
Tembikar Berlapis Hitam (black-topped pottery) adalah jenis khusus tembikar Mesir Kuno yang menjadi bentuk utama dalam kebudayaan Badarian Mesir, kemudian berlanjut hingga Naqada I dan pertengahan kebudayaan Naqada II. Temuan tertua berasal dari situs-situs arkeologi Nubia, termasuk Elephantine (pulau di Sungai Nil) Nabta Playa di Gurun Nubia, serta Kerma di Sudan modern. Artefak jenis ini terutama berasal dari Periode Pradinastik, meskipun “sejumlah kecil contoh yang dibuat pada Periode Dinastik Awal diketahui keberadaannya.”[1]
Bejana-bejana ini digunakan “secara eksklusif untuk keperluan ritual dan pemakaman”[1] serta ditemukan di pemakaman maupun permukiman kuno. Sebagian besar tembikar tersebut merupakan variasi dari bentuk kendi hes Mesir dan menampilkan badan berwarna merah dengan bagian atas dan interior berwarna hitam.[1] Warna merah dihasilkan dari kandungan besi alami dalam lanau Sungai Nil yang teroksidasi saat pembakaran, sementara bagian atas dan bagian dalam yang hitam merupakan hasil pembakaran reduksi dan pengasapan karbon.[2]
Kronologi Arkeologi
sunting
Kemunculan paling awal tembikar bertutup hitam berasal dari Nabta Playa di Gurun Barat Mesir, bertarikh 5.810±80 tahun yang lalu, dan paling sering dikaitkan dengan Periode Pradinastik di Mesir Hulu.[3] Gerabah bertutup hitam merupakan jenis tembikar utama dalam kebudayaan Badarian dan “tetap menjadi ciri khas produksi tembikar pada kebudayaan Amratian, atau Naqada I, serta periode Naqada IIA–B di Mesir Hulu.”[3] Frekuensi penggunaannya mulai menurun pada Periode Dinastik Awal ketika memasuki Naqada IIC “dan tampaknya tidak lagi digunakan setelah Naqada IID.”[3] Namun, teknik pembuatannya masih berlanjut hingga sekitar 1802–1640 SM di Kerma, Sudan modern.[4]
Teknologi
suntingBahan dan metode
suntingKemunculan pertama tembikar bertutup hitam tercatat di Nabta Playa sekitar 5.810±80 tahun lalu, pada masa meningkatnya kekeringan. Perubahan iklim mendorong perubahan mobilitas dan interaksi antarkelompok serta memicu inovasi dalam produksi tembikar. Menurut arkeolog Kit Nelson, “berbagai perubahan yang tampak pada tembikar selama Neolitik Akhir merupakan cerminan penting dari perubahan yang lebih luas pada periode tersebut.”[3]
Pengenalan tembikar bertutup hitam memperlihatkan pergeseran dalam penggunaan bahan, teknik penyelesaian permukaan, dan metode pembakaran. Dari Neolitik Tengah menuju Neolitik Akhir, para pembuat tembikar beralih dari bahan yang lebih berpori dan kasar—yang biasanya ditemukan di endapan danau dan sungai—ke tanah liat yang lebih halus, yang “dimurnikan melalui proses flotasi,” yaitu metode pemisahan material berukuran kecil dari sedimen menggunakan air.[3]
Tembikar Neolitik Akhir sering mengandung berbagai bahan tambahan, seperti pasir, yang digunakan sebagai temper—material nonplastis yang berfungsi memperkuat tanah liat dan mencegah penyusutan berlebihan serta retak saat dibakar.[3][5]
Kemajuan lain yang muncul bersamaan dengan tembikar bertutup hitam adalah berkembangnya teknik penyelesaian permukaan. Ragam teknik tersebut terlihat pada tembikar Neolitik Akhir, termasuk penambahan slip, yaitu tanah liat cair, pada permukaan bejana. Banyak tembikar dari Nabta Playa memiliki slip yang diterapkan untuk mengubah warna permukaan, menghaluskan tekstur, dan/atau mengurangi porositas bejana.[6]
Penggunaan slip merah dan self-slip yang mempertahankan warna alami tanah liat menunjukkan bahwa perlakuan permukaan merah merupakan pilihan yang disengaja oleh para pembuatnya.[3]
Teknik pembakaran
suntingKemajuan teknologi yang paling menonjol pada tembikar bertutup hitam adalah pengembangan teknik pembakaran yang lebih baik. Perubahan teknik pembakaran “mencakup metode baru untuk mencapai suhu pembakaran lebih tinggi dan penciptaan sengaja bagian atas bejana yang berwarna hitam.”[3] Suhu pembakaran yang lebih tinggi menghasilkan vitrifikasi tanah liat yang lebih kuat, sehingga tembikar Neolitik Akhir menjadi lebih tahan lama.
Rujukan
sunting- ^ a b c Sowada, Karin N. (1999). "Black-Topped Ware in Early Dynastic Contexts". The Journal of Egyptian Archaeology. 85: 85–102. doi:10.2307/3822428. ISSN 0307-5133.
- ^ Hendrickx, S.; Friedman, R.F. & Loyens, F. (2000). "Experimental Archaeology concerning Black-Topped Pottery from Ancient Egypt and the Sudan". Cahiers de le Céramique Egyptienne. 6: 171–187. via Academia.
- ^ a b c d e f g h K. Nelson, E. Khalifa (2010). "Nabta Playa Black-topped pottery: Technological innovation and social change". British Museum Studies in Ancient Egypt and Sudan. 16: 133–148.
- ^ "Classic Kerma Beaker - Middle Kingdom - The Metropolitan Museum of Art". www.metmuseum.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-26.
- ^ "Technologies". www.uwlax.edu. Diakses tanggal 2025-11-26.
- ^ Peacock, D. P. S. (1989-01). "Pottery Analysis: A Source Book. By Prudence M. Rice". American Journal of Archaeology. 93 (1): 143–144. doi:10.2307/505406. ISSN 0002-9114.