Terusan Suez
Terusan Suez dari luar angkasa, memperlihatkan
Danau Pahit Besar di bagian tengah (setelah perluasan tahun 2015)
Spesifikasi teknis
Panjang193,3 km (120,1 mil)
Lintang maksimum77,5 m (254 ft 3 in)
Sarat air maksimum20,1 m (66 ft)
Jumlah pintu airTidak ada
Otoritas navigasiOtoritas Terusan Suez
Sejarah
Mulai dibangun25 April 1859; 167 tahun lalu (1859-04-25)
Selesai17 November 1869; 156 tahun lalu (1869-11-17)
Geografi
Titik awalBursaid
Titik akhirPelabuhan Suez

Terusan Suez (bahasa Arab: قناة السويس, Qanā al-Suways), di sebelah barat Semenanjung Sinai, merupakan terusan kapal sepanjang 193 km yang terletak di Mesir, menghubungkan Pelabuhan Said (Būr Sa'īd) di Laut Tengah dengan Suez (al-Suways) di Laut Merah.

Pembangunan dan peresmian

sunting
Peta Terusan Suez dari Port Said di utara sampai Suez di selatan.

Pembangunan Terusan Suez dipimpin oleh Ferdinand de Lesseps hingga selesai. Terusan Suez diresmikan pada hari Kamis, tanggal 18 November 1869 M atau 13 Sya'ban 1286 H. Peresmian Terusan Suez dihadiri oleh Permaisuri Eugénie yang merupakan istri dari Napoleon III.[1]

Struktur dan fungsi

sunting

Terusan Suez terdiri dari dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan Danau Great Bitter yang menghubungkan Laut Tengah ke Teluk Suez.[butuh rujukan] Terusan Suez memungkinkan transportasi air dari Eropa ke Asia tanpa mengelilingi Afrika. Sebelum adanya kanal ini, beberapa transportasi dilakukan dengan cara mengosongkan kapal dan membawa barang-barangnya lewat darat antara Laut Tengah dan Laut Merah.[butuh rujukan]

Penguasaan

sunting

Dalam era Perang Dunia I Terusan Suez yang saat itu berada di bawah kekuasan Inggris, diserang oleh pasukan Jerman dan Turki Ottoman. Posisi Suez yang sangat strategis, yaitu menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah, menjadikan terusan ini objek rebutan antara pasukan Sekutu dan poros.[2]

Saat Mesir dipimpin Presiden Gamal Abdul Nasir terusan Suez pada tanggal 26 Juli 1956 dinasionalisasi pihak Mesir. Hal ini memicu terjadinya krisis Suez karena Prancis tidak terima Suez dikuasai Mesir. Pada tanggal 29 Oktober 1956 terjadi serangan gabungan dari Israel, pasukan Inggris dan Prancis di Mesir. Melalui intervensi dari PBB, Amerika Serikat dan Uni Soviet konfrontasi tersebut dapat berakhir relatif cepat, dan kampanye perang pada 22 Desember 1956 kembali dievakuasi.

Dalam Perang Enam Hari mendorong Israel pada tanggal 9 Juni 1967 kembali menguasai Suez. Terusan Suez tetap tertutup untuk pengiriman dari Mesir dan menempatkan di perbatasan antara Mesir dan Israel. Israel mendirikan sebuah garis pertahanan, yaitu garis Bar-Lev dan mengusai Semenanjung Sinai. Dalam Perang Yom Kippur, pada tanggal 6 Oktober 1973 Suez berhasil dikuasai oleh pasukan Mesir. Namun, pada akhirnya Israel juga berhasil memukul mundur Mesir dalam serangan balasan pada 16 Oktober 1973, Israel menyeberangi Suez dengan membuat sebuah jembatan di atas kanal. Pada akhir perang Yom Kippur meski Mesir kalah secara militer tetapi menang secara diplomatik sehingga seluruh saluran Suez dan Semenanjung Sinai kembali di bawah kendali Mesir. Setelah sempat ditutup sementara akhirnya terusan Suez kemudian dibuka untuk umum lagi pada tahun 1975.

Referensi

sunting
  1. ^ Usmani, Ahmad Rofi' (Juni 2011). Hidayat, Yadi Saeful (ed.). Dari Istana Topkapi hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar: Menjelajah Pesona Istanbul, Kairo, Alexandria, dan Kota-Kota Lain di Turki dan Mesir. Bandung: Mizania. hlm. 68. ISBN 978-602-8236-98-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ Susilo, Taufik Adi. Ensiklopedi Pengetahuan Dunia Abad 20. Javalitera. Yogyakarta 2010. Halaman 62

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Cut Nyak Dhien

(Kutaraja) dan Meulaboh (bekas basis Teuku Umar), sehingga Belanda terus-terusan mengganti jenderal yang bertugas. Unit "Maréchaussée" lalu dikirim ke Aceh

Luhut Binsar Pandjaitan

dari Brigjen TNI Yogie Suardi Memet (Komandan Brigade Selatan, Wilayah Terusan Suez) Kontingen Garuda (KONGA VI). Usai operasinya di Mesir, ia kembali

Iran

Persepolis. Sebuah terusan di antara Sungai Nil, dan Laut Merah turut dibangun, dan menjadikannya pelopor untuk pembangunan Terusan Suez. Sistem jalan

Universitas Jenderal Achmad Yani

utamanya berlokasi di kawasan militer Jalan Terusan Jenderal Sudirman, sementara kampus lainnya terletak di Terusan Jenderal Gatot Subroto, Kiaracondong, Kota

Terusan Panama

Terusan Panama (bahasa Spanyol: Canal de Panamácode: es is deprecated ) adalah jalur air buatan sepanjang 82 kilometer (51 mil) di Panama yang menghubungkan

Kereta rel listrik JR East seri 203

tepatnya di jalur Joban Line dan terusannya yaitu Tokyo Metro Chiyoda Line, tetapi KRL ini tidak beroperasi di jalur terusannya lagi yaitu Odakyu Odawara Line

Gamal Abdul Nasir

Nasir membangkitkan Nasionalisme Arab dan Pan-Arabisme, menasionalisasi terusan Suez yang mengakibatkan krisis Suez yang membuat Mesir berhadapan dengan

Mesir

(Tanah Genting Suez) antara Afrika dan Asia, wilayah ini dilalui sebuah terusan yang menghubungkan Laut Mediterania dengan Samudera Hindia (dengan melalui