Artikel ini menggunakan gaya pengutipan yang tidak konsisten. |
| Bukefalos | |
|---|---|
Aleksander dan Bukefalos karya Domenico Maria Canuti, abad ke-17 | |
| Spesies | Kuda |
| Jenis kelamin | Jantan |
| Lahir | ca 355 BC |
| Mati | Juni 326 SM (usia 30 tahun) Pentapotamia, Kekaisaran Makedonia (Pakistan modern) |
| Jabatan | Kuda perang |
| Tahun aktif | 344 SM – 326 SM |
| Pemilik | Aleksander Agung |
Bukefalos (/bjuː.ˈsɛ.fə.ləs/; Yunani Kuno: Βουκεφᾰ́λᾱς, romanized: Boukephalas; Inggris: Bucephalus; ca 355 SM – Juni 326 SM) atau Bukefalas, adalah kuda milik Aleksander Agung dan salah satu kuda paling terkenal pada zaman klasik.[1] Menurut Roman Aleksander (1.15), nama "Bukefalos" secara harfiah berarti "berkepala lembu" (dari βοῦς, bûs, 'lembu' dan κεφᾰλή, cephălē, 'kepala'), dan konon berasal dari cap (atau bekas luka) penanda pada bagian paha kuda yang menyerupai bentuk kepala lembu.[2]
Berbagai catatan sejarah kuno[3] menyebutkan bahwa Bukefalos berasal dari "ras Tesalia terbaik", dan bahwa ia mati di wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Punjab, Pakistan, setelah Pertempuran Hidaspes pada tahun 326 SM. Aleksander sangat terpukul atas kematian kudanya sehingga ia menamai salah satu kota yang ia dirikan berdasarkan nama kuda tersebut, yaitu Aleksandra Bukefalos.
Penjinakan Bukefalos
suntingBukefalos digambarkan sebagai hewan berukuran sangat besar dengan kepala yang juga sangat besar, berbulu hitam, dengan tengara bintang putih besar di dahinya.[butuh rujukan] Konon, ia memiliki mata berwarna biru pucat (wall eye),[butuh rujukan] dan garis keturunannya berasal dari "ras Tesalia terbaik".
Plutarkhos menyebutkan[4] bahwa pada tahun 344 SM, Aleksander dari Makedonia, pada usia 12 atau 13 tahun, memenangkan kuda tersebut melalui taruhan dengan ayahnya: seorang pedagang kuda bernama Philonicus dari Tesalia menawarkan Bukefalos kepada Raja Filipus II dengan harga yang sangat tinggi, yaitu 13 talenta.[a] Karena tidak ada seorang pun yang mampu menjinakkan hewan tersebut, Filipus tidak tertarik. Namun, Aleksander tertarik, dan ia menawarkan diri untuk membayar sendiri kuda tersebut jika ia gagal menjinakkannya.
Aleksander diberikan kesempatan untuk menjinakkan kuda tersebut, dan mengejutkan semua orang karena ia berhasil melakukannya. Ia berbicara dengan lembut kepada kuda tersebut dan memalingkan kepala sang kuda ke arah matahari sehingga kuda tersebut tidak dapat melihat bayangannya sendiri, yang menjadi sumber kegelisahannya. Ia juga menanggalkan jubahnya yang berkibar, dan berhasil menjinakkan kuda tersebut. Plutarkhos mengatakan bahwa peristiwa tersebut begitu mengesankan bagi Filipus sehingga Filipus berkata kepada Aleksander, "Wahai putraku, carilah kerajaan yang setara dengan dirimu dan layak bagimu, karena Makedonia terlalu kecil bagimu."[4] Menurut A. R. Anderson, ucapan Filipus tersebut merupakan satu-satunya bagian yang kurang meyakinkan dalam anekdot tersebut;[5] yang mencatat bahwa perkataan tersebut merupakan embrio dari legenda yang kemudian berkembang sepenuhnya dalam Sejarah Aleksander I.15, 17.
Roman Aleksander menyajikan berbagai versi mitis mengenai sifat dan asal-muasal Bukefalos, dengan setiap resensi dan manuskrip memuat rincian yang berbeda-beda. Setelah kembali dari sebuah kampanye militer, Filipus bertanya kepada Orakel Delfi mengenai siapa yang akan menjadi raja setelah dirinya. Pithia menjawab bahwa orang yang kelak akan menguasai seluruh dunia adalah orang yang menunggangi Bukefalos melintasi pusat kota Pella. Dalam manuskrip A, Bukefalos adalah seekor kuda pemakan manusia (di sini tidak disebutkan asal-muasalnya), yang Filipus perintahkan untuk dikurung. Saat mendengar suara Aleksander, kuda tersebut langsung menjadi tenang dan mengakui Aleksander sebagai tuannya. Aleksander kemudian melompat ke punggung Bukefalos dan menungganginya melintasi pusat kota Pella.[6]
Di dalam manuskrip lain, Bukefalos dikirim oleh seorang pangeran di Kapadokia kepada Filipus saat masih berupa anak kuda. Dalam versi ini, ia juga merupakan kuda pemakan manusia, tetapi digambarkan pula sebagai seekor kuda yang berukuran besar dan gagah dengan kepala yang berbentuk bundar sempurna, yang tampak bagaikan permata menonjol dari dahi dan bagian belakang kepalanya. Dalam tradisi ini, Filipus diberi tahu melalui mimpi bahwa orang yang dapat menunggangi Bukefalos akan menjadi penerusnya.[7] Dengan demikian, penjinakan Bukefalos berfungsi untuk menunjukkan bahwa Aleksander layak memerintah.[8]
Aleksander dan Bukefalos
sunting

Sebagai salah satu kuda perang Aleksander, Bukefalos mendampinginya dalam berbagai pertempuran.
Besarnya penghargaan yang diberikan Aleksander kepada Bukefalos mencerminkan sikap Achilles, pahlawan dan yang dianggap sebagai leluhurnya, yang menyatakan bahwa kuda-kuda miliknya "dikenal melebihi seluruh kuda lainnya—karena mereka abadi. Poseidon memberikan mereka kepada ayahku, Peleus, yang kemudian memberikan mereka padaku."[9]
Arrian menyatakan, dengan Onesikritos sebagai sumbernya, bahwa Bukefalos mati pada usia 30 tahun. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa Bukefalos mati bukan akibat usia tua atau kelelahan, tetapi akibat cedera fatal yang dialaminya dalam Pertempuran Hidaspes (Juni 326 SM), saat pasukan Aleksander mengalahkan Raja Porus. Aleksander segera mendirikan sebuah kota, Bukefala, sebagai bentuk penghormatan terhadap kudanya. Kota tersebut terletak di tepi barat Sungai Hidaspes (kini Jhelum, Pakistan).[10] Kota Jalalpur Sharif modern, yang terletak di luar Jhelum, dikatakan sebagai lokasi di mana Bukefalos dikuburkan.[11]
Legenda tentang Bukefalos berkembang sejalan dengan legenda mengenai Aleksander, dimulai dari kisah fiksi bahwa mereka lahir pada waktu yang sama: beberapa versi Roman Aleksander selanjutnya juga menyatakan bahwa mereka meninggal pada jam yang sama.[12] Bukefalos muncul di hampir seluruh versi Roman Aleksander Versi Armenia, dan ilustrasi visual dalam manuskrip yang masih bertahan terkadang menampilkan adegan-adegan yang melibatkan Bukefalos.[2]
Dalam beberapa versi Roman Aleksander, Bukefalos melahap pembunuh Aleksander.[8]
Dalam budaya populer
suntingBeberapa novel menggunakan "Bukefalos" sebagai nama untuk seekor kuda, sering kali dengan makna simbolis. Sebagai contoh, dalam novel Fortune's Favorites (novel ketiga dalam seri Masters of Rome) karya Colleen McCullough, Julius Caesar muda diam-diam memiliki seekor kuda yang ia beri nama Bukefalos, dan ibunya melihat hal tersebut sebagai pertanda ambisi masa depannya.[13]
Dalam cerita pendek The New Advocate karya Franz Kafka, tokoh pengacara dalam cerita tersebut digambarkan menyerupai Bukefalos.[14]
Catatan
suntingReferensi
sunting- ^ Wasson, Donald (6 Oktober 2011). "Bucephalus". World History Encyclopedia.
- ^ a b Kouymjian, Dickran (2012). "Did Byzantine Iconography Influence the Large Cycle of the Life of Alexander the Great in Armenian Manuscripts?". Byzantium and Renaissances. Dialogue of Cultures, Heritage of Antiquity, Tradition and Modernity. University of Warsaw Press. hlm. 209–216.
- ^ Catatan primer (sebenarnya sekunder) yang dimaksud di sini ada dua: Life of Alexander karya Plutarkhos, 6, dan Anabasis Alexandri karya Arrian, V.19.
- ^ a b c Templat:Cite Plutarch
- ^ Anderson 1930:3 dan 17ff.
- ^ Alexander Romance, Manuskrip L (resensi β) 1.15, 17.
- ^ Alexander Romance (Sefer Toledot Alexandros ha-Maḳdoni) 1.14-15.
- ^ a b Ogden, Daniel (2021). "'The Mares of Diomede (and Alcestis)'". Dalam Daniel, Ogden (ed.). The Oxford Handbook of Heracles. Oxford University Press. hlm. 121.
- ^ Homer, The Iliad, Book XXIII.
- ^ Rolf Winkes, "Boukephalas", Miscellanea Mediterranea (Archaeologia Transatlantica XVIII) Providence 2000, hlm. 101–107.
- ^ Michael Wood, "In the footsteps of Alexander the Great".
- ^ Andrew Runni Anderson, "Bucephalas and His Legend" The American Journal of Philology 51.1 (1930:1–21).
- ^ McCullough, Colleen (1993). Fortune's Favorites. New York: William Morrow. hlm. 212–213.
- ^ Franz Kafka (1988). "The Complete Stories".
Pranala luar
sunting
Media terkait Bucephalus (horse of Alexander) di Wikimedia Commons