Skema yang perlu dievaluasi

Evaluasi merupakan saduran dari bahasa Inggris "evaluation" yang diartikan sebagai penaksiran atau penilaian.[1] Nurkancana (1983) menyatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan berkenaan dengan proses untuk menentukan nilai dari suatu hal. Sementara Raka Joni (1975) menjelaskan bahwa evaluasi adalah proses untuk mempertimbangkan sesuatu barang, hal atau gejala dengan mempertimbangkan beragam faktor yang kemudian disebut Value Judgment.

Maka dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah proses menetukan nilai untuk suatu hal atau objek yang berdasarakan pada acuan-acuan tertentu untuk menentukan tujuan tertentu. Dalam perusahaan, evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan evektivitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan.[2] Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya.[2]

Tahapan sebelum mengadakan evaluasi

sunting

Terdapat urutan atau proses yang mendasari sebelum melakukan evaluasi, yakni:[2]

  1. Mengembangkan konsep dan mengadakan penelitian awal.[2] Konsep perlu direncanakan secara matang sebelum diadakan eksekusi pesan dan perlu diadakan uji coba untuk mengecek kesesuaian antara draft yang dibuat dengan eksekusi pesannya.[2]
  2. Dengan uji coba yang dilakukan, pengevaluasi mencoba mencari tanggapan dari khalayak.[2] Tanggapan dari khalayak ini penting untuk mengukur efektivitas pesan yang disampaikan.[2]

Proses evaluasi

sunting

Dalam mengadakan sebuah proses evaluasi, terdapat beberapa hal yang akan dibahas yaitu apa yang menjadi bahan evaluasi, bagaimana proses evaluasi, kapan evaluasi diadakan, mengapa perlu diadakan evaluasi, di mana proses evaluasi diadakan, dan pihak yang mengadakan evaluasi.[2] Hal yang perlu dilakukan evaluasi tersebut adalah narasumber yang ada, efektivitas penyebaran pesan, pemilihan media yang tepat dan pengambilan keputusan anggaran dalam mengadakan sejumlah promosi dan periklanan.[2][3] Evaluasi tersebut perlu diadakan dengan tujuan untuk menghindari kesalahan perhitungan pembiayaan, memilih strategi terbaik dari berbagai alternatif strategis yang ada, meningkatkan efisiensi iklan secara general, dan melihat apakah tujuan sudah tercapai.[2] Di sisi lain, perusahaan kadang-kadang enggan untuk mengadakan evaluasi karena biayanya yang mahal, terdapat masalah dengan penelitian, ketidaksetujuan akan apa yang hendak dievaluasi, merasa telah mencapai tujuan, dan banyak membuang waktu.[2]

Secara garis besar, proses evaluasi terbagi menjadi di awal (pretest) dan diakhir (posttest).[2] Pretest merupakan sebuah evaluasi yang diadakan untuk menguji konsep dan eksekusi yang direncanakan.[2] Sedangkan, posttest merupakan evaluasi yang diadakan untuk melihat tercapainya tujuan dan dijadikan sebagai masukan untuk analisis situasi berikutnya.[4]

Evaluasi dapat dilakukan di dalam atau di luar ruangan.[2] Evaluasi yang diadakan di dalam ruangan pada umumnya menggunakan metode penelitian laboratorium dan sampel akan dijadikan sebagai kelompok percobaan. Kelemahannya, realisme dari metode ini kurang dapat diterapkan.[5] Sementara, evaluasi yang diadakan di luar ruangan akan menggunakan metode penelitian lapangan di mana kelompok percobaan tetap dibiarkan menikmati kebebasan dari lingkungan sekitar.[6] Realisme dari metode ini lebih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.[6]

Untuk mencapai evaluasi tersebut dengan baik, diperlukan sejumlah tahapan yang harus dilalui yakni menentukan permasalahan secara jelas, mengembangkan pendekatan permasalahan, memformulasikan desain penelitian, melakukan penelitian lapangan untuk mengumpulkan data, menganalisis data yang diperoleh, dan kemampuan menyampaikan hasil penelitian.[6]

Referensi

sunting
  1. ^ Curtis, Dan B; Floyd, James J.; Winsor, Jerryl L. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Remaja Rosdakarya, Bandung. 1996. Hal 414
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n Duncan, Tom. 2005. Principles of Advertising & IMC. Second Edition. Mc.Graw-Hill. Bab 22.
  3. ^ Umar, Husein. Evaluasi Kinerja Perusahaan. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal 99-102.
  4. ^ Program Evaluasi[pranala nonaktif permanen]. Diakses 13 Mei 2010.
  5. ^ Penelitian Eksperimen di Bidang Pendidikan[pranala nonaktif permanen]. Diakses 2 Mei 2010.
  6. ^ a b c (Inggris) Neuman, W.Lawrence. 2006. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Research. USA: University of Wisconsin. Hal 246-256.

Lihat pula

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Emotivisme

Ethics, 288, says it "was the first really systematic development of the value judgment theory and will probably go down in the history of ethics as the most

Jeffrey Epstein

Scannell, Kara (November 12, 2020). "DOJ review finds Alex Acosta used 'poor judgment' in Jeffrey Epstein deal". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November

Sublim (filsafat)

British Aesthetic Theory. Carbondale, IL, 1957. Kant, Immanuel. Critique of Judgment. Trans. J.H. Bernard. Macmillan, 1951. Kant, Immanuel. Observations on

Libertarianisme

stress on extreme freedom of choice and on the primacy of the individual judgment "Libertarianism". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 20 May 2014

EuroCommerce

C 116 (Case T-111/08): 26. General Court (2012/7/7). "Case T-111/08: Judgment of the General Court of 24 May 2012 — MasterCard and Others v Commission

Martin Luther

Gritsch, Eric W. (2012). Martin Luther's Anti-Semitism: Against His Better Judgment. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company. ISBN 978-0-8028-6676-9

Daftar Ketua Menteri Tamil Nadu

Jayalalithaa as CM Diarsipkan 2004-11-28 di Wayback Machine., Full text of the judgment from official Supreme Court site Diarsipkan 2006-06-27 di Wayback Machine

Academy Award untuk Penyuntingan Film Terbaik

Stanford Fanny - William H. Reynolds The Guns of Navarone - Alan Osbiston Judgment at Nuremberg - Frederic Knudtson The Parent Trap - Philip W. Anderson 1962