Layanan penatu

Penatu (takbaku: "binatu"), benara, atau dobi (bahasa Inggris: laundry) adalah sarana atau usaha yang bergerak di bidang pencucian dan pengeringan pakaian. Penatu biasa menggunakan mesin cuci otomatis yang disebut sebagai laundromat, sebuah merk dagang umum dari Westinghouse Electric Corporation).[1]

Tukang penatu

sunting
Layanan penatu di Jakarta

Beberapa penatu mempekerjakan staf untuk melayani pelanggan. Pusat layanan minimal dapat menyediakan dengan mudah pembantu di belakang toonbank untuk mengganti, menjual bubuk cuci, dan mengawasi mesin yang sedang menganggur agar tak digunakan sembarangan. Lainnya memungkinkan pelanggan memasukkan pakaian atau cucian di sebuah tas untuk dicuci, dikeringkan, dan dilipat.

Lihat pula

sunting

Rujukan

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Vino G. Bastian

announced Bosku Malang, Bosku Sayang (2008) Selalu Untuk Selamanya (2009) Di Binatu Ada Cinta (2009) Bejo Bilang Cinta (2010) Berawal dari Facebook (2010) Lost

Small Things like These (film)

Behan. Ceritanya berfokus pada masalah kelam yang dialami para perempuan di Binatu Magdalena di Irlandia yang terkenal kejam. Small Things like These pertama

Anya Dwinov

didirikan pada tahun 2005. Ia juga pernah menjadi pemilik usaha di bidang binatu, yaitu ESSII Laundry yang sahamnya sudah ia lepaskan pada tahun 2007. Bersama

RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou

didukung oleh layanan penunjang nonmedis, seperti instalasi gizi, sanitasi, binatu, sistem informasi rumah sakit, pendidikan dan pelatihan, serta keselamatan

Palugada (bisnis)

kesempatan bisnis dari sana. Sebagai contoh, seseorang dapat menjalankan usaha binatu sambil berjualan pulsa dan isi ulang air mineral, atau seseorang berjualan

Billy the Kid

jalanan lokal yang dikenal sebagai "Sombrero Jack" dalam mencuri pakaian dari binatu Cina. Henry menyembunyikan jarahan di rumah kosnya, tetapi ditangkap setelah

Sofjan Wanandi

di SMP Padang, Sofjan Wanandi sudah menjadi penjaga toko kelontong dan binatu, milik ayahnya sendiri. Namun, selepas dari SMP (1957), ia ke Jakarta untuk

The Jakarta Post

untuk membangun kantor baru berlantai dua di tempat yang dulunya sebuah binatu, dibiayai oleh uang dana pensiun Kompas. Pada tahun 1994, The Jakarta Post