📑 Table of Contents
Santo Basilius yang Agung
Uskup, Teolog, Bapa Gereja, Hierark Kudus
LahirKaisarea, Kapadokia
Meninggal379
Kaisarea, Kapadokia
Dihormati diKekristenan Barat dan Timur
KanonisasiPra-kongregasional (sebelum ada Dikasteri untuk Penyebab Penganugerahan Gelar Santo-Santa)
Pesta1 Januari dan 30 Januari
Basilii Magni Opera, 1540

Basilius dari Kaisarea (bahasa Yunani: Άγιος Βασίλειος ο Μέγας; kadang disebut Basil), yang juga dijuluki Santo Basilius Agung dalam Gereja Katolik, adalah seorang teolog, Bapa Gereja sekaligus Pujangga Gereja pada abad ke-4.[1][2] Salah satu sumbangan darinya adalah melakukan integrasi kebudayaan klasik ke dalam agama Kristen.[2]

Basilius dilahirkan di Kaisarea, Kapadokia dalam sebuah keluarga yang kaya dan saleh pada tahun 329.[1] Ia adalah anak sulung dalam keluarga dan memiliki kondisi fisik yang lemah.[1] Seluruh keluarganya giat dalam bidang kegerejaan.[1] Bahkan, ia dan dua saudara laki-lakinya, yakni Gregorius dari Nyssa dan Petrus dari Sebaste menjadi uskup.[1]

Basilius menerima pendidikan dasarnya dari ayahnya sendiri karena ayahnya adalah seorang guru retorika.[1] Kemudian, ia pergi ke Konstantinopel dan belajar pada Libanus, seorang guru retorika yang terkemuka pada masa itu.[1] Setelah itu, ia pergi ke Athena untuk mempelajari retorika, matematika, dan filsafat.[1] Ia belajar filsafat pada kelompok Sofis, yakni kepada Himerius dan Proaeresius.[1] Setelah itu, ia kembali ke Kappadokia dan mengajar retorika selama beberapa waktu.[1][3]

Karena kecerdasannya sebagai guru retorika, ia menjadi sombong.[1] Setelah saudara perempuannya mengingatkan dia mengenai kesombongannya, ia bertobat dan dibaptiskan.[1]

Demikianlah kutipan pernyataan spiritualitasnya dalam sebuah surat:

Aku telah menyia-nyiakan banyak waktu pada kebodohan dan menghabiskan hampir semua tenaga kerja muda saya pada kesia-siaan, dan pengabdian kepada kearifan yang telah dibuat bodoh oleh Allah. Tiba-tiba, aku terbangun dari tidur nyenyak. Aku melihat cahaya indah dari kebenaran Injil, dan aku mengenali kehampaan kebijaksanaan para pangeran di dunia ini.[4]

Setelah itu, ia meninggalkan pekerjaannya sebagai guru retorika dan melakukan perjalanan ke Mesir, Siria dan Palestina untuk belajar kehidupan bertapa.[1] Kemudian, ia kembali ke negerinya dan membagi-bagikan kekayaannya pada orang miskin karena merasa tertarik dengan kehidupan para pertapa.[1] Ia lalu pergi ke tempat yang sunyi di Pontus dan mengajar di sana.[1] Dalam khotbah-khotbahnya, ia selalu menegaskan prinsip-prinsip sosial.[1] Ia berpendapat bahwa semua orang diciptakan Allah dan dikasihi Allah.[1] Oleh karena itu, semua orang pada dasarnya sama dan memiliki martabat yang sama.[1]

Pada tahun 364, ia diangkat menjadi seorang presbiter di Kaisarea[1] dan ditahbiskan menjadi uskup di tempat yang sama pada tahun 370.[5] Pada masa ini, Basilius terus berjuang untuk melawan Arianisme yang mencoba mengambil alih Kappadokia sebagai salah satu dari wilayah mereka.[1]

Kondisi fisiknya yang kurang baik diperparah dengan cara hidup asketis yang keras.[1] Makanannya hanyalah roti, garam, dan sayuran.[1] Dalam hidup asketisnya, ia menekankan keseimbangan antara bekerja dan berdoa.[6] Selain itu, ia juga memberikan perhatian yang sangat besar bagi orang miskin dan menderita.[1][3] Salah satu bentuk perhatiannya adalah dengan membangun sebuah rumah sakit besar yang ditujukan untuk merawat orang-orang yang sakit kusta.[1]

Ia meninggal pada tahun 379.[1] Salah satu peninggalannya bagi Gereja Timur adalah liturgi yang masih dipergunakan oleh Krisostomus.[1][meragukan]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z (Indonesia)F.D. Wellen.1993.Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Gereja.Jakarta:PT BPK Gunung Mulia. hlm 37-39.
  2. ^ a b (Indonesia)Tony Lane. 1990. Runtut Pijar. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 29.
  3. ^ a b (Inggris)Paul Burns.1995.Butler's Lives of the Saints: New Full Edition.Collegeville:The Liturgical Press.
  4. ^ (Inggris)Johannes Quastin.1986.Patrology, V.3.Westminster:Christian Classics.
  5. ^ (Inggris)Anthony Meredith.1995.The Cappadocians.Crestwood, New York: St. Vladimir's Seminar Press.
  6. ^ (Inggris)Margaret Gertrude Murphy.1930.St. Basil and Monasticism: Catholic University of America Series on Patristic Studies, Vol. XXV. New York: AMS Press.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Paus Pius VII

Paus Pius VII (Italia: Pio VIIcode: it is deprecated ; lahir Barnaba Niccolò Maria Luigi Chiaramonti; 14 Agustus 1742 – 20 Agustus 1823) menjabat sebagai

Gereja Katolik di Britania Raya

Priest of the Jesuit Edward Barlow – (1585–1641), Professed Priest of the Benedictines Bartholomew Roe – (1583–1642), Pengakuan Imam Benediktin Henry Morse

Paus Gregorius XVI

Paus Gregorius XVI (bahasa Latin: Gregorius XVIcode: la is deprecated ; bahasa Italia: Gregorio XVIcode: it is deprecated ; lahir Bartolomeo Alberto Cappellari;

Pakomius Agung

Gereja Lutheran Pesta 9 Mei 14 Pashons (Ortodoks Koptik) Roman Catholic Benedictines dan Gereja Ortodoks Timur merayakan hari peringatannya pada tanggal 15

San Servolo

situs untuk berbagai pameran, festival dan pertunjukan. Buildings of the Benedictines Official page of San Servolo Venice International University Google Satellite

Martin Marty (uskup)

S.B.", Roman Catholic Diocese of Saint Cloud "Our History", Yankton Benedictines Ketcham, William. "Bureau of Catholic Indian Missions." The Catholic

Patung dan Monumen Patriot di Janiculum

sakit karena kolera dan meninggal pada tahun 1855. Pietro Roselli Pietro Benedictines, 1886 Roma, 1808 – Ancona, 1865 Sebagai bagian dari tentara kepausan

Monte Cassino

October 23, 2014. "Vatican reorganizes Montecassino, mother abbey of the Benedictines". Catholic News Agency. October 24, 2014. Wikimedia Commons memiliki