua pemain yang menggunakan topeng ini dikenal dengan nama Cepet. Penthul adalah topeng yang memiliki hidung panjang dan biasanya berwarna