Sekumpulan bekel yang disimpan dalam koleksi permanen Museum Anak-Anak Indianapolis.

Bekel atau Seremban adalah sebuah permainan anak-anak asal Jawa Barat. Permainan ini adalah sebuah permainan tradisional kuno yang telah dimainkan selama berabad-abad, biasanya menggunakan lima benda kecil, atau sepuluh dalam kasus permainan berkelompok. Benda-benda tersebut pada zaman dahulu umumnya berupa batu kerikil, biji-bijian, atau tulang kecil hewan yang dihaluskan, sebelum akhirnya digantikan oleh benda buatan dari logam maupun plastik. Di Indonesia, permainan ini dikenal dengan nama bekel, dan awalnya diperkenalkan melalui pengaruh budaya Belanda semasa era kolonial, diadaptasi dari permainan yang disebut bikkelen atau bikkelspel. Seiring waktu, permainan ini berkembang menjadi bagian dari budaya bermain anak-anak lokal, khususnya di kalangan anak perempuan, dan tetap dikenang sebagai salah satu warisan permainan tradisional yang kaya nilai budaya hingga saat ini.[1][2]

Permainan

sunting

Permainan bola bekel dimainkan oleh 2 hingga 10 orang secara bergantian, menggunakan dua alat utama yaitu bola karet kecil yang bisa memantul dan sejumlah kecik (biji bekel) yang terbuat dari plastik atau logam. Jumlah kecik yang digunakan biasanya disepakati bersama oleh para pemain, dan seringkali merupakan kelipatan enam.

Cara bermainnya cukup sederhana namun membutuhkan ketangkasan:

  1. Memantulkan bola. Pemain memantulkan bola karet ke lantai sebagai tanda dimulainya giliran.
  2. Mengambil kecik. Selagi bola memantul, pemain harus mengambil kecik satu per satu, lalu dua per dua, dan seterusnya hingga seluruh kecik berhasil diambil.
  3. Membalik kecik. Setelah diambil, kecik-kecik harus dibalik ke posisi tertentu sesuai aturan yang berlaku.
  4. Menangkap bola. Semua langkah di atas harus diselesaikan dalam waktu satu pantulan bola, dan bola boleh memantul satu kali sebelum ditangkap.

Adapun membuat permainan ini unik adalah bola tidak harus langsung ditangkap, melainkan boleh memantul satu kali terlebih dahulu. Namun, jika pemain gagal mengambil kecik atau membiarkan bola memantul lebih dari sekali, maka pemain tersebut dinyatakan gugur dan giliran berpindah ke pemain berikutnya.[3]

Manfaat

sunting

Permainan bola bekel ternyata menyimpan banyak manfaat bagi perkembangan anak. Melalui permainan ini, anak secara tidak langsung melatih kemampuan motorik, ketangkasan, konsentrasi, serta koordinasi tangan dan mata. Selain itu, karena dimainkan secara berkelompok, bekel juga mengasah keterampilan sosial seperti sportivitas, kejujuran, toleransi, dan saling menghormati antar pemain.

Tidak hanya itu, bekel juga terbukti bermanfaat dalam mendukung proses belajar anak, khususnya dalam pembelajaran matematika. Ketika diintegrasikan ke dalam kegiatan belajar, permainan ini mampu meningkatkan semangat dan motivasi siswa karena suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Anak pun lebih mudah memahami materi seperti operasi hitung bilangan bulat karena belajar sambil bermain secara langsung.[4]

Galeri

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ http://www.indogamers.com/read/19/02/2013/6960/permainan_bola_bekel__game_tradisional_yang_semakin_langka/
  2. ^ "Seremban". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  3. ^ Nurhidayah, Wika Ayu; Hasanudin, Cahyo (2025-07-05). "Peran Permainan Bola Bekel untuk Meningkatkan Keterampilan Berhitung pada Siswa Sekolah Dasar". Seminar Nasional dan Gelar Karya Produk Hasil Pembelajaran (dalam bahasa Inggris). 3 (1): 188–195. ISSN 3031-9412.
  4. ^ Badariah, Bai; Pristiwanti, Desi; Rosmilawati, Ila (2022-12-20). "Pemanfaatan Permainan Tradisional Bola Bekel dalam Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa". Journal on Teacher Education (dalam bahasa Inggris). 4 (2): 1252–1259. doi:10.31004/jote.v4i2.10001. ISSN 2686-1798.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Gunung Bekel

Gunung Bekel adalah sebuah gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Gunung ini merupakan anak dari Gunung

Gelar kebangsawanan Jawa

Raden Mas Bekel (R.M.Bl.) adalah gelar bekel untuk cucu raja, cicit raja, piut raja, dan anggas raja. Raden Bekel (R.Bl.) adalah gelar bekel untuk udeg-udeg

Kepala desa

Petinggi ( Sebagian Wilayah Kalimantan Timur ) Hukum tua (Sulawesi Utara), perbekel (Bali), kuwu (Pemalang, Brebes, Tegal, Cirebon dan Indramayu), pangulu

Gunung Bekel, Tegalsiwalan, Probolinggo

Gunung Bekel merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia. Wikimedia Commons memiliki

Kadipatèn Mangkunagaran

dengan nama Priyayi Punggawa. Mereka adalah dua orang Lurah dan dua orang Bekel. Masing-masing Priyayi Punggawa dibantu oleh 14 orang Jajar. Tugas dan kewajiban

Sayuti Melik

tanggal 25 November 1908, anak dari Abdul Mu'in alias Partoprawito, seorang bekel jajar atau kepala desa di Sleman, Yogyakarta. Sedangkan ibunya bernama Sumilah

Gunung Penanggungan

mengelilingi Gunung Penanggungan, yaitu: Puncak Gajahmungkur (1.087 mdpl) Puncak Bekel (1.238 mdpl) Puncak Kemuncup (1.227 mdpl) Puncak Sarahklopo (1.275 mdpl)

Gombong, Kebumen

pengikutnya. Beliau menjabat sebagai ketua rombongan sekaligus sebagai bekel atau Kepala Dukuh. Selanjutnya beliau disebut Kiyai Giyombong. Para pendatang